Saturday, 29 August 2015

Wiji Thukul - Kembalilah Pulang 4




Aku masih tepekur diam duduk di kursi sambil memandangi foto Mas Wiji lagi. Aku kini menjadi tukang jahit Mas untuk menyambung hidup. Aku selalu mengharapkanmu senantiasa di sampingku. Tapi rupanya itu selalu jadi mimpi indah yang tak pernah kesampaian. 16 tahun Reformasi berlangsung, selama itu pula kita berpisah. Aku akui sudah ada keberanian orang-orang hukum untuk mengungkap kebenaran. Tapi tentunya mereka belum berani menerobos masuk kepada pelaku yang menghilangkanmu Mas. Hati kecilku selalu berharap dan berdoa agar kamu masih hidup walaupun kini aku tidak tahu di mana kamu.

Cita-citamu juga sedikit demi sedikit sudah tercapai Mas. Sebelum Reformasi dulu kamu pernah mempunyai gagasan tentang pendidikan dan pengobatan gratis yang pernah kamu angkat dalam sebuah pagelaran teater. Saat ini pendidikan dan pengobatan gratis itu sudah ada. Bahkan di Kota kenangan kita ini, di Solo. Yah, cita-citamu sudah tercapai. “Apa kamu juga merasakan itu Mas?” Dadaku kembali sesak.

Pikiranku kembali mengingat saat pertemuan kami di stasiun KA Tugu Yogyakarta. Saat itu adalah saat yang indah walau hanya sebentar. Aku dan anak-anak bertemu dengan Mas Wiji. Tapi saat itu juga Mas Wiji berkeinginan untuk seorang anaknya bisa ikut dengannya. Namun anak-anak lebih memilih tinggal bersama kedua orangtuanya.

Dalam kesempatan itu Mas Wiji juga mengatakan bahwa dia tidak akan pulang dalam satu tahun. Saat aku tanya “Kenapa?”, dia justru bilang dengan tingkah kocaknya “Beberapa hari lagi kan sudah pergantian tahun.” Aku yang tersadar segera ingat, tentu saja dia bilang seperti itu mengingat pertemuan kami waktu itu adalah di bulan Desember 1997. Sejak saat itulah kami tidak melihat lagi Mas Wiji. Yang kami saksikan hanyalah di belakang Mas Wiji banyak sekali tentara. Itulah pertemuan terakhir kami.

Penghilangan terhadap Mas Wiji dan sejumlah aktivis lain adalah simbol penghilangan terhadap sebuah konfrontasi. Itu yang menjadikan suamiku bukan sebagai “orang hilang” melainkan ketidakhadirannya dikarenakan kemauannya sendiri atau ulah sebuah kelompok pencabut kebahagiaan yang takut kebenaran. Aku sendiri tidak mengerti kenapa kasus ini tak kunjung ada ujungnya Mas. Sampai saat ini kamu tak pernah pulang. Bahkan menurut Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1992 tentang perlindungan semua orang dari tindak penghilangan paksa menyebutkan bahwa penghilangan paksa adalah kejahatan yang berkelanjutan.  

Dari itu seharusnya mereka dapat menyimpulkan bahwa kejahatan itu tidak dibatasi waktu dan tidak akan kedaluwarsa. Selama belum diungkap dan diakui, itu akan tetap menjadi kasus kejahatan. Pelakunya bahkan bisa dikenakan hukum pidana. Namun apa yang kita dapat? Aku dan anak-anak hanya tahu sosok seorang suami sekaligus bapak dari anak-anak hilang tanpa ada proses hukum yang berkelanjutan hingga sekarang. Walaupun ada tindakan hukum, proses itu pun muncul dan tenggelam. Yah, tak jelas. Mungkin mereka lelah Mas, atau ada sebab lain. Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungimu Mas, di mana pun kamu berada. 

Hujan sudah berhenti turun. Senja juga sudah beranjak naik. Aku kembali meletakkan bingkai foto Mas Wiji di sudut meja. “Mas aku kangen, pulanglah Mas.” Kataku sambil mengusap sisa air mataku yang menetes. Aku masih sangat mencintaimu. Kesetiaanku tidak akan pernah luntur padamu Mas. Bahkan sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu pulang. Berharap kau masih hidup dan temani aku di sisa umur tuaku. Menjalani kehidupan bersama, melihat anak dan cucu kita tumbuh menjadi sosok yang hebat seperti bapak sekaligus kakek mereka. Aku istrimu, Dyah Sujirah (Sipon) selalu mencintaimu Mas Wiji Thukul.


*****


By : Icha Mamusu

cerpen ini saya buat dan saya dedikasikan untuk Wiji Thukul dan keluarganya... semoga selalu dalam lindungan-Nya dan sabar menanti ketidakpastian... Teruntuk Kau yang dilupakan, Wiji Thukul tak pernah mati, ia akan selalu hidup dalam kobaran semangat menuntut keadilan..


Wiji Thukul - Kembalilah Pulang 3





Tahun 1996 semua mulai berantakan. Mas Wiji kabur ketika beberapa anggota kepolisian mendatangi rumah. Aparat memburu anggota Partai Rakyat Demokratik karena diduga partai itu terlibat aksi penyerangan markas Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat yang kini dikenal dengan peristiwa 27 Juli. Dalam pelariannya itu kami masih sempat bertemu secara sembunyi-sembunyi. Kami sering bertemu di Pasar Klewer. Setiap bertemu kami selalu membuat janji untuk pertemuan selanjutnya.

Hubungan kami selalu seperti itu. Aku jauh dengan Mas Wiji. Kami juga tidak bisa bertemu di rumah, karena itu akan sangat bahaya untuk Mas Wiji. Terkadang kami melepas kangen di Hotel Tunjungan Indah, Sragen. Kami sekeluarga menginap di situ. Tapi yang namanya ujian selalu datang kepada kami. Seorang tetangga pernah memergokiku yang kala itu terlihat sendirian dan menginap di hotel. Berita fitnah pun mulai menyebar. Katanya aku hidup sebagai pelacur setelah ditinggal Mas Wiji. Tapi aku tidak peduli. Yang terpenting adalah aku bisa bertemu dengan suamiku.

Kesetiaanku kepada suamiku kembali diuji ketika Mas Wiji menceritakan pelariannya saat di Kalimantan. Dia juga menceritakan tentang seorang wanita yang sedang hamil dan memintaku untuk menjahitkan popok bayi. Aku merasa curiga dan penasaran dengan perempuan yang diceritakannya. Waktu itu Mas Wiji bilang “Kamu cemburu?” katanya sambil tertawa. Aku langsung bilang “Kamu menikah di sana? Dan itu yang hamil istrimu?”dan Mas Wiji menjawab “Lha bagaimana lagi, untuk beli saja tidak punya uang.” Aku tahu Mas Wiji dalam kesehariannya juga sedang susah, tiap hari selalu butuh uang. Mungkin itu caranya untuk bisa bertahan hidup. Setidaknya ada yang mengurusi dia selama di sana.

Tapi kini bertahun-tahun suamiku menghilang. Aku kadang selalu ingat kejadian itu. Dan aku berharap Mas Wiji benar-benar mempunyai seorang anak di Kalimantan dan dia tinggal di sana. Itu semua demi semangatku dan kata hatiku yang selalu mengatakan kalau Mas Wiji masih hidup walau kita tidak bersama lagi sekarang. Mas Wiji juga menulis sebuah puisi untuk kami. Judulnya “Catatan”, puisinya berisi pesan buat kami anak dan istrinya.

Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
Katakan Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa menjadi penjahat
oleh penguasa yang sewenang-wenang

Akhir Desember 1997. Mas Wiji yang sedang dalam pelarian di Yogyakarta dan sedang dikejar-kejar aparat Orde Baru, menemui kami anak dan istrinya. Ternyata Mas Wiji masih ingat dengan ulang tahun anak kedua kami, Fajar Merah yang lahir pada 22 Desember 1993. Dan di saat itu kami merayakannya di salah satu hotel selama beberapa malam. Anakku Fitri Nganti Wani saat itu masih berusia 8 tahun.

Wani masih diam tiduran di pangkuanku sambil mendengarkan aku bercerita. Aku membelai rambutnya yang hitam legam dengan penuh kasih sayang. Mas, kau tahu kini anak-anak telah tumbuh menjadi dewasa. 16 tahun mereka tidak melihat lagi sosok dirimu. Bahkan anakmu Wani, gadis kecil kita dulu kini telah menikah dengan seorang pria asal Donohudan, Boyolali. Dia juga sudah dikaruniai seorang putri cantik. Itu cucu kita Mas. Wajahnya cantik sekali, mirip dengan Wani waktu masih kecil dulu.

Anak kita Wani juga hebat Mas, dia yang kuliah di Universitas Yogyakarta dan mengambil Jurusan Sastra Indonesia di tahun 2009 lalu, menerbitkan sebuah buku untukmu. Judulnya “Selepas Bapakku Hilang”. Walaupun kini kuliahnya harus terhenti. Kalau anak kita Fajar sekarang jadi seorang seniman. Dia tumbuh jadi lelaki tampan. Rambutnya gondrong dan dia lebih memilih mengambil jalur musik. Dia sekolah di SMK tempat kamu sekolah dulu. Walaupun juga nasibnya harus sama sepertimu. Berhenti sekolah.

Mau bagaimana lagi Mas, hidup kami pas-pasan. Tapi Fajar tidak berhenti menyerah. Dia bahkan terus berkarya dan berhasil menggubah banyak lagu. Lagu-lagunya bertema cinta. Aku pernah tanya dengannya “Kamu tidak mau seperti Bapak? Berbicara politik dan membawakan puisi?” tapi anak lelakimu itu malah menjawab “Aku tidak suka disamakan dengan Bapak.” Anak kita itu lebih memilih menjadi seniman tanpa bayang-bayang namamu Mas. Putri kecil Wani menghampiri kami. Tawanya yang ceria memudarkan kesedihan yang baru saja muncul karena mengingat Mas Wiji. Dia meminta Wani untuk menemaninya belajar.

(bersambung . . .)

Wiji Thukul - Kembalilah Pulang 2




Beberapa bulan kami berpacaran, tiba-tiba Mas Wiji menyampaikan kabar buruk. Katanya dia akan dijodohkan dengan seorang gadis dari daerah Kebak Keramat, Solo. Aku yang tahu kabar itu begitu kaget. Lalu Mas Wiji pun mengajakku menikah agar tidak dijdohkan. Kami menikah pada bulan Oktober 1988.

Dulu Bapakku menolak hubungan kami, tapi akhirnya merestui pernikahan kami. Aku masih teringat dulu saat kami menikah, kami diarak oleh belasan becak. Kantor Urusan Agama Jebres menjadi saksi kami. Kawan-kawan mengamen dari Mas Wiji juga ikut memeriahkan resepsi pernikahan kami. Tapi sayang semua foto pernikahan kami tidak ada yang jadi. Sepanjang kehidupan baru kami, kami begitu bahagia.

“Bu, Bapak pasti baik-baik saja.” Kata Wani anakku menenangkanku lagi. Aku tersenyum sambil membelai wajahnya. “Ibu pasti sangat mencintai Bapak.” Katanya menatapku dengan binar mata yang indah. Aku mulai menceritakan semuanya lagi. Mengingat memori dulu saat kami bersama. Mas Wiji bukan tipe lelaki yang romantis. Dia tidak pernah mengajakku sayang-sayangan atau mengucapkan kata-kata romantis. Lebih sering mengajakku berdebat membahas kehidupan rakyat miskin. Tapi Mas Wiji adalah seorang lelaki yang baik, sederhana dan selalu perhatian dengan keluarga.

Sebagai suami dan bapak kadang Mas Wiji bertingkah aneh dan kocak. Mas Wiji selalu memasak makanan sendiri, tapi melarang keluarganya ikut menyantap masakannya. Suatu saat Mas Wiji sedang makan nasi goreng buatannya sendiri, ketika itu anak kami Wani menghampirinya. Mas Wiji dengan reflek langsung berjingkat ketakutan melihat Wani dan langsung lari ke luar rumah. Aku bingung sekali waktu itu dan langsung ikut berlari mengejar Mas Wiji yang bersembunyi di rumah seorang tetangga.

Jawabannya baru aku tahu beberapa waktu kemudian. Ternyata Mas Wiji mencampur masakannya dengan jamur tlethong atau jamur yang tumbuh di atas kotoran sapi. Orang-orang menyebutnya mushroom. Orang yang menyantapnya akan merasakan halusinasi yang berlebihan. Aku selalu melarangnya tapi yang namanya kebiasaan, Mas Wiji tetap saja memasaknya.

Pada tahun 1994 Mas Wiji mulai resmi masuk menjadi bagian dari Partai Rakyat Demokratik. Dia jadi jarang pulang. Pernah suatu saat dia pulang dengan badan lusuh, pakaian kumal dan wajah yang begitu lelah. Seperti orang yang tak pernah mandi. Aku selalu berusaha sabar, menyiapkan air hangat untuk Mas Wiji. Setelah mandi biasanya dia akan tertidur pulas seperti orang yang sudah lama tidak pernah tidur.

Senin, 11 Desember 1995. Belasan ribu buruh memenuhi sepanjang jalan menuju pabrik garmen PT. Sri Rejeki Isman Textile (Sritex). Mereka menolak masuk kerja dan hanya duduk-duduk. Mas Wiji yang saat itu sebagai Ketua Jaringan Kesenian Rakyat bersama aktivis Partai Rakyat Demokratik dari Pusat Perjuangan Buruh dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia ikut berdemontrasi. Pagi itu belum genap pukul tujuh sebelum peserta demokrasi memulai aksinya dan baru saja menata barisan, tiba-tiba aparat secara membabi buta menyerbu mereka.

Semua buruh berlarian ketakutan. Beberapa aktivis ditangkap dan dipukuli. Buruh wanita yang ikut berdemo juga menjerit ketakutan. Namun suasana itu tak kunjung menghentikan aksi aparat yang terus memukuli para aktivis. Dan ternyata dari awal para aparat itu sudah mengincar suamiku. Saat itu Mas Wiji berhasil kabur dari kejaran aparat. Dia lari ke dalam kampung dan bersembunyi di kuburan. Tapi sayangnya saat dia keluar, dia disergap.

Puluhan aparat terus bertubi-tubi memukulnya. Tak cukup bogem mentah dan tendangan sepatu bot ke tubuhnya. Pukulan rotan juga dihempaskan ke jari-jari tangannya. Dan yang lebih membuat hatiku tak tega bahkan ingin menangis adalah kepala Mas Wiji dibenturkan ke kap mobil aparat. Saat itu Mas Wiji pulang dalam keadaan mata kanan yang membengkak dan pelipis yang membiru. Aku sungguh tidak tega dan langsung menghangatkan air untuk mengompres mata Mas Wiji.

Berbulan-bulan kondisi mata Mas Wiji semakin parah. Bahkan saking sakitnya Mas Wiji kerap menjadi emosional. Saat itu aku melihat ada sesuatu yang tak beres dengan suamiku. Suatu hari Mas Wiji memukul Wani, aku begitu kaget karena baru kali itu dia berani memukul anaknya. Aku yang mulai merasa aneh menyuruh Mas Wiji untuk ke psikiater dan dokter mata terdekat.

Dokter setempat bahkan angkat tangan menangani sakit mata Mas Wiji. Akhirnya Mas Wiji kami bawa ke Rumah Sakit Mata Dr Yap, di Yogyakarta. Dokter menjelaskan bahwa mata Mas Wiji harus dioperasi karena retina matanya berkerut seolah-oleh akan mengelupas. Itu karena pada waktu demo tempo hari lalu mata Mas Wiji dibenturkan ke jip oleh polisi. Biaya operasinya Rp. 1,5 juta, mahal sekali di masa itu. Kami hanya berbekal uang Rp. 15 ribu di kantong.

Seketika itu kawan-kawan Mas Wiji menggalang dana. Di Solo, Yogyakarta mereka semua membantu menggalang dana sampai mengirim surat elektronik ke kalangan internal Partai Rakyat Demokratik. Berita bahwa Mas Wiji terancam buta mendapat simpatik dari beberapa kalangan. Semua dana terkumpul dan Mas Wiji dioperasi, namun dokter yang mengoperasi mata Mas Wiji malah menolak untuk dibayar. 

(bersambung . . .)

Wiji Thukul - Kembalilah Pulang 1





Hujan tak henti-hentinya turun menghujam. Mendung juga hitam pekat membungkus Kota. Aku terus memandangi foto dan lukisan suamiku. “Aku kangen sama kamu Mas.” Kataku sambil membelai sebuah foto lama yang hampir usang. Tak terasa ada bulir air menetes di sudut mataku. Sudah bertahun-tahun kamu tidak pulang Mas. Bagaimana kabarmu? Aku dan anak-anak bahkan tidak pernah tahu apakah kamu masih hidup atau sudah......... Sungguh, harapanku hanyalah kamu masih hidup dan bisa kembali pulang berkumpul bersama kami.

“Ibu, kenapa? Kangen sama Bapak?” tanya Wani anakku. Aku menoleh dan mengusap air mataku. “Iya Nduk, Ibu kangen sama Bapakmu. Sudah 16 tahun Bapakmu ndak pulang.” Anakku Wani mulai memelukku dan mengusap air mataku yang kembali menetes. Dia berusaha menghiburku yang makin tak kuat menahan kangen kepada suamiku. Mas Wiji, suamiku yang hilang sejak Mei 1998. Dia tak pernah pulang bertemu denganku ataupun anak-anak. 

Keberadaannya masih menjadi misteri untuk semua orang termasuk kami keluarganya. Aku bahkan pernah berpikir apakah hilangnya dirimu adalah sebuah skenario besar untuk menghilangkan atau sekadar menyembunyikan hingga batas waktu yang tak pernah kami ketahui. Mengingat di saat itu para tentara membentuk tim untuk menculik sejumlah aktivis. Sembilan orang dibebaskan, belasan lainnya masih hilang hingga kini dan tak jelas nasibnya.

Suamiku Wiji adalah sosok lelaki yang sangat aku cintai. Sosok lelaki yang berasal dari keluarga sederhana. Keluarga penarik becak. Dia bahkan rela berhenti sekolah agar adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah. Dulu hidupnya menggelandang, mendirikan grup teater, mengamen puisi dari kampung ke kampung dan dari kota ke kota, kemudian bertekad keras menjadi aktivis pembela buruh. Yah, suamiku adalah seorang seniman dan aktivis.

Dia juga selalu membuat plakat, pamflet, cerita pendek untuk menyuarakan keadilan di tengah carut marut Negara Indonesia di kala itu. Suamiku juga ikut terlibat aksi keras menantang Orde Baru. Gara-gara itu juga suamiku dikejar-kejar dan menjadi buronan. Suamiku dianggap orang yang bahaya oleh kalangan penguasa Orde Baru.

Namanya juga banyak disebut di televisi oleh seorang jenderal sebagai dalang kerusuhan pada tanggal 27 Juli 1996. Hidupnya selalu berpindah-pindah. Dari Solo, Salatiga, Yogyakarta, Magelang, Jakarta dan Kalimantan. Dia selalu bersembunyi sambil mengawasi dan terus terlibat aksi menantang Orde baru. Saat menjadi buronan aparat di Jakarta, para aktivis prodemokrasi juga turut membantu menyembunyikannya.

Aku masih ingat saat dulu pertama kali bertemu. Waktu itu aku sedang mengevakuasi tetanggaku yang terkena musibah banjir di Kampung Jagalan, Solo. Aku begitu sebal saat melihatnya seperti orang yang aneh. Kami semua sibuk mengevakuasi tapi Mas Wiji hanya melihat saja dan malah bergaya dengan kameranya, sibuk memotret. Tak tahan karena begitu kesal aku menegurnya, menyuruhnya ikut membantu.

Berapa waktu setelah pertemuan pertama itu aku kembali bertemu dengannya saat dia sedang berlatih teater di Sarang Teater Jagat yang tidak jauh dari rumahku. Aku melihatnya waktu itu berperan sebagai seorang Raja. Karena suamiku memang tidak bisa mengucapkan huruf “r” alhasil dalam setiap adegan banyak yang mengerjainya untuk kembali mengucapkan huruf “r” dengan jelas. Aku sampai kasihan melihatnya.

Mulai saat itulah kami saling berkenalan. Mas Wiji saat itu juga bekerja sebagai seorang tukang pelitur kayu di sebuah perusahaan mebel dan bekerja juga menjadi wartawan Masakini di sebuah media milik Muhammadiyah. Satu bulan kami saling mengenal dengan baik. 24 Februari 1988, saat aku sedang duduk di ruang tamu. Mas Wiji membacakan puisi berjudul “Catatan Malam” karanganya di hadapanku. Hatiku serasa berbunga-bunga. “Kalau kamu perempuan itu, mau tidak jadi pacarku?” kata Mas Wiji padaku. Dengan hati yang begitu bahagia mendengar ucapannya, aku menerima permohonannya untuk menjadi pacarnya.

(bersambung . . .)

By : Icha Mamusu

cerpen ini saya buat dan saya dedikasikan untuk Wiji Thukul dan keluarganya... semoga selalu dalam lindungan-Nya dan sabar menanti ketidakpastian... Teruntuk Kau yang dilupakan, Wiji Thukul tak pernah mati, ia akan selalu hidup dalam kobaran semangat menuntut keadilan..

Thursday, 27 August 2015

I'M FINE



Ketika kunikmati hidup selayaknya balon
Biarkan kucumbui mega yang beranjak kelam
Menikmati temaram waktu senja yang sendu
Bersama logika warna yang kupunyai

Aku mengerti bahwa life will never change
Bila kita tak menelan pahit pil sengsara
Bila kita memaksa hanya ingin bahagia
But, I will try to walk

Meskipun sesekali harus menangis
Tapi aku punya warna dan aku bisa tertawa
Mengakali keadaan, menyembunyikan wajah
And you know, I’m fine

By : Icha Mamusu 

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 



KUTUKKAN SANG LEGENDA



Harum mawar merebah dalam istana bunga-bunga cinta
Masih saja lekat bersama siluet dirimu yang memesona
Bulir embun jatuh perlahan di kuncup yang hampir mekar
Aku membelai bulirnya, merasakan dingin yang romantis

Angin berhembus meniup dahan-dahan kerinduan
Dan  tidakkah  kau  bisa mencium  harum  apakah  ini?
Ya, harum khas tanah bercampur air sejuk sang  legenda
Dan sebentar lagi sang legenda akan turun seiring mendung

Aku menjamah sisa-sisa embun ketenangan di istana bunga
Mengejek mentari yang tak berani muncul di depan pesonaku
Kau tahu, aku selalu merindukan peluk yang mencumbu logikaku?
Tapi kau tak juga hadir, dan kini kau bagai mentari yang bermental kerdil

Satu, dua, tiga, sang legenda ini telah turun sayang, lihatlah!
Rerintiknya makin deras menghujam istana bunga cintaku
Kau tahu, bulir airnya kini sudah  menciumi tubuh indahku
Sejuk menggelayut mesra, dan tidakkah kau cemburu melihatnya?

Andai kau tahu sayang, apapun yang kau lakukan kutetap menantimu
Tak perlu kau menjelma atau merubah dirimu seindah bunga merah ini
Tak usah kau menjadi hujan yang bisa mencumbui ragaku kapan saja
Yang perlu kau tahu, legenda itu telah mengutukku untuk tinggal di hatimu

By : Icha Mamusu

Puisi yang berjudul “KUTUKAN SANG LEGENDA” ini terpilih menjadi jawara 1 (Satu) dalam even lomba Puisi dan Sketsa dengan tema “TAK PERLU MENJELMA MAWAR” yang diadakan oleh Mafaza Media.Publishing. Karya puisi saya ini juga dibukukan ke dalam buku antologi puisi bersama karya para penulis lainnya.  






Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546

PEMBATAS KUMUH

 

Malam, tegak tubuh mungilnya membentuk siluet. Duduk di beranda rumah kumuh dekat dengan gunungan sampah. Matanya remang membidik jajaran lampu-lampu gedung tinggi. Sebentar lagi perkampungan kumuh ini akan rata dengan tanah. Baiklah jika pemerintah menyertakan ganti atas pemerataan itu, tapi bagaimana jika itu hanya janji? Atau setidaknya biarkan saja mereka tinggal di atas tanah yang menjadi saksi kelahirannya.

“Lintang, bersihkan botol-botol plastiknya.” pinta Ibunya. Ia hanya mengangguk, masih menatap sinis gedung-gedung mewah di depannya. Semua menjulang tinggi, menutup kemiskinan dan membuat kesan seolah Negara ini baik-baik saja.

“Bu, apa setelah ini akan ada pembatas tembok yang tinggi di sini?”

“Sepertinya begitu, di depan sana akan dibangun gedung pemerintahan. Tak mungkin jika mereka nanti hidup berdampingan dengan kita. Atau mungkin kita yang akan pindah.”

“Bu, kenapa kita seperti sampah?”

“Siapa yang bilang?”
 
Lintang terdiam. Yah, di Negeri ini. Atas nama pembangunan, mereka yang hidup di tepian pun halal untuk disingkirkan.

*****

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546


KOPI, LY



Selamat malam, Ly? Apakah saat ini kau sedang sibuk membaca sambil menikmati secangkir kopi hitam kesukaanmu? Aku tahu, bahkan sampai saat ini kau hanya akan menambahkan satu sendok teh gula saja ke kopimu. Itu kebiasaanmu! Ly, aku rindu. Tidakkah kau ingin ucap sesuatu? Seperti saat itu, di tempat kenangan kita.

“Darimana kau tahu aku merindukanmu?”

“Hahhaa, aku bisa membaui rindu itu Ly.”

“Membaui? hidungmu bahkan terlalu pesek Ra. Aku tak yakin.”

“Aaaah Ly.”

Malam ini kenangan itu bahkan masih terasa manis. Tapi Ly, tadi aku mencoba membuat secangkir kopi kesukaanmu. Dengan takaran dua setengah sendok teh kopi dan satu sendok teh gula. Aku sungguh tidak suka rasanya. Yang aku bingung, lidahmu terbuat dari apa Ly? Ini pahit, hmmm.

Ly, semua gaya dan sifatmu selalu membuatku ingin mengikutimu. Aku sendiri tidak tahu kenapa dirimu bisa begitu ajaib. Aaah iya Ly, jika aku rindu, kenapa aku tidak meneleponmu saja?

# Nepok_jidat


*****

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546



TUNGGU AKU PULANG BAWA HARAPAN




Gemericik gerimis mulai menggelayut mesra
Bulir-bulir air yang menggelincir mulai mencibirku
Aku duduk di perbatasan senja
Bayangkan siluetmu yang masih kurindukan

Kelabu makin mengutuk orange
Senja sebentar lagi malam
Sayang, masihkah ingat kisah kita?
Aku di sini masih setia

Aku tahu setiap malam kau risau
Jangan pikir ku akan tinggalkanmu
Sabar dan jangan menangis sayang
Tunggu pelukku saat aku pulang

Langit mulai pekat dan gelap
Hujan telah lelah untuk menetes
Dinginku beku dalam kesepian
Tak ingin selimut tetangga menghangati

Bingkai wajahmu selalu kusimpan
Senyum simpulmu selalu kukenang
Jangan dengarkan gosip murahan
Kau tak akan kulukai

Desau angin menghempas nafas kerinduan
Bayangkan kau memeluk dinginku
Aku sama sepertimu
Masih dan akan selalu cinta kamu

Raut wajahku kini kusam
Potret lampu kota mulai menyilaukan
Sayang, siluet wajahmu makin membayang
Hatiku rindu makin bimbang

Malam semakin lelah membungkus ragaku
Suara sunyi mulai meninabobokan
Selamat malam cinta dan kesetiaan
Tunggu aku pulang bawa harapan

By : Icha Mamusu 

.. Terpilih menjadi kontributor dalam lomba puisi yang diadakan penerbit pucuk langit.... dan telah dibukukan ke dalam buku antologi puisi....

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546

SEPERTI MUSIKMU




Bagiku senja selalu indah
Orange melukis warna jingga
Bagiku cinta selalu bermakna
Bersama sosok yang memesona

20 detik lagi mentari sempurna hilang
Kalah indah dengan kau lelakiku
Bagiku kau selalu mengagumkan
Dengan semua indah logikamu

Alunan blues sexy mengantar senyumku
Layaknya kau yang juga setia dengan rock n roll
Serasa bunga cintamu mencumbu ragaku
Saat kau rengkuh hatiku dalam duniamu

Mentari sempurna hilang, sayang
Senja berganti petang yang mesra
Potretmu tegap memeluk tubuhku
Iya, kau terlalu manis sayang

Malam memotret siluet kasih
Yang bermanja dan menggelayut dalam asa
Mata teduhmu yang selalu perkasa menatapku
Membuat wajahku kadang bersemu merah

Kopi ini untukmu sayang
Harumnya tenang membungkus kelam
Pahit hitamnya seperti saat kita merindu
Manisnya seperti kecupan senyummu

Kau bilang, hidup like a rolling stone
Aku bilang, hidup seperti cinta kita
Sekali lagi, kau memang terlalu manis sayang
Sampai kau menjadi candu untukku

Kau yang berjalan dalam kisah cintaku
Berdiam di hati dengan senyum manismu
Lekatkan aku di kisah dan jalan hidupmu
Seperti musikmu rock n roll yang melekat di jiwamu


-Icha Mamusu-11 Juni 2014


Puisi ini terpilih menjadi kontributor dalam even lomba menulis puisi dengan tema "69 arti cinta menurut pujangga". Dan dibukukan ke dalam buku antologi puisi.


DEMOKRASI PALSU



Sebuah pertarungan politik melanda negeri
Tak ada lagi sikap netral dalam konsep diri
Yang dipilih adalah yang banyak memberi
Kini moral penguasa dan rakyat telah dekadensi

Di sana teriak menang di sini teriak menang
Semua buta, berharap jaya rela jadi pecundang
Segala aspirasi demokrasi pun mengambang
Mendukung dimanjakan, tidak mendukung ditendang

Awan biru sudah hilang kawan, semua makan zaman edan
Sumpah-sumpah demi kesejahteraan tapi manipulasi ditinggikan
Pencitraan jadi keindahan yang menebar krisis kepercayaan
Jelata-jelata mendongak ke atas bermimpi tentang harapan

Tikus hitam main gerilya di ajang pemilu
Inikah sudut pandang dari demokrasi palsu?
Apa masih ada kata untuk rakyat di tengah pilu?
Sedangkan yang di atas seperti berjuang demi nafsu

Kudus, 11 Juli 2014

Puisi Icha Mamusu yang berjudul “Demokrasi Palsu” ini, terpilih menjadi kontributor dalam lomba puisi yang diadakan oleh penerbit Goresan Pena Publishing dan dibukukan ke dalam buku antologi puisi dengan tema “Teriakan Tentang Pilpres”.


ASA YANG MENGAMBANG




Derai-derai rintik hujan berwajah sendu
Memuai bersama asa dan menguap pilu
Derai-derai debu kemarau telah berlalu
Dan semua mimpi terbangun oleh hantu

Radar cita tersendat sinyal nestapa
Impian diwarnai kelabu yang merana
Aku melangkah menangguhkan asa
Menebar kesejukan hujan di kala senja

Gemericik hujan menemani langkah kaki
Aku memainkan kubangan air dan menari
Tidakkah kau tahu impianku tanpa nyali?
Dan apa arti impian jika hanya sebatas mimpi?

Derai derai angin berhembus menyejukkan
Aku berdiri lelah di atas bukit harapan
Jangan kau jatuhkan aku tanpa kekuatan
Aku memelas mengharap setetes ketenangan

Kemarau yang hangat,  kuharap kau kembali datang
Dinginnya hujan terlalu beku untuk sebuah peluang
Kemeriahan asa dan cita terus kurasa mengambang
Dan semoga Tuhan menjaga impianku sekarang


by : Icha Mamusu

Puisi ini lolos dan masuk sebagai kontributor dalam even lomba puisi dengan tema "Menebar Asa di Enam Musim". Dan dibukukan bersama penulis lainnya... 






Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage

Saturday, 22 August 2015

Mengharap Tumbuhnya Jamur di Musim Kemarau 3


Pukul 21.07 menit. Aku keluar dari kamarku usai mengerjakan tugas kuliah. Tanganku sibuk menata jilbabku, kemudian mengusap wajah lelahku. Aku berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih di kulkas. Haus sekali rasanya. Sayup-sayup aku mendengar pembicaraan Ayah dan Ibu.
“Telepon dari siapa Yah?” tanya Ibu pada Ayah.
“Fajar. Masih ingat tidak, Fajar teman SMA Ayah dulu?”
“Hmm, ada apa Yah? tumben sekali dia menelpon.”
“Katanya ada sesuatu yang ingin mereka biacarakan dan jika ada wakunya nanti mereka akan ke rumah.” Kata Ayah menjelaskan.
Aku berjalan menuju ruang keluarga. Tidak terdengar suara Adikku Achya yang biasanya berisik. Mungkin sudah tidur. Ayah dan Ibu terlihat serius sekali membicarakan sesuatu. Entah apa, aku menghampiri mereka. Ikut duduk sembari menonton televisi.
“Sudah selesai tugas kuliahmu, Syafira?” tanya Ayah.
“Sudah Yah.” Kataku sambil meraih remot televisi yang ada di meja depanku.
Ayah dan Ibu melanjutkan pembicaraan serius mereka. Mau tak mau aku mendengarnya. Sepertinya akan ada yang datang minggu depan. Tamu spesial? siapa?. Aku sibuk menggonta-ganti chanel televisi, bosan dengan acara berita politik yang itu-itu saja.
“Kau masih dengan Abrisyam, Syafira?” tanya Ibu dengan wajah yang serius.
“Iya Bu. Kenapa?” kataku sambil mengernyitkan dahi.
Ibu menoleh menatap wajah Ayahku. Ekspresi tidak suka? Tapi entahlah. Aku mengernyitkan dahi – ada apa? Rasa-rasanya ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan. Aku masih menunggu penjelasan mereka. Kenapa ekspresi Ayah dan Ibu terlihat aneh mendengar aku masih berhubungan dengan Mas Isyam?
“Syafira, begini. Kamu masih ingat anaknya Om Fajar tidak?” tanya Ayah.
“Maksud Ayah, Dani?” tanyaku serius.
Ayah menjelaskan semuanya dan itu cukup membuatku kaget. Minggu depan mereka akan ke sini untuk bersilahturahmi. Dan katanya, Om Fajar ingin agar aku bisa menjalin hubungan serius dengan Dani anaknya.
“Apaa? Ini rencana yang gila!!” gumamku dalam hati. Aku benar-benar terkejut. Seperti ada batu yang jatuh menimpa kepalaku. Bagaimana mungkin. Mas Isyam bagimana?
Ayah juga menjelaskan bahwa itu semua mereka lakukan karena dulu semasa sekolah, Ayah dan Om Fajar pernah bergurau ingin menjodohkan kedua anaknya apabila nanti hal itu bisa dilakukan. Dan mereka ingin mewujudkan itu semua menjadi kenyataan.
“Syafira, sebaiknya kau dengan Dani saja. Daripada terus-terusan menunggu Abrisyam yang tak kunjung pulang untuk menemuimu.” Kata Ibu mulai membujukku.
“Mas Isyam punya alasan untuk itu Bu, dia kuliah!” jelasku.
“Tapi keluarga Om Fajar akan tetap melamarmu untuk anaknya!” Kata Ibu tegas dan menciutkan penantianku untuk Mas Isyam.
Aku berlalu dan bergegas ke kamar. Rasa-rasanya aku tak habis pikir. Kenapa orangtuaku ingin melakukan perjodohan itu. Bukankah mereka sudah setuju jika aku menjalin hubungan dengan Mas Isyam?
Saat ini aku sedang menunggunya. Mas Isyam sedang belajar untuk meraih impiannya. Dia juga sedang memantaskan diri untukku, demi menjadi imamku kelak. Apa yang harus aku lakukan? Benarkah semua ini akhirnya harus terjadi dan berakhir dengan segenap rindu yang hanya sia-sia? Segala impianku bersama Mas Isyam haruskah melebur menjadi asa yang tak berarti?
Aku memencet tuts di handphoneku dengan cepat. Mengetikkan nomor Mas Isyam dan bergegas menghubunginya. Tuuuttttttt, ttuutttttttt….. aku masih menunggu suara seseorang menerima panggilanku. Beberapa detik masih ttuuuutttt, tttuuuuttttt…… dan akhirnya “Maaf nomor yang anda tuju tidak bisa menerima panggilan anda. Silakan coba beberapa saat lagi.” Berkali-kali aku mengulanginya, tapi tetap saja hanya suara operator yang menyapa. Aku mengusap peluh di wajahku.
Ya Allah, haruskah aku mematahkan segenap asa yang sudah aku rajut bersama Mas Isyam? Sementara jika dia tidak kembali dalam waktu dekat ini dan menjelaskan semuanya pada orangtuaku, maka itu berarti kita harus. . . . . . . . . . . . .
Aku membenamkan kepalaku di bantal. Membungkam mulutku dan menangis sejadi-jadinya. Rasanya aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. “Mas Isyam, aku rindu, aku ingin kau pulang!”
Sebait puisi tak akan mampu melebur harapan
Hujan, tapi kau yang kutunggu tak juga kembali
Sebentar lagi kemarau datang dengan kisah usang
Bolehkah aku lelah dengan mimpi-mimpi?
Dan rindu pun menenggelamkan asa
Inilah rinduku Mas, dan perlahan rindu ini akan menenggelamkan asa. Sekali lagi, merinduimu sama dengan mengharap tumbuhnya jamur di musim kemarau. 
 
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546