Aku masih tepekur diam duduk di kursi sambil
memandangi foto Mas Wiji lagi. Aku kini menjadi tukang jahit Mas untuk
menyambung hidup. Aku selalu mengharapkanmu senantiasa di sampingku. Tapi
rupanya itu selalu jadi mimpi indah yang tak pernah kesampaian. 16 tahun
Reformasi berlangsung, selama itu pula kita berpisah. Aku akui sudah ada
keberanian orang-orang hukum untuk mengungkap kebenaran. Tapi tentunya mereka
belum berani menerobos masuk kepada pelaku yang menghilangkanmu Mas. Hati
kecilku selalu berharap dan berdoa agar kamu masih hidup walaupun kini aku
tidak tahu di mana kamu.
Cita-citamu juga sedikit demi sedikit sudah
tercapai Mas. Sebelum Reformasi dulu kamu pernah mempunyai gagasan tentang
pendidikan dan pengobatan gratis yang pernah kamu angkat dalam sebuah pagelaran
teater. Saat ini pendidikan dan pengobatan gratis itu sudah ada. Bahkan di Kota
kenangan kita ini, di Solo. Yah, cita-citamu sudah tercapai. “Apa kamu juga
merasakan itu Mas?” Dadaku kembali sesak.
Pikiranku kembali mengingat saat pertemuan
kami di stasiun KA Tugu Yogyakarta. Saat itu adalah saat yang indah walau hanya
sebentar. Aku dan anak-anak bertemu dengan Mas Wiji. Tapi saat itu juga Mas
Wiji berkeinginan untuk seorang anaknya bisa ikut dengannya. Namun anak-anak
lebih memilih tinggal bersama kedua orangtuanya.
Dalam kesempatan itu Mas Wiji juga mengatakan
bahwa dia tidak akan pulang dalam satu tahun. Saat aku tanya “Kenapa?”, dia
justru bilang dengan tingkah kocaknya “Beberapa hari lagi
kan sudah pergantian tahun.” Aku yang tersadar segera ingat, tentu saja dia
bilang seperti itu mengingat pertemuan kami waktu itu adalah di bulan Desember
1997. Sejak saat itulah kami tidak melihat lagi Mas Wiji. Yang kami saksikan
hanyalah di belakang Mas Wiji banyak sekali tentara. Itulah pertemuan terakhir
kami.
Penghilangan terhadap Mas Wiji dan sejumlah
aktivis lain adalah simbol penghilangan terhadap sebuah konfrontasi. Itu yang
menjadikan suamiku bukan sebagai “orang hilang” melainkan ketidakhadirannya
dikarenakan kemauannya sendiri atau ulah sebuah kelompok pencabut kebahagiaan
yang takut kebenaran. Aku sendiri tidak mengerti kenapa kasus ini tak kunjung
ada ujungnya Mas. Sampai saat ini kamu tak pernah pulang. Bahkan menurut
Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1992 tentang perlindungan semua
orang dari tindak penghilangan paksa menyebutkan bahwa penghilangan paksa
adalah kejahatan yang berkelanjutan.
Dari itu seharusnya mereka dapat menyimpulkan
bahwa kejahatan itu tidak dibatasi waktu dan tidak akan kedaluwarsa. Selama
belum diungkap dan diakui, itu akan tetap menjadi kasus kejahatan. Pelakunya
bahkan bisa dikenakan hukum pidana. Namun apa yang kita dapat? Aku dan
anak-anak hanya tahu sosok seorang suami sekaligus bapak dari anak-anak hilang
tanpa ada proses hukum yang berkelanjutan hingga sekarang. Walaupun ada
tindakan hukum, proses itu pun muncul dan tenggelam. Yah, tak jelas. Mungkin
mereka lelah Mas, atau ada sebab lain. Semoga Tuhan selalu menjaga dan
melindungimu Mas, di mana pun kamu berada.
Hujan sudah berhenti turun. Senja juga sudah
beranjak naik. Aku kembali meletakkan bingkai foto Mas Wiji di sudut meja. “Mas aku kangen,
pulanglah Mas.” Kataku sambil mengusap sisa air mataku yang menetes. Aku
masih sangat mencintaimu. Kesetiaanku tidak akan pernah luntur padamu Mas.
Bahkan sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu pulang. Berharap kau masih
hidup dan temani aku di sisa umur tuaku. Menjalani kehidupan bersama, melihat
anak dan cucu kita tumbuh menjadi sosok yang hebat seperti bapak sekaligus
kakek mereka. Aku istrimu, Dyah Sujirah (Sipon) selalu mencintaimu Mas Wiji
Thukul.
*****
By : Icha Mamusu
cerpen ini saya buat dan saya dedikasikan
untuk Wiji Thukul dan keluarganya... semoga selalu dalam lindungan-Nya dan
sabar menanti ketidakpastian... Teruntuk Kau yang dilupakan, Wiji Thukul tak
pernah mati, ia akan selalu hidup dalam kobaran semangat menuntut keadilan..























