Saturday, 22 August 2015

Mengharap Tumbuhnya Jamur di Musim Kemarau 3


Pukul 21.07 menit. Aku keluar dari kamarku usai mengerjakan tugas kuliah. Tanganku sibuk menata jilbabku, kemudian mengusap wajah lelahku. Aku berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih di kulkas. Haus sekali rasanya. Sayup-sayup aku mendengar pembicaraan Ayah dan Ibu.
“Telepon dari siapa Yah?” tanya Ibu pada Ayah.
“Fajar. Masih ingat tidak, Fajar teman SMA Ayah dulu?”
“Hmm, ada apa Yah? tumben sekali dia menelpon.”
“Katanya ada sesuatu yang ingin mereka biacarakan dan jika ada wakunya nanti mereka akan ke rumah.” Kata Ayah menjelaskan.
Aku berjalan menuju ruang keluarga. Tidak terdengar suara Adikku Achya yang biasanya berisik. Mungkin sudah tidur. Ayah dan Ibu terlihat serius sekali membicarakan sesuatu. Entah apa, aku menghampiri mereka. Ikut duduk sembari menonton televisi.
“Sudah selesai tugas kuliahmu, Syafira?” tanya Ayah.
“Sudah Yah.” Kataku sambil meraih remot televisi yang ada di meja depanku.
Ayah dan Ibu melanjutkan pembicaraan serius mereka. Mau tak mau aku mendengarnya. Sepertinya akan ada yang datang minggu depan. Tamu spesial? siapa?. Aku sibuk menggonta-ganti chanel televisi, bosan dengan acara berita politik yang itu-itu saja.
“Kau masih dengan Abrisyam, Syafira?” tanya Ibu dengan wajah yang serius.
“Iya Bu. Kenapa?” kataku sambil mengernyitkan dahi.
Ibu menoleh menatap wajah Ayahku. Ekspresi tidak suka? Tapi entahlah. Aku mengernyitkan dahi – ada apa? Rasa-rasanya ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan. Aku masih menunggu penjelasan mereka. Kenapa ekspresi Ayah dan Ibu terlihat aneh mendengar aku masih berhubungan dengan Mas Isyam?
“Syafira, begini. Kamu masih ingat anaknya Om Fajar tidak?” tanya Ayah.
“Maksud Ayah, Dani?” tanyaku serius.
Ayah menjelaskan semuanya dan itu cukup membuatku kaget. Minggu depan mereka akan ke sini untuk bersilahturahmi. Dan katanya, Om Fajar ingin agar aku bisa menjalin hubungan serius dengan Dani anaknya.
“Apaa? Ini rencana yang gila!!” gumamku dalam hati. Aku benar-benar terkejut. Seperti ada batu yang jatuh menimpa kepalaku. Bagaimana mungkin. Mas Isyam bagimana?
Ayah juga menjelaskan bahwa itu semua mereka lakukan karena dulu semasa sekolah, Ayah dan Om Fajar pernah bergurau ingin menjodohkan kedua anaknya apabila nanti hal itu bisa dilakukan. Dan mereka ingin mewujudkan itu semua menjadi kenyataan.
“Syafira, sebaiknya kau dengan Dani saja. Daripada terus-terusan menunggu Abrisyam yang tak kunjung pulang untuk menemuimu.” Kata Ibu mulai membujukku.
“Mas Isyam punya alasan untuk itu Bu, dia kuliah!” jelasku.
“Tapi keluarga Om Fajar akan tetap melamarmu untuk anaknya!” Kata Ibu tegas dan menciutkan penantianku untuk Mas Isyam.
Aku berlalu dan bergegas ke kamar. Rasa-rasanya aku tak habis pikir. Kenapa orangtuaku ingin melakukan perjodohan itu. Bukankah mereka sudah setuju jika aku menjalin hubungan dengan Mas Isyam?
Saat ini aku sedang menunggunya. Mas Isyam sedang belajar untuk meraih impiannya. Dia juga sedang memantaskan diri untukku, demi menjadi imamku kelak. Apa yang harus aku lakukan? Benarkah semua ini akhirnya harus terjadi dan berakhir dengan segenap rindu yang hanya sia-sia? Segala impianku bersama Mas Isyam haruskah melebur menjadi asa yang tak berarti?
Aku memencet tuts di handphoneku dengan cepat. Mengetikkan nomor Mas Isyam dan bergegas menghubunginya. Tuuuttttttt, ttuutttttttt….. aku masih menunggu suara seseorang menerima panggilanku. Beberapa detik masih ttuuuutttt, tttuuuuttttt…… dan akhirnya “Maaf nomor yang anda tuju tidak bisa menerima panggilan anda. Silakan coba beberapa saat lagi.” Berkali-kali aku mengulanginya, tapi tetap saja hanya suara operator yang menyapa. Aku mengusap peluh di wajahku.
Ya Allah, haruskah aku mematahkan segenap asa yang sudah aku rajut bersama Mas Isyam? Sementara jika dia tidak kembali dalam waktu dekat ini dan menjelaskan semuanya pada orangtuaku, maka itu berarti kita harus. . . . . . . . . . . . .
Aku membenamkan kepalaku di bantal. Membungkam mulutku dan menangis sejadi-jadinya. Rasanya aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. “Mas Isyam, aku rindu, aku ingin kau pulang!”
Sebait puisi tak akan mampu melebur harapan
Hujan, tapi kau yang kutunggu tak juga kembali
Sebentar lagi kemarau datang dengan kisah usang
Bolehkah aku lelah dengan mimpi-mimpi?
Dan rindu pun menenggelamkan asa
Inilah rinduku Mas, dan perlahan rindu ini akan menenggelamkan asa. Sekali lagi, merinduimu sama dengan mengharap tumbuhnya jamur di musim kemarau. 
 
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

Categories:

0 comments:

Post a Comment