“Telepon
dari siapa Yah?” tanya Ibu pada Ayah.
“Fajar.
Masih ingat tidak, Fajar teman SMA Ayah dulu?”
“Hmm,
ada apa Yah? tumben sekali dia menelpon.”
“Katanya
ada sesuatu yang ingin mereka biacarakan dan jika ada wakunya nanti mereka akan
ke rumah.” Kata Ayah menjelaskan.
Aku
berjalan menuju ruang keluarga. Tidak terdengar suara Adikku Achya yang
biasanya berisik. Mungkin sudah tidur. Ayah dan Ibu terlihat serius sekali
membicarakan sesuatu. Entah apa, aku menghampiri mereka. Ikut duduk sembari
menonton televisi.
“Sudah
selesai tugas kuliahmu, Syafira?” tanya Ayah.
“Sudah
Yah.” Kataku sambil meraih remot televisi yang ada di meja depanku.
Ayah
dan Ibu melanjutkan pembicaraan serius mereka. Mau tak mau aku mendengarnya.
Sepertinya akan ada yang datang minggu depan. Tamu spesial? siapa?. Aku sibuk
menggonta-ganti chanel televisi, bosan dengan acara berita politik yang itu-itu saja.
“Kau
masih dengan Abrisyam, Syafira?” tanya Ibu dengan wajah yang serius.
“Iya
Bu. Kenapa?” kataku sambil mengernyitkan dahi.
Ibu
menoleh menatap wajah Ayahku. Ekspresi tidak suka? Tapi entahlah. Aku
mengernyitkan dahi – ada apa? Rasa-rasanya ada sesuatu yang ingin mereka
bicarakan. Aku masih menunggu penjelasan mereka. Kenapa ekspresi Ayah dan Ibu
terlihat aneh mendengar aku masih berhubungan dengan Mas Isyam?
“Syafira,
begini. Kamu masih ingat anaknya Om Fajar tidak?” tanya Ayah.
“Maksud
Ayah, Dani?” tanyaku serius.
Ayah
menjelaskan semuanya dan itu cukup membuatku kaget. Minggu depan mereka akan ke
sini untuk bersilahturahmi. Dan katanya, Om Fajar ingin agar aku bisa menjalin
hubungan serius dengan Dani anaknya.
“Apaa? Ini rencana yang gila!!” gumamku dalam hati. Aku
benar-benar terkejut. Seperti ada batu yang jatuh menimpa kepalaku. Bagaimana
mungkin. Mas Isyam bagimana?
Ayah
juga menjelaskan bahwa itu semua mereka lakukan karena dulu semasa sekolah,
Ayah dan Om Fajar pernah bergurau ingin menjodohkan kedua anaknya apabila nanti
hal itu bisa dilakukan. Dan mereka ingin mewujudkan itu semua menjadi
kenyataan.
“Syafira,
sebaiknya kau dengan Dani saja. Daripada terus-terusan menunggu Abrisyam yang
tak kunjung pulang untuk menemuimu.” Kata Ibu mulai membujukku.
“Mas
Isyam punya alasan untuk itu Bu, dia kuliah!” jelasku.
“Tapi
keluarga Om Fajar akan tetap melamarmu untuk anaknya!” Kata Ibu tegas dan menciutkan penantianku untuk Mas Isyam.
Aku
berlalu dan bergegas ke kamar. Rasa-rasanya aku tak habis pikir. Kenapa
orangtuaku ingin melakukan perjodohan itu. Bukankah mereka sudah setuju jika
aku menjalin hubungan dengan Mas Isyam?
Saat
ini aku sedang menunggunya. Mas Isyam sedang belajar untuk meraih impiannya. Dia juga
sedang memantaskan diri untukku, demi menjadi imamku
kelak. Apa
yang harus aku lakukan? Benarkah semua ini akhirnya harus terjadi dan berakhir
dengan segenap rindu yang hanya sia-sia? Segala impianku bersama Mas Isyam
haruskah melebur menjadi asa yang tak berarti?
Aku
memencet tuts di handphoneku dengan cepat. Mengetikkan nomor Mas Isyam dan bergegas
menghubunginya. Tuuuttttttt, ttuutttttttt….. aku masih menunggu suara seseorang
menerima panggilanku. Beberapa detik masih ttuuuutttt, tttuuuuttttt…… dan
akhirnya “Maaf nomor yang anda tuju tidak
bisa menerima panggilan anda. Silakan coba beberapa saat lagi.” Berkali-kali
aku mengulanginya, tapi tetap saja hanya suara operator yang menyapa. Aku
mengusap peluh di wajahku.
Ya
Allah, haruskah aku mematahkan segenap asa yang sudah aku rajut bersama Mas
Isyam? Sementara jika dia tidak kembali dalam waktu dekat ini dan menjelaskan
semuanya pada orangtuaku, maka itu berarti kita harus. . . . . . . . . . . . .
Aku membenamkan kepalaku di bantal. Membungkam mulutku dan menangis
sejadi-jadinya. Rasanya aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. “Mas Isyam, aku rindu, aku ingin kau pulang!”
Sebait puisi tak akan mampu melebur harapan
Hujan, tapi kau yang kutunggu tak juga kembali
Sebentar lagi kemarau datang dengan kisah usang
Bolehkah aku lelah dengan mimpi-mimpi?
Dan rindu pun menenggelamkan asa
Inilah
rinduku Mas, dan perlahan rindu ini akan menenggelamkan asa. Sekali lagi,
merinduimu sama dengan mengharap tumbuhnya jamur di musim kemarau.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment