Harum mawar merebah dalam istana bunga-bunga
cinta
Masih saja lekat bersama siluet dirimu yang
memesona
Bulir embun jatuh perlahan di kuncup yang
hampir mekar
Aku membelai bulirnya, merasakan dingin yang
romantis
Angin berhembus meniup dahan-dahan kerinduan
Dan tidakkah kau bisa
mencium harum apakah ini?
Ya, harum khas tanah bercampur air sejuk sang
legenda
Dan sebentar lagi sang legenda akan turun
seiring mendung
Aku menjamah sisa-sisa embun ketenangan di
istana bunga
Mengejek mentari yang tak berani muncul di
depan pesonaku
Kau tahu, aku selalu merindukan peluk yang
mencumbu logikaku?
Tapi kau tak juga hadir, dan kini kau bagai
mentari yang bermental kerdil
Satu, dua, tiga, sang legenda ini telah turun
sayang, lihatlah!
Rerintiknya makin deras menghujam istana
bunga cintaku
Kau tahu, bulir airnya kini sudah menciumi
tubuh indahku
Sejuk menggelayut mesra, dan tidakkah kau
cemburu melihatnya?
Andai kau tahu sayang, apapun yang kau
lakukan kutetap menantimu
Tak perlu kau menjelma atau merubah dirimu
seindah bunga merah ini
Tak usah kau menjadi hujan yang bisa
mencumbui ragaku kapan saja
Yang perlu kau tahu, legenda itu telah
mengutukku untuk tinggal di hatimu
By : Icha Mamusu
Puisi yang berjudul “KUTUKAN SANG LEGENDA”
ini terpilih menjadi jawara 1 (Satu) dalam even lomba Puisi dan Sketsa dengan
tema “TAK PERLU MENJELMA MAWAR” yang diadakan oleh Mafaza Media.Publishing.
Karya puisi saya ini juga dibukukan ke dalam buku antologi puisi bersama karya
para penulis lainnya.
Simak juga puisi dan lembaran
cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546










Juara 1?? wah, ajarin dong kak. pengen banget bisa bikin puisi yang keren
ReplyDeletepuisinya seksi banget ceritanya, heheheh
ReplyDeleteWah kereeeeennn :)
ReplyDelete