Saturday, 29 August 2015

Wiji Thukul - Kembalilah Pulang 4




Aku masih tepekur diam duduk di kursi sambil memandangi foto Mas Wiji lagi. Aku kini menjadi tukang jahit Mas untuk menyambung hidup. Aku selalu mengharapkanmu senantiasa di sampingku. Tapi rupanya itu selalu jadi mimpi indah yang tak pernah kesampaian. 16 tahun Reformasi berlangsung, selama itu pula kita berpisah. Aku akui sudah ada keberanian orang-orang hukum untuk mengungkap kebenaran. Tapi tentunya mereka belum berani menerobos masuk kepada pelaku yang menghilangkanmu Mas. Hati kecilku selalu berharap dan berdoa agar kamu masih hidup walaupun kini aku tidak tahu di mana kamu.

Cita-citamu juga sedikit demi sedikit sudah tercapai Mas. Sebelum Reformasi dulu kamu pernah mempunyai gagasan tentang pendidikan dan pengobatan gratis yang pernah kamu angkat dalam sebuah pagelaran teater. Saat ini pendidikan dan pengobatan gratis itu sudah ada. Bahkan di Kota kenangan kita ini, di Solo. Yah, cita-citamu sudah tercapai. “Apa kamu juga merasakan itu Mas?” Dadaku kembali sesak.

Pikiranku kembali mengingat saat pertemuan kami di stasiun KA Tugu Yogyakarta. Saat itu adalah saat yang indah walau hanya sebentar. Aku dan anak-anak bertemu dengan Mas Wiji. Tapi saat itu juga Mas Wiji berkeinginan untuk seorang anaknya bisa ikut dengannya. Namun anak-anak lebih memilih tinggal bersama kedua orangtuanya.

Dalam kesempatan itu Mas Wiji juga mengatakan bahwa dia tidak akan pulang dalam satu tahun. Saat aku tanya “Kenapa?”, dia justru bilang dengan tingkah kocaknya “Beberapa hari lagi kan sudah pergantian tahun.” Aku yang tersadar segera ingat, tentu saja dia bilang seperti itu mengingat pertemuan kami waktu itu adalah di bulan Desember 1997. Sejak saat itulah kami tidak melihat lagi Mas Wiji. Yang kami saksikan hanyalah di belakang Mas Wiji banyak sekali tentara. Itulah pertemuan terakhir kami.

Penghilangan terhadap Mas Wiji dan sejumlah aktivis lain adalah simbol penghilangan terhadap sebuah konfrontasi. Itu yang menjadikan suamiku bukan sebagai “orang hilang” melainkan ketidakhadirannya dikarenakan kemauannya sendiri atau ulah sebuah kelompok pencabut kebahagiaan yang takut kebenaran. Aku sendiri tidak mengerti kenapa kasus ini tak kunjung ada ujungnya Mas. Sampai saat ini kamu tak pernah pulang. Bahkan menurut Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1992 tentang perlindungan semua orang dari tindak penghilangan paksa menyebutkan bahwa penghilangan paksa adalah kejahatan yang berkelanjutan.  

Dari itu seharusnya mereka dapat menyimpulkan bahwa kejahatan itu tidak dibatasi waktu dan tidak akan kedaluwarsa. Selama belum diungkap dan diakui, itu akan tetap menjadi kasus kejahatan. Pelakunya bahkan bisa dikenakan hukum pidana. Namun apa yang kita dapat? Aku dan anak-anak hanya tahu sosok seorang suami sekaligus bapak dari anak-anak hilang tanpa ada proses hukum yang berkelanjutan hingga sekarang. Walaupun ada tindakan hukum, proses itu pun muncul dan tenggelam. Yah, tak jelas. Mungkin mereka lelah Mas, atau ada sebab lain. Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungimu Mas, di mana pun kamu berada. 

Hujan sudah berhenti turun. Senja juga sudah beranjak naik. Aku kembali meletakkan bingkai foto Mas Wiji di sudut meja. “Mas aku kangen, pulanglah Mas.” Kataku sambil mengusap sisa air mataku yang menetes. Aku masih sangat mencintaimu. Kesetiaanku tidak akan pernah luntur padamu Mas. Bahkan sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu pulang. Berharap kau masih hidup dan temani aku di sisa umur tuaku. Menjalani kehidupan bersama, melihat anak dan cucu kita tumbuh menjadi sosok yang hebat seperti bapak sekaligus kakek mereka. Aku istrimu, Dyah Sujirah (Sipon) selalu mencintaimu Mas Wiji Thukul.


*****


By : Icha Mamusu

cerpen ini saya buat dan saya dedikasikan untuk Wiji Thukul dan keluarganya... semoga selalu dalam lindungan-Nya dan sabar menanti ketidakpastian... Teruntuk Kau yang dilupakan, Wiji Thukul tak pernah mati, ia akan selalu hidup dalam kobaran semangat menuntut keadilan..


Categories:

1 comment:

  1. Entah masih hidup ato sdh mati... g jelas

    ReplyDelete