Malam, tegak tubuh mungilnya membentuk
siluet. Duduk di beranda rumah kumuh dekat dengan gunungan sampah. Matanya
remang membidik jajaran lampu-lampu gedung tinggi. Sebentar lagi perkampungan
kumuh ini akan rata dengan tanah. Baiklah jika pemerintah menyertakan ganti
atas pemerataan itu, tapi bagaimana jika itu hanya janji? Atau setidaknya
biarkan saja mereka tinggal di atas tanah yang menjadi saksi kelahirannya.
“Lintang, bersihkan botol-botol plastiknya.” pinta Ibunya. Ia hanya mengangguk, masih menatap sinis gedung-gedung mewah di depannya. Semua menjulang tinggi, menutup kemiskinan dan membuat kesan seolah Negara ini baik-baik saja.
“Lintang, bersihkan botol-botol plastiknya.” pinta Ibunya. Ia hanya mengangguk, masih menatap sinis gedung-gedung mewah di depannya. Semua menjulang tinggi, menutup kemiskinan dan membuat kesan seolah Negara ini baik-baik saja.
“Bu, apa setelah ini akan ada pembatas tembok yang tinggi di sini?”
“Sepertinya begitu, di depan sana akan dibangun gedung pemerintahan. Tak mungkin jika mereka nanti hidup berdampingan dengan kita. Atau mungkin kita yang akan pindah.”
“Bu, kenapa kita seperti sampah?”
“Siapa yang bilang?”
Lintang terdiam. Yah, di Negeri ini. Atas nama pembangunan, mereka yang hidup di tepian pun halal untuk disingkirkan.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang
lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment