Thursday, 27 August 2015

PEMBATAS KUMUH

 

Malam, tegak tubuh mungilnya membentuk siluet. Duduk di beranda rumah kumuh dekat dengan gunungan sampah. Matanya remang membidik jajaran lampu-lampu gedung tinggi. Sebentar lagi perkampungan kumuh ini akan rata dengan tanah. Baiklah jika pemerintah menyertakan ganti atas pemerataan itu, tapi bagaimana jika itu hanya janji? Atau setidaknya biarkan saja mereka tinggal di atas tanah yang menjadi saksi kelahirannya.

“Lintang, bersihkan botol-botol plastiknya.” pinta Ibunya. Ia hanya mengangguk, masih menatap sinis gedung-gedung mewah di depannya. Semua menjulang tinggi, menutup kemiskinan dan membuat kesan seolah Negara ini baik-baik saja.

“Bu, apa setelah ini akan ada pembatas tembok yang tinggi di sini?”

“Sepertinya begitu, di depan sana akan dibangun gedung pemerintahan. Tak mungkin jika mereka nanti hidup berdampingan dengan kita. Atau mungkin kita yang akan pindah.”

“Bu, kenapa kita seperti sampah?”

“Siapa yang bilang?”
 
Lintang terdiam. Yah, di Negeri ini. Atas nama pembangunan, mereka yang hidup di tepian pun halal untuk disingkirkan.

*****

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546


Categories:

0 comments:

Post a Comment