Hujan tak henti-hentinya turun menghujam.
Mendung juga hitam pekat membungkus Kota. Aku terus memandangi foto dan lukisan
suamiku. “Aku
kangen sama kamu Mas.” Kataku sambil membelai sebuah foto lama yang hampir
usang. Tak terasa ada bulir air menetes di sudut mataku. Sudah bertahun-tahun
kamu tidak pulang Mas. Bagaimana kabarmu? Aku dan anak-anak bahkan tidak pernah
tahu apakah kamu masih hidup atau sudah......... Sungguh, harapanku hanyalah
kamu masih hidup dan bisa kembali pulang berkumpul bersama kami.
“Ibu, kenapa? Kangen sama Bapak?” tanya Wani anakku. Aku menoleh dan mengusap
air mataku. “Iya
Nduk, Ibu kangen sama Bapakmu. Sudah 16 tahun Bapakmu ndak pulang.” Anakku
Wani mulai memelukku dan mengusap air mataku yang kembali menetes. Dia berusaha
menghiburku yang makin tak kuat menahan kangen kepada suamiku. Mas Wiji,
suamiku yang hilang sejak Mei 1998. Dia tak pernah pulang bertemu denganku
ataupun anak-anak.
Keberadaannya masih menjadi misteri untuk
semua orang termasuk kami keluarganya. Aku bahkan pernah berpikir apakah
hilangnya dirimu adalah sebuah skenario besar untuk menghilangkan atau sekadar
menyembunyikan hingga batas waktu yang tak pernah kami ketahui. Mengingat di
saat itu para tentara membentuk tim untuk menculik sejumlah aktivis. Sembilan
orang dibebaskan, belasan lainnya masih hilang hingga kini dan tak jelas
nasibnya.
Suamiku Wiji adalah sosok lelaki yang sangat
aku cintai. Sosok lelaki yang berasal dari keluarga sederhana. Keluarga penarik
becak. Dia bahkan rela berhenti sekolah agar adik-adiknya bisa melanjutkan
sekolah. Dulu hidupnya menggelandang, mendirikan grup teater, mengamen puisi
dari kampung ke kampung dan dari kota ke kota, kemudian bertekad keras menjadi
aktivis pembela buruh. Yah, suamiku adalah seorang seniman dan aktivis.
Dia juga selalu membuat plakat, pamflet,
cerita pendek untuk menyuarakan keadilan di tengah carut marut Negara Indonesia
di kala itu. Suamiku juga ikut terlibat aksi keras menantang Orde Baru.
Gara-gara itu juga suamiku dikejar-kejar dan menjadi buronan. Suamiku dianggap
orang yang bahaya oleh kalangan penguasa Orde Baru.
Namanya juga banyak disebut di televisi oleh
seorang jenderal sebagai dalang kerusuhan pada tanggal 27 Juli 1996. Hidupnya
selalu berpindah-pindah. Dari Solo, Salatiga, Yogyakarta, Magelang, Jakarta dan
Kalimantan. Dia selalu bersembunyi sambil mengawasi dan terus terlibat aksi
menantang Orde baru. Saat menjadi buronan aparat di Jakarta, para aktivis
prodemokrasi juga turut membantu menyembunyikannya.
Aku masih ingat saat dulu pertama kali
bertemu. Waktu itu aku sedang mengevakuasi tetanggaku yang terkena musibah
banjir di Kampung Jagalan, Solo. Aku begitu sebal saat melihatnya seperti orang
yang aneh. Kami semua sibuk mengevakuasi tapi Mas Wiji hanya melihat saja dan malah
bergaya dengan kameranya, sibuk memotret. Tak tahan karena begitu kesal aku
menegurnya, menyuruhnya ikut membantu.
Berapa waktu setelah pertemuan pertama itu
aku kembali bertemu dengannya saat dia sedang berlatih teater di Sarang Teater
Jagat yang tidak jauh dari rumahku. Aku melihatnya waktu itu berperan sebagai
seorang Raja. Karena suamiku memang tidak bisa mengucapkan huruf “r” alhasil
dalam setiap adegan banyak yang mengerjainya untuk kembali mengucapkan huruf
“r” dengan jelas. Aku sampai kasihan melihatnya.
Mulai saat itulah kami saling berkenalan. Mas
Wiji saat itu juga bekerja sebagai seorang tukang pelitur kayu di sebuah
perusahaan mebel dan bekerja juga menjadi wartawan Masakini di sebuah media
milik Muhammadiyah. Satu bulan kami saling mengenal dengan baik. 24 Februari
1988, saat aku sedang duduk di ruang tamu. Mas Wiji membacakan puisi berjudul
“Catatan Malam” karanganya di hadapanku. Hatiku serasa berbunga-bunga. “Kalau kamu perempuan
itu, mau tidak jadi pacarku?” kata Mas Wiji padaku. Dengan hati yang begitu
bahagia mendengar ucapannya, aku menerima permohonannya untuk menjadi pacarnya.
(bersambung . . .)
By : Icha Mamusu
cerpen ini saya buat dan saya dedikasikan
untuk Wiji Thukul dan keluarganya... semoga selalu dalam lindungan-Nya dan
sabar menanti ketidakpastian... Teruntuk Kau yang dilupakan, Wiji Thukul tak
pernah mati, ia akan selalu hidup dalam kobaran semangat menuntut keadilan..








0 comments:
Post a Comment