Saturday, 29 August 2015

Wiji Thukul - Kembalilah Pulang 1





Hujan tak henti-hentinya turun menghujam. Mendung juga hitam pekat membungkus Kota. Aku terus memandangi foto dan lukisan suamiku. “Aku kangen sama kamu Mas.” Kataku sambil membelai sebuah foto lama yang hampir usang. Tak terasa ada bulir air menetes di sudut mataku. Sudah bertahun-tahun kamu tidak pulang Mas. Bagaimana kabarmu? Aku dan anak-anak bahkan tidak pernah tahu apakah kamu masih hidup atau sudah......... Sungguh, harapanku hanyalah kamu masih hidup dan bisa kembali pulang berkumpul bersama kami.

“Ibu, kenapa? Kangen sama Bapak?” tanya Wani anakku. Aku menoleh dan mengusap air mataku. “Iya Nduk, Ibu kangen sama Bapakmu. Sudah 16 tahun Bapakmu ndak pulang.” Anakku Wani mulai memelukku dan mengusap air mataku yang kembali menetes. Dia berusaha menghiburku yang makin tak kuat menahan kangen kepada suamiku. Mas Wiji, suamiku yang hilang sejak Mei 1998. Dia tak pernah pulang bertemu denganku ataupun anak-anak. 

Keberadaannya masih menjadi misteri untuk semua orang termasuk kami keluarganya. Aku bahkan pernah berpikir apakah hilangnya dirimu adalah sebuah skenario besar untuk menghilangkan atau sekadar menyembunyikan hingga batas waktu yang tak pernah kami ketahui. Mengingat di saat itu para tentara membentuk tim untuk menculik sejumlah aktivis. Sembilan orang dibebaskan, belasan lainnya masih hilang hingga kini dan tak jelas nasibnya.

Suamiku Wiji adalah sosok lelaki yang sangat aku cintai. Sosok lelaki yang berasal dari keluarga sederhana. Keluarga penarik becak. Dia bahkan rela berhenti sekolah agar adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah. Dulu hidupnya menggelandang, mendirikan grup teater, mengamen puisi dari kampung ke kampung dan dari kota ke kota, kemudian bertekad keras menjadi aktivis pembela buruh. Yah, suamiku adalah seorang seniman dan aktivis.

Dia juga selalu membuat plakat, pamflet, cerita pendek untuk menyuarakan keadilan di tengah carut marut Negara Indonesia di kala itu. Suamiku juga ikut terlibat aksi keras menantang Orde Baru. Gara-gara itu juga suamiku dikejar-kejar dan menjadi buronan. Suamiku dianggap orang yang bahaya oleh kalangan penguasa Orde Baru.

Namanya juga banyak disebut di televisi oleh seorang jenderal sebagai dalang kerusuhan pada tanggal 27 Juli 1996. Hidupnya selalu berpindah-pindah. Dari Solo, Salatiga, Yogyakarta, Magelang, Jakarta dan Kalimantan. Dia selalu bersembunyi sambil mengawasi dan terus terlibat aksi menantang Orde baru. Saat menjadi buronan aparat di Jakarta, para aktivis prodemokrasi juga turut membantu menyembunyikannya.

Aku masih ingat saat dulu pertama kali bertemu. Waktu itu aku sedang mengevakuasi tetanggaku yang terkena musibah banjir di Kampung Jagalan, Solo. Aku begitu sebal saat melihatnya seperti orang yang aneh. Kami semua sibuk mengevakuasi tapi Mas Wiji hanya melihat saja dan malah bergaya dengan kameranya, sibuk memotret. Tak tahan karena begitu kesal aku menegurnya, menyuruhnya ikut membantu.

Berapa waktu setelah pertemuan pertama itu aku kembali bertemu dengannya saat dia sedang berlatih teater di Sarang Teater Jagat yang tidak jauh dari rumahku. Aku melihatnya waktu itu berperan sebagai seorang Raja. Karena suamiku memang tidak bisa mengucapkan huruf “r” alhasil dalam setiap adegan banyak yang mengerjainya untuk kembali mengucapkan huruf “r” dengan jelas. Aku sampai kasihan melihatnya.

Mulai saat itulah kami saling berkenalan. Mas Wiji saat itu juga bekerja sebagai seorang tukang pelitur kayu di sebuah perusahaan mebel dan bekerja juga menjadi wartawan Masakini di sebuah media milik Muhammadiyah. Satu bulan kami saling mengenal dengan baik. 24 Februari 1988, saat aku sedang duduk di ruang tamu. Mas Wiji membacakan puisi berjudul “Catatan Malam” karanganya di hadapanku. Hatiku serasa berbunga-bunga. “Kalau kamu perempuan itu, mau tidak jadi pacarku?” kata Mas Wiji padaku. Dengan hati yang begitu bahagia mendengar ucapannya, aku menerima permohonannya untuk menjadi pacarnya.

(bersambung . . .)

By : Icha Mamusu

cerpen ini saya buat dan saya dedikasikan untuk Wiji Thukul dan keluarganya... semoga selalu dalam lindungan-Nya dan sabar menanti ketidakpastian... Teruntuk Kau yang dilupakan, Wiji Thukul tak pernah mati, ia akan selalu hidup dalam kobaran semangat menuntut keadilan..

Categories:

0 comments:

Post a Comment