Saturday, 29 August 2015

Wiji Thukul - Kembalilah Pulang 2




Beberapa bulan kami berpacaran, tiba-tiba Mas Wiji menyampaikan kabar buruk. Katanya dia akan dijodohkan dengan seorang gadis dari daerah Kebak Keramat, Solo. Aku yang tahu kabar itu begitu kaget. Lalu Mas Wiji pun mengajakku menikah agar tidak dijdohkan. Kami menikah pada bulan Oktober 1988.

Dulu Bapakku menolak hubungan kami, tapi akhirnya merestui pernikahan kami. Aku masih teringat dulu saat kami menikah, kami diarak oleh belasan becak. Kantor Urusan Agama Jebres menjadi saksi kami. Kawan-kawan mengamen dari Mas Wiji juga ikut memeriahkan resepsi pernikahan kami. Tapi sayang semua foto pernikahan kami tidak ada yang jadi. Sepanjang kehidupan baru kami, kami begitu bahagia.

“Bu, Bapak pasti baik-baik saja.” Kata Wani anakku menenangkanku lagi. Aku tersenyum sambil membelai wajahnya. “Ibu pasti sangat mencintai Bapak.” Katanya menatapku dengan binar mata yang indah. Aku mulai menceritakan semuanya lagi. Mengingat memori dulu saat kami bersama. Mas Wiji bukan tipe lelaki yang romantis. Dia tidak pernah mengajakku sayang-sayangan atau mengucapkan kata-kata romantis. Lebih sering mengajakku berdebat membahas kehidupan rakyat miskin. Tapi Mas Wiji adalah seorang lelaki yang baik, sederhana dan selalu perhatian dengan keluarga.

Sebagai suami dan bapak kadang Mas Wiji bertingkah aneh dan kocak. Mas Wiji selalu memasak makanan sendiri, tapi melarang keluarganya ikut menyantap masakannya. Suatu saat Mas Wiji sedang makan nasi goreng buatannya sendiri, ketika itu anak kami Wani menghampirinya. Mas Wiji dengan reflek langsung berjingkat ketakutan melihat Wani dan langsung lari ke luar rumah. Aku bingung sekali waktu itu dan langsung ikut berlari mengejar Mas Wiji yang bersembunyi di rumah seorang tetangga.

Jawabannya baru aku tahu beberapa waktu kemudian. Ternyata Mas Wiji mencampur masakannya dengan jamur tlethong atau jamur yang tumbuh di atas kotoran sapi. Orang-orang menyebutnya mushroom. Orang yang menyantapnya akan merasakan halusinasi yang berlebihan. Aku selalu melarangnya tapi yang namanya kebiasaan, Mas Wiji tetap saja memasaknya.

Pada tahun 1994 Mas Wiji mulai resmi masuk menjadi bagian dari Partai Rakyat Demokratik. Dia jadi jarang pulang. Pernah suatu saat dia pulang dengan badan lusuh, pakaian kumal dan wajah yang begitu lelah. Seperti orang yang tak pernah mandi. Aku selalu berusaha sabar, menyiapkan air hangat untuk Mas Wiji. Setelah mandi biasanya dia akan tertidur pulas seperti orang yang sudah lama tidak pernah tidur.

Senin, 11 Desember 1995. Belasan ribu buruh memenuhi sepanjang jalan menuju pabrik garmen PT. Sri Rejeki Isman Textile (Sritex). Mereka menolak masuk kerja dan hanya duduk-duduk. Mas Wiji yang saat itu sebagai Ketua Jaringan Kesenian Rakyat bersama aktivis Partai Rakyat Demokratik dari Pusat Perjuangan Buruh dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia ikut berdemontrasi. Pagi itu belum genap pukul tujuh sebelum peserta demokrasi memulai aksinya dan baru saja menata barisan, tiba-tiba aparat secara membabi buta menyerbu mereka.

Semua buruh berlarian ketakutan. Beberapa aktivis ditangkap dan dipukuli. Buruh wanita yang ikut berdemo juga menjerit ketakutan. Namun suasana itu tak kunjung menghentikan aksi aparat yang terus memukuli para aktivis. Dan ternyata dari awal para aparat itu sudah mengincar suamiku. Saat itu Mas Wiji berhasil kabur dari kejaran aparat. Dia lari ke dalam kampung dan bersembunyi di kuburan. Tapi sayangnya saat dia keluar, dia disergap.

Puluhan aparat terus bertubi-tubi memukulnya. Tak cukup bogem mentah dan tendangan sepatu bot ke tubuhnya. Pukulan rotan juga dihempaskan ke jari-jari tangannya. Dan yang lebih membuat hatiku tak tega bahkan ingin menangis adalah kepala Mas Wiji dibenturkan ke kap mobil aparat. Saat itu Mas Wiji pulang dalam keadaan mata kanan yang membengkak dan pelipis yang membiru. Aku sungguh tidak tega dan langsung menghangatkan air untuk mengompres mata Mas Wiji.

Berbulan-bulan kondisi mata Mas Wiji semakin parah. Bahkan saking sakitnya Mas Wiji kerap menjadi emosional. Saat itu aku melihat ada sesuatu yang tak beres dengan suamiku. Suatu hari Mas Wiji memukul Wani, aku begitu kaget karena baru kali itu dia berani memukul anaknya. Aku yang mulai merasa aneh menyuruh Mas Wiji untuk ke psikiater dan dokter mata terdekat.

Dokter setempat bahkan angkat tangan menangani sakit mata Mas Wiji. Akhirnya Mas Wiji kami bawa ke Rumah Sakit Mata Dr Yap, di Yogyakarta. Dokter menjelaskan bahwa mata Mas Wiji harus dioperasi karena retina matanya berkerut seolah-oleh akan mengelupas. Itu karena pada waktu demo tempo hari lalu mata Mas Wiji dibenturkan ke jip oleh polisi. Biaya operasinya Rp. 1,5 juta, mahal sekali di masa itu. Kami hanya berbekal uang Rp. 15 ribu di kantong.

Seketika itu kawan-kawan Mas Wiji menggalang dana. Di Solo, Yogyakarta mereka semua membantu menggalang dana sampai mengirim surat elektronik ke kalangan internal Partai Rakyat Demokratik. Berita bahwa Mas Wiji terancam buta mendapat simpatik dari beberapa kalangan. Semua dana terkumpul dan Mas Wiji dioperasi, namun dokter yang mengoperasi mata Mas Wiji malah menolak untuk dibayar. 

(bersambung . . .)
Categories:

0 comments:

Post a Comment