Orang bilang cinta itu indah jika
kita menemukan seseorang yang pas di hati. Tapi tidak bagiku. Namaku Gendis,
gadis Jawa berparas manis yang hidup dalam keluarga kejawen. Gendis dalam
bahasa Indonesia berarti gula. Orang tuaku selalu berharap agar jalan hidupku
selalu manis seperti gula. Dan satu minggu lagi adalah hari pernikahanku. Hari
sakral yang kebanyakan orang menantinya dengan bahagia. Aku justru ingin kabur
saja.
Malam selalu memberikan ketakutan
padaku. Hari menjadi cepat berlalu, dan pernikahan bodoh itu akan segera
terlaksana. Aku membuka jendela kamarku. Hawa dingin dan agak mistis mulai
menggelitik. Desa Rahtawu ini menyimpan banyak misteri. Banyak juga
ilmuwan Islam maupun juru dakwah yang tertarik dan mencari tahu bagaimana
praktik agama Islam di sini.
Kehidupan warga di Rahtawu masih
kejawen dan sangat tradisional. Di Rahtawu juga terdapat banyak petilasan
pertapaan yang diyakini warga kalau pada zaman dahulu kala memang benar-benar
merupakan tempat bertapanya para suci yang kami sebut “Eyang”. Kebanyakan dari
para Eyang itu adalah leluhur Pandawa.
Rahtawu berada di kaki
Gunung Muria sekitar 20 km dari pusat Kota Kudus. Memiliki pemandangan yang
indah karena letaknya yang dikelilingi deretan pegunungan, bukit-bukit terjal, dan
sungai-sungai yang masih jernih. Rahtawu juga jauh dari keramaian. Kehidupan
masyarakat di
sini sebagian besar adalah petani atau peladang. Mereka
menanam padi, tebu, kopi, dan menjual pepohonan seperti randu, sengon, serta
pohon yang merupakan vegetasi lokal. Sedikit di antara mereka ada yang
menambang pasir dan batu. Padi dan kopi merupakan komoditas unggulan. Kata orang, nama Rahtawu
mempunyai arti getih kececer dalam bahasa Jawa, atau darah yang bercecer dalam
bahasa Indonesia.
Malam ini anak-anak ramai
berlalu-lalang, pulang mengaji dari langgar. Lebih baik begitu
daripada mengikuti tradisi bapak-bapak mereka memberi sesaji dan mencari
benda-benda pusaka di petilasan-petilasan. Aku juga tidak suka kalau Bapak
ikut-ikutan seperti itu. Kenapa mencari berkah, perlindungan, kekebalan,
kesuksesan malah datang ke makam. Ya memang, kalau ditanya mereka akan jawab
kalau Eyang hanya sebagai perantara untuk menyampaikan doa kita pada Yang Maha
Kuasa. Tapi dari mana ada teori kalau berdoa harus pakai perantara.
Harusnya malah mereka yang
mendoakan para Eyang. Lebih tepatnya berziarah saja. Bukan malah mencari ajian
atau senjata seperti keris dan lain-lain. Lalu bertapa, memberikan sesaji bunga
dan dupa. Tapi jika ditelisik lebih dalam lagi, apa yang mereka lakukan sudah
termasuk syirik. Dan sebelum melakukan itu mereka biasanya mandi dulu di
mata air, sekitar 50 meter dari petilasan. Bagiku itu tetaplah aneh. Tapi
sekali lagi itu Adat.
Suara anak kecil terdengar riang
menyapaku yang sedang melamun. “Mbak Gendis, kenapa malah melamun. Mikirin
Mas Gumono ya?” kata Aryo begitu polos. Aku hanya menggelengkan kepala dan
tersenyum datar pada bocah di depanku ini. Diam memperhatikan tingkahnya
menatapku yang pucat tak tersenyum. “Mbak Gendis ndak cinta kan sama Mas
Gumono. Mbak Gendis cintanya sama Mas Angga, iya kan?” kata Aryo membuatku
gelagapan. Bagaimana tidak, bocah kecil ini saja tahu bagaimana perasaaanku.
Tapi Bapak justru mengabaikannya.
“Sudah sana lo pulang. Kamu ndak
belajar, besok sekolah.. Mbak ndak apa-apa.” Kataku pada Aryo. Aryo
malah tersenyum menatapku kasihan. Kemudian berlalu meninggalkanku
sendiri. Aku meneruskan lamunanku. Memikirkan lelaki yang sampai saat ini masih
dan akan selalu ada di hatiku. Mas Angga, seorang lelaki dari Jakarta yang
sangat tidak disegani Bapak. Kami saling mencintai, bahkan hubungan kami sudah
hampir 3 tahun. Tapi Bapak sama sekali tidak pernah merestui hubungan kami.
Bertemu saja kami sembunyi-sembunyi. Dan mungkin kami tidak akan pernah bisa
bertemu lagi.
Tok, tok, tok, suara Bapak
mengetuk pintu menyuruhku segera keluar dan bersiap. “Nduk, kamu belum
bersiap juga. Sebentar lagi keluarga Gumono datang ke rumah mau membicarakan
pernikahan kalian. Cepet siap-siap!” Aku membuka pintu. Menatap wajah
sumringah Bapak yang begitu antusias. “Pak, ndak bisa dibatalkan? Apa
Bapak tetap memaksa Gendis menikah dengan anak dari Kyai sesat itu?” Bapak
diam dan menatapku galak, Ibu yang melihat kami langsung datang dan menarikku
pergi. Menyuruhku menuruti Bapak dan bersiap.
Aku menangis terisak. Merasa hidup
tidak adil saja. Tapi Ibu selalu bilang “Nduk,witing tresno kuwi jalaran
soko kulino. Dulu Ibu juga ndak cinta sama Bapak karena dijodohkan. Tapi
lama-kelamaan ya akhirnya Ibu bisa mencintai Bapakmu.” Menurutku Bapak
hanya memandang Gumono sebagai anak Kyai yang tentunya akan baik menjadi Imam
keluarga. Tapi keluarga Gumono tak lebih dari sekelompok orang-orang sesat.
Bapaknya memang Kyai, tapi entah Kyai macam apa melakukan ritual-ritual aneh di
atas puncak gunung Rahtawu dan meminta-minta pada petilasan-petilasan. Sudah
tentu juga nanti Gumono yang akan jadi penerus Bapaknya. Itu yang tidak aku
suka.
Keluarga Gumono datang. Bapak dan
Ibu menyambut ramah. Aku keluar dari kamar dan usai bersiap. Sungguh muak
rasanya menatap senyuman Gumono. Kemarin dia bilang dia sangat mencintaiku.
Tapi sungguh aku tidak suka. Entah sudah berapa banyak gadis di Desa ini yang
menjadi korban mulut menjijikannya. Aku hanya menunduk memalingkan wajah
darinya. Semua membicarakan masalah pernikahan dan sungguh ada hal
yang membuatku kaget. Pernikahanku dipercepat. Menjadi tiga hari lagi. Itu
artinya sudah tidak ada kesempatan untuk aku bebas. Batinku serasa berteriak
dan memberontak. Mas Angga kamu di mana? Bawa aku pergi saja. Gumamku dalam
hati.
Acara selesai. Mereka berpamitan.
Aku langsung masuk ke kamar dan menangis. Handphoneku berdering, itu telepon
dari Mas Angga. Aku menjawabnya. Dia bilang akan segera mengusahakan agar aku
tidak jadi menikah dengan Gumono. Katanya dia punya satu bukti yang akan
membuat Bapakku membatalkan rencana perjodohan ini. Hatiku sedikit lega tapi
juga takut memikirkan kerasnya Bapakku. Malam makin berlalu, dan esok hari akan
berganti.
*****
Pagi datang mengisi sepetak
duniaku. Berada di ketinggian kurang lebih 1.627 meter di atas permukaan
laut hawa di
sini masih dan akan selalu dingin. Sesekali aku juga bergidik
kedinginan. Bibirku sampai bergetar sendiri. Telapak tanganku sudah pucat beku. Sejenak
terpikir tiap hari juga kami warga di sini harus susah payah kalau
harus ke Kota. Siapapun yang mau keluar atau datang ke Desa ini harus susah
payah naik atau turun. Melewati jalan aspal yang sempit, berkelok tajam, naik,
turun, dan curam.
Sepertinya di luar mendung. Aku
membuka jendela kamarku, membiarkan angin masuk dan benar saja rintik hujan
mulai menghujam membasahi Desa ini. Lembut menerpa wajahku. Bukit-bukit hijau
sudah terlihat tertutup kabut. Dingin makin menelisik ujung jari dan hidungku.
Udara sejuk sekali, bau khas tanah bercampur air saat hujan. Aku memejamkan
mataku. Diam dan mulai memasang headset. Memutar lagu kesukaanku. Lagu milik
Letto “Sebelum Cahaya”.
Cinta, lagi-lagi kata itu
melintas di otakku. Aku tidak mengerti dan kadang bingung aku ini hidup di era
tahun berapa. Kenapa masih ada orang tua yang mengekang kebebasan anaknya.
Perjodohan maksudku. Baiklah kalau alasan itu demi kebaikanku. Seperti kata Ibu
juga setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi sungguh ini
bukan yang terbaik. Bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang laki-laki
seperti Gumono. Dia cukup tampan, badannya tegap, tinggi dan orang terpandang.
Tapi aku tidak menyukainya, dia dan keluarganya sesat, itu cacatnya.
Dan Bapak juga mengikuti
aliran-aliran itu, rajin pergi ke petilasan daripada ke langgar. Yah, mereka
satu kelompok yang punya satu tujuan. Sedangkan Mas Angga, dia lelaki baik,
tidak pernah neko-neko, tidak pernah mempermainkan wanita bahkan lebih
berpendidikan daripada Gumono yang selalu digadang-gadang Bapak. Tapi Bapak
selalu memandang jika orang yang dari Kota besar pasti pergaulannya rusak.
Pemabuk, narkoba, dan main wanita.
Duh Gusti, itu sungguh pikiran
yang sempit sekali. Bapak tidak pernah benar-benar mengenal Mas Angga. Setiap
kali aku meminta Bapak untuk bertemu dengan Mas Angga. Bapak selalu membentak
dan menyuruhku untuk tidak berhubungan lagi dengan Mas Angga. Dan mulai pagi
ini duniaku makin sempit saja. Tidak boleh kemana-kemana. Hanya boleh di rumah
saja. Dua hari lagi Gumono akan meminangku. Itu sungguh menjijikkan. Tapi
setidaknya aku masih punya satu handphone yang aku sembunyikan dari Bapak. Mas
Angga masih bisa menghubungi aku lewat ini.
Usiaku 23 tahun, harusnya aku
sudah mengenyam bangku perkuliahan. Tapi lagi-lagi Bapak melarangku, katanya
untuk apa? Akhirnya juga kodrat wanita itu ya di dapur. Aku sungguh muak, dan
benar-benar merasa jenuh sekali. Handphoneku berdering, telepon dari Mas Angga.
Katanya dia sudah ada cara untuk menguak bukti yang dia bicarakan kemarin.
Besok malam tepat sehari sebelum aku menikah Mas Angga akan ke Desaku. Aku agak
takut-takut dan bingung bagaimana cara aku menemuinya. Tapi pasti ada cara.
Aku menghabiskan waktuku untuk
membaca buku dan terus mendengarkan lagu dari Letto. Entah kenapa lagu itu
begitu menenangkanku. Lagu “Cinta Sebenarnya” liriknya benar-benar
indah “Dan bangunkanlah aku dari mimpi-mimpiku sesak aku di sudut maya dan
tersingkir dari dunia nyata. Dan bangunkanlah aku dari mimpi indahku
terengah-engah ku berlari dari rasa yang harus ku batasi.” Tak terasa ada
air menetes dari sudut mataku. Yah, aku menangis lagi. Mas Angga, aku sungguh
mencintaimu. Tapi aku harus bagaimana?
*****
Hari terus berlalu. Malam yang
aku tunggu datang dan besok adalah hari pernikahanku. Tadi Mas Angga
mengirimiku pesan, katanya dia sudah di Desa. Jantungku makin berdetak kencang,
gugup takut terjadi apa-apa dengan Mas Angga. Semoga tidak ada malapetaka apapun.
Orang-orang sudah ramai berkumpul di rumahku ada acara penyambutan untuk hari
esok. Warga saling bergotong-royong menyiapkan acara pernikahan besok.
Kebiasaan warga Rahtawu juga tiap
ada acara hajat pasti menggelar hiburan tayub. Sungguh ramai sekali sambutan
acara pernikahanku padahal masih besok. Di Rahtawu juga ada pantangan,
yaitu warga dilarang menggelar hiburan wayang kulit. Meski di sini banyak nama
petilasan dengan nama-nama leluhur pewayangan. Namun bila dilanggar, yang
bersangkutan bisa terkena bencana. Jadi warga hanya berani menggelar acara
tayub tidak pernah yang lainnya. Sudah adatnya.
Aku mencari cara untuk bisa
keluar. Mas Angga sudah menungguku di tempat yang sudah kami atur untuk
janjian. Aku memutuskan untuk lompat dari jendela kamarku dan langsung lari
lewat kebun di samping rumahku. Cukup gelap dan orang-orang tidak akan tahu.
Aku langsung berlari dan menutup wajahku dengan kerudung menuju ke tempat Mas
Angga. Akhirnya sampai. Aku bertemu dengan Mas Angga. Sungguh rindu sekali rasanya,
lama kami tidak bertemu. Rasanya ingin menangis dan memeluknya. Wajahnya masih
sama meneduhkannya.
“Mas Angga, aku merindukanmu.”
Kataku sambil menggenggam erat kedua tangannya.
“Aku juga Gendis, kamu baik-baik
saja?” Tanya Mas Angga begitu khawatir.
Aku menganggukkan kepala. Kami
langsung berbicara mengenai bukti itu. Mas Angga menjelaskan padaku. Katanya
Gumono adalah lelaki yang tidak baik. Dan ternyata dia memiliki hubungan dengan
Ratih. Seorang janda genit yang tinggal di Desa sebelah. Mas Angga sudah
menyelidikinya. Bahkan tadi dia melihat kalau Gumono sedang ada di rumah Ratih.
Entah apa yang mereka lakukan sepertinya itu hal yang sangat-sangat buruk. Aku
makin semangat untuk membuktikan kelakuan buruk Gumono pada Bapak dan semua
warga.
“Aku yakin semua akan baik-baik
saja. Kamu tidak akan menikah dengan Gumono. Aku mencintaimu Gendis.” Kata Mas
Angga meyakinkanku.
“Aku juga mencintaimu Mas Angga.
Aku hanya ingin bersamamu.” Kataku mulai menangis.
Tapi sial, baru saja kami hendak
membuktikan kelakuan Gumono. Pak Rejo yang kebetulan lewat memergoki kami
berdua dan langsung berteriak memanggil Bapak dan warga. Kami panik, dan
seketika warga menyeret Mas Angga. Aku langsung ditarik oleh Ibu dan Ibu
Gumono. Bapak bahkan sempat menampar pipi Mas Angga, itu sungguh membuat hatiku
ngilu dan sakit. Bapak marah besar dan membentak kami berdua.
“Kalian berdua, apa yang kalian
lakukan. Dan kamu Nduk, harusnya sadar besok itu hari pernikahanmu. Jangan
seperti wanita murahan, malam-malam menemui lelaki tidak benar ini!!!” bentak
Bapak.
“Mas Angga lelaki baik Pak. Ndak
seperti apa yang Bapak kira.” Kataku dengan gemetar dan mulai terisak.
“Sudah!! Bapak ndak mau dengar
alasan lagi. Dan kamu, untuk apa lagi kamu menemui Gendis. Dia sudah saya jodohkan
dengan lelaki terpandang yang bahkan jauh lebih pintar dari kamu.” Kata Bapak
membentak Mas Angga dan hampir menemparnya lagi.
“Hentikan Pak! Harusnya Bapak
ndak bilang seperti itu. Gumono itu ndak baik Pak. Bahkan malam ini, sehari
sebelum pernikahan. Dia sedang asyik-asyikan di rumah Ratih. Janda genit tidak
tahu malu yang pernah jadi sinden tayub. Ya, bahkan Gendis tahu kalau Bapak
juga dulu pernah menyukainya.” Kataku penuh emosi.
Bapak hanya diam. Dan ikut kaget
dengan apa yang aku katakan. Bapak dan Ibu Gumono bahkan ikut tercengang
menahan malu atas kelakuan anaknya. Warga melepaskan Mas Angga. Dan aku
langsung berlari memapah tubuhnya yang lemas karena dipukuli warga. Situasi
berbalik, warga malah menyalahkan Bapakku. Mereka mulai berteriak-teriak,
berseru “Kita grebek saja itu Gumono dan Ratih. Dasar orang tidak benar,
mencemari nama baik Desa ini saja. Iya betuuul ayyooo kita grebek saja.” Kata
warga berseru ramai.
Mereka langsung menuju rumah
Ratih. Bapak dan Bapak Gumono juga ikut. Begitu sampai di rumah Ratih, warga
langsung mendobrak pintu rumah karena saking emosinya. Dan benar saja kami
semua melihat Gumono sedang berduaan. Bahkan perbuatan itu seharusnya tidak
pantas dilakukan oleh orang yang bukan suami isteri. Mereka semua tercengang
dan langsung menyeret Ratih dan Gumono. Bapak Gumono bahkan geram dan langsung
menampar keras pipi Gumono. Ibunya malah jatuh pingsan melihat kelakuan Gumono.
Malam itu juga mereka berdua di
hukum oleh para Tetua Desa. Dan benar seperti kata Mas Angga, kejadian ini
membuka mata Bapakku. Bapak langsung minta maaf padaku dan bilang tidak akan
memaksaku lagi. Ibu menangis dan tersenyum padaku. Selama ini Ibu juga kasihan
padaku tapi hanya bisa diam karena tidak berani menentang Bapak. Aku tersenyum
dan mengusap air mataku. Menatap wajah Mas Angga yang juga ikut tersenyum
bahagia. Bapak berlalu dan sebelumnya juga meminta maaf pada Mas Angga.
Menyuruhnya untuk menjagaku. Kerumunan orang berlalu membubarkan diri. Aku
memapah tubuh Mas Angga dibantu warga lainnya menuju ke rumah.
Sampai di rumah aku mengobati
luka lebam di wajah Mas Angga. Dia terus menatap wajahku yang mungkin sudah
bersemu merah karena malu. Bintang-gemintang bertabur indah di langit. Malam
makin sunyi. Angin berhembus menemani kebersamaan kami yang tenang duduk di
beranda. Binatang-binatang malam juga masih asyik mengusik rimbunya
ilalang.
Cinta memang selalu butuh
pengorbanan. Aku dan Mas Angga juga mengalami itu, berjuang untuk meluluhkan
hati Bapak. Ini benar-benar seperti mimpi, kami tidak pernah membayangkan kalau
kami bisa bersatu. Selama ini yang ada di pikiran kami adalah hubungan
percintaan yang kami jalin akan berakhir dengan perjodohanku dan Gumono.
Setelah semua kejadian ini, kami akan memperbaikinya. Sebentar lagi Mas Angga
wisuda dan setelah itu juga dia akan melamarku.
Setiap orang tua memang akan
selalu berusaha untuk kebaikan anaknya. Namun perlu diingat juga, mengusahakan
yang terbaik bukan berarti mengekangnya. Tapi tetap menurutku, Ibu adalah
wanita yang paling kuat. Beliau rela dijodohkan demi membahagiakan orang
tuanya. Rela menghadapi kerasnya sifat Bapakku dan malah belajar mencintainya.
Tapi aku Gendis, gadis Jawa yang mencoba bebas dan keluar dari kekangan. Gendis
yang mencoba merubah hidupnya menjadi manis seperti namanya. Dan cinta, orang
Jawa bilang “Witing tresno kuwi jalaran soko kulino” atau tumbuhnya
cinta itu lantaran dari terbiasa. Yah, tentunya bukan biasa karena dipaksa.
Tapi biasa karena hati yang saling menyatu bukan karena keterpaksaan.
By : Icha Mamusu







Tigan pripun
ReplyDeleteCinta
ReplyDeleteEyang semar
ReplyDeleteRahtawu itu di mana?
ReplyDeletegadis pemberani, tokohnya. Gendis, nama yg unik
ReplyDeleteGendis sama dengan gula.... unik
ReplyDelete