Wednesday, 20 May 2015

JANGAN SAMPAI KITA JADI SINTETIK JUGA!


Negeri ini memang ada-ada saja. Setelah berkecamuk dengan berbagai permasalahan politik yang semakin kotor, prostitusi, korupsi, narkoba dan lain sebagainya. Sekarang harus berurusan dengan berbagai masalah kebutuhan pokok bagi warganya. Kali ini bukan lagi berita tentang kenaikan harga pangan yang tentunya suda biasa kita dengar, tapi berkaitan dengan beredarnya segala macam bahan pangan yang tak layak konsumsi. Saos dengan campuran bahan kimia, makanan dan minuman kemasan kadaluarsa, obat kadaluarsa, kue dengan kandungan ganja, dan sekarang malah beras dengan kandungan plastik. 

Yah, beras sintetik tersebut ditemukan seorang warga Bekasi seorang penjual bubur saat hendak memasak beras, namun ia melihat kejanggalan pada beras yang ia masak. Rasa-rasanya,  pemerintah memang perlu melakukan banyak perubahan karena dengan melihat kejadian seperti ini saja berarti pemerintah telah lengah dalam urusan perlindungan warganya. 

Entah siapa yang menjadi dalang dalam permasalahan pangan ini. Makanan yang seharusnya kita konsumsi dapat memberikan manfaat malah memberikan kita banyak penyakit. Kandungan plastik yang terdapat dalam beras sintetik juga sangat berbahaya bagi kesehatan. Plastik mengandung senyawa karsinogenik yang dapat apabila dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker. Selain itu kandungan zat dioksin yang terdapat dalam plastik juga dapat mengakibatkan kerusakan hati dan ginjal. 

Padahal sejatinya, beras yang telah menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia ini seharusnya mengandung banyak kandungan gizi seperti karbohidrat, protein, dan vitammin B. Apabila pemerintah tidak segera melakukan tindakan tegas maka bisa dipastikan kejadian tersebut dapat terulang lagi atau malah lebih parah dari itu. Kita sebagai masyarakat pun harus waspada dalam memilih bahan pangan, terutama beras yang sekarang ini beredar di pasaran. 

Cukup kenali ciri-ciri beras yang hendak kita beli. Beras yang asli biasanya mudah dipatahkan, warnanya juga tidak terlalu bening dan wanginya pun bau padi. Sedangkan beras yang mengandung plastik warnanya lebih bening, susah dipatahkan dan apabila dicuci dan dimasak tidak dapat menyatu sepenuhnya dengan air. 

Itulah rupa-rupa dan warna-warni negeri di jantung reformasi. Semoga negara ini selalu dikaruniai kemakmuran yang dapat dinikmati bersama dengan para rakyatnya. Bukan lantas hanya menjadi kenikmatan bagi para kapitalis-kapitalis licik. Semoga juga beras sintetik dapat dicegah peredarannya. Beras saja ada yang sintetik, dan jangan sampai negeri ini dan manusia-manusianya menjadi sintetik pula berbalut dengan kepalsuan. 

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 


Saturday, 16 May 2015

KAU PUISIKU


Biarkan cahaya mengusap jelaga, 
lalu rindu menambah dahaga.
Biarkan mengacau dan galau,
lalu rindu adalah Kau.

Penggalan puisi itu masih kuhafal. Dulu dengan petikan gitarnya aku membacanya. Di hadapan pandang mata yang mengarah padaku. Aku terus mengagumi keindahannya. Berdiri di sampingnya, seolah menjadi pendamping yang setia.

“Bagus, aku suka puisimu. Kenapa tidak dilanjutkan?” tanyanya.

Waktu itu aku diam. Bagaimana bisa aku lanjut? Aku takut ia benar-benar tahu tentang perasaanku. Sedangkan aku hanyalah. . . . .

Ah, tapi itu dulu. Dan sekarang akan kulanjut. Seperti ini,

Aku diam seperti batu, 
lalu biarkan cinta menghilang.
Aku menangis kau berlalu,
lalu cinta haruskah kubuang?

Huft, ia pergi. Tanpa pernah tahu perasaanku. Aku terlambat, karena kepentingan ego untuk cinta dalam hati saja. Bodoh!!

“Kau di mana?” tanyaku sembari menyentuh gitarnya yang terpajang di ruang kesenian kampus.

“Di hatimu!”

Tiba-tiba ia datang menghampiriku. Dua tahun tak bertemu, akhirnya ia kembali. Aku tersenyum, girang.

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

BENCI


Aku hanya tahu kehidupan dengan aturan ngawur. Menghirup sesak dan menjadikannya sebuah ironi. Aku duduk beralaskan tanah, di hadapan tungku api yang membara, membakar pantat kuali besar.

Rintik hujan di luar terdengar mesra, mencumbu logika liarku yang mencaci kepalsuan. Di sana, dua lelaki tua sedang membicarakan sesuatu. Aku menyimak.

Sesak, bukan karena asap yang mengepul dari tungku, tapi karena langkahku akan mati. Yah, aku seperti hutan yang dieksploitasi.

“Malam ini kita ke puncak, semoga Eyang memberi kita wangsit demi kelancaran pernikahan mereka.” Kata lelaki bersuara berat itu.

“Setuju. Jangan lupa, dupa dan sesajinya.” Lelaki yang satunya menimpali.
Apa yang mereka bicarakan. Wangsit, sesaji? Kenapa tak sekalian jadikan aku tumbal saja.

“Gendis calon istriku.” seseorang datang dan hendak memelukku.

“Jangan dekati aku!”

“Lancang sekali! Aku calon imammu!” Bentaknya.

Aku memasang wajah berongsang, menghindari tatapan bernafsunya. Ingin aku mendorong tubuhnya agar terjebur ke tungku api.

“Imam sesat?” kataku menyulut emosi.

Ia menamparku.

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

HATI YANG MENDIDIH


Mbah Nah masih menembang Jawa, terdengar merdu. Makin menambah suasana mistis desa ini. Aku diam menyimak. Suara binatang malam ikut meramaikan di sela kisi-kisi kekalutan.

"Gendis, Cah Ayu. Ananing donya kuwi kanggo nguji kuat imane manungsa marang Gusti ingkang Maha Kuasa. Uripmu uga sepisan, ojo tur nyerah marang coba, Nduk."

Aku tersenyum datar. Kata-kata Mbah Nah yang kudengar seolah bisa membuat gubuk reot ini bergidik merinding.

Lalu bagaimana dengan semua kepalsuan yang telah terjadi? Maksudku, apa aku masih bisa mempercayai keluargaku? Rasanya aku tidak mengerti. Mereka bilang namaku Gendis, artinya gula. Manis `kan? Tapi mereka membuat hidupku pahit dengan semua fakta perjodohan itu.

Aku terkekang. Baiklah jika yang akan berdampingan denganku adalah seorang yang benar-benar baik. Tapi kenyataannya dia lelaki busuk. Anak Kyai sesat. Dan aku bukan barang dagangan!

Aku menghela napas.

Mbah Nah kembali menembang. Mendinginkan hatiku yang mendidih. Aku muak! Mungkin, jika aku bisa memilih, lebih baik mati.

*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

KAU ADALAH CINTA




I just feel the radio can stop the rain
Di dalam mataku kumelihat rindu
I just feel the radio can stop the rain
Kulihat dirimu, kulihat dirimu

Telingaku masih mendengarkan sebuah lagu yang menjadi kenangan. Ketika sederet asa menjamah sisa kerinduan. Tepat di hadapan embun yang bergeming. Mengitari kesejukan yang seakan penting. Sama seperti napasku yang terus mengeja sebuah nama. Urutan abjad yang menyatu menjadi panggilan cinta.

Kau tahu, waktu terus merajut kisah. Kesendirianku pun makin menbuncah. Aku iri dengan pipit yang bertengger di ranting cemara. Asyik mematut kaki bersama betinanya sembari mengecup asmara.

Indah!

Sedangkan aku resah, pasrah!

Harus berapa lama aku menantimu? Jikalau hatiku bosan karena rindu, jangan pernah kau salahkan aku. Tapi aku rasa, ketika manusia merajut benang cinta seperti laba-laba yang sibuk di sudut tembok itu. Ia tak akan pernah lelah walau harus mengurut pilu.

Dan kau adalah cinta, maka aku akan setia.

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546