I just feel the radio can stop the rain
Di dalam mataku kumelihat rindu
I just feel the radio can stop the rain
Kulihat dirimu, kulihat dirimu
Di dalam mataku kumelihat rindu
I just feel the radio can stop the rain
Kulihat dirimu, kulihat dirimu
Telingaku masih mendengarkan sebuah lagu yang menjadi kenangan. Ketika sederet asa menjamah sisa kerinduan. Tepat di hadapan embun yang bergeming. Mengitari kesejukan yang seakan penting. Sama seperti napasku yang terus mengeja sebuah nama. Urutan abjad yang menyatu menjadi panggilan cinta.
Kau tahu, waktu terus merajut kisah. Kesendirianku pun makin menbuncah. Aku iri dengan pipit yang bertengger di ranting cemara. Asyik mematut kaki bersama betinanya sembari mengecup asmara.
Indah!
Sedangkan aku resah, pasrah!
Harus berapa lama aku menantimu? Jikalau hatiku bosan karena rindu, jangan pernah kau salahkan aku. Tapi aku rasa, ketika manusia merajut benang cinta seperti laba-laba yang sibuk di sudut tembok itu. Ia tak akan pernah lelah walau harus mengurut pilu.
Dan kau adalah cinta, maka aku akan setia.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
Categories: FIKSI PENDEK








0 comments:
Post a Comment