Saturday, 16 May 2015

BENCI


Aku hanya tahu kehidupan dengan aturan ngawur. Menghirup sesak dan menjadikannya sebuah ironi. Aku duduk beralaskan tanah, di hadapan tungku api yang membara, membakar pantat kuali besar.

Rintik hujan di luar terdengar mesra, mencumbu logika liarku yang mencaci kepalsuan. Di sana, dua lelaki tua sedang membicarakan sesuatu. Aku menyimak.

Sesak, bukan karena asap yang mengepul dari tungku, tapi karena langkahku akan mati. Yah, aku seperti hutan yang dieksploitasi.

“Malam ini kita ke puncak, semoga Eyang memberi kita wangsit demi kelancaran pernikahan mereka.” Kata lelaki bersuara berat itu.

“Setuju. Jangan lupa, dupa dan sesajinya.” Lelaki yang satunya menimpali.
Apa yang mereka bicarakan. Wangsit, sesaji? Kenapa tak sekalian jadikan aku tumbal saja.

“Gendis calon istriku.” seseorang datang dan hendak memelukku.

“Jangan dekati aku!”

“Lancang sekali! Aku calon imammu!” Bentaknya.

Aku memasang wajah berongsang, menghindari tatapan bernafsunya. Ingin aku mendorong tubuhnya agar terjebur ke tungku api.

“Imam sesat?” kataku menyulut emosi.

Ia menamparku.

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 
Categories:

0 comments:

Post a Comment