Mbah Nah masih menembang Jawa, terdengar merdu. Makin menambah
suasana mistis desa ini. Aku diam menyimak. Suara binatang malam ikut
meramaikan di sela kisi-kisi kekalutan.
"Gendis, Cah Ayu. Ananing donya kuwi kanggo nguji kuat
imane manungsa marang Gusti ingkang Maha Kuasa. Uripmu uga sepisan, ojo tur
nyerah marang coba, Nduk."
Aku tersenyum datar. Kata-kata Mbah Nah yang kudengar seolah
bisa membuat gubuk reot ini bergidik merinding.
Lalu bagaimana dengan semua kepalsuan yang telah terjadi?
Maksudku, apa aku masih bisa mempercayai keluargaku? Rasanya aku tidak
mengerti. Mereka bilang namaku Gendis, artinya gula. Manis `kan? Tapi mereka
membuat hidupku pahit dengan semua fakta perjodohan itu.
Aku terkekang. Baiklah jika yang akan berdampingan denganku
adalah seorang yang benar-benar baik. Tapi kenyataannya dia lelaki busuk. Anak
Kyai sesat. Dan aku bukan barang dagangan!
Aku menghela napas.
Mbah Nah kembali menembang. Mendinginkan hatiku yang mendidih.
Aku muak! Mungkin, jika aku bisa memilih, lebih baik mati.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment