Saturday, 16 May 2015

KAU PUISIKU


Biarkan cahaya mengusap jelaga, 
lalu rindu menambah dahaga.
Biarkan mengacau dan galau,
lalu rindu adalah Kau.

Penggalan puisi itu masih kuhafal. Dulu dengan petikan gitarnya aku membacanya. Di hadapan pandang mata yang mengarah padaku. Aku terus mengagumi keindahannya. Berdiri di sampingnya, seolah menjadi pendamping yang setia.

“Bagus, aku suka puisimu. Kenapa tidak dilanjutkan?” tanyanya.

Waktu itu aku diam. Bagaimana bisa aku lanjut? Aku takut ia benar-benar tahu tentang perasaanku. Sedangkan aku hanyalah. . . . .

Ah, tapi itu dulu. Dan sekarang akan kulanjut. Seperti ini,

Aku diam seperti batu, 
lalu biarkan cinta menghilang.
Aku menangis kau berlalu,
lalu cinta haruskah kubuang?

Huft, ia pergi. Tanpa pernah tahu perasaanku. Aku terlambat, karena kepentingan ego untuk cinta dalam hati saja. Bodoh!!

“Kau di mana?” tanyaku sembari menyentuh gitarnya yang terpajang di ruang kesenian kampus.

“Di hatimu!”

Tiba-tiba ia datang menghampiriku. Dua tahun tak bertemu, akhirnya ia kembali. Aku tersenyum, girang.

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 
Categories:

0 comments:

Post a Comment