Saturday, 29 August 2015

Wiji Thukul - Kembalilah Pulang 3





Tahun 1996 semua mulai berantakan. Mas Wiji kabur ketika beberapa anggota kepolisian mendatangi rumah. Aparat memburu anggota Partai Rakyat Demokratik karena diduga partai itu terlibat aksi penyerangan markas Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat yang kini dikenal dengan peristiwa 27 Juli. Dalam pelariannya itu kami masih sempat bertemu secara sembunyi-sembunyi. Kami sering bertemu di Pasar Klewer. Setiap bertemu kami selalu membuat janji untuk pertemuan selanjutnya.

Hubungan kami selalu seperti itu. Aku jauh dengan Mas Wiji. Kami juga tidak bisa bertemu di rumah, karena itu akan sangat bahaya untuk Mas Wiji. Terkadang kami melepas kangen di Hotel Tunjungan Indah, Sragen. Kami sekeluarga menginap di situ. Tapi yang namanya ujian selalu datang kepada kami. Seorang tetangga pernah memergokiku yang kala itu terlihat sendirian dan menginap di hotel. Berita fitnah pun mulai menyebar. Katanya aku hidup sebagai pelacur setelah ditinggal Mas Wiji. Tapi aku tidak peduli. Yang terpenting adalah aku bisa bertemu dengan suamiku.

Kesetiaanku kepada suamiku kembali diuji ketika Mas Wiji menceritakan pelariannya saat di Kalimantan. Dia juga menceritakan tentang seorang wanita yang sedang hamil dan memintaku untuk menjahitkan popok bayi. Aku merasa curiga dan penasaran dengan perempuan yang diceritakannya. Waktu itu Mas Wiji bilang “Kamu cemburu?” katanya sambil tertawa. Aku langsung bilang “Kamu menikah di sana? Dan itu yang hamil istrimu?”dan Mas Wiji menjawab “Lha bagaimana lagi, untuk beli saja tidak punya uang.” Aku tahu Mas Wiji dalam kesehariannya juga sedang susah, tiap hari selalu butuh uang. Mungkin itu caranya untuk bisa bertahan hidup. Setidaknya ada yang mengurusi dia selama di sana.

Tapi kini bertahun-tahun suamiku menghilang. Aku kadang selalu ingat kejadian itu. Dan aku berharap Mas Wiji benar-benar mempunyai seorang anak di Kalimantan dan dia tinggal di sana. Itu semua demi semangatku dan kata hatiku yang selalu mengatakan kalau Mas Wiji masih hidup walau kita tidak bersama lagi sekarang. Mas Wiji juga menulis sebuah puisi untuk kami. Judulnya “Catatan”, puisinya berisi pesan buat kami anak dan istrinya.

Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
Katakan Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa menjadi penjahat
oleh penguasa yang sewenang-wenang

Akhir Desember 1997. Mas Wiji yang sedang dalam pelarian di Yogyakarta dan sedang dikejar-kejar aparat Orde Baru, menemui kami anak dan istrinya. Ternyata Mas Wiji masih ingat dengan ulang tahun anak kedua kami, Fajar Merah yang lahir pada 22 Desember 1993. Dan di saat itu kami merayakannya di salah satu hotel selama beberapa malam. Anakku Fitri Nganti Wani saat itu masih berusia 8 tahun.

Wani masih diam tiduran di pangkuanku sambil mendengarkan aku bercerita. Aku membelai rambutnya yang hitam legam dengan penuh kasih sayang. Mas, kau tahu kini anak-anak telah tumbuh menjadi dewasa. 16 tahun mereka tidak melihat lagi sosok dirimu. Bahkan anakmu Wani, gadis kecil kita dulu kini telah menikah dengan seorang pria asal Donohudan, Boyolali. Dia juga sudah dikaruniai seorang putri cantik. Itu cucu kita Mas. Wajahnya cantik sekali, mirip dengan Wani waktu masih kecil dulu.

Anak kita Wani juga hebat Mas, dia yang kuliah di Universitas Yogyakarta dan mengambil Jurusan Sastra Indonesia di tahun 2009 lalu, menerbitkan sebuah buku untukmu. Judulnya “Selepas Bapakku Hilang”. Walaupun kini kuliahnya harus terhenti. Kalau anak kita Fajar sekarang jadi seorang seniman. Dia tumbuh jadi lelaki tampan. Rambutnya gondrong dan dia lebih memilih mengambil jalur musik. Dia sekolah di SMK tempat kamu sekolah dulu. Walaupun juga nasibnya harus sama sepertimu. Berhenti sekolah.

Mau bagaimana lagi Mas, hidup kami pas-pasan. Tapi Fajar tidak berhenti menyerah. Dia bahkan terus berkarya dan berhasil menggubah banyak lagu. Lagu-lagunya bertema cinta. Aku pernah tanya dengannya “Kamu tidak mau seperti Bapak? Berbicara politik dan membawakan puisi?” tapi anak lelakimu itu malah menjawab “Aku tidak suka disamakan dengan Bapak.” Anak kita itu lebih memilih menjadi seniman tanpa bayang-bayang namamu Mas. Putri kecil Wani menghampiri kami. Tawanya yang ceria memudarkan kesedihan yang baru saja muncul karena mengingat Mas Wiji. Dia meminta Wani untuk menemaninya belajar.

(bersambung . . .)
Categories:

4 comments: