Tahun 1996 semua mulai berantakan. Mas Wiji
kabur ketika beberapa anggota kepolisian mendatangi rumah. Aparat memburu
anggota Partai Rakyat Demokratik karena diduga partai itu terlibat aksi
penyerangan markas Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta
Pusat yang kini dikenal dengan peristiwa 27 Juli. Dalam pelariannya itu kami
masih sempat bertemu secara sembunyi-sembunyi. Kami sering bertemu di Pasar
Klewer. Setiap bertemu kami selalu membuat janji untuk pertemuan selanjutnya.
Hubungan kami selalu seperti itu. Aku jauh
dengan Mas Wiji. Kami juga tidak bisa bertemu di rumah, karena itu akan sangat
bahaya untuk Mas Wiji. Terkadang kami melepas kangen di Hotel Tunjungan Indah,
Sragen. Kami sekeluarga menginap di situ. Tapi yang namanya ujian selalu datang
kepada kami. Seorang tetangga pernah memergokiku yang kala itu terlihat
sendirian dan menginap di hotel. Berita fitnah pun mulai menyebar. Katanya aku
hidup sebagai pelacur setelah ditinggal Mas Wiji. Tapi aku tidak peduli. Yang
terpenting adalah aku bisa bertemu dengan suamiku.
Kesetiaanku kepada suamiku kembali diuji
ketika Mas Wiji menceritakan pelariannya saat di Kalimantan. Dia juga
menceritakan tentang seorang wanita yang sedang hamil dan memintaku untuk
menjahitkan popok bayi. Aku merasa curiga dan penasaran dengan perempuan yang
diceritakannya. Waktu itu Mas Wiji bilang “Kamu cemburu?” katanya
sambil tertawa. Aku langsung bilang “Kamu menikah di
sana? Dan itu yang hamil istrimu?”dan Mas Wiji menjawab “Lha bagaimana lagi,
untuk beli saja tidak punya uang.” Aku tahu Mas Wiji dalam kesehariannya
juga sedang susah, tiap hari selalu butuh uang. Mungkin itu caranya untuk bisa
bertahan hidup. Setidaknya ada yang mengurusi dia selama di sana.
Tapi kini bertahun-tahun suamiku menghilang.
Aku kadang selalu ingat kejadian itu. Dan aku berharap Mas Wiji benar-benar
mempunyai seorang anak di Kalimantan dan dia tinggal di sana. Itu semua demi
semangatku dan kata hatiku yang selalu mengatakan kalau Mas Wiji masih hidup
walau kita tidak bersama lagi sekarang. Mas Wiji juga menulis sebuah puisi
untuk kami. Judulnya “Catatan”, puisinya berisi pesan buat kami anak dan
istrinya.
Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
Katakan Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa menjadi penjahat
oleh penguasa yang sewenang-wenang
Akhir Desember 1997. Mas Wiji yang sedang
dalam pelarian di Yogyakarta dan sedang dikejar-kejar aparat Orde Baru, menemui
kami anak dan istrinya. Ternyata Mas Wiji masih ingat dengan ulang tahun anak
kedua kami, Fajar Merah yang lahir pada 22 Desember 1993. Dan di saat itu kami
merayakannya di salah satu hotel selama beberapa malam. Anakku Fitri Nganti
Wani saat itu masih berusia 8 tahun.
Wani masih diam tiduran di pangkuanku sambil
mendengarkan aku bercerita. Aku membelai rambutnya yang hitam legam dengan
penuh kasih sayang. Mas, kau tahu kini anak-anak telah tumbuh menjadi dewasa.
16 tahun mereka tidak melihat lagi sosok dirimu. Bahkan anakmu Wani, gadis
kecil kita dulu kini telah menikah dengan seorang pria asal Donohudan,
Boyolali. Dia juga sudah dikaruniai seorang putri cantik. Itu cucu kita Mas.
Wajahnya cantik sekali, mirip dengan Wani waktu masih kecil dulu.
Anak kita Wani juga hebat Mas, dia yang
kuliah di Universitas Yogyakarta dan mengambil Jurusan Sastra Indonesia di
tahun 2009 lalu, menerbitkan sebuah buku untukmu. Judulnya “Selepas Bapakku
Hilang”. Walaupun kini kuliahnya harus terhenti. Kalau anak kita Fajar sekarang
jadi seorang seniman. Dia tumbuh jadi lelaki tampan. Rambutnya gondrong dan dia
lebih memilih mengambil jalur musik. Dia sekolah di SMK tempat kamu sekolah
dulu. Walaupun juga nasibnya harus sama sepertimu. Berhenti sekolah.
Mau bagaimana lagi Mas, hidup kami pas-pasan.
Tapi Fajar tidak berhenti menyerah. Dia bahkan terus berkarya dan berhasil
menggubah banyak lagu. Lagu-lagunya bertema cinta. Aku pernah tanya dengannya “Kamu tidak mau
seperti Bapak? Berbicara politik dan membawakan puisi?” tapi anak lelakimu
itu malah menjawab “Aku
tidak suka disamakan dengan Bapak.” Anak kita itu lebih memilih menjadi
seniman tanpa bayang-bayang namamu Mas. Putri kecil Wani menghampiri kami.
Tawanya yang ceria memudarkan kesedihan yang baru saja muncul karena mengingat
Mas Wiji. Dia meminta Wani untuk menemaninya belajar.
(bersambung . . .)








Pak wiji ,,,kita rindu anda
ReplyDeleteiya rindu sekali
Deletemoga terungkap kejelasannya
ReplyDeleteaamiin, semoga saja
Delete