Thursday, 30 July 2015

Takdir yang Tak Diharapkan



Hidup memang selalu diselimuti takdir. Tapi bagaimana dengan takdir yang tak pernah kita harapkan? Lantas siapa yang menentukan? 

Tuhan!

Sudah pasti jawabnya demikian. Hari ini entah sudah berapa kali Ayah membujukku untuk melupakan semua kejadian itu. Tapi bagaimana bisa? Teramat perih dan sangat-sangat membuatku merasa menyesal. 

Dari kecil, dari umurku delapan tahun. Aku sudah jadi pembunuh. 

“Kau tak sengaja, Nak. Ayah yang salah.” Kata Ayah setiap kali merenungi masa silam.

“Tapi aku yang berbuat, Yah.”

“Diamlah, dan berhenti menyalahkan dirimu!” Katanya dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku masih ingat kejadian itu. Saat tanganku dengan tanpa dosa memainkan senapan milik Ayah, beliau adalah seorang anggota Polisi. Senapan itu biasa tergantung di dinding, tapi hari itu mungkin Ayah lupa dan malah meletakkannya di atas meja.

Tiba-tiba letupan yang sangat keras terdengar hingga membuat semua orang histeris. Tepat di depan mataku, darah berlumuran. Tubuh itu terjatuh, terbaring lemah tak berdaya.
Maafkan aku, Ibu!

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

Sayangnya Kau Bukan Tulangku


Biarkan hujan menyapu keresahan,
dan lelapkan akal gila sang pemberontak.
Biarkan ketegaran melukis kebisingan,
dan membelai panas di otak.
Di mana letak kebenaran?
Apakah dekat dengan kebohongan?
Perlukah pula ada tangisan,
bila ingin menempuh impian? 
Saya lelah tapi tak boleh nyerah.
Saya resah tapi tak boleh pasrah.
Saya tak punya nyali tapi harus berani.
Sebentar saja, pinjam bahumu.
Bukan untuk memulai nafsu.
Tapi untuk redakan pilu.
Pengap, sayangnya kau bukan tulangku.
Duduklah di sini sayangku.
Biar kupandang wajahmu,
dan kukecup senyummu.


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 


Wednesday, 29 July 2015

Kisah Tentang Aku Dan Cerpenku Gendis -- part 2


Daaaannnn tttaaarrraaaa, di urutan terakhir, iiiiihhhh itu beneran namaku?? 10 besar aku masuk?? Gak nyangka. Mimpi apa aku semalem sampai bisa lolos di even yang keren?? (sambil jingkrak-jingkrak) #lebay heheheh.

Kenapa aku jadi lebay? ya gimana nggak ngerasa wow. Ini even pertama yang paling keren selama aku berkarya (ciieeeh berkarya, heheh kaya penulis keren aja). Dan puji syukur Alhamdulillah karya cerpenku yang berjudul “GENDIS” memang berbuah manis sama seperti arti dari nama Gendis (Gula – manis) itu sendri. Dan karya cerpenku Gendis dibukukan bersama karyanya Om Boim Lebon dan 9 penulis lainnya. 

Siapa itu Om Boim Lebon?? Ini dia jawabannya . . . . . . . . . . .

Biografi Boim Lebon

Dilahirkan 17 Juli dengan perasaan girang oleh ibunya. Pernah kerja jadi script-writer drama selama 3 tahun di Indosiar. Sekarang mangkal di RCTI (6 tahun jadi penulis, kini menjadi produser di divisi produksi). 

Salah satu program yang diproduserinya adalah SpektaQuizz (Juli 2006); live SABAR-Sahur Bareng Bagito (Oktober 2004); Stasiun Ramadhan (2005-2006-2007); Saurprise (2008); RockDut menyambut HUT Palembang (Juni 2004); Welcome Dance (2002-2004); Komedi Terang Bulan/Negeri Bulan (Juli 2004); komedi GULALI (Januari-Maret 2006); dan filler spesial HUT RCTI 15 (Agustus 2004); Cafe Sholeh, siaran langsung sholat Idul Adha Istiqlal dan Baiturrahman, Aceh; program talk show Catatan Si Tukul, Catatan Si Tessy, Catatan Si Komeng (2007); dan program reality show, Saatnya Jadi Idola (2007). Salah satu sinetronnya (berjudul Donna Sang Penyamar ditayangkan ANTV) masuk seleksi Festival Sinetron Indonesia 96 kategori sinetron komedi seri.


Nah itu singkat tentang Om Boim Lebon. Gimana, keren kan Om Boim Lebon? (biingiiittt). Aku juga ngucapin terima kasih buat Omzuk yang sudah menyelenggarakan even menulis ini. Jujur dengan begini aku sebagai penulis pemula bisa makin semangat untuk terus menulis dan menghasilkan karya-karya bermanfaat. Oh iya, terima kasih lagi ya Omzuk, kiriman 3 buku bukti terbitnya udah sampai di rumah dengan selamat, heheheh (semangat banget kalau dapet yang gretongan, xixixixi). Buat Om Boim Lebon, semoga aku juga bisa ketularan jadi penulis hebat dan keren kaya Om Boim Lebon.

Kalau mau lihat cerpenku yang lainnya bisa juga langsung kunjungi blogku di http://soearaperempoean.blogspot.com/. Setelah baca boleh juga kirim kritik, saran, senyum, dan lain sebagainya ke blogku. Tapi inget, jangan kirim guna-guna!! Okey, soalnya kasihan, entar kalian dosa!! (xixixixixi). Yang mau beli bukunya juga boleh, langsung aja hubungin Omzuk. (Promo, heheh)

Akhir kata terima kasih untuk semua pihak yang sudah menjadi penyemangat untuk kelancaran menulisku. Dan untuk semua saja yang kenal sama aku (emang ada??, hehehe.) “Salam Sastra dan teruslah berkarya”. Seperti juga yang pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Senyum manis dari Icha Mamusu alias Risa Febrianti (heheheh, ketahuan deh nama aslinya).

**********

Alhamdulillah setelah menanti sekian lama prosesnya akhirnya di bulan Juli 2015 bukunya diterbitkan. Alhamdulillah juga bukunya udah sampai dengan selamat ditanganku. Terima kasih banyak buat Omzuk, PENERBIT ZUKZEZ EXPRESS, dan Om Boim Lebon karena sudah memberikan kesempatan menulis dan berkarya bagi para penulis pemula. Bukunya kereeeen, semoga PENERBIT ZUKZEZ EXPRESS semakin jaya dan sukses, aamiin . . .

*****

Sunday, 19 July 2015

Rindu yang Tertahan


Hujan lagi-lagi mengguyur kota ini. Sudah dua bulan aku tidak pulang. Tugas kuliah menumpuk dan aku memang harus bersabar. Tapi dua hari lagi ulang tahun Ibuk. Kado? Yah, aku ingin memberikan sebuah hadiah spesial untuk Ibuk. Terlebih aku merindukan peluknya. Benar-benar ingin menikmati kebersamaan seperti biasanya, aku tidur dipangkuan Ibuk kemudian lembut tangannya membelai kepalaku. Sungguh menenangkan.

Rintik hujan makin liar menghujam begitu deras. Dingin menyeruak ke sela-sela hatiku. Ibuk, semoga selalu baik-baik saja di sana. Aku memperhatikan jadwal kegiatanku. Huft, penuh dan tak ada waktu sama sekali. Raut wajahku terlipat, guratan kejenuhan terlukis begitu jelas. Aku menghela napas. Ingin menangis rasanya. Tapi harus bagaimana? Aku juga ada ujian, tak mungkin jika aku memaksa pulang. Ibu pastilah akan lebih sedih jika aku mengorbankan kuliahku.

Aku memutuskan untuk menelepon Ibuk. Sudah tak tahan ingin mendengar suara atau nasihat-nasihatnya. Telepon mulai tersambung.

“Assalamu’allaikum, Buk?”

“Wa’allaikumsalam, Anisa. Bagaimana kabar kamu Nduk? Ibuk kangen, belum bisa pulang ya?” Jawab Ibuk begitu semangat.

Ah Ibuk, baru saja menjawab salamku sudah menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Bahkan berkata kangen. Aku mengedip-ngedipkan mataku. Entah kenapa aku benar-benar ingin menangis. Pulang? Aku juga ingin Buk, tapi . . . .

“Maaf Buk, Anisa belum bisa pulang. Masih banyak kegiatan kuliah. Dua hari lagi Anisa ada ujian.” Kataku penuh menyesalan.

“Ya sudah Nduk. Tidak apa-apa. Kamu jaga kesehatan ya. Ibuk selalu doain kamu, Nduk.” Suara Ibuk terdengar sedikit parau. Mungkin juga karena sesak menahan rindu sama sepertiku.

“Anisa kangen Ibuk.” Aku mulai menangis. Benar-benar sesak rasanya merindukan orang yang begitu berarti dalam hidupku. Dua bulan tidak bertemu, biasanya dua minggu sekali atau sebulan sekali aku pulang. Menyempatkan diri berkumpul bersama keluarga. Tapi ini?

“Nduk, ndak boleh nangis. Harus kuat dan bisa mandiri. Selesaikan dulu tugas-tugasmu, anak Ibuk ndak boleh cengeng.” Kata Ibuk memberikanku semangat.

Aku tersenyum tipis. Mendengarkan semua cerita Ibuk. Suaranya cukup membalut lecet di hati yang merindu. Nasihatnya seperti sebuah telaga yang mengaliri gersang di pikiranku. Menyejukkan dan menentramkan.

“Anisa sayang Ibuk.”

“Iya Nduk, Ibuk juga sayang sama Anisa. Ingat semua pesan Ibuk ya.”

Aku menjawab iya dengan mantap kemudian mengakhiri teleponku dengan salam.

Hujan sudah berhenti. Aroma khas dari tanah yang bercampur air makin melekatkan kembali setiap kenangan bersama keluarga. Aku benar-benar ingin pulang. Ya Allah, kumohon berikan aku jalan untuk bisa menuntaskan rinduku kepada Ibuk. Setidaknya aku punya kesempatan untuk memberikan sebuah kado spesial sembari memeluk Ibukku. Walaupun bukan tepat pada hari ulang tahunnya.

Aku mengusap sisa airmata yang menetes. Membenarkan jilbab abu-abu yang aku kenakan. Warnanya sama seperti langit di luaran sana, mendung.

***** 


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

Jumantara


Ketika embun menggelayut mesra.
Kucumbui mimpi yang merana.
Terbangun, lalu hilang : pasrah.
Di mana letak kata lelah?
Biar layu pun kutelaah.
Tak dapatkah mimpi terjawab?
Agar harap tak terjerembab.
Sudah  kusemai benih kesejukan.
Menanti hujan tuk tenangkan.
Namun dalam kemelut mayapada.
Mimpi itu lebur tak terduga.
Aku kecewa!
Pada detik yang tak jua mendukung.
Pada ambisi yang terlalu mengukung.
Dan biar kulekatkan asa,
di atas jumantara.


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546