Sunday, 19 July 2015

Rindu yang Tertahan


Hujan lagi-lagi mengguyur kota ini. Sudah dua bulan aku tidak pulang. Tugas kuliah menumpuk dan aku memang harus bersabar. Tapi dua hari lagi ulang tahun Ibuk. Kado? Yah, aku ingin memberikan sebuah hadiah spesial untuk Ibuk. Terlebih aku merindukan peluknya. Benar-benar ingin menikmati kebersamaan seperti biasanya, aku tidur dipangkuan Ibuk kemudian lembut tangannya membelai kepalaku. Sungguh menenangkan.

Rintik hujan makin liar menghujam begitu deras. Dingin menyeruak ke sela-sela hatiku. Ibuk, semoga selalu baik-baik saja di sana. Aku memperhatikan jadwal kegiatanku. Huft, penuh dan tak ada waktu sama sekali. Raut wajahku terlipat, guratan kejenuhan terlukis begitu jelas. Aku menghela napas. Ingin menangis rasanya. Tapi harus bagaimana? Aku juga ada ujian, tak mungkin jika aku memaksa pulang. Ibu pastilah akan lebih sedih jika aku mengorbankan kuliahku.

Aku memutuskan untuk menelepon Ibuk. Sudah tak tahan ingin mendengar suara atau nasihat-nasihatnya. Telepon mulai tersambung.

“Assalamu’allaikum, Buk?”

“Wa’allaikumsalam, Anisa. Bagaimana kabar kamu Nduk? Ibuk kangen, belum bisa pulang ya?” Jawab Ibuk begitu semangat.

Ah Ibuk, baru saja menjawab salamku sudah menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Bahkan berkata kangen. Aku mengedip-ngedipkan mataku. Entah kenapa aku benar-benar ingin menangis. Pulang? Aku juga ingin Buk, tapi . . . .

“Maaf Buk, Anisa belum bisa pulang. Masih banyak kegiatan kuliah. Dua hari lagi Anisa ada ujian.” Kataku penuh menyesalan.

“Ya sudah Nduk. Tidak apa-apa. Kamu jaga kesehatan ya. Ibuk selalu doain kamu, Nduk.” Suara Ibuk terdengar sedikit parau. Mungkin juga karena sesak menahan rindu sama sepertiku.

“Anisa kangen Ibuk.” Aku mulai menangis. Benar-benar sesak rasanya merindukan orang yang begitu berarti dalam hidupku. Dua bulan tidak bertemu, biasanya dua minggu sekali atau sebulan sekali aku pulang. Menyempatkan diri berkumpul bersama keluarga. Tapi ini?

“Nduk, ndak boleh nangis. Harus kuat dan bisa mandiri. Selesaikan dulu tugas-tugasmu, anak Ibuk ndak boleh cengeng.” Kata Ibuk memberikanku semangat.

Aku tersenyum tipis. Mendengarkan semua cerita Ibuk. Suaranya cukup membalut lecet di hati yang merindu. Nasihatnya seperti sebuah telaga yang mengaliri gersang di pikiranku. Menyejukkan dan menentramkan.

“Anisa sayang Ibuk.”

“Iya Nduk, Ibuk juga sayang sama Anisa. Ingat semua pesan Ibuk ya.”

Aku menjawab iya dengan mantap kemudian mengakhiri teleponku dengan salam.

Hujan sudah berhenti. Aroma khas dari tanah yang bercampur air makin melekatkan kembali setiap kenangan bersama keluarga. Aku benar-benar ingin pulang. Ya Allah, kumohon berikan aku jalan untuk bisa menuntaskan rinduku kepada Ibuk. Setidaknya aku punya kesempatan untuk memberikan sebuah kado spesial sembari memeluk Ibukku. Walaupun bukan tepat pada hari ulang tahunnya.

Aku mengusap sisa airmata yang menetes. Membenarkan jilbab abu-abu yang aku kenakan. Warnanya sama seperti langit di luaran sana, mendung.

***** 


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 
Categories:

0 comments:

Post a Comment