Hidup memang selalu diselimuti
takdir. Tapi bagaimana dengan takdir yang tak pernah kita harapkan? Lantas siapa
yang menentukan?
Tuhan!
Sudah pasti jawabnya demikian.
Hari ini entah sudah berapa kali Ayah membujukku untuk melupakan semua kejadian
itu. Tapi bagaimana bisa? Teramat perih dan sangat-sangat membuatku merasa
menyesal.
Dari kecil, dari umurku delapan
tahun. Aku sudah jadi pembunuh.
“Kau tak sengaja, Nak. Ayah yang
salah.” Kata Ayah setiap kali merenungi masa silam.
“Tapi aku yang berbuat, Yah.”
“Diamlah, dan berhenti
menyalahkan dirimu!” Katanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku masih ingat kejadian itu. Saat
tanganku dengan tanpa dosa memainkan senapan milik Ayah, beliau adalah seorang
anggota Polisi. Senapan itu biasa tergantung di dinding, tapi hari itu mungkin
Ayah lupa dan malah meletakkannya di atas meja.
Tiba-tiba letupan yang sangat
keras terdengar hingga membuat semua orang histeris. Tepat di depan mataku, darah
berlumuran. Tubuh itu terjatuh, terbaring lemah tak berdaya.
Maafkan aku, Ibu!
*****
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment