Thursday, 30 July 2015

Sayangnya Kau Bukan Tulangku


Biarkan hujan menyapu keresahan,
dan lelapkan akal gila sang pemberontak.
Biarkan ketegaran melukis kebisingan,
dan membelai panas di otak.
Di mana letak kebenaran?
Apakah dekat dengan kebohongan?
Perlukah pula ada tangisan,
bila ingin menempuh impian? 
Saya lelah tapi tak boleh nyerah.
Saya resah tapi tak boleh pasrah.
Saya tak punya nyali tapi harus berani.
Sebentar saja, pinjam bahumu.
Bukan untuk memulai nafsu.
Tapi untuk redakan pilu.
Pengap, sayangnya kau bukan tulangku.
Duduklah di sini sayangku.
Biar kupandang wajahmu,
dan kukecup senyummu.


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 


Categories:

0 comments:

Post a Comment