Biarkan
hujan menyapu keresahan,
dan
lelapkan akal gila sang pemberontak.
Biarkan
ketegaran melukis kebisingan,
dan
membelai panas di otak.
Di mana
letak kebenaran?
Apakah
dekat dengan kebohongan?
Perlukah
pula ada tangisan,
bila
ingin menempuh impian?
Saya lelah tapi tak boleh
nyerah.
Saya resah tapi tak boleh
pasrah.
Saya tak punya nyali tapi harus berani.
Sebentar saja, pinjam bahumu.
Bukan untuk memulai nafsu.
Tapi untuk redakan pilu.
Pengap, sayangnya kau bukan
tulangku.
Duduklah di sini sayangku.
Biar kupandang wajahmu,
dan kukecup senyummu.
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment