Thursday, 19 November 2015

Siluet Masa Laluku



“Kenapa kau melamun?” Tanya suamiku membuyarkan lamunanku.
          “Ehm, perasaanku tidak enak saja. Kau masih banyak kerjaan Mas?” Kataku sambil membelai wajah lelah suamiku.
       “Belum, Kau tidur saja dulu. Sudah larut malam tidak baik untuk kesehatanmu.” Katanya sambil mencium keningku.
       Aku masih saja diam menatap dan memandangi wajah suamiku. Entah kenapa akhir-akhir ini perasaanku selalu saja tidak enak. Mungkin aku terlalu khawatir akan situasi Negara saat ini. Suamiku seorang Jendral Bintang Lima dan pasti akan terus terlibat urusan Negara. Dia lelaki yang sangat sederhana, idealis dan taat beribadah. Dia juga pekerja keras, bahkan sampai larut malam pun dia masih bekerja di ruang kerjanya. Suamiku seorang yang aktif dan selalu bersemangat ikut dalam gerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Aku sangat mencintainya.
           “Pah. Bagaimana perkembangan tugasmu?” Tanyaku serius padanya.
          “Tak usah kau pikirkan itu. Itu pekerjaanku. Kau pikirkan saja masalah keluarga.” Katanya tersenyum manis sambil menatapku.
      “Tapi aku takut suatu saat pasukan-pasukan itu menangkap dan menyakitimu.” Kataku sambil menatapnya sendu.
            Suamiku hanya tersenyum dengan tatapan teduh seakan berkata bahwa semua  akan baik-baik saja. Tok.. tok.. tok… Suara seseorang mengetuk pintu ruang kerja suamiku. Aku bergegas membukakan pintu.
“Selamat malam, maaf mengganggu Bu. Pak Nas ada?”
“Ada. Kau masuk saja Pierre, biar aku buatkan teh panas untuk kalian.”
“Iya. Terima kasih Bu Johana.”
Aku berlalu ke dapur membuatkan mereka berdua teh. Pierre pemuda yang gagah dan tampan, dia juga pintar. Ajudan suamiku. Pierre baik dan setia pada keluarga kami. Hubungan kami dan Pierre juga sudah seperti keluarga. Seperti biasa, tiap malam juga mereka akan sibuk di ruang kerja membicarakan masalah Negara.
Sepuluh menit aku kembali membawakan mereka berdua teh panas dan camilan. Sepertinya mereka malah tidak membahas masalah serius. Suamiku juga malah menggoda Pierre yang katanya sedang jatuh cinta. Aku juga ikut berbicara dan mendengarkan cerita mereka.
“Bagaimana dengan gadis cantik itu Pierre?” Kataku sambil menyodorkan secangkir teh panas untukknya.
“Baik Bu Johana. Saya berniat menikahinya November nanti.” Katanya sambil tersipu malu.
“Gadis yang mana? Apa dia gadis yang kau kenal saat bertugas di Medan dulu?” Tanya suamiku ikut menyelidik.
“Iya Pak.” Jawab Pierre tegas.
“Oh iya Pah, tadi sore ada surat dari Pak Soekarno. Ajudannya bilang besok beliau ingin bertemu dengan Papah dan Perwira lainnya.” Kataku sambil memberikan surat yang aku letakkan di rak bukunya.
“Baiklah. Pierre, tolong besok kau kabari semua Perwira dan minta mereka berkumpul untuk menemui Soekarno.” Kata suamiku pada Pierre.
“Siap Pak. Laksanakan!!” Kata Pierre mantap.
Kami semua kembali sibuk menggoda Pierre dan kisahnya dengan gadis cantik yang dia ceritakan pada kami. Namun sayangnya cinta Pierre dan gadis itu tidak disetujui oleh Mama Pierre. Aku tahu watak Mama Pierre, dan aku juga sangat akrab dengan Mama Piere bahkan Mamanya pula yang mengusahakan agar Pierre jadi ajudan suamiku. Katanya tak tega jika harus melihat Pierre terus-terusan bekerja sebagai Intelejen dan bolak-balik harus terus membahayakan keselamatan nyawanya.
Pierre juga meminta izin cuti dari suamiku. Besok usai bertugas dia akan pulang ke Semarang untuk menemui Mamanya dan berencana meminta izin agar direstui dengan Rukmini, gadis yang dia cintai. Tentu saja suamiku mengizinkannya. Dia juga bilang pada Pierre agar tidak menyerah memperjuangkan cintanya. Sama seperti saat sedang memperjuangkan Negara Indonesia.
Aku jadi teringat dulu sebelum kami menikah. Waktu itu aku dan suamiku bertemu saat dia sedang bermain tenis. Dan aku menemani Bapakku bermain tenis. Aku juga terpesona dengan kelembutan hatinya saat aku mulai dekat dengannya. Suara tangis anakku terdengar keras memanggil namaku “Mamaaaaaaa, Maaaa.” Aku segera bergegas ke kamar dan menenangkannya.
“Sudah malam, kau istirahatlah Pierre. Aku juga ingin istirahat, masih banyak tugas yang menunggu kita esok.” Kata suamiku pada Pierre.
Mereka berdua bergegas beristirahat. Suamiku juga menyusul ke kamar. Pierre memilih tidur di ruangan jaga yang ada di halaman belakang ruang kerja suamiku. Dia bilang ingin berjaga saja takut ada yang masuk dan menyusup ke rumah. Malam juga semakin larut dan semua beristirahat.

*****
Menjelang azan subuh aku bangun. Anakku Ade Irma entah kenapa terus-terusan menangis. Aku mencoba menenangkanya. Aku membangunkan suamiku untuk salat subuh.
“Pah, bangun sudah subuh.” Aku menepuk pelan wajah suamiku.
Tiba-tiba saja suara kegaduhan terdengar dari ruang tamu. Derap langkah sepatu juga keras menghentak lantai. Suara orang mendobrak pintu dan berteriak-teriak memanggil nama Nasution suamiku. “Nasution keluar kau!!!” Kata seseorang di luar sana. Suaranya makin berisik. Sepertinya mereka beramai-ramai. Suara dobrakan pintu dan beberapa vas bunga yang pecah juga makin terdengar.
Aku membuka sedikit pintu kamar dan mengecek keadaan. Ya Allah, Pasukan Cakrabirawa datang. Aku tahu pasti mereka mau menculik beberapa Perwira. Dengan segera aku membangunkan suamiku. Suamiku langsung bangun dan mengambil senjata yang dia letakkan di atas lemari.
“Pah, kau kabur saja. Mereka semua mencarimu. Aku mohon selamatkan dirimu.”
“Tapi Ma, aku tidak bisa meninggalkan kalian begitu saja.” Kata suamiku sudah bersiap dengan pistolnya dan hendak keluar.
“Pah, dengarkan aku. Kami akan baik-baik saja, kau kabur saja. Loncat dari jendela kamar. Mereka tidak akan menyakiti aku dan anak kita. Mereka hanya mencarimu dan para Perwira lainnya.”
Suamiku masih saja terdiam malah menatapku tidak tega. Aku bergegas menggendong anakku Ade Irma.
“Pah, apa yang kau pikirkan. Cepat pergi!!” Aku mohon.” Kataku sambil menangis.
“Aku mencintaimu.” Kata suamiku.
“Aku juga mencintaimu.”
Suamiku mencium anakku dan mengusap air mataku. Dia langsung bergegas loncat dari jendela dan berlari. Aku berteriak memanggil Pierre. Pasukan Cakarabirawa bahkan sudah mendobrak pintu kamarku. Pierre, Pierre!! Tubuhku sudah gemetar. Lututku serasa tak bisa menopang berat badanku. Aku menangis sambil menggendong anakku, Ade Irma yang juga terus menangis ketakutan.
Pierre datang sambil membawa pistol di tangannnya. Dia berusaha melindungiku dan Ade Irma. Pasukan Cakrabirawa juga menodongkan pistol ke arah kami. Mereka berteriak dan membentak-bentak menyebut nama suamiku “Di mana Nasution!!” Kata seorang anggota pasukan Cakrabirawa berteriak galak. Pierre masih menodongkan pistol. “Apa kau yang bernama Abdul Haris Nasution?” Kami masih diam tidak menjawab.
Ddoorr!! Tanpa kami duga salah satu anggota pasukan Cakrabirawa itu menembakkan satu peluru dan mengenai anakku Ade Irma. Aku menjerit semakin takut dan menangis. Aku memeluk tubuh Ade Irma erat. Tubuhnya bahkan sudah berlumuran darah. Pierre dengan sigap melepas tembakan ke salah satu anggota yang menembak anakku. Suasana semakin tegang. Mulut pistol sama-sama mengarah ke kami dan siap ditembakkan lagi.
“Sekali lagi, di mana Nasution!!” Kata salah satu anggota pasukan Cakrabirawa.
“Aku Nasution.” Jawab Pierre dengan tegas.
Ya Allah, tubuhku semakin gemetar. Aku tidak menduga kalau Pierre ajudan suamiku akan berkata bahwa dialah Nasution. Apa yang kau lakukan Pierre. Setiamu pada suamiku bahkan sampai membuatmu mengaku bahwa kaulah Nasution. Dengan sigap semua pasukan itu mengikat tangan Pierre dan membawanya pergi entah ke mana. Suamiku masih belum kembali. Aku meminta bantuan pada salah seorang teman untuk membawa anakku ke rumah sakit. Namun sayang, putriku sudah meninggal.
Fajar itu di tanggal 1 Oktober 1965 benar-benar membuat hatiku pilu. Aku terus mencari kabar tentang suamiku dan Pierre. Kabar mengejutkan datang, Pierre ajudan suamiku ditemukan meninggal bersama enam Jenderal TNI-AD lainnya. Di antaranya Letjen A. Yani, Mayjen Soeprapto, Mayjen S. Parman, Mayjen Haryono M.T., Brigjen D.I. Pandjaitan, dan Brigjen Soetojo Siswomihardjo. Mereka ditemukan meninggal di sumur tua di daerah Lubang Buaya.

*****
Peristiwa yang sudah bertahun-tahun silam itu masih sangat lekat di otakku. Hingga kini aku hidup di sisa umur tuaku. Mas Nas meninggal lima tahun lalu di usianya yang ke 82 tahun. Aku terus mencintainya. Sosok suami yang baik, taat beribadah dan punya hati yang lembut. Seorang Jenderal Bintang Lima yang bijaksana dan selalu punya pemikiran idealis untuk bangsanya. Hari ini kemilau senja indah menemaniku yang sedang mengunjungi pusara suamiku. Aku membelai nisan suamiku, Abdul Haris Nasution.
Aku masih ingat saat peristiwa pemakaman Pierre dan enam Perwira lainnya. Aku melihat suamiku menangis merasa bersalah. Baru kali itu seumur hidupku bersama suamiku, aku melihat suamiku menitikan airmata. Anakku, Ade Irma semoga kau tenang. Dulu ataupun sekarang, kau selalu jadi gadis kecil Mama. Maafkan Mama yang tak bisa menjagamu. Mama rindu padamu, Mama juga rindu saat kau selalu merengek minta cokelat dari Om Pierre. Kemudian kalian berlarian dan bercanda berebut cokelat.
Dan kau Pierre Andreas Tendean seorang Perwira gagah dan tampan, yang pernah dengan rela mengaku dan tegas berkata “Akulah Nasution”, semoga kau juga damai di alam sana. Maafkan kami atas meninggalnya dirimu Pierre. Usia muda dan kisah cintamu bahkan harus kau tinggal demi pengabdianmu pada suamiku. Aku juga selalu kagum saat kau berkata tegas “Siap Pak, laksanakan!!” untuk semua perintah suamiku yang diberikan padamu. Maaf juga karena itu kau harus membatalkan mimpi indahmu untuk menikah bersama gadis cantikmu, Rukmini.
Mas Nas, aku merindukanmu. Biarkan semua menjadi siluet masa laluku. Kini di usia senja ini aku akan melewati hidupku bersama semua kenangan bersamamu. Lembutnya hatimu dan canda tawamu akan selalu melekat di hatiku. Cinta dan kasih sayangmu juga akan selalu aku simpan. Kini senja melintas di depan mataku. Semilir angin berhembus damai membelai wajah keriput tuaku. Warna orange itu indah Mas. Masih sama seperti dulu saat kita menatapnya bersama. Aku mencintaimu Mas. Aku pamit pulang.

Categories:

4 comments:

  1. Bagus ya ada pesan sejarahnnya

    ReplyDelete
  2. ganti pak tio aja jangan pak nas lebih keren

    ReplyDelete
  3. Pierre tendean ya apa siapa namanya

    ReplyDelete
  4. Ada lagunya ade irma suryani,dulu pas sd sedih kalo rasain lyriknya

    ReplyDelete