05 Agustus 2014, flashback skenario cinta. . . . .
Tiga
tahun lalu, tepatnya bulan Agustus 2011 aku memutuskan untuk melanjutkan
studiku di India. Semua demi impianku menjadi penulis skenario yang hebat. Tapi
sebelum studiku dimulai aku menyempatkan diri untuk
berlibur di kota Amritsar. Mengunjungi tempat yang
pernah menjadi lokasi syuting film favoritku.
Film Rab Ne Bana Di Jodi, itulah film favoritku yang mengambil lokasi syuting di kota Amritsar. Film komedi
percintaan khas Bollywod yang dirilis pada tahun 2008. Disutradarai oleh
Yash Chopra dengan produser Yash Raj Films. Aktor tampan Shahrukh Khan dan
aktris cantik Anuskha Sharma menjadi pemerannya.
Ketenangan dan damainya kuil
Harmandir Sahib atau biasa disebut kuil Golden Temple (Kuil Emas) begitu
tergambar indah di dalam film itu. Terletak di tepi sungai suci yang dikenal dengan nama
Sarovar. Dan kuil Harmandir Sahib berada di tengah-tengah kolam
Amritsar.
Harmandir Sahib merupakan tempat suci pemeluk agama Sikh yang dibangun pada abad
ke-16 oleh sikh guru ke-5, Guru Arjan. Bagian luar kuil dan atasnya dilapisi dengan emas. Setiap pengunjung yang datang ke kuil
Harmandir Sahib pun harus menjaga kesucian tempat dengan melepas alas kakinya, tidak merokok, tidak mengonsumsi daging dan juga
minuman beralkohol di sekitar kuil.
Kuil Harmandir Sahib juga menjadi tempat kenangan, di mana aku
pertama
bertemu dengannya
dan memulai skenario cintaku.
Malam ini aku kembali mengunjungi kuil Harmandir Sahib. Di Kota Amritsar, Punjabi, India. Aku
ingin menjawab skenario cinta yang sempat terhenti.
Dan kini aku bahkan sudah berdiri di samping gadis yang menjadi pemeran dalam
skenario cintaku.
Namanya Yas. Gadis keturunan India-Indonesia. Senyumnya selalu terlihat manis. Rambut hitam panjangnya yang terurai dan kadang
menutup wajahnya selalu menawan. Kebiasaannya saat menyibak rambut, kemudian
sesekali tersenyum sambil memainkan air suci di
kolam Amritsar selalu menggoda mata untuk tidak berkedip.
Yas memang
selalu terlihat anggun dengan sari sutera yang dia kenakan. Sari sutera berwarna
merah marun itu pun lekat membalut tubuhnya
saat pertama kali aku melihatnya.
Gemerincing gelang kaki yang khas pun mengikuti langkah kaki
anggunnya. Cantik, dan aku
tak pernah memalingkan pandangan mataku dari keindahan wajahnya.
Malam tiga tahun lalu juga semakin
indah di pendaran cahaya emas kuil Harmandir Sahib. Keindahannya pun
bertambah cantik dengan berhiaskan pesona wajah gadis
itu. Hatiku juga
mulai
berkilau. Letupan perasaan
mulai tumbuh perlahan seiring perjalanan waktu. Perlahan berawal dari pertemuan, persahabatan, dan semua berubah menjadi jalinan
kisah cinta yang
kami jalin dalam waktu hampir tiga tahun.
“Yas,
bagaimana kabarmu?” tanyaku mulai membuka
percakapan dengan gadis bermata sendu yang sekarang
berdiri di sampingku. Diam dan tak ada
jawaban. Matanya hanya menatap kosong
kolam
Amritsar yang tenang. Cukup lama aku
menunggunya berbicara. Bibirnya bahkan enggan berucap walau hanya untuk sepatah
kata pun. Aku bertanya lagi.
“Sari sutera yang kau kenakan ini bukan kah sama dengan
yang kau kenakan tiga
tahun lalu Yas? Kau bahkan
selalu terlihat cantik.”
tanyaku sambil mencoba tersenyum seramah mungkin. Gadis ini masih saja
diam dan hanya menatapku sinis dengan bening mata yang berkaca-kaca. Aku tahu
pertanyaanku adalah pertanyaan yang konyol. Yas tidak sedang baik-baik saja. Bahkan pastilah
Yas juga sakit dengan pertemuan ini. Sama sepertiku yang juga sakit karena harus
melihatnya menahan airmata.
Aku harap
airmatanya tidak tumpah. Aku sungguh tak ingin melihatnya menangis lagi. “Tersenyumlah Yas, ini bukanlah hal yang
harus dibuat rumit. Tidak akan jadi masalah jika kita tidak bersama lagi sebagai
kekasih.” Kataku mencoba menyemangatinya. Aku
tahu kali ini hatiku berbohong. Sungguh, aku pun tak bisa jika harus mengakhiri
skenario cinta ini.
Aku
masih memeluk erat siluet kebersamaanku dengan Yas. Mencoba bersabar menungguinya
berbicara. Aku masih ingat tiga tahun lalu, Yas pernah berucap sesuatu yang membuatku tertawa geli. “Aku panggil Mas Galih
saja ya, boleh kan?” kata Yas begitu manjanya.
Aku hanya tersenyum mengiyakan.
Merasa senang masih ada yang
memanggilku dengan sebutan “Mas” di India. Membuatku rindu
dengan tanah kelahiranku, Yogyakarta.
Wajar saja jika Yas fasih
berbahasa Indonesia dan Jawa walaupun dia lahir di India. Mama Yas asli Indonesia dan
termasuk keturunan ningrat di Yogyakarta. Semua
begitu manis saat aku mulai mengenal keluarga Yas. Namun kenyataan
yang baru kami tahu ini adalah
hal yang sangat menyakitkan hingga
menghancurkan skenario cinta kami.
“Mas Galih, apa
kenyataan ini tak bisa diubah?” kata
Yas mulai berbicara sambil menatap
dalam mataku dan mencoba menggali harapan.
“Sayangnya
memang takdir kita seperti ini Yas.” Jawabku tersenyum getir.
Kami saling
pandang. Kemudian diam. Ketenangan masih
menyelimuti kuil Harmandir
Sahib. Kolam air suci Amritsar makin menyilaukan mata karena biasan cahaya keemasan
kuil. Cahaya bulan juga ikut berpendar
bersama cahaya lampu. Sungguh indah,
bahkan terlihat seperti tarian cahaya yang eksotis.
Menari dan terus menari mengejek hati kami yang perih.
Tiga tahun lalu
tekadku bulat untuk melanjutkan studiku di India
demi impianku menjadi penulis skenario hebat. Bisa menghasilkan karya-karya yang memukau seperti
film-film Bollywod.
Tapi
kali ini rasanya aku benar-benar ingin pulang ke Indonesia saja.
Ya
Tuhan, semua
bahkan masih lekat di otakku. Tapi kini Yas yang aku cintai hanya terlihat
seperti gadis yang tidak punya semangat. Aku harap Yas bisa kembali dengan
senyumnya yang dulu. Maafkan aku Yas, andaikan aku pun tahu dari awal. Tidak
akan aku biarkan cinta ini tumbuh menjadi besar dan menyakitimu.
“Mas Galih, apa
Mas akan pergi setelah ini?” tanya Yas lagi, kali ini dia terlihat mengusap
airmatanya.
“Mungkin pulang
ke Indonesia saja. Melanjutkan hidup di Yogyakarta, di tempat kelahiran Mas.” Kataku
sambil menatap wajah menyedihkan Yas.
“Eemm, Mas pasti
mau melanjutkan impian Mas menjadi penulis skenario yang hebat karena Mas memang belum hebat sekarang. Buktinya Mas tidak bisa mengubah skenario
cerita cinta kita.” Kata Yas begitu memilukan mencambuk hatiku.
Aku menatap
wajahnya lekat-lekat. “Ya, andai saja Mas
bisa mengubah skenario cinta kita Yas. Tapi skenario cinta kita memang harus
menguap. Dan rasa-rasanya Mas tidak
sanggup lagi untuk
melanjutkannya.” Gumamku sambil menghela napas. Setidaknya
aku masih bisa lebih kuat dan mencoba untuk tidak menangis. Tapi Yas, mana
mungkin Yas sanggup menahan airmatanya.
Ya Tuhan, aku tahu Kau adalah
sutradara yang jenius. Tapi gadisku ini benar-benar menyedihkan. Kumohon
berilah dia sebuah senyuman. Dan mungkin rencanaku untuk pindah dan menetap saja
di Indonesia itu lebih baik. “Aku
harus menghindar dari Yas.” Kataku terus bermonolog
dengan sisa-sisa ketegaran. Dan kisahku ini pun seperti kisah-kisah mengharukan di film-film Bollywod.
Tenang
air suci kolam Amritsar masih menyimak rentetan cerita kami. Udara
makin dingin, sama dinginnya dengan hati kami yang beku. Kami berdua juga masih
berdiri kaku. Mengedarkan pandangan, mencumbui
keindahan bangunan-bangunan megah
di sekeliling kami.
Mencoba berharap di
bawah terang kemerlip lampu.
“Yas? Eeem, Mas
rasa Mas harus mulai terbiasa memanggilmu Dek, iya kan? Heheheh.” Kataku
mencoba bergurau. Tapi lagi-lagi Yas hanya menatapku sinis dan diam. Sepertinya
kata-kataku terlalu menghantam hatinya. Kata-kataku juga seperti memperjelas
sekat di antara aku dan Yas.
“Yas, nggak suka
Mas Galih panggil Yas dengan sebutan Dek!!”
kata Yas tiba-tiba dengan nada yang agak meninggi. Aku hanya tersenyum,
tidak mengiyakan tidak juga menolak. Aku tahu Yas hanya belum siap saja.
“Yas, kau tahu hati Mas seperti kolam
Amritsar di depan kita
ini?” kataku mencoba mengiburnya. Tapi Yas
malah menangis. Mataku mencoba mengalihkan pandangan, menatap lurus ke arah kuil yang megah. Tak berani menatap
airmata Yas. Sungguh rasa-rasanya aku ingin memeluknya. Tapi tanganku serasa
kaku dan lagi-lagi memang sekat itu terlalu besar.
“Yas, hati Mas seperti kolam ini yang tak pernah
berkurang airnya. Sama seperti sayang Mas yang tak pernah berkurang walaupun
kenyataan ini harus kita jalani.” Kali ini aku
mencoba melirik Yas, tapi lagi-lagi aku memang tidak sanggup melihat Yas
menangis. Angin makin berhembus memilukan.
Bongkahan kelu serasa menyekat tenggorokanku. Aku kembali berbicara lagi.
“Kau harus kuat Yas. Indahkan hatimu seperti lapisan
emas kuil Harmandir Sahib ini.”
Kali
ini aku mencoba berani mengusap air mata Yas. Menyentuh pipinya dengan lembut. Menyibak rambutnya yang mulai menutupi wajah
cantiknya. Rasa-rasanya airmata Yas ikut mengalir
dingin di jemariku.
“Boohhoong!!! Mas Galih bohong sama Yas. Mas Galih
juga pasti
sakit dan tidak kuat
kan?” kata Yas menepis tanganku dan menatap
mataku dalam-dalam. Aku masih mencoba tersenyum, getir. Tapi tiba-tiba saja Yas
melepas cincin yang aku berikan padanya dulu.
Dan Yas melangkah hendak melempar cincin
itu ke kolam. Aku buru-buru menarik
tangannya.
“Apa yang kau lakukan Yas, jangan buang cincinnya!!”
kataku sambil meraih badannya yang terus memberontak dan berteriak-teriak. Kali
ini Yas benar-benar emosi, airmatanya makin membuncah. Tangannya memukul-mukul
lenganku. Aku memeluk Yas erat dan mendiamkannya.
“Yas cinta sama
Mas Galih!!!” kata Yas berteriak kencang sambil menangis terisak. Sesenggukan
dan badannya pun mulai terlihat lemas.
“Mas Galih juga sayang
sama Yas.” Kataku mencoba menenangkannya.
“Tapi Yas cinta
sama Mas, bukan hanya sayang!!” kata Yas membentakku.
“Yas, leburlah
perasaanmu. Kita tidak mungkin bersama lagi. Aku tahu ini sakit, dan Mas akui
Mas juga sakit. Andaikan takdir berkata lain, Mas lebih memilih untuk tidak
pernah mengikuti skenario cinta ini.”
“Kenapa Mas?
Kenapa semuanya harus seperti ini. Andai saja Mama......... Yas benciii!!! Yas benciii
semuanya!!” kata Yas benar-benar emosi.
Aku masih
memeluk Yas, mencoba menenangkannya. Angin menghempas menerpa raga kami berdua yang
berdiri lemas melipat harapan.
02 Juli 2014, kejutan skenario cinta. . . . .
“Kaa.... kaalian tidak boleh menjalin cinta lagi!!”
kata Mama Yas membentak kami berdua. Kami hanya bisa diam dan saling pandang.
Bingung kenapa Mama Yas begitu tidak suka dengan hubungan kami. Bukankah
sebelumnya Mama Yas merestui hubungan kami? bahkan kami sudah mulai menyusun
rencana pertunangan.
“Kenapa Maaa? Kenapa Mama tiba-tiba melarang kami
berhubungan?” tanya Yas merajuk dan mencoba
menenangkan Mamanya. Aku juga mencoba membujuk Mama Yas dan meminta
kejelasannya. “Kalian berdua saudara!!!
Itu sebabnya. Yas, Galih itu kakakmu!!” kata Mama Yas.
“Apaa?” kami berdua
kompak menjawab dan kaget begitu mendengar Mama Yas berkata seperti itu. Mama
Yas menceritakan semuanya. Aku bahkan tidak menyangka bahwa wanita setengah
baya yang Yas panggil Mama adalah seseorang yang aku cari selama dua puluh lima
tahun. Dan sekarang di saat aku tak sengaja menemukannya, kenyataan pahit pun
terkuak bersama detik-detik berakhirnya kisah cintaku.
“Jadi Yas,
adikku?” tanyaku memastikan pernyataan Mama Yas.
“Iya Galih, kau
juga anakku. Maafkan Ibu Galih, Ibu dulu sudah meninggalkan kau dan Ayahmu.
Aaa... aakuuu minta maaf anakku Galih.” Katanya dengan penuh penyesalan.
“Apa buktinya
dan kenapa aku bahkan sudah tidak bisa mengenali wajah Tante. Semuanya sudah
berubah, dan dua puluh lima tahun Taan.... emm Anda hidup bahagia tanpa aku dan
Ayah?? Dan sekarang Anda baru muncul setelah Ayahku meninggal dalam
ketidakpastian menunggu cintanya?” kataku makin emosi.
“Maaf Galih. Ibu juga baru tahu saat kemarin
tak sengaja Ibu menemukan foto keluarga yang terjatuh dari dompetmu.” Katanya
sambil menyodorkan selembar foto lama yang memang biasa aku pajang di dompetku.
Aku tidak bisa
berkata-kata lagi. Wajah wanita muda yang tergambar di foto memang sudah jauh
berbeda dengan wajah wanita yang sekarang menangis pilu di hadapanku. Tapi dia
memang Ibuku. Itu kenyataannya!!
“Ibu juga kaget
kalau ternyata kau adalah anak yang selama ini Ibu rindukan dan wajar jika kau
sudah tidak terlalu mengenali wajahku. Usiamu masih 3 tahun saat aku tinggal
pergi, dan sekarang semua sudah berubah. Wajahku sekarang sudah tua.” Kata wanita setengah baya itu memelas.
Ini benar-benar
kenyataan yang gila. Aku tidak menyangka, selama dua puluh lima tahun aku
mencarinya. Selama waktu itu aku merindukan sosoknya hadir di hidupku dan Ayah.
Wanita ini bahkan bisa hidup bahagia bersama selingkuhannya, dan Yas puteri
dari pasangan yang sudah menghancurkan hidupku dan Ayah. Yas, puteri Ibuku
dengan lelaki India yang..............
Apa
yang harus aku lakukan? Semua benar-benar menyakitkan. Aku mencintai adik
tiriku sendiri. Wajah Yas mulai terlihat pucat, badannya pun mulai lemas.
Airmatanya mengucur deras tak tertahankan. Batinku juga serasa ditusuk, sakit
sekali!
05 Agustus 2014, jawaban skenario cinta. . . . .
Satu bulan
berlalu setelah kejadian itu. Cukup lama aku memikirkan semua ini. Mencoba
membuang rasa sakitku. Malam ini tepatnya di bawah sinar bulan yang masih sama
terangnya. Di tengah ketenangan kuil
Harmandir Sahib yang membius hati.
Di tempat yang indah dengan pendaran
cahaya keemasan yang menyorot kolam Amritsar. Aku menemui Yas lagi.
Gadis ini bahkan
masih diam di eratnya pelukanku. Matanya juga makin sembab karena tak
henti-hentinya menangisi kisah kami. “Aku
mencintaimu Yas, andaikan kau bukan anak Ibuku. Pastilah kita masih bersama.”
Gumamku dalam hati sambil membelai rambut
indah Yas.
Tu hi to jannat meri, tu hi mera junoon 1
Tu hi to mannat meri, tu hi rooh ka sukoon
Tu hi ankhiyon ki thandak, tu hi dil ki hai dastak
Aur kuchh na jaanoon main, bas itna hi jaanoon
Tujh mein rab dikhta hai, yaara main kya karoon?
Sajde sar jhukta hai, yaara main kya karoon?
Tujh mein rab dikhta hai, yaara main kya karoon?
Lagu itu Yas
nyanyikan dengan lirih,
kemudian melepaskan pelukanku. Membelai
wajahku dengan penuh kasih sayang. Lagu itu berjudul Tujh
Mein Rab Dikhta Hai. Lagu original
soundtrack film favorit kami Rab
Ne Bana Di Jodi. Kami sering
memutar lagu itu dan menyanyikannya bersama saat menghabiskan
waktu melihat keindahan kuil Harmandir Sahib.
Yas terlihat mengusap airmatanya. Kemudian kembali menyanyikan lirik
berikutnya.
Kaisi
hai yeh doori? Kaisi majboori? 2
Maine nazron se tujhe chhoo liya
Kabhi teri khushboo, kabhi teri baatein
Bin maange yeh jahan paa liya
Tu hi dil ki hai raunak, tu hi janmon ki daulat
Aur kuchh na jaanoon main, bas itna hi jaanoon
Maine nazron se tujhe chhoo liya
Kabhi teri khushboo, kabhi teri baatein
Bin maange yeh jahan paa liya
Tu hi dil ki hai raunak, tu hi janmon ki daulat
Aur kuchh na jaanoon main, bas itna hi jaanoon
Semua itu hanya lagu, dan tidak akan pernah
mungkin menjadi kenyataan. Kali ini mataku benar-benar sudah berkaca-kaca.
Hatiku serasa perih dengan luka yang menganga lebar. Yas kembali mengusap
airmatanya. Wajahnya kini mulai menyimpulkan senyum getir dan mencoba memasang
ekspresi tegar.
“Yas sadar, Yas harus ikhlas. Mungkin memang kita
tidak berjodoh.” Kata Yas sambil tersenyum
menatapku. Aku terus memandangi wajah cantiknya. Matanya yang sendu terus
berbinar menyimpulkan kasih. “Yas, kau
tahu. Mas memang selalu menci...........” Belum selesai aku berbicara Yas
sudah memotong kalimatku.
“Sudah Mas Galih, jangan diteruskan. Nanti Yas bisa
menangis lagi. Yas tahu itu. Pulanglah ke Indonesia jika memang itu yang
terbaik. Yas akan tetap di sini menemani Mama dan akan terus melanjutkan
kehidupan Yas. Jadilah penulis skenario yang hebat Mas.”
Kata Yas mencoba tersenyum dengan segala keikhlasannya yang terlihat begitu perih.
Angin berhembus
perlahan mendinginkan perasaan. Meniup pelan air suci kolam Amritsar yang
tadinya tenang, seolah mengucap salam perpisahan untuk kami. Membekukan cinta
yang terlanjur remuk. Bias bayangan keemasan dari kuil Harmandir Sahib masih tergambar di
tengah-tengah kolam. Cahaya bulan perlahan meredup. Remang
memeluk tahta langit. Jemari tangan yang dulu erat bergandengan, tak lagi
menyatu.
Mata sembab
mengucurkan bulir-bulir kristal bening. Sayup terdengar harapan-harapan
keceriaan di sela hati kami yang terus berdoa. Dua insan manusia berjalan tak
lagi romantis. Sekat malam pun memisahkan. Aku
harus terima, pertemuanku dengan
Yas adalah sebuah mimpi yang lewat secara kebetulan, dan kini aku telah
terbangun. “Yas, aku mencintaimu. Hanya
saja kini entah sebagai apa.”
Bias-bias keemasan mengantar perpisahan
Kota Amritsar menggerus indah harapan
Biarkan semua kisah berlalu lepas
Dan siluet kebersamaan menampar keras
Skenario cinta menguap tanpa bahagia
Semoga kita sanggup untuk rela
Sutradara yang jenius adalah Tuhan
Selamat tinggal tempat
kenangan
Terjemahan
lagu:
1.
Hanya kaulah surgaku,
hanya kaulah obsesiku
Hanya kaulah harapanku,
hanya kaulah ketenangan jiwaku
Hanya kaulah peneduh
mataku, hanya kaulah detak jantungku
Aku tak mengetahui yang
lain, hanya ini yang kuketahui
Aku melihat Tuhan dalam
dirimu, apa yang harus kuperbuat?
Kepalaku tertunduk
sujud menyembahmu, apa yang harus kuperbuat?
Aku melihat Tuhan dalam
dirimu, apa yang harus kuperbuat?
2.
Jarak macam apa ini?
Ketidakberdayaan macam apa ini?
Telah kusentuh dirimu dengan pandangan mataku
Kadang keharumanmu, kadang kata-katamu
Tanpa diminta telah kudapatkan dunia ini
Hanya kaulah cahaya hatiku, hanya kaulah harta kehidupanku
Aku tak mengetahui yang lain, hanya ini yang kuketahui
Telah kusentuh dirimu dengan pandangan mataku
Kadang keharumanmu, kadang kata-katamu
Tanpa diminta telah kudapatkan dunia ini
Hanya kaulah cahaya hatiku, hanya kaulah harta kehidupanku
Aku tak mengetahui yang lain, hanya ini yang kuketahui
By : Icha Mamusu







jangan india ta mbak lebai
ReplyDeleteok, lain kali buat yang lain
Delete