Thursday, 19 November 2015

Skenario Cinta di Amritsar



05 Agustus 2014, flashback skenario cinta. . . . .



Tiga tahun lalu, tepatnya bulan Agustus 2011 aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di India. Semua demi impianku menjadi penulis skenario yang hebat. Tapi sebelum studiku dimulai aku menyempatkan diri untuk berlibur di kota Amritsar. Mengunjungi tempat yang pernah menjadi lokasi syuting film favoritku.

Film Rab Ne Bana Di Jodi, itulah film favoritku yang mengambil lokasi syuting di kota Amritsar. Film komedi percintaan khas Bollywod yang dirilis pada tahun 2008. Disutradarai oleh Yash Chopra dengan produser Yash Raj Films. Aktor tampan Shahrukh Khan dan aktris cantik Anuskha Sharma menjadi pemerannya.

Ketenangan dan damainya kuil Harmandir Sahib atau biasa disebut kuil Golden Temple (Kuil Emas) begitu tergambar indah di dalam film itu. Terletak di tepi sungai suci yang dikenal dengan nama Sarovar. Dan kuil Harmandir Sahib berada di tengah-tengah kolam Amritsar.

Harmandir Sahib merupakan tempat suci pemeluk agama Sikh yang dibangun pada abad ke-16 oleh sikh guru ke-5, Guru Arjan. Bagian luar kuil dan atasnya dilapisi dengan emas. Setiap pengunjung yang datang ke kuil Harmandir Sahib pun harus menjaga kesucian tempat dengan melepas alas kakinya, tidak merokok, tidak mengonsumsi daging dan juga minuman beralkohol di sekitar kuil.

Kuil Harmandir Sahib juga menjadi tempat kenangan, di  mana aku pertama bertemu dengannya dan memulai skenario cintaku. Malam ini aku kembali mengunjungi kuil Harmandir Sahib. Di Kota Amritsar, Punjabi, India. Aku ingin menjawab skenario cinta yang sempat terhenti. Dan kini aku bahkan sudah berdiri di samping gadis yang menjadi pemeran dalam skenario cintaku.

Namanya Yas. Gadis keturunan India-Indonesia. Senyumnya selalu terlihat manis. Rambut hitam panjangnya yang terurai dan kadang menutup wajahnya selalu menawan. Kebiasaannya saat menyibak rambut, kemudian sesekali tersenyum sambil memainkan air suci di kolam Amritsar selalu menggoda mata untuk tidak berkedip.

 Yas memang selalu terlihat anggun dengan sari sutera yang dia kenakan. Sari sutera berwarna merah marun itu pun lekat membalut tubuhnya saat pertama kali aku melihatnya. Gemerincing gelang kaki yang khas pun mengikuti langkah kaki anggunnya. Cantik, dan aku tak pernah memalingkan pandangan mataku dari keindahan wajahnya.

  Malam tiga tahun lalu juga semakin indah di pendaran cahaya emas kuil Harmandir Sahib. Keindahannya pun bertambah cantik dengan berhiaskan pesona wajah gadis itu. Hatiku juga mulai berkilau. Letupan perasaan mulai tumbuh perlahan seiring perjalanan waktu. Perlahan berawal dari pertemuan, persahabatan, dan semua berubah menjadi jalinan kisah cinta yang kami jalin dalam waktu hampir tiga tahun.

 “Yas, bagaimana kabarmu?” tanyaku mulai membuka percakapan dengan gadis bermata sendu yang sekarang berdiri di sampingku. Diam dan tak ada jawaban. Matanya hanya menatap kosong kolam Amritsar yang tenang. Cukup lama aku menunggunya berbicara. Bibirnya bahkan enggan berucap walau hanya untuk sepatah kata pun. Aku bertanya lagi.

Sari sutera yang kau kenakan ini bukan kah sama dengan yang kau kenakan tiga tahun lalu Yas? Kau bahkan selalu terlihat cantik. tanyaku sambil mencoba tersenyum seramah mungkin. Gadis ini masih saja diam dan hanya menatapku sinis dengan bening mata yang berkaca-kaca. Aku tahu pertanyaanku adalah pertanyaan yang konyol. Yas tidak sedang baik-baik saja. Bahkan pastilah Yas juga sakit dengan pertemuan ini. Sama sepertiku yang juga sakit karena harus melihatnya menahan airmata.

Aku harap airmatanya tidak tumpah. Aku sungguh tak ingin melihatnya menangis lagi. “Tersenyumlah Yas, ini bukanlah hal yang harus dibuat rumit. Tidak akan jadi masalah jika kita tidak bersama lagi sebagai kekasih.” Kataku mencoba menyemangatinya. Aku tahu kali ini hatiku berbohong. Sungguh, aku pun tak bisa jika harus mengakhiri skenario cinta ini.

Aku masih memeluk erat siluet kebersamaanku dengan Yas. Mencoba bersabar menungguinya berbicara. Aku masih ingat tiga tahun lalu, Yas pernah berucap sesuatu yang membuatku tertawa geli. “Aku panggil Mas Galih saja ya, boleh kan?” kata Yas begitu manjanya. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Merasa senang masih ada yang memanggilku dengan sebutan Mas di India. Membuatku rindu dengan tanah kelahiranku, Yogyakarta.

Wajar saja jika Yas fasih berbahasa Indonesia dan Jawa walaupun dia lahir di India. Mama Yas asli Indonesia dan termasuk keturunan ningrat di Yogyakarta. Semua begitu manis saat aku mulai mengenal keluarga Yas. Namun kenyataan yang baru kami tahu ini adalah hal yang sangat menyakitkan hingga menghancurkan skenario cinta kami.

“Mas Galih, apa kenyataan ini tak bisa diubah?” kata Yas mulai berbicara sambil menatap dalam mataku dan mencoba menggali harapan.

“Sayangnya memang takdir kita seperti ini Yas.” Jawabku tersenyum getir.

Kami saling pandang. Kemudian diam. Ketenangan masih menyelimuti kuil Harmandir Sahib. Kolam air suci Amritsar makin menyilaukan mata karena biasan cahaya keemasan kuil. Cahaya bulan juga ikut berpendar bersama cahaya lampu. Sungguh indah, bahkan terlihat seperti tarian cahaya yang eksotis. Menari dan terus menari mengejek hati kami yang perih.

Tiga tahun lalu tekadku bulat untuk melanjutkan studiku di India demi impianku menjadi penulis skenario hebat. Bisa menghasilkan karya-karya yang memukau seperti film-film Bollywod. Tapi kali ini rasanya aku benar-benar ingin pulang ke Indonesia saja.

 Ya Tuhan, semua bahkan masih lekat di otakku. Tapi kini Yas yang aku cintai hanya terlihat seperti gadis yang tidak punya semangat. Aku harap Yas bisa kembali dengan senyumnya yang dulu. Maafkan aku Yas, andaikan aku pun tahu dari awal. Tidak akan aku biarkan cinta ini tumbuh menjadi besar dan menyakitimu.

“Mas Galih, apa Mas akan pergi setelah ini?” tanya Yas lagi, kali ini dia terlihat mengusap airmatanya.

“Mungkin pulang ke Indonesia saja. Melanjutkan hidup di Yogyakarta, di tempat kelahiran Mas.” Kataku sambil menatap wajah menyedihkan Yas.

“Eemm, Mas pasti mau melanjutkan impian Mas menjadi penulis skenario yang hebat karena Mas memang belum hebat sekarang. Buktinya Mas tidak bisa mengubah skenario cerita cinta kita.” Kata Yas begitu memilukan mencambuk hatiku.

Aku menatap wajahnya lekat-lekat. “Ya, andai saja Mas bisa mengubah skenario cinta kita Yas. Tapi skenario cinta kita memang harus menguap. Dan rasa-rasanya Mas tidak sanggup lagi untuk melanjutkannya.” Gumamku sambil menghela napas. Setidaknya aku masih bisa lebih kuat dan mencoba untuk tidak menangis. Tapi Yas, mana mungkin Yas sanggup menahan airmatanya.

Ya Tuhan, aku tahu Kau adalah sutradara yang jenius. Tapi gadisku ini benar-benar menyedihkan. Kumohon berilah dia sebuah senyuman. Dan mungkin rencanaku untuk pindah dan menetap saja di Indonesia itu lebih baik. Aku harus menghindar dari Yas. Kataku terus bermonolog dengan sisa-sisa ketegaran. Dan kisahku ini pun seperti kisah-kisah mengharukan di film-film Bollywod.

 Tenang air suci kolam Amritsar masih menyimak rentetan cerita kami. Udara makin dingin, sama dinginnya dengan hati kami yang beku. Kami berdua juga masih berdiri kaku. Mengedarkan pandangan, mencumbui keindahan bangunan-bangunan megah di sekeliling kami. Mencoba berharap di bawah terang kemerlip lampu.

“Yas? Eeem, Mas rasa Mas harus mulai terbiasa memanggilmu Dek, iya kan? Heheheh.” Kataku mencoba bergurau. Tapi lagi-lagi Yas hanya menatapku sinis dan diam. Sepertinya kata-kataku terlalu menghantam hatinya. Kata-kataku juga seperti memperjelas sekat di antara aku dan Yas.

“Yas, nggak suka Mas Galih panggil Yas dengan sebutan Dek!!” kata Yas tiba-tiba dengan nada yang agak meninggi. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan tidak juga menolak. Aku tahu Yas hanya belum siap saja.

“Yas, kau tahu hati Mas seperti kolam Amritsar di depan kita ini?” kataku mencoba mengiburnya. Tapi Yas malah menangis. Mataku mencoba mengalihkan pandangan, menatap lurus ke arah kuil yang megah. Tak berani menatap airmata Yas. Sungguh rasa-rasanya aku ingin memeluknya. Tapi tanganku serasa kaku dan lagi-lagi memang sekat itu terlalu besar.

“Yas, hati Mas seperti kolam ini yang tak pernah berkurang airnya. Sama seperti sayang Mas yang tak pernah berkurang walaupun kenyataan ini harus kita jalani.” Kali ini aku mencoba melirik Yas, tapi lagi-lagi aku memang tidak sanggup melihat Yas menangis. Angin makin berhembus memilukan. Bongkahan kelu serasa menyekat tenggorokanku. Aku kembali berbicara lagi.

“Kau harus kuat Yas. Indahkan hatimu seperti lapisan emas kuil Harmandir Sahib ini.” Kali ini aku mencoba berani mengusap air mata Yas. Menyentuh pipinya dengan lembut. Menyibak rambutnya yang mulai menutupi wajah cantiknya. Rasa-rasanya airmata Yas ikut mengalir dingin di jemariku.

“Boohhoong!!! Mas Galih bohong sama Yas. Mas Galih juga pasti sakit dan tidak kuat kan?” kata Yas menepis tanganku dan menatap mataku dalam-dalam. Aku masih mencoba tersenyum, getir. Tapi tiba-tiba saja Yas melepas cincin yang aku berikan padanya dulu. Dan Yas melangkah hendak melempar cincin itu ke kolam. Aku buru-buru menarik tangannya.

“Apa yang kau lakukan Yas, jangan buang cincinnya!!” kataku sambil meraih badannya yang terus memberontak dan berteriak-teriak. Kali ini Yas benar-benar emosi, airmatanya makin membuncah. Tangannya memukul-mukul lenganku. Aku memeluk Yas erat dan mendiamkannya.

“Yas cinta sama Mas Galih!!!” kata Yas berteriak kencang sambil menangis terisak. Sesenggukan dan badannya pun mulai terlihat lemas.

“Mas Galih juga sayang sama Yas.” Kataku mencoba menenangkannya.

“Tapi Yas cinta sama Mas, bukan hanya sayang!!” kata Yas membentakku.

“Yas, leburlah perasaanmu. Kita tidak mungkin bersama lagi. Aku tahu ini sakit, dan Mas akui Mas juga sakit. Andaikan takdir berkata lain, Mas lebih memilih untuk tidak pernah mengikuti skenario cinta ini.”

“Kenapa Mas? Kenapa semuanya harus seperti ini. Andai saja Mama......... Yas benciii!!! Yas benciii semuanya!!” kata Yas benar-benar emosi.

Aku masih memeluk Yas, mencoba menenangkannya. Angin menghempas menerpa raga kami berdua yang berdiri lemas melipat harapan.




02 Juli 2014, kejutan skenario cinta. . . . .



“Kaa.... kaalian tidak boleh menjalin cinta lagi!!” kata Mama Yas membentak kami berdua. Kami hanya bisa diam dan saling pandang. Bingung kenapa Mama Yas begitu tidak suka dengan hubungan kami. Bukankah sebelumnya Mama Yas merestui hubungan kami? bahkan kami sudah mulai menyusun rencana pertunangan.

“Kenapa Maaa? Kenapa Mama tiba-tiba melarang kami berhubungan?” tanya Yas merajuk dan mencoba menenangkan Mamanya. Aku juga mencoba membujuk Mama Yas dan meminta kejelasannya. “Kalian berdua saudara!!! Itu sebabnya. Yas, Galih itu kakakmu!!” kata Mama Yas.

“Apaa?” kami berdua kompak menjawab dan kaget begitu mendengar Mama Yas berkata seperti itu. Mama Yas menceritakan semuanya. Aku bahkan tidak menyangka bahwa wanita setengah baya yang Yas panggil Mama adalah seseorang yang aku cari selama dua puluh lima tahun. Dan sekarang di saat aku tak sengaja menemukannya, kenyataan pahit pun terkuak bersama detik-detik berakhirnya kisah cintaku.

“Jadi Yas, adikku?” tanyaku memastikan pernyataan Mama Yas.

“Iya Galih, kau juga anakku. Maafkan Ibu Galih, Ibu dulu sudah meninggalkan kau dan Ayahmu. Aaa... aakuuu minta maaf anakku Galih.” Katanya dengan penuh penyesalan.

“Apa buktinya dan kenapa aku bahkan sudah tidak bisa mengenali wajah Tante. Semuanya sudah berubah, dan dua puluh lima tahun Taan.... emm Anda hidup bahagia tanpa aku dan Ayah?? Dan sekarang Anda baru muncul setelah Ayahku meninggal dalam ketidakpastian menunggu cintanya?” kataku makin emosi.

 “Maaf Galih. Ibu juga baru tahu saat kemarin tak sengaja Ibu menemukan foto keluarga yang terjatuh dari dompetmu.” Katanya sambil menyodorkan selembar foto lama yang memang biasa aku pajang di dompetku.

Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Wajah wanita muda yang tergambar di foto memang sudah jauh berbeda dengan wajah wanita yang sekarang menangis pilu di hadapanku. Tapi dia memang Ibuku. Itu kenyataannya!!

“Ibu juga kaget kalau ternyata kau adalah anak yang selama ini Ibu rindukan dan wajar jika kau sudah tidak terlalu mengenali wajahku. Usiamu masih 3 tahun saat aku tinggal pergi, dan sekarang semua sudah berubah. Wajahku sekarang sudah tua.”  Kata wanita setengah baya itu memelas.

Ini benar-benar kenyataan yang gila. Aku tidak menyangka, selama dua puluh lima tahun aku mencarinya. Selama waktu itu aku merindukan sosoknya hadir di hidupku dan Ayah. Wanita ini bahkan bisa hidup bahagia bersama selingkuhannya, dan Yas puteri dari pasangan yang sudah menghancurkan hidupku dan Ayah. Yas, puteri Ibuku dengan lelaki India yang..............

Apa yang harus aku lakukan? Semua benar-benar menyakitkan. Aku mencintai adik tiriku sendiri. Wajah Yas mulai terlihat pucat, badannya pun mulai lemas. Airmatanya mengucur deras tak tertahankan. Batinku juga serasa ditusuk, sakit sekali!


05 Agustus 2014, jawaban skenario cinta. . . . .



Satu bulan berlalu setelah kejadian itu. Cukup lama aku memikirkan semua ini. Mencoba membuang rasa sakitku. Malam ini tepatnya di bawah sinar bulan yang masih sama terangnya. Di tengah ketenangan kuil Harmandir Sahib yang membius hati. Di tempat yang indah dengan pendaran cahaya keemasan yang menyorot kolam Amritsar. Aku menemui Yas lagi.

Gadis ini bahkan masih diam di eratnya pelukanku. Matanya juga makin sembab karena tak henti-hentinya menangisi kisah kami. “Aku mencintaimu Yas, andaikan kau bukan anak Ibuku. Pastilah kita masih bersama.” Gumamku dalam hati sambil membelai rambut  indah Yas.



Tu hi to jannat meri, tu hi mera junoon 1

Tu hi to mannat meri, tu hi rooh ka sukoon

Tu hi ankhiyon ki thandak, tu hi dil ki hai dastak

Aur kuchh na jaanoon main, bas itna hi jaanoon  

Tujh mein rab dikhta hai, yaara main kya karoon?

Sajde sar jhukta hai, yaara main kya karoon?

Tujh mein rab dikhta hai, yaara main kya karoon?


Lagu itu Yas nyanyikan dengan lirih, kemudian melepaskan pelukanku. Membelai wajahku dengan penuh kasih sayang. Lagu itu berjudul Tujh Mein Rab Dikhta Hai. Lagu original soundtrack film favorit kami Rab Ne Bana Di Jodi. Kami sering memutar lagu itu dan menyanyikannya bersama saat menghabiskan waktu melihat keindahan kuil Harmandir Sahib. Yas terlihat mengusap airmatanya. Kemudian kembali menyanyikan lirik berikutnya.



Kaisi hai yeh doori? Kaisi majboori? 2
Maine nazron se tujhe chhoo liya
Kabhi teri khushboo, kabhi teri baatein
Bin maange yeh jahan paa liya
Tu hi dil ki hai raunak, tu hi janmon ki daulat
Aur kuchh na jaanoon main, bas itna hi jaanoon


 Semua itu hanya lagu, dan tidak akan pernah mungkin menjadi kenyataan. Kali ini mataku benar-benar sudah berkaca-kaca. Hatiku serasa perih dengan luka yang menganga lebar. Yas kembali mengusap airmatanya. Wajahnya kini mulai menyimpulkan senyum getir dan mencoba memasang ekspresi tegar.

“Yas sadar, Yas harus ikhlas. Mungkin memang kita tidak berjodoh.” Kata Yas sambil tersenyum menatapku. Aku terus memandangi wajah cantiknya. Matanya yang sendu terus berbinar menyimpulkan kasih. “Yas, kau tahu. Mas memang selalu menci...........” Belum selesai aku berbicara Yas sudah memotong kalimatku.

“Sudah Mas Galih, jangan diteruskan. Nanti Yas bisa menangis lagi. Yas tahu itu. Pulanglah ke Indonesia jika memang itu yang terbaik. Yas akan tetap di sini menemani Mama dan akan terus melanjutkan kehidupan Yas. Jadilah penulis skenario yang hebat Mas.” Kata Yas mencoba tersenyum dengan segala keikhlasannya yang terlihat begitu perih.

Angin berhembus perlahan mendinginkan perasaan. Meniup pelan air suci kolam Amritsar yang tadinya tenang, seolah mengucap salam perpisahan untuk kami. Membekukan cinta yang terlanjur remuk. Bias bayangan keemasan dari kuil Harmandir Sahib masih tergambar di tengah-tengah kolam. Cahaya bulan perlahan meredup. Remang memeluk tahta langit. Jemari tangan yang dulu erat bergandengan, tak lagi menyatu.

Mata sembab mengucurkan bulir-bulir kristal bening. Sayup terdengar harapan-harapan keceriaan di sela hati kami yang terus berdoa. Dua insan manusia berjalan tak lagi romantis. Sekat malam pun memisahkan. Aku harus terima, pertemuanku dengan Yas adalah sebuah mimpi yang lewat secara kebetulan, dan kini aku telah terbangun. “Yas, aku mencintaimu. Hanya saja kini entah sebagai apa.”



Bias-bias keemasan mengantar perpisahan

Kota Amritsar menggerus indah harapan

Biarkan semua kisah berlalu lepas

Dan siluet kebersamaan menampar keras

Skenario cinta menguap tanpa bahagia

Semoga kita sanggup untuk rela

Sutradara yang jenius adalah Tuhan

Selamat tinggal tempat kenangan




Terjemahan lagu:

1.        Hanya kaulah surgaku, hanya kaulah obsesiku

Hanya kaulah harapanku, hanya kaulah ketenangan jiwaku

Hanya kaulah peneduh mataku, hanya kaulah detak jantungku

Aku tak mengetahui yang lain, hanya ini yang kuketahui

Aku melihat Tuhan dalam dirimu,  apa yang harus kuperbuat?

Kepalaku tertunduk sujud menyembahmu, apa yang harus kuperbuat?

Aku melihat Tuhan dalam dirimu,  apa yang harus kuperbuat?



2.        Jarak macam apa ini? Ketidakberdayaan macam apa ini?
Telah kusentuh dirimu dengan pandangan mataku
Kadang keharumanmu, kadang kata-katamu
Tanpa diminta telah kudapatkan dunia ini
Hanya kaulah cahaya hatiku, hanya kaulah harta kehidupanku
Aku tak mengetahui yang lain, hanya ini yang kuketahui


   By : Icha Mamusu

   Terpilih menjadi kontributor dalam lomba menulis cerpen dengan tema "Setiap Tempat Ada Kenangan" dengan setting luar negeri. . . .


Categories:

2 comments: