Thursday, 19 November 2015

Coretan Salam Kebingungan




Jika ingin menangis maka menulislah. Bukankah dengan seperti itu kau bisa mencurahkan segala perasaanmu pada selembar kertas ataupun selembar file di Microsoft Word. Setidaknya semuanya tak akan menyumbat aliran otakmu untuk berpikir jernih.
Kata-kata itu selalu kau ucap untuk menghiburku. Tapi kali ini aku benar-benar tak ada inspirasi. Yah, aku hanya memandang layar putih di depanku. Membiarkan kursor terus berkedip genit menunggu aku membelai keybord dan mengetikkan huruf-huruf.
Handphoneku berderit, sebuah pesan masuk tertera dengan nama INDOSAT. “Terima kasih telah menjadi pelangggan setia Indosat.” Huuft, aku menghela napas sebal. Bukan pesan itu yang aku inginkan. Tidak bisakah pesan singkat itu berbunyi “Terima kasih telah menjadi kekasihku yang setia.” Aku tersenyum kecut. Tapi bukan itu juga yang aku inginkan.         
Malam yang tenang tanpa semilir angin. Aku mendongak ke atas menatap langit. Tak ada bintang yang terangnya sama dengan dirimu. Aahh, aku ini sedang apa, aku tidak sedang ingin merayu. Tekkeekkkk, tekkeeekkk, suara tokek menyanyi mencoba menghiburku. “Aaahh suaramu benar-benar tidak bagus tokek, berhentilah!!” Kataku bergumam sendiri.
Aku kembali menatap layar putih di hadapanku. Mencoba menuliskan sebuah kata. Tapi bagaimana mau kata, baru satu huruf saja aku tulis, aku sudah menghapusnya. Huruf A aku tulis, kemudian aku ganti dengan huruf B. Ya Tuhan, sebenarnya aku ini mau menulis apa?
Musik, bukankah dengan musik pikiran akan lebih fresh dan biasanya setelah itu inspirasi akan muncul? Aku memasang headset hendak mendengarkan musik. Kau tahu musik apa yang inginku dengar? musik India. Dan jangan bilang kalau aku kampungan.
Cring, cring, cring begitu khas suara langkah kaki wanita-wanita India. Mereka akan berjalan dengan anggunnya terlihat menawan dengan sari warna-warni yang mereka pakai.  Binar mata yang indah dan hiasan mahendi di tangan. Aahh, kenapa aku jadi membahas tentang wanita India.
Ya Tuhan musik pun kali ini tak dapat membantu. Aku melepaskan headset yang tadinya aku kenakan. Menutup laptop dan memperhatikan sekitarku yang sudah sepi. Hampir semua pintu rumah tetangga sudah di tutup.  Aku jadi bergidik ketakutan sendiri memegang tengkuk.
“Chaaaa, mau sampai kapan kau duduk di situ? Masuk, nanti masuk angin!!” kata Ibuku sebal melihatku kusut.
“Emm, iyaaaaaaa.” Jawabku lemas dengan nada yang panjang.
Meeooong, meeoong. Suara kucing tiba-tiba mengejutkanku. Dengan sigap aku buru-buru berkata hussttss. Tapi sial, kucing itu justru melotot menatapku dengan tatapan sok melas. Aku buru-buru mengambil sandal dan kulempar ke arah kucing itu. Ya Tuhan, aku benci kucing. Aku tidak suka. Tapi hatiku malah berbisik “Kau bukannya tidak suka, tapi kau takut, hahahah, kau fobia dengan kucing!!” Hmmm, yah benar. Aku mengiyakan.
Aku memutuskan untuk buru-buru masuk ke dalam rumah. Menonton televisi. Mungkin ada hiburan yang lebih menarik. Aku memejet remot televisi, dari angka satu sampai angka sepuluh. Dari chanel satu ke chanel lain. Tanganku berhenti pada sebuah tayangan berita yang masih asyik mengurusi masalah kecurangan pemilu.
Hmm lagi-lagi aku menghela napas jengkel. Beginilah orang kalau ingin mendapatkan kursi kuasa. Apapun rela dilakukan. Sampai yang kalah pun meminta banding kemudian yang menang pun digosipkan ini itu dan dimaki-maki.
Hey Pak!! Kalian daripada saling menuduh kecurangan pihak lawan, sebenarnya kalian berdua juga curang. Aku juga tidak percaya jika si penuntut tidak pernah curang dalam politiknya. Pasti ada anggota yang curang. Dan anda Pak yang sudah menang. Kenapa anda jadi seperti ini, dan kenapa anggota-anggota anda bisa curang?
Kadang aku tidak mengerti, sebenarnya mereka dapat apa? Apa dapat jatah kursi sampai rela menghalalkan cara demi apapun? Apa dapat honor lebih sampai merelakan dirinya? Sekarang bahkan ada pasukan rela mati. Hadduuhh kalau dipikir-pikir kenapa harus seperti itu. Yang kalian bela adalah MANUSIA!! Dan apakah kalian berani jika rela mati untuk TUHAN yang menciptakan kalian?
Aaah sudahlah, aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan. Malam ini hanya tinggal menunggu detik membuatku terlelap. Dan menunggu pagi untuk mengetuk pintu mimpiku. Aku harap esok lebih berarti dari hari ini. . . . .
Salam kebingungan dari Icha Mamusu. . . . . . . . .
Sekat-sekat malam memuai bersama pembatas gelap. . .
Segala kisah luruh bersama keletihan yang terus hinggap . . .
Aku melamunkan  sebuah kebingungan yang tak berujung. . .
Hirup napasku masih menyuarakan kuasaMu yang agung. . .
Biarkan tanganMu merangkulku dalam heningnya harapan. . .
Dan kusibak celah mimpi kemudian menggantinya dengan impian. . .


By : Icha Mamusu


           

Categories:

3 comments: