Thursday, 19 November 2015

Impian di Lintas Malam



Minggu, di keramaian pasar malam. Aku berjalan menyusuri setiap sudut-sudut mencari sesuatu yang berguna. Sesekali memperhatikan riuh ramai anak-anak sepantaranku yang asyik bermain bianglala, komedi putar, kora-kora, dan prosotan. Mereka terlihat begitu manis dengan seulas senyum ceria khas anak-anak. Pikiranku mulai mengambang. Berpikir, bagaimana rasanya naik permainan seperti itu? Kelihatannya seru saat tubuh kita diayun, memutar, berada di atas, bisa berteriak kencang dan tertawa lepas. Cukup menguji adrenalin juga.
           
Aku menoleh ke lapak penjual tiket permainan. Antriannya panjang sekali. Di sana tertulis nominal harga Rp. 10.000,- . Aku menghela napas panjang, menggeleng. Mahal!
           
“Kaaakk pulaaaang.” Rengek Adikku yang sudah mulai mengantuk. Matanya mengerjap-ngerjap, sesekali menguap. Tangan kanannya menarik-narik ujung baju kumalku. Tangan kirinya memeluk botol-botol plastik bekas. Cukup kerepotan dengan 6-7 botol di tangannya yang mungil.  Aku meraih botol yang dipegangnya. Memasukkan botol-botol itu ke dalam karung yang sedari tadi aku bawa.
           
“Baiklah ayoo.” Aku mengikat karungku yang hampir penuh dengan barang-barang rongsokan.
           
“Kaaakk, lapaar.” Suara parau adikku menghentikan kakiku yang hendak melangkah. Aku bahkan bisa mendengar suara perutnya yang keroncongan. Ya Tuhan! Aku mengusap peluh di dahiku, menatap wajah kusut adikku.

“Ini minum air mineral dulu buat tahan lapernya. Makannya nanti Dek.” Aku menyodorkan sebotol air mineral ukuran tanggung. Itu air mineral sisa. Tapi masih bersih, hanya diminum seperempat saja oleh pemiliknya. Aku mengambilnya di dekat tong sampah di ujung pintu masuk tadi.

“Ayo Dek pulang.” Adikku mengangguk. Berjalan mengekor sambil memegangi ujung bajuku. Malam ini kami cukup banyak mendapat botol-botol plastik bekas. Alhamdulillah.

“Kak, kapan aku bisa beli mainan itu?” kata adikku sambil menunjuk mainan mobil-mobilan yang dijalankan dengan remot. Matanya terus memperhatikan lapak penjual mainan itu.

“Kau tahu Dek, suatu saat kau pasti bisa. Bahkan kau bukan hanya akan membeli mainan itu. Tapi kau bisa punya yang aslinya.”

“Maksud Kakak, aku akan punya mobil sendiri?”

“Iya, jika sudah besar nanti dan kau tumbuh jadi orang yang sukses.”

Adikku tersenyum begitu sumringah menatapku. Wajahnya mulai menyimpulkan impian cerah di lintas malam yang temani lapar. 

By : Icha Mamusu 

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 
Categories:

0 comments:

Post a Comment