Jika
ingin menangis maka menulislah. Bukankah dengan seperti itu kau bisa
mencurahkan segala perasaanmu pada selembar kertas ataupun selembar file di
Microsoft Word. Setidaknya semuanya tak akan menyumbat aliran otakmu untuk
berpikir jernih.
Kata-kata
itu selalu kau ucap untuk menghiburku. Tapi kali ini aku benar-benar tak ada
inspirasi. Yah, aku hanya memandang layar putih di depanku. Membiarkan kursor
terus berkedip genit menunggu aku membelai keybord dan mengetikkan huruf-huruf.
Handphoneku
berderit, sebuah pesan masuk tertera dengan nama INDOSAT. “Terima kasih telah menjadi pelangggan setia Indosat.” Huuft, aku
menghela napas sebal. Bukan pesan itu yang aku inginkan. Tidak bisakah pesan
singkat itu berbunyi “Terima kasih telah
menjadi kekasihku yang setia.” Aku tersenyum kecut. Tapi bukan itu juga
yang aku inginkan.
Malam
yang tenang tanpa semilir angin. Aku mendongak ke atas menatap langit. Tak ada
bintang yang terangnya sama dengan dirimu. Aahh, aku ini sedang apa, aku tidak
sedang ingin merayu. Tekkeekkkk,
tekkeeekkk, suara tokek menyanyi mencoba menghiburku. “Aaahh suaramu benar-benar tidak bagus tokek, berhentilah!!” Kataku
bergumam sendiri.
Aku
kembali menatap layar putih di hadapanku. Mencoba menuliskan sebuah kata. Tapi
bagaimana mau kata, baru satu huruf saja aku tulis, aku sudah menghapusnya.
Huruf A aku tulis, kemudian aku ganti dengan huruf B. Ya Tuhan, sebenarnya aku
ini mau menulis apa?
Musik,
bukankah dengan musik pikiran akan lebih fresh dan biasanya setelah itu
inspirasi akan muncul? Aku memasang headset hendak mendengarkan musik. Kau tahu
musik apa yang inginku dengar? musik India. Dan jangan bilang kalau aku
kampungan.
Cring,
cring, cring begitu khas suara langkah kaki wanita-wanita India. Mereka akan
berjalan dengan anggunnya terlihat menawan dengan sari warna-warni yang mereka
pakai. Binar mata yang indah dan hiasan
mahendi di tangan. Aahh, kenapa aku jadi membahas tentang wanita India.
Ya
Tuhan musik pun kali ini tak dapat membantu. Aku melepaskan headset yang
tadinya aku kenakan. Menutup laptop dan memperhatikan sekitarku yang sudah
sepi. Hampir semua pintu rumah tetangga sudah di tutup. Aku jadi bergidik ketakutan sendiri memegang
tengkuk.
“Chaaaa, mau
sampai kapan kau duduk di situ? Masuk, nanti masuk angin!!” kata Ibuku sebal
melihatku kusut.
“Emm, iyaaaaaaa.”
Jawabku lemas dengan nada yang panjang.
Meeooong, meeoong.
Suara kucing tiba-tiba mengejutkanku. Dengan sigap aku buru-buru berkata hussttss. Tapi sial, kucing itu justru
melotot menatapku dengan tatapan sok melas. Aku buru-buru mengambil sandal dan
kulempar ke arah kucing itu. Ya Tuhan, aku benci kucing. Aku tidak suka. Tapi
hatiku malah berbisik “Kau bukannya tidak
suka,
tapi kau takut, hahahah, kau fobia dengan kucing!!”
Hmmm, yah benar. Aku mengiyakan.
Aku
memutuskan untuk buru-buru masuk ke dalam rumah. Menonton televisi. Mungkin ada
hiburan yang lebih menarik. Aku memejet remot televisi, dari angka satu sampai
angka sepuluh. Dari chanel satu ke chanel lain. Tanganku berhenti pada sebuah
tayangan berita yang masih asyik mengurusi masalah kecurangan pemilu.
Hmm
lagi-lagi aku menghela napas jengkel. Beginilah orang kalau ingin mendapatkan
kursi kuasa. Apapun rela dilakukan. Sampai yang kalah pun meminta banding
kemudian yang menang pun digosipkan ini itu dan dimaki-maki.
Hey
Pak!! Kalian daripada saling menuduh kecurangan pihak lawan, sebenarnya kalian
berdua juga curang. Aku juga tidak percaya jika si penuntut tidak pernah curang
dalam politiknya. Pasti ada anggota yang curang. Dan anda Pak yang sudah
menang. Kenapa anda jadi seperti ini, dan kenapa anggota-anggota anda bisa
curang?
Kadang
aku tidak mengerti, sebenarnya mereka dapat apa? Apa dapat jatah kursi sampai
rela menghalalkan cara demi apapun? Apa dapat honor lebih sampai merelakan
dirinya? Sekarang bahkan ada pasukan rela mati. Hadduuhh kalau dipikir-pikir
kenapa harus seperti itu. Yang kalian bela adalah MANUSIA!! Dan apakah kalian
berani jika rela mati untuk TUHAN yang menciptakan kalian?
Aaah
sudahlah, aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan. Malam ini
hanya tinggal menunggu detik membuatku terlelap. Dan menunggu pagi untuk
mengetuk pintu mimpiku. Aku harap esok lebih berarti dari hari ini. . . . .
Salam
kebingungan dari Icha Mamusu. . . . . . . . .
Sekat-sekat malam memuai bersama pembatas gelap. . .
Segala kisah luruh bersama keletihan yang terus
hinggap . . .
Aku melamunkan
sebuah kebingungan yang tak berujung. . .
Hirup napasku masih menyuarakan kuasaMu yang agung.
. .
Biarkan tanganMu merangkulku dalam heningnya
harapan. . .
Dan kusibak celah mimpi kemudian menggantinya dengan
impian. . .
By : Icha Mamusu








Salam kebingungan
ReplyDeleteJika ingin menangis maka menulislah.
ReplyDeleteBagus juga
Gokil juga ceritanya
ReplyDelete