Kurebahkan
senja yang mulai temaram, berharap
rinduku tak pernah pudar. Cinta, aku tak pernah tahu mulai sejak kapan cinta
itu menyentuh hatiku. Yang kutahu
aku mulai merasakan kehampaan ketika aku jauh
darimu. Lalu, apa itu sudah bisa disebut sebagai cinta?
Selamat
pagi, sore, malam, kau sudah makan? Bagaimana kabarmu hari ini? Aku ingin mengucapkan semua kata-kata manis itu
untukmu. Berharap kau bisa menyambutku ramah dengan segala perasaan yang tak
bisa aku jelaskan. Rindu? Yah, aku mulai mengeja rindu itu mulai dari huruf L
sampai N. Kenapa bukan A sampai Z? Itu karena susunan rinduku menyatu menjadi
sebuah nama yang aku kenal, namamu.
Aku menunggu
pagi, lalu menunggu siang setelah itu menunggu sore kemudian menunggu malam. Kesemuanya
itu untukmu. Aku harus paham apa hakikatnya menunggu dan sekarang aku tahu
bagaimana rasanya. Manis, semanis rindu yang tercelup ke dalam getah karet. Dan
sekarang aku bagaikan ikan di kolam yang hampir surut airnya. Hanya sanggup
mengeja nyawa sembari menyebut sebuah nama.
Hingga saat aku terjebak dalam sebuah kisah dan ego
Aku terbangun dalam kehampaan meninggalkan canda
Kau adalah sayap-sayap patah yang telah terkulai koma
Membekukan airmata dan segenap hati
Kini hilang, pergi, dan pergi
Dan semua tetap tak berujung
Bulir-bulir airmata menetes seiring langkahku
Memendam sebuah kenangan tanpa tempat
Meruntuhkan tekad tanpa sempat aku ucap
Inikah manis yang mulai memudar?
Dan ini perjalanan duniaku
Hampa tanpamu . . . .
*****








"Aku menunggu pagi, lalu menunggu siang setelah itu menunggu sore kemudian menunggu malam. Kesemuanya itu untukmu. Aku harus paham apa hakikatnya menunggu dan sekarang aku tahu bagaimana rasanya. Manis, semanis rindu yang tercelup ke dalam getah karet. " bagus kata-katanya,,, aku paham gmn rasanya hahah :D
ReplyDelete