BLACK SWEET KAFE
-
Hari ke lima setelah kepulanganku menghindari kota ini. Aku masih duduk di
sebuah kafe, berada di meja dekat dengan dinding kaca besar. Diam dan terpaku sambil
memandangi secangkir kopi hitam yang ada di hadapanku. Jari telunjukku memutar
mengelilingi tepian cangkir. Menunggu? Aku bahkan tidak tahu sedang menunggu
siapa. Semua sudah berlalu bahkan kini hanya tinggal sisa-sisa ketenangan yang
mencoba bangkit dalam pikiran yang mulai kemarau.
Kenangan ibarat sebuah jarum
jam yang memutar berlawanan arah. Mundur dan terus mundur. Ia bahkan seperti
sebuah kaset lama yang rusak, dan apabila diputar hanyalah berisi nada-nada
yang tak jelas. Sama seperti sebuah perasaan, tak pernah bisa dijelaskan.
Dulu di tempat ini, seulas senyum pernah terlukis
bersamaku. Sebuah kisah pernah terjalin secara sempurna. Tapi
lagi-lagi aku harus menyebut kata “kenangan” untuk menempat semua itu. Yah, hanya seutas
harapan yang tak tahu di mana ujungnya. Dan aku masih menggenggamnya.
Nama yang pernah merajut cinta
bersama lembaran-lembaran kasih itu tak pernah lupa kusebut dalam setiap
hariku. Masih dan akan selalu menjadi candu yang membuatku sakau. Bahkan yang
terparah, aku terperangkap dalam hatinya.
Ly, kau sedang apa sekarang?
Lama aku tak pernah tahu bagaimana
kabarmu.
Ini tahun 2015, artinya sudah hampir delapan tahun aku
menghindari kisah itu. Mencoba untuk tidak menyapa.
Berpura-pura untuk acuh terhadap semuanya. Jika boleh aku jujur, sungguh aku
ingin kembali menjadi yang terindah di hatimu. Tapi masihkah ada tempat itu
untukku? Atau jangan-jangan kau sudah mengusirku jauh dan mengunci hatimu rapat-rapat.
Kumohon jangan, Ly!
Aku bahkan masih memendam harapan untuk bisa
bertemu denganmu lagi. Walaupun aku tahu kau pasti masih sakit
dengan kelakuanku. Hari itu seharusnya kau bahagia, tapi
aku
malah menghancurkannya. Mungkin kini hatimu hanya tinggal sebuah kepingan-kepingan
tak berarti, atau bisa jadi kau sudah melupakannya.
Mungkinkah?
Mataku terus tertuju pada
secangkir kopi hitam di hadapanku. Harumnya begitu sempurna melekatkan kembali
setiap kenangan yang pernah ada. Bulir air mulai menyembul di
sudut mataku.
Sakit Ly, memendam rasa rindu sama saja dengan menaburkan
garam ke sebuah luka. Andai kau ada di sini tersenyum untukku seperti dulu,
luka itu pasti tak terasa sakit lagi.
Aku mengambil selembar tissue mencoba mencegah airmataku menetes, lalu tersenyum manis
untuk rasa cengeng yang selalu menghinggapi.
Ly, kau tahu kopi yang sedang menemani aku melamun
hari ini?
Ini kopi hitam favoritmu. Secangkir kopi
rindu, begitu kau biasa menyebutnya. Ah rindu, rindu, rindu! Tak
apa ‘kan, aku terus mengucap kata rindu? Semoga
kau tak bosan seperti sudut dinding kafe dengan sarang laba-laba yang menggantung. Laba-laba
itu bahkan terlihat sibuk membuat jaring, tidak mendengarkanku sama sekali.
Yah, mungkin kisahku kurang sedih untuknya jadi ia lebih memilih membangun
rumah yang indah untuk pasangannya.
Aku menghela napas lelah.
Kembali memainkan jari telujukku, memutari tepian cangkir. Membayangkan wajah
manis Ly ada di dalam kopi.
“Rara, pesek!” kalimat itu
tiba-tiba saja terngiang di telingaku.
Seperti itulah jika Ly mengejekku. Iya Ly, hidungku pesek. Tapi kau selalu
saja mengagumiku. Kau selalu jatuh cinta lagi dan lagi kepadaku. Aku yakin akan
hal itu. Tatap mata dan senyummu tak
pernah bisa berbohong. Dan aku akui, aku malah lebih mengagumimu. Setiap hari semenjak
aku mulai mengenal perasaan itu. Siluetmu selalu saja bergelantungan di
pikiranku.
Kopi hitam ini aku
pesan sesuai dengan takaran ajaibmu. Dua setengah sendok teh kopi ditambah setengah sendok teh
gula. Pahit!
“Sesaplah rasa
pahitnya dan nikmati, maka kau akan tahu bagaimana rasanya hidup.” Begitu
katamu sambil tersenyum padaku, dulu.
Sesak! Aku mengambil napas.
Mataku kembali
berkaca-kaca. Aku mengedip-ngedipkannya berharap bulir
itu tidak jatuh lagi
atau setidaknya tak terlihat sembab.
*****








0 comments:
Post a Comment