Tuesday, 18 August 2015

Black Sweet Kafe - - Diam




BLACK SWEET KAFE - Hari ke lima setelah kepulanganku menghindari kota ini. Aku masih duduk di sebuah kafe, berada di meja dekat dengan dinding kaca besar. Diam dan terpaku sambil memandangi secangkir kopi hitam yang ada di hadapanku. Jari telunjukku memutar mengelilingi tepian cangkir. Menunggu? Aku bahkan tidak tahu sedang menunggu siapa. Semua sudah berlalu bahkan kini hanya tinggal sisa-sisa ketenangan yang mencoba bangkit dalam pikiran yang mulai kemarau. 

Kenangan ibarat sebuah jarum jam yang memutar berlawanan arah. Mundur dan terus mundur. Ia bahkan seperti sebuah kaset lama yang rusak, dan apabila diputar hanyalah berisi nada-nada yang tak jelas. Sama seperti sebuah perasaan,  tak pernah bisa dijelaskan. 

Dulu di tempat ini, seulas senyum pernah terlukis bersamaku. Sebuah kisah pernah terjalin secara sempurna. Tapi lagi-lagi aku harus menyebut kata “kenangan” untuk menempat semua itu. Yah, hanya seutas harapan yang tak tahu di mana ujungnya. Dan aku masih menggenggamnya. 

Nama yang pernah merajut cinta bersama lembaran-lembaran kasih itu tak pernah lupa kusebut dalam setiap hariku. Masih dan akan selalu menjadi candu yang membuatku sakau. Bahkan yang terparah, aku terperangkap dalam hatinya. 

Ly, kau sedang apa sekarang?

Lama aku tak pernah tahu bagaimana kabarmu. Ini tahun 2015, artinya sudah hampir delapan tahun aku menghindari kisah itu. Mencoba untuk tidak menyapa. Berpura-pura untuk acuh terhadap semuanya. Jika boleh aku jujur, sungguh aku ingin kembali menjadi yang terindah di hatimu. Tapi masihkah ada tempat itu untukku? Atau jangan-jangan kau sudah mengusirku jauh dan mengunci hatimu rapat-rapat.

Kumohon jangan, Ly!

Aku bahkan masih memendam harapan untuk bisa bertemu denganmu lagi. Walaupun aku tahu kau pasti masih sakit dengan kelakuanku. Hari itu seharusnya kau bahagia, tapi aku malah menghancurkannya. Mungkin kini hatimu hanya tinggal sebuah kepingan-kepingan tak berarti, atau bisa jadi kau sudah melupakannya.

Mungkinkah?

Mataku terus tertuju pada secangkir kopi hitam di hadapanku. Harumnya begitu sempurna melekatkan kembali setiap kenangan yang pernah ada. Bulir air mulai menyembul di sudut mataku. 
Sakit Ly, memendam rasa rindu sama saja dengan menaburkan garam ke sebuah luka. Andai kau ada di sini tersenyum untukku seperti dulu, luka itu pasti tak terasa sakit lagi.
Aku mengambil selembar tissue mencoba mencegah airmataku menetes, lalu tersenyum manis untuk rasa cengeng yang selalu menghinggapi.

Ly, kau tahu kopi yang sedang menemani aku melamun hari ini?

Ini kopi hitam favoritmu. Secangkir kopi rindu, begitu kau biasa menyebutnya. Ah rindu, rindu, rindu! Tak apa ‘kan, aku terus mengucap kata rindu? Semoga kau tak bosan seperti sudut dinding kafe dengan sarang laba-laba yang menggantung. Laba-laba itu bahkan terlihat sibuk membuat jaring, tidak mendengarkanku sama sekali. Yah, mungkin kisahku kurang sedih untuknya jadi ia lebih memilih membangun rumah yang indah untuk pasangannya.

Aku menghela napas lelah. Kembali memainkan jari telujukku, memutari tepian cangkir. Membayangkan wajah manis Ly ada di dalam kopi.

“Rara, pesek!” kalimat itu tiba-tiba saja terngiang di telingaku.

Seperti itulah jika Ly mengejekku. Iya Ly, hidungku pesek. Tapi kau selalu saja mengagumiku. Kau selalu jatuh cinta lagi dan lagi kepadaku. Aku yakin akan hal itu. Tatap mata dan senyummu tak pernah bisa berbohong. Dan aku akui, aku malah lebih mengagumimu. Setiap hari semenjak aku mulai mengenal perasaan itu. Siluetmu selalu saja bergelantungan di pikiranku.

Kopi hitam ini aku pesan sesuai dengan takaran ajaibmu. Dua setengah sendok teh kopi ditambah setengah sendok teh gula. Pahit!

“Sesaplah rasa pahitnya dan nikmati, maka kau akan tahu bagaimana rasanya hidup.” Begitu katamu sambil tersenyum padaku, dulu.

Sesak! Aku mengambil napas.

Mataku kembali berkaca-kaca. Aku mengedip-ngedipkannya berharap bulir itu tidak jatuh lagi atau setidaknya tak terlihat sembab

*****


Categories:

0 comments:

Post a Comment