Thursday, 20 August 2015

Maaf



Lamunanku mengekor pada kejadian beberapa tahun lalu. Saat Ratna harus melepas harapan untuk hidup. Menahan sakit sembari mengeja nyawa yang sudah menyembul di ujung mulut.

“Dokter, tolong Istri saya. Setidaknya periksa atau beri dia obat.” 

“Tapi Bapak belum membayar tagihan biaya yang kemarin.”

“Saya akan usahakan Dok, tapi tolong dulu istri saya.”

“Maaf Pak, bukan saya tak mau bantu. Tapi kebijakan dari rumah sakit memang seperti itu.”

Dokter itu pergi meninggalkan kami. Suster pun mencabut semua peralatan medis yang terpasang di tubuh Ratna. Sesak dadaku melihatnya lemas, pucat. Mendesis parau sembari menangis menatap wajah khawatirku.

“Bahagiaku adalah kamu.” Ucap Ratna terakhir kali.

Hari ini, aku hanya bisa mengusap batu nisan bertuliskan namanya. Apa yang kuberi? Bukankah aku dulu menjanjikan sebuah kebahagiaan untuknya? Aku yang tidak tahu arti bahagia.

Maaf Ratna. Andai saja aku tidak menawarkan cinta untukmu dan kubiarkan kau hidup dengan lelaki pilihan Ayahmu. Semua tak akan seperti ini. 

*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 
Categories:

1 comment: