Lamunanku mengekor pada kejadian beberapa
tahun lalu. Saat Ratna harus melepas harapan untuk hidup. Menahan sakit sembari
mengeja nyawa yang sudah menyembul di ujung mulut.
“Dokter, tolong Istri saya. Setidaknya periksa
atau beri dia obat.”
“Tapi Bapak belum membayar tagihan biaya yang
kemarin.”
“Saya akan usahakan Dok, tapi tolong dulu
istri saya.”
“Maaf Pak, bukan saya tak mau bantu. Tapi
kebijakan dari rumah sakit memang seperti itu.”
Dokter itu pergi meninggalkan kami. Suster pun
mencabut semua peralatan medis yang terpasang di tubuh Ratna. Sesak dadaku
melihatnya lemas, pucat. Mendesis parau sembari menangis menatap wajah
khawatirku.
“Bahagiaku adalah kamu.” Ucap Ratna terakhir
kali.
Hari ini, aku hanya bisa mengusap batu nisan
bertuliskan namanya. Apa yang kuberi? Bukankah aku dulu menjanjikan sebuah
kebahagiaan untuknya? Aku yang tidak tahu arti bahagia.
Maaf Ratna. Andai saja aku tidak menawarkan
cinta untukmu dan kubiarkan kau hidup dengan lelaki pilihan Ayahmu. Semua tak
akan seperti ini.
*****
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








Ini tergolong cerpen ato monolog mbak
ReplyDelete