Satu
minggu berlalu. Aku sudah mulai menjawab semua pesannya walau agak ketus. Tapi
satu minggu itu juga aku harus mengambil keputusan besar. Handphoneku berderit.
Pesan dari Isam. Dia bilang “Olif sayang, maafkan
aku. Sungguh aku menyayangimu. Dan andai saja ada yang bisa aku lakukan selain
harus bekerja di tempat yang jauh aku pasti akan lakukan. Tapi sayangnya tidak
bisa. Di Kalimantan juga aku bekerja di usaha pamanku. Maafkan aku.” Aku benar-benar
menangis. Membenamkan kepalaku di bantal agar tidak terlalu kedengaran.
Ya Tuhan, ini bukan mimpi? Aku bagaimana?
Tidak ada lagi malam minggu, tidak ada lagi muncak bersama, tidak ada lagi
menikmati sunset di
atas puncak 29, dan tidak ada lagi yang siap siaga datang ke rumah saat aku
sedang merindukannya. Aku menjawab pesannya. Aku mengetik
huruf-huruf di handphoneku dengan cepat. “Kapan
kamu berangkat?.” Isam
menjawab, sore nanti dan dia harap aku
bisa ikut mengantarnya.
Pukul 16.00 WIB aku bergegas ke terminal bus. Berusaha menguatkan hati mengantar kepergian Isam ke Kalimantan. Langit kelabu mengusung tema kesedihan. Bisa dibilang sama dengan wallpaper hatiku saat ini. Gerimis rintik-rintik mulai turun dingin menggelayut mesra. Isam sudah berdiri menggendong ransel yang terlihat berat. Aku berjalan menghampirinya.
“Kamu beneran mau pergi Sam?” Tanyaku sambil berharap Isam berubah dengan keputusannya.
Isam hanya
mengangguk sambil menatapku tak tega. Aku terus menatapnya. Mataku berkaca-kaca
lagi. Hidungku mulai basah. Mungkin terkena gemericik gerimis. Tapi bukan, dan
benar saja aku mulai terisak tak kuat menahan sesak di dadaku. Isam memelukku
mencoba menenangkanku.
“Aku bukan pergi
untuk selamanya dan aku akan kembali. Aku janji akan rajin menghubungimu. Kita pasti bisa Olif. Long distance bukan halangan untuk hubungan kita.”
Dengan setengah hati yang masih berat dengan keputusan ini aku melepas Isam pergi. Aku mencoba meyakinkan diriku kalau hubungan kami akan baik-baik saja walaupun harus long distance. Bukankah cinta tidak mengenal jarak. Hati kami sudah menyatu dan semua akan terasa mudah dan dekat. Bus mulai melaju meninggalkan terminal. Aku masih tepekur diam menatap kosong dan melambaikan tangan pada Isam yang duduk di dekat jendela.
*****









0 comments:
Post a Comment