Thursday, 20 August 2015

Long Distance Selamanya -- part 3


Enam bulan berlalu, hubunganku dan Isam mulai merenggang. Isam mulai sibuk dengan pekerjaannya. Belum lagi perasaanku yang makin kalut karena kadang dia tak menjawab pesanku. Semua benar-benar terjadi seperti yang aku takutkan. Itu kenapa aku tidak menyukai hubungan long distance.

Siang usai kuliah aku ke toko buku bersama sahabatku Bara. Dia sahabatku dari SMA. Dan selama tidak ada Isam dia yang menemaniku. Isam juga kenal dekat dengan Bara. Tapi hari ini entah apa yang membuat hatiku begitu nyaman bersama Bara. Dan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan tiba-tiba diucapkan oleh Bara.

“Olif, aku sayang sama kamu. Sebenarnya sudah sejak lama bahkan sejak kita berteman semasa SMA.” Kata Bara padaku.

Ya Tuhan apa-apaan ini. Perasaanku menjadi tak karuan. Tepat di hari ulang tahunku Bara mengatakan perasaannya padaku. Bahkan Isam malah melupakan hari ulang tahunku. Tidak menghubungiku sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal dulu dia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku.

Kenapa harus Bara yang menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat. Kenapa bukan kamu Isam. Aku tiba-tiba menangis dan Bara memelukku mencoba menenangkanku. Aku makin terisak, pelukan Bara bahkan sama hangatnya dengan pelukan Isam. Aku merindukanmu Sam, kenapa kamu tidak ada kabar.

Hari itu aku benar-benar bisa kembali tersenyum setelah Bara menghiburku. Aku bahkan merasa nyaman bersamanya. Tertawa ceria dan entah mengapa perasaanku mulai lain pada Bara. Sorenya saat aku diantar Bara pulang. Aku terkejut, tiba-tiba Bara mencium keningku. Dan di saat itu pula aku benar-benar tersentak melihat Isam sudah berdiri di dekat gerbang rumah melihatku dengan tatapan tajam. Dengan penuh amarah Isam menghampiriku dan Bara.

“Olif!! Jadi ini yang kamu lakukan selama aku tidak ada. Sekarang aku baru tahu ternyata begitu mudah kamu berpaling.” Kata Isam dengan nada marah dan kecewa.

“Bu.....bukan begitu Isam. Dengarkan aku. Tadi kami cuma..” Aku mencoba menjelaskan tapi Isam sudah memotong perkataanku.

“Cuma apa, kenapa kamu tega Olif. Hari ini aku pulang langsung menemuimu untuk memberikan hadiah ulang tahun. Aku tidak lupa, aku hanya ingin memberikanmu kejutan. Tapi apa yang kamu lakukan?” Kata Isam membentakku.

Aku sungguh kehabisan kata-kata. Tidak menyangka kalau Isam datang. Aku menangis meminta maaf dan mencoba menjelaskan. Bara juga ikut berbicara dan menjelaskan semuanya. Tapi Isam terlalu emosi bahkan mendorongku saat aku mencegahnya pergi. Isam pun pergi. Namun saat dia keluar dari gerbang tiba-tiba mobil Avanza melaju kencang menghempas tubuh Isam.

Aku berteriak dan langsung panik berlari menghampiri Isam yang sudah jatuh tergeletak penuh darah. Aku menangis mencoba membangunkannya. Ya Tuhan, jangan lakukan ini. Isam maafkan aku. Bara dengan segera membopong tubuh Isam dan kami membawanya ke rumah sakit. Aku benar-benar cemas.

Satu jam dokter menangani Isam tapi tak juga keluar. Aku tak henti-hentinya mondar-mandir sembari menengok jam di pergelangan tanganku. Mulutku terus berkomat-kamit melafalkan segala doa yang terbaik untuk Isam. Sungguh perasaanku begitu kalut. Ketakutan begitu membuncah di hati dan pikiranku. Akhirnya dokter keluar. Katanya Isam kritis. Dan dia terus menyebut-nyebut namaku. Dokter memintaku menemui Isam. Aku pun segera masuk. Dadaku makin sesak melihatnya begitu parah. Aku menggenggam tangannya.

“Isam maafkan aku.” Kataku serak sambil menangis.

“Ke...kenapa mii..minta maaf. Aku yang harus minta maaf selama ini kurang memperhatikanmu.” Kata Isam berat terhalang alat bantu pernafasannya.

“Tidak Isam. Aku yang salah.” Kataku makin terisak.

“Aku kangen ke puncak 29 bersamamu menatap sunset.” Kata Isam menangis.

“Kita akan ke sana lagi Isam. Kamu harus sembuh.” Aku mencium keningnya.

“Selamat Ulang tahun sayang.” Kata Isam sambil memberikan sebuah liontin berbentuk gitar padaku.
Belum sempat aku menjawab, monitor sudah berbunyi ttiiiiiiitttttttt,,, tiiiiittttttt,,, tttttiiiiiiittt. Aku panik dan berteriak memangggil dokter. Tubuh Isam mengejang. Ya Tuhan, aku mohon selamatkan Isam. Jangan ambil dia. Aku menyayanginya, sungguh. Tubuhku lemas seketika melihat Isam yang sudah seperti tak ada harapan hidup.

Dokter mencoba berkali-kali mengejutkan jantungnya dengan alat kejut. Tapi sayang Tuhan berkehendak lain dan akhirnya, Isam meninggal. Aku langsung jatuh tersungkur menekuk lutut menyelahkan diriku sendiri. Menggenggam erat liontin yang diberikan Isam. Air mataku mengalir deras. Ini bahkan menjadi ucapan selamat ulang tahun yang terakhir darimu. Isam kamu benar-benar pergi dan kita benar-benar long distance bahkan untuk selamannya tak akan pernah bertemu lagi. Maafkan aku Isam.

*****

By : Icha Mamusu
.. Terpilih menjadi kontributor dalam lomba cerpen bertema LDR yang diadakan Penerbit Oksana. Telah dibukukan ke dalam buku antologi cerpen......  


http://soearaperempoean.blogspot.com/
Categories:

0 comments:

Post a Comment