Thursday, 20 August 2015

Long Distance Selamanya -- part 1




Hari itu langit berhiaskan kemilau orange di atas puncak 29. Mentari terbit dan mulai menghangatkan badan yang mulai dingin beku di ketinggian 1602 meter dpl. Semilir angin menghempas anak rambutku. Kami berdiri menatap awan dan hijaunya alam. Gunung Muria selalu jadi saksi kisah kami berdua. Ilalang yang subur di tempat yang kami pijak masih melambai mengikuti irama lagu yang kami putar. Yah, lagu Cahaya Bulan milik Eros. Itu adalah lagu kesukaanku dan Isam.

Seperti biasa juga dia selalu berdiri di sampingku. Kami berdua sama-sama hobi mendaki gunung. Dan tiap liburan kami selalu melakukannya bersama. Soe Hok Gie adalah inspirator kami. Seorang aktivis Indonesia di era tahun 1962-1969 ,mahasiswa Universitas Indonesia Fakultas Sastra Jurusan Sejarah. Beliau adalah seorang yang punya idealisme tinggi dan juga pelopor Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam).

Aku dan Isam selalu mengaguminya, walaupun Gie sudah tiada karena meninggal menghirup gas beracun saat mendaki di Gunung Semeru tahun 1969. Tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27. Lagu Cahaya Bulan juga menjadi original sountrack film Soe Hok Gie.

“Aku sayang kamu Lif.” Kata Isam menoleh padaku dan menatapku penuh kasih sayang.

Aku tersenyum membalas ucapanya dan menggenggam erat lengannya. Sudah 2 tahun aku berpacaran dengan Isam. Hubungan kami selalu baik tidak pernah bertengkar. Kalaupun ada masalah itu semua bisa kami selesaikan tanpa harus berkepanjangan. Aku sangat menyayanginya. Dan tidak pernah bisa jauh darinya. Namun hari itu lain. Perasaan yang tak pernah sama sekali aku rasakan muncul. Sesuatu yang benar-benar tak ingin aku jalani harus terjadi. Saat itu juga usai kami turun dari puncak 29, Isam berbicara serius padaku.

“Olif, degarkan aku. Dan aku harap kamu tidak marah setelah aku mengatakannya.” Kata Isam menatapku serius.

Tatapan mata yang berbeda. Gerakan mata yang takut-takut untuk berbicara. Seolah tertekan. Aku makin bertanya-tanya ada apa. Aku diam mendengarkan sambil mengernyitkan dahi.

“Aku tahu kamu dari awal tidak akan pernah setuju aku bekerja jauh di luar Kota. Tapi kali ini maafkan aku. Aku harus melakukannya. Semenjak Ayah meninggal perekonomian keluargaku jadi kacau. Dan aku harus ke Kalimantan. Bekerja di sana demi keluargaku.” Kata Isam terasa berat sambil menggenggam kedua tanganku.

Aku tersentak kaget melepaskan genggaman tanganku darinya. Mataku mulai berkaca-kaca. Hatiku bergumam, merasa Isam egois sekali dengan hubungan kami. Bukankah dari awal aku dan dia sudah sepakat tidak akan pernah menjalani hubungan long distance. Aku sungguh tidak bisa dan aku takut. Aku tidak bisa jauh dari Isam.

“Aku tidak bisa Isam!!!” Kataku membentaknya.

Isam terdiam menatapku. Sungguh maafkan aku Isam. Tapi aku tidak tahu mengapa perasaan takut ini benar-benar menyelimuti hatiku. Aku bukan type orang yang kuat. Aku...aakuuu tidak bisa jauh darimu. Bagaimana  jika aku tiba-tiba membutuhkanmu berada di sampingku. Sedangkan kita terpisah pulau. Mataku makin berkaca-kaca membayangkan yang tidak-tidak. Aku tahu kita masih bisa berkomunikasi melalui telepon, ataupun media sosial. Tapi itu semua terasa berat untukku. Maafkan aku egois. Kamu terlalu menjadi candu untukku Isam.

Hari itu kami berdua menjadi sepasang yang canggung. Tak berbicara lagi sampai Isam mengantarkan aku pulang ke rumah. Berkali-kali dia mengirim pesan dan meneleponku tapi aku tidak mengangkatnya. Aku benar-benar butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Tanpa aku jelaskan Isam sudah mengerti bagaimana perasaanku. Maklum saja saat kami pertama pacaran, kami sudah pernah membahas tentang hubungan long distance relationship. Dan Isam tahu aku sangat membenci hubungan seperti itu.

Tapi di sisi lain keluarga Isam memang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dan aku sebagai kekasihnya, apakah harus tega membiarkan keluarganya seperti itu sementara Isam adalah tulang punggung keluarganya. Di sisi lain juga hatiku begitu berat melakukannya walaupun Isam sudah menjelaskan kalau dia tetap bisa menemuiku saat liburan.

*****

By : Icha Mamusu

.. Terpilih menjadi kontributor dalam lomba cerpen bertema LDR yang diadakan Penerbit Oksana. Telah dibukukan ke dalam buku antologi cerpen......  

Categories:

2 comments: