Thursday, 27 August 2015

KUTUKKAN SANG LEGENDA



Harum mawar merebah dalam istana bunga-bunga cinta
Masih saja lekat bersama siluet dirimu yang memesona
Bulir embun jatuh perlahan di kuncup yang hampir mekar
Aku membelai bulirnya, merasakan dingin yang romantis

Angin berhembus meniup dahan-dahan kerinduan
Dan  tidakkah  kau  bisa mencium  harum  apakah  ini?
Ya, harum khas tanah bercampur air sejuk sang  legenda
Dan sebentar lagi sang legenda akan turun seiring mendung

Aku menjamah sisa-sisa embun ketenangan di istana bunga
Mengejek mentari yang tak berani muncul di depan pesonaku
Kau tahu, aku selalu merindukan peluk yang mencumbu logikaku?
Tapi kau tak juga hadir, dan kini kau bagai mentari yang bermental kerdil

Satu, dua, tiga, sang legenda ini telah turun sayang, lihatlah!
Rerintiknya makin deras menghujam istana bunga cintaku
Kau tahu, bulir airnya kini sudah  menciumi tubuh indahku
Sejuk menggelayut mesra, dan tidakkah kau cemburu melihatnya?

Andai kau tahu sayang, apapun yang kau lakukan kutetap menantimu
Tak perlu kau menjelma atau merubah dirimu seindah bunga merah ini
Tak usah kau menjadi hujan yang bisa mencumbui ragaku kapan saja
Yang perlu kau tahu, legenda itu telah mengutukku untuk tinggal di hatimu

By : Icha Mamusu

Puisi yang berjudul “KUTUKAN SANG LEGENDA” ini terpilih menjadi jawara 1 (Satu) dalam even lomba Puisi dan Sketsa dengan tema “TAK PERLU MENJELMA MAWAR” yang diadakan oleh Mafaza Media.Publishing. Karya puisi saya ini juga dibukukan ke dalam buku antologi puisi bersama karya para penulis lainnya.  






Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546

Categories:

3 comments:

  1. Juara 1?? wah, ajarin dong kak. pengen banget bisa bikin puisi yang keren

    ReplyDelete
  2. puisinya seksi banget ceritanya, heheheh

    ReplyDelete