Tuesday, 18 August 2015

Absurd



Celoteh asal dalam sebuah jejaring sosial.
Menyerempet kaum usAng.
Derai tangis mengiringi duka ketidaksengajaan.
Sebuah kontroversi pengingat masa lalu.
Dalam canda ia terjatuh.
Memposting gambar tanpa melihat apa yang akan didapat.
Sebuah hukum pun tetap berlaku.
Tak peduli orang berpunya atau miskin sekali pun.
Sebuah tindakan yang tak seharusnya.
Memuai bersama geramnya amarah sang pembela.
Tangis sesak dari sang Ibunda mengalir di sudut pasrah.
Melihat sang anak dituntut pengadilan.
Yah, itu adalah wujud dari sebuah duka.
Menggulung malu bercermin melas.
Sungguh malang bagai di tepi jurang.
Ibunda rela bersujud memohon.
Tuan, maafkan anakku.
Maaf, maaf, maaf.
Kata itu terus terucap seiring derai airmata.
Sang anak tetap bersalah meski dengan alasan iseng.
Itulah efek sebuah kecanggihan tekhnologi yang membutakan.
Berharap eksis dan berpartisipasi di dalam media sosial.
Ia tertusuk sebuah ironi karena tak bisa mengendalikan.
Hanya bermodal gambar tak pantas yang bukan karyanya.
Petugas datang membawa anak itu.
Namun hukum harus tetap berlaku!
Kata seorang pembela di sana.
Kemudian jika kita menelisik lebih dalam lagi.
Kenapa hanya mereka yang kecil?
Hanya mereka jelata yang diurus kasus hukumnya.
Sedangkan orang-orang tinggi?
Terkena kasus korupsi dibiarkan bebas.
Atau  boleh jadi tinggal bayar silakan anda ke luar.
Dan kami akan lupakan!


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546

Ada cinta yang kadang terlewat. Di mana cinta menjadi sebuah rasa kepedulian terhadap kehidupan sekitar dan Negeri yang kita diami. Itulah cinta, ia juga mampu menyentuh keindahan sebagai wujud rasa cinta tanah air. Nasionalisme . . .


Apalah arti kata merdeka, bila negeri ini pun masih penuh dengan sampah-sampah busuk . . .

Sejarah ditaburi dengan debu-debu fiksi . . .

Yang berjasa dilupa, dan yang berkuasa di puja . . .

Apalah arti kata merdeka, bila saling adu kata pun lebih bijak dibanding adu logika . . .

Absurd!!!

Negeri ini memang absurd . . .

Soeara Perempoean

 


 
Categories:

0 comments:

Post a Comment