Sejarah revolusi Nasional Indonesia
terbesar melawan kolonialisme.
Rentetan peristiwa kumuh dari hari
ke hari.
Bisa kau lihat bom waktu mulai
menyala.
Satu Maret 1942 tentara Jepang
mendarat di pulau Jawa.
Mereka bagai angin mengobrak-abrik
pertahanan Indonesia.
Tujuh hari berlalu di delapan Maret
1942 dalam Kalidjati Belanda menyerah.
Semua belum usai, Indonesia masih
dingin dan gersang.
Dunia gempar, Jepang tertunduk,
Nagasaki dan Hirosima meledak.
Di atas pemerintahan yang mengambang,
keberanian bermunculan.
Tujuh belas Agustus 1945 Indonesia
diproklamirkan merdeka.
Tapi belum kawan, kita belum bisa
bernapas lega.
Kau ingat dulu peristiwa Tunjungan?
Pelecehan Sang Saka Merah Putih di
bawah pimpinan Ploegman.
Mendidihnya darah pemuda hingga
naik ke atas puncak.
Ya, di atas Yamato Hoteru jalan Tunjungan
nomor 65 Surabaya.
Kemarahan menggebu merobek warna
biru, menyisakan Merah Putih.
Hey, rakyat kami tak menyerah pada
setan seperti kalian!
Dalam jiwa kami, bahkan bila daging
harus terkoyak dan darah harus mengalir.
Hanya ada dua pilihan, MERDEKA atau
MATI!
Kau lihat setelahnya, di atas
jembatan merah Surabaya?
Brigadir Jenderal tersayangmu,
Malaby tewas oleh kobaran semangat kami.
Inilah akar- akar kuat dari manusia
bambu runcing asli Indonesia.
Kepakan sayap Garuda yang menyatukan
setiap kalangan Negeri.
Tak peduli jelata atau kaya sekali
pun.
Tak peduli beda atau sama suku dan
Agama.
Seruan dan teriakan pembakar
semangat rakyat bergema.
Ucapan Bung Tomo yang masih melekat
di keriput Negeri ini.
Selama banteng-banteng
Indonesia masih mempunyai darah merah,
yang dapat membikin secarik kain
putih, merah dan putih.
Maka selama itu tidak akan kita mau
menyerah kepada siapa pun juga.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!
Begitu kuat memacu jantung
pejuang-pejuang kita.
Membangkitkan deklarasi resolusi
jihad di kalangan santri-santri Jawa.
Mulailah kiprah pejuang Islam, KH. Hasyim
Asy’ari bersama para Kyai.
Gemuruh angin kematian, badai yang
menghantam menjadi hitam pekat.
Jiwa- jiwa melayang, enam ribu
pejuang Indonesia tewas.
Dua ratus ribu rakyat sipil
mengungsi dari Surabaya.
Tragedi sepuluh November 1945 itu,
kita peringati sebagai hari pahlawan.
Ya Allah, Indonesiaku kini banyak
sampah.
Bukankah mereka tahu bagaimana
keras juang pahlawan Negeri?
Indonesiaku kini banjir
kemunafikan.
Peluh jelata semakin mengucur
deras.
Mereka tak lagi berlomba menjadi
pahlawan, melainkan berlomba berebut kuasa.
Ya Allah, Indonesiaku kini bagai
borjuis luntur make upnya.
Semoga generasi-generasi Garuda
semakin mencengkeram kuat Nasionalisme.
Semakin mengakar kuat pada tanah
tegak persatuan dan kesatuan bangsa.
Jadikan Negeri ini senantiasa aman,
makmur dan sejahtera untuk kami.
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment