Tuesday, 18 August 2015

Akar Kuat Manusia Bambu Runcing



Sejarah revolusi Nasional Indonesia terbesar melawan kolonialisme.
Rentetan peristiwa kumuh dari hari ke hari.
Bisa kau lihat bom waktu mulai menyala.
Satu Maret 1942 tentara Jepang mendarat di pulau Jawa.
Mereka bagai angin mengobrak-abrik pertahanan Indonesia.
Tujuh hari berlalu di delapan Maret 1942 dalam Kalidjati Belanda menyerah.
Semua belum usai, Indonesia masih dingin dan gersang.
Dunia gempar, Jepang tertunduk, Nagasaki dan Hirosima meledak.
Di atas pemerintahan yang mengambang, keberanian bermunculan.
Tujuh belas Agustus 1945 Indonesia diproklamirkan merdeka.
Tapi belum kawan, kita belum bisa bernapas lega.
Kau ingat dulu peristiwa Tunjungan?
Pelecehan Sang Saka Merah Putih di bawah pimpinan Ploegman.
Mendidihnya darah pemuda hingga naik ke atas puncak.
Ya, di atas Yamato Hoteru jalan Tunjungan nomor 65 Surabaya.
Kemarahan menggebu merobek warna biru, menyisakan Merah Putih.
Hey, rakyat kami tak menyerah pada setan seperti kalian!
Dalam jiwa kami, bahkan bila daging harus terkoyak dan darah harus mengalir.
Hanya ada dua pilihan, MERDEKA atau MATI!
Kau lihat setelahnya, di atas jembatan merah Surabaya?
Brigadir Jenderal tersayangmu, Malaby tewas oleh kobaran semangat kami.
Inilah akar- akar kuat dari manusia bambu runcing asli Indonesia.
Kepakan sayap Garuda yang menyatukan setiap kalangan Negeri.
Tak peduli jelata atau kaya sekali pun.
Tak peduli beda atau sama suku dan Agama.
Seruan dan teriakan pembakar semangat rakyat bergema.
Ucapan Bung Tomo yang masih melekat di keriput Negeri ini.
Selama banteng-banteng Indonesia  masih mempunyai darah merah,
yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih.
Maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga.
Allahu Akbar!  Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!
Begitu kuat memacu jantung pejuang-pejuang kita.
Membangkitkan deklarasi resolusi jihad di kalangan santri-santri Jawa.
Mulailah kiprah pejuang Islam, KH. Hasyim Asy’ari bersama para Kyai.
Gemuruh angin kematian, badai yang menghantam menjadi hitam pekat.
Jiwa- jiwa melayang, enam ribu pejuang Indonesia tewas.
Dua ratus ribu rakyat sipil mengungsi dari Surabaya.
Tragedi sepuluh November 1945 itu, kita peringati sebagai hari pahlawan.
Ya Allah, Indonesiaku kini banyak sampah.
Bukankah mereka tahu bagaimana keras juang pahlawan Negeri?
Indonesiaku kini banjir kemunafikan.
Peluh jelata semakin mengucur deras.
Mereka tak lagi berlomba menjadi pahlawan, melainkan berlomba berebut kuasa.
Ya Allah, Indonesiaku kini bagai borjuis luntur make upnya.
Semoga generasi-generasi Garuda semakin mencengkeram kuat Nasionalisme.
Semakin mengakar kuat pada tanah tegak persatuan dan kesatuan bangsa.
Jadikan Negeri ini senantiasa aman, makmur dan sejahtera untuk kami.


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

Categories:

0 comments:

Post a Comment