“Kakak
mau ke mana?” tanya Adikku yang sedang duduk di teras rumah.
“Ke
taman!” jawabku pendek dan langsung mengayuh sepedaku dengan cepat.
Sampai
di taman. Aku duduk di hamparan rumput hijau. Di bawah papan baliho iklan
seputar Kota. Aku mendongak ke atas, menatap langit. Inilah perbatasan senja.
Kuas jingga mulai melukis orange kelam. Mendung. Hari ini di waktu yang sama,
aku menunggunya sambil tepekur diam dan termenung di atas negeri yang kusebut
sepetak dunia.
Sepetak
dunia adalah negeriku. Duniaku. Tempat di mana rindu berkumpul menjadi satu. Bagian
kecil dari laju hidupku yang aku isi dengan segala kisah yang aku rangkai. Aku
pemeran utama dalam kisah itu dan dia adalah kisah cinta yang mewarnai hidupku.
Mas Isyam, kapan kau pulang?
Rindu!
Sekali lagi aku begitu sakit dengan kata itu. Apa kau masih ingat Mas, dengan
kalimat yang kau ucapkan? “Tunggu aku
dengan seikat rasa yang kau sebut sayang. Aku akan kembali.” Kalimat itu
kau ucapkan saat kita berdiam menunggui hujan reda di taman ini, di tempat aku
duduk sekarang.
Aku
mengedarkan padangan ke seluruh sudut taman. Cukup ramai. Orang-orang
berlalulalang, asyik nongkrong bersama teman-teman, menghabiskan waktu bersama keluarga
dan pasangan. Anak-anak kecil berlarian, saling kejar-kejaran bermain dengan
keceriaannya. Aku memperhatikan layar handphoneku, tak ada satu pun pesan ataupun
telepon masuk.
Rindu?
tapi aku hanya bisa diam dan menunggu. Rindu sama artinya seperti tanah kering
yang mengharap hujan. Tapi rinduku ini seperti menunggu tumbuhnya jamur di
musim kemarau. Mas, aku menungumu. Kapan kau akan menghubungiku?
Lima
belas menit aku hanya melamun. Setetes air membasahi dahiku. Dan satu, dua,
ti………perlahan gerimis turun. Menerpa lembut wajahku. Aku memang selalu menyukai
hujan. Tapi kali ini entah mengapa sepetak duniaku serasa hampa saat hujan ini
turun. Hatiku serasa beku. Tulangku ngilu karena tertusuk bulir-bulir air
hujan. Dingiiin!!
Yah,
aku tak mungkin terus diam mematung di sini. Merindukan siluetnya kembali hadir
di depan mataku. Berlomba dengan waktu untuk mengembalikan seluruh ingatanku tentangnya.
Aku bergegas berdiri dan mengambil sepeda yang aku parkirkan di sampingku.
Bersiap mengayuh.
“Selamat sore mendung yang mengutuk senja. Kau puas?
Rinduku makin menggunung!!”
Aku
pulang. . . . .
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








Lanjutkan
ReplyDelete