Wednesday, 15 July 2015

Mengharap Tumbuhnya Jamur di Musim Kemarau 1


“Kakak mau ke mana?” tanya Adikku yang sedang duduk di teras rumah.
“Ke taman!” jawabku pendek dan langsung mengayuh sepedaku dengan cepat.
Sampai di taman. Aku duduk di hamparan rumput hijau. Di bawah papan baliho iklan seputar Kota. Aku mendongak ke atas, menatap langit. Inilah perbatasan senja. Kuas jingga mulai melukis orange kelam. Mendung. Hari ini di waktu yang sama, aku menunggunya sambil tepekur diam dan termenung di atas negeri yang kusebut sepetak dunia.
Sepetak dunia adalah negeriku. Duniaku. Tempat di mana rindu berkumpul menjadi satu. Bagian kecil dari laju hidupku yang aku isi dengan segala kisah yang aku rangkai. Aku pemeran utama dalam kisah itu dan dia adalah kisah cinta yang mewarnai hidupku. Mas Isyam, kapan kau pulang?
Rindu! Sekali lagi aku begitu sakit dengan kata itu. Apa kau masih ingat Mas, dengan kalimat yang kau ucapkan? “Tunggu aku dengan seikat rasa yang kau sebut sayang. Aku akan kembali.” Kalimat itu kau ucapkan saat kita berdiam menunggui hujan reda di taman ini, di tempat aku duduk sekarang.
Aku mengedarkan padangan ke seluruh sudut taman. Cukup ramai. Orang-orang berlalulalang, asyik nongkrong bersama teman-teman, menghabiskan waktu bersama keluarga dan pasangan. Anak-anak kecil berlarian, saling kejar-kejaran bermain dengan keceriaannya. Aku memperhatikan layar handphoneku, tak ada satu pun pesan ataupun telepon masuk.
Rindu? tapi aku hanya bisa diam dan menunggu. Rindu sama artinya seperti tanah kering yang mengharap hujan. Tapi rinduku ini seperti menunggu tumbuhnya jamur di musim kemarau. Mas, aku menungumu. Kapan kau akan menghubungiku?
Lima belas menit aku hanya melamun. Setetes air membasahi dahiku. Dan satu, dua, ti………perlahan gerimis turun. Menerpa lembut wajahku. Aku memang selalu menyukai hujan. Tapi kali ini entah mengapa sepetak duniaku serasa hampa saat hujan ini turun. Hatiku serasa beku. Tulangku ngilu karena tertusuk bulir-bulir air hujan. Dingiiin!!
Yah, aku tak mungkin terus diam mematung di sini. Merindukan siluetnya kembali hadir di depan mataku. Berlomba dengan waktu untuk mengembalikan seluruh ingatanku tentangnya. Aku bergegas berdiri dan mengambil sepeda yang aku parkirkan di sampingku. Bersiap mengayuh.
“Selamat sore mendung yang mengutuk senja. Kau puas? Rinduku makin menggunung!!”
Aku pulang. . . . .
*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

 
Categories:

1 comment: