Wednesday, 15 July 2015

Dan >> Sebuah Cerita Konyol 1

“Ngapain senyum-senyum sendiri?” tanya Fahrul mengagetkan aku yang sedang melamun. Aku masih diam tidak menjawab dan tambah senyum-senyum sambil mencubit pipi Fahrul, gemas.

“Adduuuhhhh,,, stop Nisa. Pipiku sakiiit!!” kata Fahrul menghentikan cubitan gemas dariku. Aku melepaskannya. Masih senyum-senyum seperti orang gila.

“Kamu ini nyebelin banget deh. Ditanya nggak jawab, malah nyubit pipiku.” Kata Fahrul memegangi pipinya yang merah.

“Hheheheh, maaf. Aku lagi seneng banget Rul.” Kataku cengengesan.

Kali ini angin begitu sejuk berhembus menerpa wajah kami berdua. Aku menyelipkan rambutku di telinga agar tidak menghalangi wajahku. Kicau burung masih ceria bertengger di pepohonan taman sekolah tempat kami duduk. Hari ini hari yang menyenangkan. Cowok itu menyapaku manis. Kak Setio,  ketua OSIS sekolahku, dia cowok yang aku suka. Ganteng, ramah, pintar, dan  keren banget.

“Mikirin Kak Setio ya Nis?” tanya Fahrul.

“Iya tadi dia nyapa aku waktu di kantin. Menurut kamu gimana Rul?”

“Biasa saja. Paling juga karena kamu adik kelasnya jadi dia ramah nyapa kamu.”

“Ahh nggak mungkin Rul. Dia bukan sekadar nyapa kok. Menurutku dia sudah mulai suka sama aku.” Kataku bangga dengan argumenku.

“Hadduuuhh, kamu itu mikir pakai logika dong. Jangan pakai perasaan terus. Menyapa seseorang itu wajar, Nisa.” Kata Fahrul mematahkan keceriaanku.

Aku diam memikirkan perkataan Fahrul. Apa mungkin itu hanya perasaanku? Kemarin-kemarin Kak Setio ngelike status di facebookku, terus rajin komentar di status facebookku. Bahkan yang lebih mencengangkan Kak Setio juga minta nomor handphoneku. Ya walaupun dia tidak sering kirim pesan. Tapi sesekali pernah. Entah itu hanya sekadar mengucapkan selamat beraktivitas.

Semenjak Kak Setio minta nomor handphoneku, aku juga sering dapat kiriman pesan puisi-puisi dari nomor lain. Aku yakin itu pasti juga nomornya Kak Setio. Pasti itu caranya agar tidak ketahuan kalau suka sama aku. Karakter penulisannya  sama seperti Kak Setio saat mengirim pesan. Aku yakin kali ini aku tidak salah. Fahrul saja yang ngiri karena waktu  itu dia pernah curhat kalau dia sedang menyukai seorang cewek. Tapi cewek itu tidak pernah tahu perasaannya. Fahrul dicuekin. Yah, pasti Fahrul ngiri karena Kak Setio justru membalas perasaanku.

“Nggak Rul, kali ini aku yakin kalau Kak Setio suka sama aku. Kita lihat saja nanti.” Kataku melotot pada Fahrul.

“Terserah kamu Nis!” Kata Fahrul sewot kemudian berlalu meninggalkan aku sendiri.

Bel masuk sudah berbunyi. Semua berlalu-lalang, berlarian buru-buru masuk ke kelas. Aku bergegas menuju ke kelasku. Tapi langkahku terhenti di depan kelas XII A. Mataku membidik satu tubuh yang berdiri tinggi tegap. Menatapnya yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Manis sekali. Ya Tuhan, hatiku serasa diguyur air es. Dingiin. Jantungku berdegup kencang  tak beraturan. Rasa-rasanya aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Kak Setio, cowok itu memang selalu memesona. Ganteng banget. Badannya yang tinggi. Gayanya yang keren. Ya Tuhan, bibir dan hatiku tak bisa berhenti memujinya. Aku masih diam berdiri di depan kelasnya, memeluk pesona Kak Setio dari jauh. Tanpa sadar, Kak Setio sudah menatapku aneh. Mataku mencoba berbohong seolah tak melihat apa-apa. Aku melanjutkan langkahku menuju kelasku XI D. Baru empat langkah kakiku ini berjalan. Suara seseorang memanggilku.

“Dek Nisa!!”

Aku masih ragu untuk menoleh. Tapi lagi-lagi suara itu benar-benar memanggil namaku. Dek, Dek Nisa!! Langkahku terhenti. Aku menoleh. Ya Tuhan, Kak Setio? Aku harus apa. Jantungku makin berdegup kencang. Semoga Kak Setio tidak bertanya yang aneh-aneh. Aku menggigit bibir, salah tingkah di depan Kak Setio.

“Iya, kenapa?” tanyaku pada Kak Setio.

“Dek Nisa bisa bantu Kakak?” tanya Kak Setio dengan gayanya yang khas.

“Bantu apa Kak?” aku bertanya balik.

“Bantu ngumpulin teman-teman buat ikut even lomba menulis puisi. Dek Nisa ikut ekskul menulis kan?”

“Iya, nanti Nisa bantu.” Aku menjawab sambil tersenyum semanis mungkin.

“Terima kasih. Dek Nisa daftarin saja nama-nama mereka terus nanti kasih ke Kakak.” Katanya sambil memberikan selembar kertas.

“Iya Kak.” Kataku sambil menatap raut wajahnya yang ganteng.

“Ya sudah masuk ke kelas sana, nanti dimarahi kalau telat.” Kata Kak Setio perhatian.

Aku hanya tersenyum. Rasanya ingin berlonjak senang. Loncat-loncat dan berteriak Kak Setio aku sukaaaa kamuuuu!! hahahah. Aku tertawa dalam hati. Ya Tuhan, aku lupa! Setelah ini kan pelajaran Pak Jono. Matiiiii aku, telat masuk kelas bisa dihukum berdiri melafalkan UUD 1945. Aku buru-buru pergi, bergegas lari menuju kelas. Perasaanku campur aduk. Antara senang karena Kak Setio dan takut telat masuk kelas.

Akhirnya sampai kelasku. Gawat!! Pak Jono sudah duduk di kelas. Tanganku gemetar hendak mengetuk pintu. Aku menghela napas panjang.

“Tok tok tok, maaf Pak saya telat.” Kataku takut-takut.

“Kamu dari mana?” tanya Pak Jono galak.

“Itu Pak tadi, eemm eh anu Pak….” Aku gelagapan menjawab.

“Berdiri di pojok. Lafalkan UUD 1945!!” Kata Pak Jono menyuruhku.

“Nggak hafal Pak.” Kataku sambil tertunduk malu.

“Hafalkan sampai hafal. Kamu itu generasi Indonesia tapi tidak hafal Dasar Negara Indonesia. Mau jadi apa? Tetap berdiri di situ sampai pelajaran usai!!”

Aaaiiiiihhh, aku menggerutu dalam hati. Niat hati berbunga-bunga asyik ngobrol sama dia pujaan hati. Malah dihukum gara-gara telat masuk kelas. Hmmm, Pak Jono. Tidakkah Bapak pernah jatuh cinta sama seperti saya? Aku melihat jam di pergelangan tangaku, 2 jam waktu yang lama untuk berdiri di sini. Kecuali ada Kak Setio.

Ya Tuhan, baru saja menyebut nama Kak Setio, cowok itu sudah lewat saja di depan kelasku. Gubrraakk, malunya aku. Ini tidak kereeen sama sekali!! Dalam keadaan dihukum dia melihat aku. Uuuhhh, menyebalkan. Aku mencoba menutupi mukaku. Fahrul yang duduk di bangku nomor dua malah cekikikan mentertawakanku puas.

*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 

Categories:

0 comments:

Post a Comment