“Ngapain senyum-senyum sendiri?”
tanya Fahrul mengagetkan aku yang sedang melamun. Aku masih diam tidak menjawab
dan tambah senyum-senyum sambil mencubit pipi Fahrul, gemas.
“Adduuuhhhh,,,
stop Nisa. Pipiku sakiiit!!” kata Fahrul menghentikan cubitan gemas dariku. Aku
melepaskannya. Masih senyum-senyum seperti orang gila.
“Kamu ini nyebelin banget deh.
Ditanya nggak jawab, malah nyubit pipiku.” Kata Fahrul memegangi pipinya yang
merah.
“Hheheheh, maaf. Aku lagi seneng
banget Rul.” Kataku cengengesan.
Kali ini angin begitu sejuk
berhembus menerpa wajah kami berdua. Aku menyelipkan rambutku di telinga agar
tidak menghalangi wajahku. Kicau burung masih ceria bertengger di pepohonan
taman sekolah tempat kami duduk. Hari ini hari yang menyenangkan. Cowok itu
menyapaku manis. Kak Setio, ketua OSIS
sekolahku, dia cowok yang aku suka. Ganteng, ramah, pintar, dan keren banget.
“Mikirin Kak Setio ya Nis?” tanya Fahrul.
“Iya tadi dia nyapa aku waktu di
kantin. Menurut kamu gimana Rul?”
“Biasa saja. Paling juga karena
kamu adik kelasnya jadi dia ramah nyapa kamu.”
“Ahh nggak mungkin Rul. Dia bukan
sekadar nyapa kok. Menurutku dia sudah mulai suka sama aku.” Kataku bangga
dengan argumenku.
“Hadduuuhh, kamu itu mikir pakai
logika dong. Jangan pakai perasaan terus. Menyapa seseorang itu wajar, Nisa.”
Kata Fahrul mematahkan keceriaanku.
Aku diam memikirkan perkataan Fahrul.
Apa mungkin itu hanya perasaanku? Kemarin-kemarin Kak Setio ngelike status di
facebookku, terus rajin komentar di status facebookku. Bahkan yang lebih
mencengangkan Kak Setio juga minta nomor handphoneku. Ya walaupun dia tidak
sering kirim pesan. Tapi sesekali pernah. Entah itu hanya sekadar mengucapkan
selamat beraktivitas.
Semenjak Kak Setio minta nomor
handphoneku, aku juga sering dapat kiriman pesan puisi-puisi dari nomor lain.
Aku yakin itu pasti juga nomornya Kak Setio. Pasti itu caranya agar tidak
ketahuan kalau suka sama aku. Karakter penulisannya sama seperti Kak Setio saat mengirim pesan. Aku
yakin kali ini aku tidak salah. Fahrul saja yang ngiri karena waktu itu dia pernah curhat kalau dia sedang
menyukai seorang cewek. Tapi cewek itu tidak pernah tahu perasaannya. Fahrul
dicuekin. Yah, pasti Fahrul ngiri karena Kak Setio justru membalas perasaanku.
“Nggak Rul, kali ini aku yakin
kalau Kak Setio suka sama aku. Kita lihat saja nanti.” Kataku melotot pada
Fahrul.
“Terserah kamu Nis!” Kata Fahrul
sewot kemudian berlalu meninggalkan aku sendiri.
Bel masuk sudah berbunyi. Semua
berlalu-lalang, berlarian buru-buru masuk ke kelas. Aku bergegas menuju ke
kelasku. Tapi langkahku terhenti di depan kelas XII A. Mataku membidik satu
tubuh yang berdiri tinggi tegap. Menatapnya yang sedang tertawa bersama
teman-temannya. Manis sekali. Ya Tuhan, hatiku serasa diguyur air es. Dingiin.
Jantungku berdegup kencang tak
beraturan. Rasa-rasanya aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Kak Setio, cowok itu memang selalu
memesona. Ganteng banget. Badannya yang tinggi. Gayanya yang keren. Ya Tuhan,
bibir dan hatiku tak bisa berhenti memujinya. Aku masih diam berdiri di depan
kelasnya, memeluk pesona Kak Setio dari jauh. Tanpa sadar, Kak Setio sudah
menatapku aneh. Mataku mencoba berbohong seolah tak melihat apa-apa. Aku
melanjutkan langkahku menuju kelasku XI D. Baru empat langkah kakiku ini
berjalan. Suara seseorang memanggilku.
“Dek Nisa!!”
Aku masih ragu untuk menoleh. Tapi
lagi-lagi suara itu benar-benar memanggil namaku. Dek, Dek Nisa!! Langkahku
terhenti. Aku menoleh. Ya Tuhan, Kak Setio? Aku harus apa. Jantungku makin
berdegup kencang. Semoga Kak Setio tidak bertanya yang aneh-aneh. Aku menggigit
bibir, salah tingkah di depan Kak Setio.
“Iya, kenapa?” tanyaku pada Kak
Setio.
“Dek Nisa bisa bantu Kakak?” tanya
Kak Setio dengan gayanya yang khas.
“Bantu apa Kak?” aku bertanya
balik.
“Bantu ngumpulin teman-teman buat
ikut even lomba menulis puisi. Dek Nisa ikut ekskul menulis kan?”
“Iya, nanti Nisa bantu.” Aku
menjawab sambil tersenyum semanis mungkin.
“Terima kasih. Dek Nisa daftarin
saja nama-nama mereka terus nanti kasih ke Kakak.” Katanya sambil memberikan
selembar kertas.
“Iya Kak.” Kataku sambil menatap
raut wajahnya yang ganteng.
“Ya sudah masuk ke kelas sana,
nanti dimarahi kalau telat.” Kata Kak Setio perhatian.
Aku hanya tersenyum. Rasanya ingin
berlonjak senang. Loncat-loncat dan berteriak Kak Setio aku sukaaaa kamuuuu!!
hahahah. Aku tertawa dalam hati. Ya Tuhan, aku lupa! Setelah ini kan pelajaran
Pak Jono. Matiiiii aku, telat masuk kelas bisa dihukum berdiri melafalkan UUD
1945. Aku buru-buru pergi, bergegas lari menuju kelas. Perasaanku campur aduk.
Antara senang karena Kak Setio dan takut telat masuk kelas.
Akhirnya sampai kelasku. Gawat!!
Pak Jono sudah duduk di kelas. Tanganku gemetar hendak mengetuk pintu. Aku
menghela napas panjang.
“Tok tok tok, maaf Pak saya
telat.” Kataku takut-takut.
“Kamu dari mana?” tanya Pak Jono
galak.
“Itu Pak tadi, eemm eh anu Pak….”
Aku gelagapan menjawab.
“Berdiri di pojok. Lafalkan UUD
1945!!” Kata Pak Jono menyuruhku.
“Nggak hafal Pak.” Kataku sambil
tertunduk malu.
“Hafalkan sampai hafal. Kamu itu
generasi Indonesia tapi tidak hafal Dasar Negara Indonesia. Mau jadi apa? Tetap
berdiri di situ sampai pelajaran usai!!”
Aaaiiiiihhh, aku menggerutu dalam
hati. Niat hati berbunga-bunga asyik ngobrol sama dia pujaan hati. Malah dihukum
gara-gara telat masuk kelas. Hmmm, Pak Jono. Tidakkah Bapak pernah jatuh cinta
sama seperti saya? Aku melihat jam di pergelangan tangaku, 2 jam waktu yang
lama untuk berdiri di sini. Kecuali ada Kak Setio.
Ya Tuhan, baru saja menyebut nama Kak
Setio, cowok itu sudah lewat saja di depan kelasku. Gubrraakk, malunya aku. Ini
tidak kereeen sama sekali!! Dalam keadaan dihukum dia melihat aku. Uuuhhh,
menyebalkan. Aku mencoba menutupi mukaku. Fahrul yang duduk di bangku nomor dua
malah cekikikan mentertawakanku puas.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment