Wednesday, 15 July 2015

Sepucuk Surat




Kudus, 22 Desember 2014

Teruntuk Rinduku


Assalamu’allaikum.wr.wb

            Sepasang mata merindu, menitikan bulir air ketika kalimat cinta mencoba untuk dicurahkan. Lama mendekap sesak, akhirnya bisa menulis sebuah surat untukmu, wanita yang paling berarti dalam hidupku. Di setiap lantunan doa, tak pernah berhenti kusebut namamu. Semoga Allah selalu melindungi setiap langkah yang engkau lalui. Aamiin.
Ibu pasti bingung ketika membaca surat ini. Kemudian akan bernostalgia begitu membaca nama pengirim yang tertera dalam amplop. Yah, Muhammad Risky. Ibu ingat `kan? Risky, anak Ibu yang belum pernah sama sekali melihat wajah Ibu. Kira-kira enam belas tahun lalu ketika Risky masih berusia tiga bulan, Ibu pergi ke Arab Saudi untuk bekerja. Meninggalkan desa tercinta.
Bagaimana kabar Ibu? Semoga baik-baik saja di sana. Susah sekali mencari alamat Ibu. Tapi akhirnya dua hari yang lalu Risky bisa mendapatkannya. Lek Wanto yang banyak membantu mencari kabar tentang Ibu. Tahu `kan? dia tetangga sebelah kita. Dan semoga memang benar surat ini sampai ke alamat Ibu.
Apa saat ini Ibu tengah membaca suratku sembari tersenyum manis? Mbah bilang Ibu punya senyuman yang manis dan lesung pipi yang khas. Wajah Ibu juga cantik. Sayang, Risky tak pernah melihat foto Ibu. Kata Mbah, di saat Risky berusia satu tahun, rumah kita kebakaran. Semua barang habis, termasuk juga semua kenangan tentang Ibu. Tapi tak usah khawatir Bu, tiap hari Mbah selalu bercerita tentang Ibu. Dari situlah Risky tahu kalau Ibu adalah orang yang paling berjasa untuk Risky.
Jangan tanya bagaimana Risky melewatkan hari-hari. Berat, setiap hari merindu. Ingin sebuah pelukan, perhatian dan lembut belaian dari seorang Ibu. Iri dengan teman-teman Risky yang lain, tapi ya memang takdir kita seperti ini. Risky harus kuat `kan Bu?
            Tapi kenapa Ibu tak pernah berkirim kabar lagi?
            Setidaknya agar Risky merasa dekat dengan tetap berkomunikasi, walaupun kita jauh. Tapi sungguh, dalam benak Risky tak pernah terlintas pikiran jika Ibu sudah tidak peduli atau tidak sayang Risky. Ibu pasti sedang sibuk dan memang tak sempat mengirimkan surat. Apalagi Ibu bekerja di luar Negeri, pasti juga izinnya susah kalau ingin pulang. Iya `kan Bu?
            Mbah bilang, terakhir Ibu berkirim surat saat Risky berusia dua tahun. Tapi setelah itu Ibu pindah tempat kerja, dan tidak pernah lagi mengirim surat. Oh iya, Mbah juga titip salam untuk Ibu. Katanya, Mbah kangen dan ingin bertemu dengan Ibu.
Ah, bukankah Risky anak laki-laki? Tapi saat menulis surat ini, Riky justru tak henti-hentinya menangis. Mungkin terlalu berat menahan rindu sekaligus bahagia karena menemukan alamat Ibu. Bagaimana tidak, ikatan rasa cinta antara Orangtua dan anak memanglah yang paling indah. Selalu besar, terutama kasih seorang Ibu, akan selalu sepanjang masa. Bu, sebenarnya ada hal yang ingin Risky ceritakan. Tapi Ibu jangan sedih ya.
            Ini tentang diri Risky. Dua tahun lalu Risky sakit. Entah kenapa mendadak kepala Risky benar-benar pusing. Sering mimisan dan juga pingsan jika Risky terlalu capek. Kata Dokter, Risky mengidap kanker hati. Sekarang sudah stadium empat. Tapi tidak apa-apa Bu, Risky masih kuat.
            Ibu jangan menangis ya! Harus tersenyum, heheheh.
Tak terasa sudah enam belas tahun ini kita berpisah. Risky benar-benar ingin bertemu Ibu. Risky mohon, jika sempat tolonglah Ibu pulang sekali saja untuk menjenguk Risky. Setidaknya Risky bisa merasakan dekapan seorang Ibu di saat keadaan seperti ini. Tiap hari bergelut dengan obat-obatan keras, jarum suntik, dan kemoterapi. Itu membuat badan Risky malah semakin sakit. Kalau pun rasa sakit itu mereda, semua hanya sebentar saja. Risky bosan bolak-balik ke rumah sakit, kasihan Mbah juga. Apalagi keuangan kami sudah menipis. Mungkin Risky hanya membutuhkan pelukan Ibu saja untuk meredakan sakit ini.
Oh iya, satu minggu lagi Risky berulang tahun yang ke tujuh belas. Anak laki-laki Ibu mulai beranjak remaja. Tapi Risky takut Bu. Bagaimana jika Risky tak sempat melewati hari itu? Atau bagaimana jika Risky memang tak akan pernah sempat bertemu Ibu? Ah tidak, semua pasti akan baik-baik saja. Ibu juga pasti akan selalu berdoa untuk Risky `kan?
Pulanglah Bu, sekali saja. Peluk Risky. Badan Risky sakit. Tapi akan menjadi lebih sakit jika Risky menjalani kemoterapi sambil menahan rindu yang tak berujung. Atau mungkin jika Ibu memang tak bisa pulang ke Indonesia, Ibu hubungi nomor handphone ini saja 085640788xxx agar Risky bisa dengar suara Ibu. Cukup seperti itu juga tidak apa-apa. Risky mohon, Bu!
Baiklah, sudah dulu ya Bu. Kata Dokter, Risky harus banyak istirahat. Doa Risky, semoga Ibu selalu baik-baik saja di sana. Semoga juga Tuhan memberi waktu dan menyempatkan Risky untuk bisa bertemu Ibu. Risky sayang Ibu. Selamat hari Ibu. 
Peluk kangen dari putramu, Muhammad Risky.

Wassalamu’allaikum.wr.wb.


*****

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 


Categories:

0 comments:

Post a Comment