Kudus, 22
Desember 2014
Teruntuk Rinduku
Assalamu’allaikum.wr.wb
Sepasang mata merindu, menitikan bulir
air ketika kalimat cinta mencoba untuk dicurahkan. Lama mendekap sesak,
akhirnya bisa menulis sebuah surat untukmu, wanita yang paling berarti dalam hidupku.
Di setiap lantunan doa, tak pernah berhenti kusebut namamu. Semoga Allah selalu
melindungi setiap langkah yang engkau lalui. Aamiin.
Ibu
pasti bingung ketika membaca surat ini. Kemudian akan bernostalgia begitu
membaca nama pengirim yang tertera dalam amplop. Yah, Muhammad Risky. Ibu ingat
`kan? Risky, anak Ibu yang belum pernah sama sekali melihat wajah Ibu. Kira-kira
enam belas tahun lalu ketika Risky masih berusia tiga bulan, Ibu pergi ke Arab
Saudi untuk bekerja. Meninggalkan desa tercinta.
Bagaimana
kabar Ibu? Semoga baik-baik saja di sana. Susah sekali mencari alamat Ibu. Tapi
akhirnya dua hari yang lalu Risky bisa mendapatkannya. Lek Wanto yang banyak
membantu mencari kabar tentang Ibu. Tahu `kan? dia tetangga sebelah kita. Dan semoga
memang benar surat ini sampai ke alamat Ibu.
Apa
saat ini Ibu tengah membaca suratku sembari tersenyum manis? Mbah bilang Ibu
punya senyuman yang manis dan lesung pipi yang khas. Wajah Ibu juga cantik.
Sayang, Risky tak pernah melihat foto Ibu. Kata Mbah, di saat Risky berusia
satu tahun, rumah kita kebakaran. Semua barang habis, termasuk juga semua
kenangan tentang Ibu. Tapi tak usah khawatir Bu, tiap hari Mbah selalu
bercerita tentang Ibu. Dari situlah Risky tahu kalau Ibu adalah orang yang
paling berjasa untuk Risky.
Jangan
tanya bagaimana Risky melewatkan hari-hari. Berat, setiap hari merindu. Ingin
sebuah pelukan, perhatian dan lembut belaian dari seorang Ibu. Iri dengan teman-teman
Risky yang lain, tapi ya memang takdir kita seperti ini. Risky harus kuat `kan
Bu?
Tapi kenapa Ibu tak pernah berkirim
kabar lagi?
Setidaknya agar Risky merasa dekat
dengan tetap berkomunikasi, walaupun kita jauh. Tapi sungguh, dalam benak Risky
tak pernah terlintas pikiran jika Ibu sudah tidak peduli atau tidak sayang Risky.
Ibu pasti sedang sibuk dan memang tak sempat mengirimkan surat. Apalagi Ibu bekerja
di luar Negeri, pasti juga izinnya susah kalau ingin pulang. Iya `kan Bu?
Mbah bilang, terakhir Ibu berkirim
surat saat Risky berusia dua tahun. Tapi setelah itu Ibu pindah tempat kerja,
dan tidak pernah lagi mengirim surat. Oh iya, Mbah juga titip salam untuk Ibu.
Katanya, Mbah kangen dan ingin bertemu dengan Ibu.
Ah,
bukankah Risky anak laki-laki? Tapi saat menulis surat ini, Riky justru tak
henti-hentinya menangis. Mungkin terlalu berat menahan rindu sekaligus bahagia
karena menemukan alamat Ibu. Bagaimana tidak, ikatan rasa cinta antara Orangtua
dan anak memanglah yang paling indah. Selalu besar, terutama kasih seorang Ibu,
akan selalu sepanjang masa. Bu, sebenarnya ada hal yang ingin Risky ceritakan.
Tapi Ibu jangan sedih ya.
Ini tentang diri Risky. Dua tahun
lalu Risky sakit. Entah kenapa mendadak kepala Risky benar-benar pusing. Sering
mimisan dan juga pingsan jika Risky terlalu capek. Kata Dokter, Risky mengidap
kanker hati. Sekarang sudah stadium empat. Tapi tidak apa-apa Bu, Risky masih
kuat.
Ibu jangan menangis ya! Harus
tersenyum, heheheh.
Tak
terasa sudah enam belas tahun ini kita berpisah. Risky benar-benar ingin
bertemu Ibu. Risky mohon, jika sempat tolonglah Ibu pulang sekali saja untuk
menjenguk Risky. Setidaknya Risky bisa merasakan dekapan seorang Ibu di saat
keadaan seperti ini. Tiap hari bergelut dengan obat-obatan keras, jarum suntik,
dan kemoterapi. Itu membuat badan Risky malah semakin sakit. Kalau pun rasa
sakit itu mereda, semua hanya sebentar saja. Risky bosan bolak-balik ke rumah
sakit, kasihan Mbah juga. Apalagi keuangan kami sudah menipis. Mungkin Risky
hanya membutuhkan pelukan Ibu saja untuk meredakan sakit ini.
Oh
iya, satu minggu lagi Risky berulang tahun yang ke tujuh belas. Anak laki-laki
Ibu mulai beranjak remaja. Tapi Risky takut Bu. Bagaimana jika Risky tak sempat
melewati hari itu? Atau bagaimana jika Risky memang tak akan pernah sempat
bertemu Ibu? Ah tidak, semua pasti akan baik-baik saja. Ibu juga pasti akan selalu
berdoa untuk Risky `kan?
Pulanglah
Bu, sekali saja. Peluk Risky. Badan Risky sakit. Tapi akan menjadi lebih sakit
jika Risky menjalani kemoterapi sambil menahan rindu yang tak berujung. Atau mungkin
jika Ibu memang tak bisa pulang ke Indonesia, Ibu hubungi nomor handphone ini
saja 085640788xxx agar Risky bisa dengar suara Ibu. Cukup seperti itu juga
tidak apa-apa. Risky mohon, Bu!
Baiklah,
sudah dulu ya Bu. Kata Dokter, Risky harus banyak istirahat. Doa Risky, semoga
Ibu selalu baik-baik saja di sana. Semoga juga Tuhan memberi waktu dan
menyempatkan Risky untuk bisa bertemu Ibu. Risky sayang Ibu. Selamat hari Ibu.
Peluk
kangen dari putramu, Muhammad Risky.
Wassalamu’allaikum.wr.wb.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment