Tak ada yang kekal dari sebuah kesenangan . . .
Tak ada pula yang kekal dari sebuah kesedihan . . .
Abu Nawas, kita sering mendengar nama itu mengisi cerita-cerita dongeng. Tokoh tersebut terkenal akan humor dan kecerdikannya. Ia juga multi talenta dan selalu tajam dalam berkata-kata. Namanya juga terkenal sekali dalam kisah seribu satu malam. Tapi adakah sosoknya dalam dunia nyata?
Tak ada pula yang kekal dari sebuah kesedihan . . .
Abu Nawas, kita sering mendengar nama itu mengisi cerita-cerita dongeng. Tokoh tersebut terkenal akan humor dan kecerdikannya. Ia juga multi talenta dan selalu tajam dalam berkata-kata. Namanya juga terkenal sekali dalam kisah seribu satu malam. Tapi adakah sosoknya dalam dunia nyata?
Yah, ada. Dalam kehidupan nyata, sosok Abu Nawas sendiri
adalah seorang yang bernama Abu Ali Al-Hasan Al-Hakami. Ia adalah seorang
penyair dan pujangga sastra arab klasik. Lahir pada tahun 145 H atau 747 M di
kota Ahvas Persia (Iran). Ayahnya bernama Hani Al Hakam seorang Arab yang
merupakan anggota legiun militer Marwan II. Ibunya bernama Jalban seorang
Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol.
Abu Nawas sangat menyukai syair. Ia pun
belajar sastra Arab dai Abu Zaid Al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga
memperdalam Al Qur'an dari seorang ahli yang bernama Ya'qub Al Hadrami, selain
itu ilmu Hadist pun ia pelajari dari Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin
Sulaiman, Yahya bin Said Al Qattan dan Azhar bin Sa'ad As Samman. Dalam
menulis syair Abu Nawas pun dipengaruhi oleh gaya bahasa milik Walibah bin
Habab Al Asadi, seorang penyair dari Kufah yang begitu tertarik dengan bakat
Abu Nawas. Dari ajaran Walibah bin Habab Al Asadi itulah gaya bahasa Abu
Nawas dalam bersyair menjadi lebih halus dan berkelas karena sebelumnya tutur
bahasa Abu Nawas agak kasar. Dan karir Abu Nawas pun semakin memuncak. Ia
menjadi terkenal dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke Baghdad, di mana
daerah itu merupakan pusat kejayaan dunia pada saat itu.
Di sanalah ia mulai bergaul dengan para
bangsawan dan kehidupannya berubah menjadi lebih glamour. Ia sering sekali
membuat syair yang berisi tentang sanjungan dan pujian untuk para bangsawan.
Tujuannya untuk mendapatkan upah yang lebih banyak dan tinggi. Dan ia pun
menjadi lebih terkenal sebagai penyair yang merauk para penguasa untuk
kepentingan pribadinya.
Tak disangka pula bahwa kecerdikannya
dan kemahirannya dalam membuat syair ternyata membuat Raja Harun Al Rasyid
tertarik hingga menjadikannya syairul bilad atau penyair istana. Syair-syair
Abu Nawas pun makin menggila, selain tentang para penguasa dan bangsawan,
syairnya juga berisikan tentang hidup kemewahan, hura-hura, glamaour dan
kemaksiatan. Ia pun hidup dalam keadaaan yang serba mewah.
Namun kemewahan itu seperti sebatang
tebu yang usai diambil sarinya. Kehidupannya pun mulai berubah di saat kejadian
yang tak terduga menimpanya. Yah, karena keahliannya membuat syair yang indah
untuk para bangsawan ia diundang oleh Khalifah untuk membaca puisi Kafilah Bani
Mudar. Tapi tak disangka justru Khalifah malah tersinggung dengan puisi Abu
Nawas hingga akhirnya ia dipenjarakan.
Dan dalam masa tahanannya pun Abu Nawas
mulai merenungi kehidupan yang telah dijalaninya. Kemaksiatan, kehidupan mewah
dan glamour hanyalah sementara. Di dalam penjara ia tetap berkarya menulis
syair-syair indah. Tapi syairnya pun berubah menjadi syair religi yang bukan
lagi kasar tentang kehidupan hura-hura. Di penjara ia menjadi pribadi yang
lebih baik. Mendekatkan diri kepada Allah dan beribadah dengan khusyuk
senantiaa ia lakukan. Penyesalan serta keprasahan batin yang ia serahkan pada
Allah pun menjadi kumpulan bait-bait indah hingga akhir hayatnya. Menurut
cerita, Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seorang utusan dari keluarga
Nawbakhti yang ternyata memiliki dendam pada Abu Nawas. Ia meninggal pada tahun
190 H / 806 M tapi ada pula yang menyebutkan bahwa ia meninggal pada tahun 195
H / 810 M. Di Syunizi di jantung kota Baghdad ia dimakamkan.
Sekian cerita dari seorang pujangga Arab klasik, ambil contoh positifnya dan buang contoh negatifnya. Perlu kita ingat bahwa apa yang kita nikmati di dunia ini, mau itu kebahagian ataupun kejayaan semua hanyalah sementara. Pada akhirnya ketaqwaan kepada Tuhanlah yang akan mengantar kita menuju indah jalan surganya.
Sekian cerita dari seorang pujangga Arab klasik, ambil contoh positifnya dan buang contoh negatifnya. Perlu kita ingat bahwa apa yang kita nikmati di dunia ini, mau itu kebahagian ataupun kejayaan semua hanyalah sementara. Pada akhirnya ketaqwaan kepada Tuhanlah yang akan mengantar kita menuju indah jalan surganya.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment