Tuesday, 12 May 2015

TAK ADA YANG KEKAL DARI HEDONISME


Tak ada yang kekal dari sebuah kesenangan . . .
Tak ada pula yang kekal dari sebuah kesedihan . . .

Abu Nawas, kita sering mendengar nama itu mengisi cerita-cerita dongeng. Tokoh tersebut terkenal akan humor dan kecerdikannya. Ia juga multi talenta dan selalu tajam dalam berkata-kata. Namanya juga terkenal sekali dalam kisah seribu satu malam. Tapi adakah sosoknya dalam dunia nyata? 

Yah, ada. Dalam kehidupan nyata, sosok Abu Nawas sendiri adalah seorang yang bernama Abu Ali Al-Hasan Al-Hakami. Ia adalah seorang penyair dan pujangga sastra arab klasik. Lahir pada tahun 145 H atau 747 M di kota Ahvas Persia (Iran). Ayahnya bernama Hani Al Hakam seorang Arab yang merupakan anggota legiun militer Marwan II. Ibunya bernama Jalban seorang Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol.

Abu Nawas sangat menyukai syair. Ia pun belajar sastra Arab dai Abu Zaid Al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga memperdalam Al Qur'an dari seorang ahli yang bernama Ya'qub Al Hadrami, selain itu ilmu Hadist pun ia pelajari dari Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said Al Qattan dan Azhar bin Sa'ad As Samman. Dalam menulis syair Abu Nawas pun dipengaruhi oleh gaya bahasa milik Walibah bin Habab Al Asadi, seorang penyair dari Kufah yang begitu tertarik dengan bakat Abu Nawas.  Dari ajaran Walibah bin Habab Al Asadi itulah gaya bahasa Abu Nawas dalam bersyair menjadi lebih halus dan berkelas karena sebelumnya tutur bahasa Abu Nawas agak kasar. Dan karir Abu Nawas pun semakin memuncak. Ia menjadi terkenal dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke Baghdad, di mana daerah itu merupakan pusat kejayaan dunia pada saat itu.

Di sanalah ia mulai bergaul dengan para bangsawan dan kehidupannya berubah menjadi lebih glamour. Ia sering sekali membuat syair yang berisi tentang sanjungan dan pujian untuk para bangsawan. Tujuannya untuk mendapatkan upah yang lebih banyak dan tinggi. Dan ia pun menjadi lebih terkenal sebagai penyair yang merauk para penguasa untuk kepentingan pribadinya. 

Tak disangka pula bahwa kecerdikannya dan kemahirannya dalam membuat syair ternyata membuat Raja Harun Al Rasyid tertarik hingga menjadikannya syairul bilad atau penyair istana. Syair-syair Abu Nawas pun makin menggila, selain tentang para penguasa dan bangsawan, syairnya juga berisikan tentang hidup kemewahan, hura-hura, glamaour dan kemaksiatan. Ia pun hidup dalam keadaaan yang serba mewah. 

Namun kemewahan itu seperti sebatang tebu yang usai diambil sarinya. Kehidupannya pun mulai berubah di saat kejadian yang tak terduga menimpanya. Yah, karena keahliannya membuat syair yang indah untuk para bangsawan ia diundang oleh Khalifah untuk membaca puisi Kafilah Bani Mudar. Tapi tak disangka justru Khalifah malah tersinggung dengan puisi Abu Nawas hingga akhirnya ia dipenjarakan.  

Dan dalam masa tahanannya pun Abu Nawas mulai merenungi kehidupan yang telah dijalaninya. Kemaksiatan, kehidupan mewah dan glamour hanyalah sementara. Di dalam penjara ia tetap berkarya menulis syair-syair indah. Tapi syairnya pun berubah menjadi syair religi yang bukan lagi kasar tentang kehidupan hura-hura. Di penjara ia menjadi pribadi yang lebih baik. Mendekatkan diri kepada Allah dan beribadah dengan khusyuk senantiaa ia lakukan. Penyesalan serta keprasahan batin yang ia serahkan pada Allah pun menjadi kumpulan bait-bait indah hingga akhir hayatnya. Menurut cerita, Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seorang utusan dari keluarga Nawbakhti yang ternyata memiliki dendam pada Abu Nawas. Ia meninggal pada tahun 190 H / 806 M tapi ada pula yang menyebutkan bahwa ia meninggal pada tahun 195 H / 810 M. Di Syunizi di jantung kota Baghdad ia dimakamkan. 

Sekian cerita dari seorang pujangga Arab klasik, ambil contoh positifnya dan buang contoh negatifnya. Perlu kita ingat bahwa apa yang kita nikmati di dunia ini, mau itu kebahagian ataupun kejayaan semua hanyalah sementara. Pada akhirnya ketaqwaan kepada Tuhanlah yang akan mengantar kita menuju indah jalan surganya. 

*****

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546


Categories:

0 comments:

Post a Comment