Malam ini banyak kaum jelata melepas lelah di emperan pagar
istana. Mencoba bermimpi. Tidur beralaskan kardus sembari berharap esok
terbangun dengan keadaan yang lebih baik.
Saya terus berjalan, sesekali menatap bangunan lusuh. Melempar
tanya tentang kegersangan. Kapan Negara ini berubah?
Hah, saya benci pemerintahan!
Dua minggu lagi tahun berganti, berlanjut tahun 1960. Tapi nasib
tak juga berubah, makin suram seperti temaram lampu kota. Di sana, tidur
seorang borjuis. Lelap dengan selimut tebal penghalau dingin.
Berbicara tentang dingin, sebenarnya tadi saya sudah membekukan
hati seorang gadis. Saya tahu, dia pasti sedang menangis sekarang.
"Saya suka kamu, Wan. Tak peduli kamu seorang aktivis atau
pemberontak pemerintahan." Katanya sembari tersenyum manis.
Tapi saya bunuh senyumnya. Saya tak ingin gadis itu dicaci karena
saya.
Ah sudahlah, kenapa saya harus memikirkan cinta? Sendiri lebih
baik. Besok tulisan saya di surat kabar pasti akan lebih menggegerkan. Keadilan
harus ditegakkan! Persetan dengan mereka yang menganggap saya pemberontak.
*****
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








Cerita ttg pergerakan nih... oke juga
ReplyDeleteCerita ttg pergerakan nih... oke juga
ReplyDelete