Saturday, 16 May 2015

SENDIRI DAN KEADILAN


Malam ini banyak kaum jelata melepas lelah di emperan pagar istana. Mencoba bermimpi. Tidur beralaskan kardus sembari berharap esok terbangun dengan keadaan yang lebih baik.

Saya terus berjalan, sesekali menatap bangunan lusuh. Melempar tanya tentang kegersangan. Kapan Negara ini berubah?

Hah, saya benci pemerintahan!

Dua minggu lagi tahun berganti, berlanjut tahun 1960. Tapi nasib tak juga berubah, makin suram seperti temaram lampu kota. Di sana, tidur seorang borjuis. Lelap dengan selimut tebal penghalau dingin.

Berbicara tentang dingin, sebenarnya tadi saya sudah membekukan hati seorang gadis. Saya tahu, dia pasti sedang menangis sekarang.

"Saya suka kamu, Wan. Tak peduli kamu seorang aktivis atau pemberontak pemerintahan." Katanya sembari tersenyum manis.

Tapi saya bunuh senyumnya. Saya tak ingin gadis itu dicaci karena saya.

Ah sudahlah, kenapa saya harus memikirkan cinta? Sendiri lebih baik. Besok tulisan saya di surat kabar pasti akan lebih menggegerkan. Keadilan harus ditegakkan! Persetan dengan mereka yang menganggap saya pemberontak.

*****

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
Categories:

2 comments:

  1. Cerita ttg pergerakan nih... oke juga

    ReplyDelete
  2. Cerita ttg pergerakan nih... oke juga

    ReplyDelete