Tahun terus berlalu, 1998. Saya menemuinya lagi. Ia sudah jadi seorang Ibu.
"Kamu tega! Kenapa biarkan saya menikah dengan orang lain?" Ia menangis. Saya diam, menyesal.
"Wan, pergilah! Mereka mencarimu." Teriak salah satu teman saya.
Saya menatap perempuan itu, mencium keningnya kemudian berlalu pergi tanpa ucapkan maaf.
Sial! Pasukan itu berhasil menyergap saya. Membawa saya ke suatu tempat. Gelap dan kumuh. Tubuh saya diikat seperti hewan yang hendak disembelih. Berkali-kali juga pukulan mendarat di tubuh saya.
"Dasar bodoh. Beraninya menentang, tahu apa kamu tentang pemerintahan?"
"Saya hanya menuntut keadilan. Anda yang bodoh, mengaku aparat tapi keparat."
"Brengsek kamu!" Tendangan dan ludah pun melumuri wajah saya.
"Tembak kepalanya, biar tak bisa berpikir lagi!" ucap Jenderal mereka.
Lebih baik saya mati daripada hidup dalam pemerintahan tak beradap. Setidaknya saya lega.
Dooor, dooorr!
Dua kali tembakan. Tepat di kepala dan hati. Impas. Saya lelah berpikir, dan saya sudah menebus sakit hati perempuan itu.
Gelap!
******
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/
atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








Yach, kok awannya ditembak :( karakternya bagus loh
ReplyDelete