Saturday, 16 May 2015

USAI


"Seorang aktivis harus kuat!" begitu katanya dulu.

Lembut saya membelai buku-buku usang, karya lelaki masa lalu. Buku puisi warna biru ini juga menjadi saksi perasaannya. Saya hanya menyesali, kenapa hatinya yang kaku tega membiarkan sahabatnya sendiri menikahi saya. Ide jahat Papa untuk memisahkan saya dengannya pun berhasil.

Biarkan kulepas perempuanku,
yang menjadikan tawa di sela kesunyianku.
Biarkan kulepas perempuanku,
yang memberi candu, tenangkan hatiku.

Dingin masih melumuri sesak atas duka kematiannya. Hati ini masih mencintainya, walaupun dua putra telah menghiasi kehidupan pernikahan saya.

"Mamaaa?" suara manja putra bungsu saya membuyarkan kesedihan.

"Iya sayang." Saya tersenyum sembari menciumi pipinya.

"Mama sayang Awan tidak?"

Keningku berkerut. Tanya yang polos. Rasanya tersentuh. Apa saya egois? Tuhan sudah memberi saya kebahagiaan, tapi saya . . .

"Mama sayang dengan Awan."

Saya memeluknya. Awan, itu juga menjadi namanya. Sang Pemberontak sudah mati, tapi ia terus membuat saya memberontak pada kenyataan.

Semua harus usai!

*****



Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
 
Categories:

0 comments:

Post a Comment