Mencintai kamu jadi nggak doyan sama makan
Badan gue kurus capek ngelayanin kamu
Balikin o o balikin body gue kaya dulu lagi
Elo bakal kena tanggung jawab kalau gue sampe, sampe mati
Balikin o o balikin kehidupanku yang seperti dulu lagi
Balikin o o balikin kebebasanku yang seperti dulu lagi
Sore yang galau dengan mendung yang sedikit menggantung. Yah, aku masih memeluk gitarku usai memainkan sebuah lagu yang cukup menghibur masa depresiku. Rindu? Persetan dengan semuanya. Dia bahkan tidak pernah mengerti dengan semua perasaanku. Bersikap acuh dan menganggap semua biasa saja. Sedangkan jika nanti aku benar-benar tidak peduli, dia akan merengek dengan senyuman manjanya minta diperhatikan.
“Gak usah hubungin aku lagi!” Katanya sore kemarin. Kasar! Yah, bekas telapak tangannya juga masih membekas di pipiku. Dia menamparku. Tepat ketika aku menghampirinya, menyuruhnya untuk segera pulang. Mungkin aku salah karena saat itu dia sedang asyik berkumpul bersama teman-teman lelakinya. Aku cemburu! Sakit, tapi hatiku selalu saja bisa memaafkan.
“Kapan kita pacaran, aku suka sama kamu tapi kita kan hanya teman dekat.” Ucapnya membentakku. Aku menatapnya sambil memegangi pipiku. Seperti ditelanjangi di depan umum. Tak ada harga diri. Teman dekat? Lalu maksudnya apa. Perhatian, kebersamaan, ucapan cinta yang sering dia ucap dengan manis. Janji terus bersama.
Yah, aku akui memang selama ini tak pernah ada kata “Aku mencintaimu, kita pacaran.” Tapi yang aku tahu, aku mencintainya. Bahkan rela walaupun itu harus tanpa status hubungan yang jelas. Dia tetap menjadi gadis yang selalu memesona. Bahkan dia satu-satunya gadis yang mengisi hatiku.
Aku kembali memainkan gitarku. Masih dengan lagu favoritku. Bernyanyi sambil membayangkan wajahnya.
Mencintai kamu sama juga di dalam penjara
Gila kebebasan kebanyakan aturan
Mencintai kamu nggak nggak pernah dipercaya
Ngebohong salah jujur malah tambah salah
Balikin o o balikin kehidupanku yang seperti dulu lagi
Balikin o o balikin kebebasanku yang seperti dulu lagi
Huft, aku menghela napas panjang. Berhenti memainkan gitar. Mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan api. Bara api yang kecil, tak sebesar bara api cintaku padanya. Asap membumbung meracuni otakku. Muak? Aku tidak tahu, jika muak seharusnya aku berhenti mengaguminya. Tapi ini, aku justru terus mengharapkan manis manjanya.
Aku rindu dengan tingkahnya yang absurd. Marah jika aku dekat dengan gadis lain. Marah jika aku memberi perhatian pada gadis lain. Dan menurutku itu adalah hal yang menyenangkan. Aku suka melihat wajah garangnya berekspresi begitu marah pada gadis-gadis yang mendekatiku. Tapi itu sudah lama sekali. Dan aku sudah tak pernah melihatnya seperti itu lagi.
Dan akhirnya, kemarin malam usai kejadian sore itu, dia kembali menemuiku setelah aku bersikap cuek padanya. Tidak mengirimi dia pesan. Tidak memberi perhatian walaupun itu hanya sekadar berucap “sudah makan?”. Tidak, aku tidak ingin melakukannya. Tapi senyumnya kembali meracuniku. Dia merajuk, memohon perhatian bahkan meminta maaf. Parahnya ucapan manis itu kembali terucap.
“Aku sayang kamu.” Katanya. Aku hanya memandangi wajah cantiknya. Seperti biasa, saat aku memainkan gitarku, duduk di bawah sinar bulan. Maka dia akan bersandar di bahuku. Manja. Aku meliriknya, senyumnya manis. Rambut panjangnya tergerai indah. Terus dan terus tersenyum tanpa rasa bersalah, seolah meredam luka yang baru saja dia berikan. Aku memang selalu mencintainya. Dan aku rasa memang tak perlu sebuah status.
*****
by : Icha Mamusu
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546
Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546








0 comments:
Post a Comment