Thursday, 9 October 2014

SAYAP PELINDUNG



Hidup memang begini. Kita jadi pemeran, berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya berhenti di sebuah perbatasan kisah yang kita sebut itu ending. Sama halnya dengan aku dan kamu. Kini sebuah harapan aku tulis bersama warna-warna dunia yang siap aku terbangkan. Impianku seperti balon-balon udara yang siap melayang tinggi menyentuh awan-awan putih. Menyimpan tegaknya nyawa yang berdiri di dalam kotak pijakkannya.

Kau lelaki yang menaburkan warna-warna dalam sepetak duniaku. Meracuni setiap perasaan dengan jejalan logika yang selalu benar. Yah, itulah sebuah kesempurnaan yang dimiliki kaummu. Selalu mengagumkan, terlihat kuat dan tegar seakan tak pernah menangis. Berbeda dengan aku, wanita, yang selalu absurd dengan perasaanku sendiri. Dan terkadang, di saat dunia tak berpihak, aku hanya bisa menangis.

“Berhentilah menangis untuk hal yang sia-sia.” Ucapmu begitu bengis.
“Kenapa lelaki selalu tak suka melihat wanita menangis?”
“Wanita selalu terlihat jelek saat menangis.”
“Tapi ini masalah pearasaan!”
“Sekali-sekali lupakan perasaan, dan pakailah logika.”

Aku menghela napas panjang. Menundukkan kepalaku dan bergumam meratapi perasaanku, sendirian.

“Lalu untuk apa kau di sini, jika sama sekali tidak membantu dan malah meledekku seperti itu.” Gumamku dalam hati. Aku meliriknya sinis, dia bahkan malah asyik mencari-cari kunci nada yang tepat. Yah, bersiap memainkan gitar. Ya Tuhan, tidakkah dia peka. Aku ini sedang bersedih. Kenapa dia malah bersiap untuk bernyanyi. Aku kembali menundukkan kepala, merasa malas melihat tingkahnya.

Jrreeeeng, suara gitarnya mulai memenuhi sela-sela ruangan. Mengetuk senyumku dan menghipnotisku. Yah, aku akui aku tidak bisa memalingkan wajah darinya. Aku memperhatikannya. Nada demi nada mulai ia mainkan. Alunan gitar yang indah. Hatiku bahkan mulai berbisik “So sweet” aku kenal lagu itu. The Overtunes “Sayap Pelindungmu.” Yah, dia mulai bernyanyi.

Jlleeebbb, dan aku terpesona. Diam dan malah tersenyum memandanginya.

Saat kau lemah dan tak berdaya
Lihat diriku untukmu
Kapan pun mimpi terasa jauh
Ooh ingatlah sesuatu
Ku akan selalu jadi sayap pelindungmu
Saat duniamu mulai pudar
Dan kau merasa hilang
Ku akan selalu jadi sayap pelindungmu

Wajahnya terlihat teduh. Senyumnya manis, menawan setiap detak jantungku. Aku jatuh cinta lagi. Yah, aku selalu jatuh cinta kepada setiap apa yang dia lakukan. Termasuk saat ini.

“Jangan menangis. Aku sayang kamu.” Ucapnya, berhenti memainkan gitar.

Aku tersenyum semanis mungkin. Tak berani menatap matanya dan hanya mengangguk.

.
*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546


Categories:

0 comments:

Post a Comment