Thursday, 9 October 2014

HUJAN KERINDUAN



Udara cukup panas siang tadi. Di mana-mana debu mengepul membuat pernapasanku sedikit sensitif. Ada satu kerinduan yang membuatku benar-benar ingin menikmatinya. Yah, hujan pertama.

Tik, tik, tik. . . .

Malam ini, air langit itu turun perlahan. Membungkus sela-sela udara dan membuat dingin. Aku menghirup napas dalam-dalam, menyentuh jendela kaca yang mulai berembun. Merasakan sejuknya udara di hujan pertama. Kau tahu bau apa ini? Tepat sekali, bau tanah bercampur dengan air hujan. Aku suka sekali. Itu adalah bau yang membuatku selalu rindu dan selalu menyukai hujan.

Biasanya di hujan pertama seperti ini, di saat aku sedang asyik menikmatinya. Memandangi burlir-bulir itu jatuh. Ibu sering memanggil-manggil namaku begitu kencang. Menyuruhku masuk ke dalam rumah. Tapi aku sering tidak menghiraukannya. Lebih memilih diam tetap memandangi hujan. Berdiri mendongak menatap langit. Membiarkan tubuhku basah kuyup di guyur hujan. Yah, aku hanya ingin menikmati hujan pertamaku saja tanpa ingin diganggu.

“Liiiiimmm?” suara lirih itu membuyarkan lamunanku tentang hujan. Dan aku yang biasanya tak menghiraukan panggilan itu, kini buru-buru bergegas ke kamar Ibu.

Begitu tiba di kamar Ibu. Aku sungguh tak tega menatap wajah cantik Ibuku. Agak pucat dan terlihat lelah. Ibu sakit. Aku menghela napas panjang, berjalan mendekat ke arah Ibuku yang sedang terbaring. Senyumnya masih tetap saja terlihat cantik. Aku membalas senyum itu kemudian memeluk Ibuku.

“Ibu mau Alim buatkan minuman hangat?” ucapku lirih. Ibu hanya menggeleng. Tetap tersenyum. Tangannya menggenggam tanganku dan menyuruhku duduk di sampingnya.

“Ibu mau apa?” tawarku lagi.
“Ibu mau kau jadi anak yang baik.” Ucap Ibu sembari tersenyum.
“Heheh, bukankah aku sudah jadi anak Ibu yang tampan Bu?” jawabku cengengesan.
“Tampan saja tak cukup Lim, kau harus jadi lelaki yang baik, dewasa dan bertanggung jawab.” Wanita suka lelaki yang seperti itu.
“Seperti Bapak kan Bu?” Ibuku mengangguk.
“Iya Lim, berjanjilah kau akan jadi lelaki yang baik. Tidak akan pernah menyakiti wanita. Kau tahu Lim, jika kau menyakiti seorang wanita, sama saja kau menyakiti Ibumu sendiri.”
“Iya Alim tahu Bu. Cepatlah sembuh Bu. Tak ada yang mengomel lagi kalau aku hujan-hujan. Biasanya di hujan pertama Ibu selalu memanggil-manggil aku begitu kencang. Sampai tetangga-tetangga menoleh bingung.” Aku kembali memeluk Ibuku.

Tik, tik, tik. . . . .

Hujan turun semakin deras. Membalut kerinduan dengan dingin yang semakin beku. Begitu sombong dengan kesejukannya yang menjanjikan. Detik melaju begitu lambat. Tapi aku masih saja merasa hangat. Yah, tak ada peluk yang hangat sehangat pelukan Ibu. Aku sayang Ibu.

Hujan, kau tahu. Suatu saat aku akan kembali merasakan sesuatu yang kusebut itu, rindu. Entah tetap hujan yang aku rindukan, atau bisa jadi sesuatu yang membuatku mulai merasakan cinta selain rasa cinta untuk Ibuku. Maksudku, dia.

*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546

SAYAP PELINDUNG



Hidup memang begini. Kita jadi pemeran, berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya berhenti di sebuah perbatasan kisah yang kita sebut itu ending. Sama halnya dengan aku dan kamu. Kini sebuah harapan aku tulis bersama warna-warna dunia yang siap aku terbangkan. Impianku seperti balon-balon udara yang siap melayang tinggi menyentuh awan-awan putih. Menyimpan tegaknya nyawa yang berdiri di dalam kotak pijakkannya.

Kau lelaki yang menaburkan warna-warna dalam sepetak duniaku. Meracuni setiap perasaan dengan jejalan logika yang selalu benar. Yah, itulah sebuah kesempurnaan yang dimiliki kaummu. Selalu mengagumkan, terlihat kuat dan tegar seakan tak pernah menangis. Berbeda dengan aku, wanita, yang selalu absurd dengan perasaanku sendiri. Dan terkadang, di saat dunia tak berpihak, aku hanya bisa menangis.

“Berhentilah menangis untuk hal yang sia-sia.” Ucapmu begitu bengis.
“Kenapa lelaki selalu tak suka melihat wanita menangis?”
“Wanita selalu terlihat jelek saat menangis.”
“Tapi ini masalah pearasaan!”
“Sekali-sekali lupakan perasaan, dan pakailah logika.”

Aku menghela napas panjang. Menundukkan kepalaku dan bergumam meratapi perasaanku, sendirian.

“Lalu untuk apa kau di sini, jika sama sekali tidak membantu dan malah meledekku seperti itu.” Gumamku dalam hati. Aku meliriknya sinis, dia bahkan malah asyik mencari-cari kunci nada yang tepat. Yah, bersiap memainkan gitar. Ya Tuhan, tidakkah dia peka. Aku ini sedang bersedih. Kenapa dia malah bersiap untuk bernyanyi. Aku kembali menundukkan kepala, merasa malas melihat tingkahnya.

Jrreeeeng, suara gitarnya mulai memenuhi sela-sela ruangan. Mengetuk senyumku dan menghipnotisku. Yah, aku akui aku tidak bisa memalingkan wajah darinya. Aku memperhatikannya. Nada demi nada mulai ia mainkan. Alunan gitar yang indah. Hatiku bahkan mulai berbisik “So sweet” aku kenal lagu itu. The Overtunes “Sayap Pelindungmu.” Yah, dia mulai bernyanyi.

Jlleeebbb, dan aku terpesona. Diam dan malah tersenyum memandanginya.

Saat kau lemah dan tak berdaya
Lihat diriku untukmu
Kapan pun mimpi terasa jauh
Ooh ingatlah sesuatu
Ku akan selalu jadi sayap pelindungmu
Saat duniamu mulai pudar
Dan kau merasa hilang
Ku akan selalu jadi sayap pelindungmu

Wajahnya terlihat teduh. Senyumnya manis, menawan setiap detak jantungku. Aku jatuh cinta lagi. Yah, aku selalu jatuh cinta kepada setiap apa yang dia lakukan. Termasuk saat ini.

“Jangan menangis. Aku sayang kamu.” Ucapnya, berhenti memainkan gitar.

Aku tersenyum semanis mungkin. Tak berani menatap matanya dan hanya mengangguk.

.
*****


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546


MENCINTAI KAMU





Mencintai kamu jadi nggak doyan sama makan
Badan gue kurus capek ngelayanin kamu
Balikin o o balikin body gue kaya dulu lagi
Elo bakal kena tanggung jawab kalau gue sampe, sampe mati
Balikin o o balikin kehidupanku yang seperti dulu lagi
Balikin o o balikin kebebasanku yang seperti dulu lagi

Sore yang galau dengan mendung yang sedikit menggantung. Yah, aku masih memeluk gitarku usai memainkan sebuah lagu yang cukup menghibur masa depresiku. Rindu? Persetan dengan semuanya. Dia bahkan tidak pernah mengerti dengan semua perasaanku. Bersikap acuh dan menganggap semua biasa saja. Sedangkan jika nanti aku benar-benar tidak peduli, dia akan merengek dengan senyuman manjanya minta diperhatikan.

“Gak usah hubungin aku lagi!” Katanya sore kemarin. Kasar! Yah, bekas telapak tangannya juga masih membekas di pipiku. Dia menamparku. Tepat ketika aku menghampirinya, menyuruhnya untuk segera pulang. Mungkin aku salah karena saat itu dia sedang asyik berkumpul bersama teman-teman lelakinya. Aku cemburu! Sakit, tapi hatiku selalu saja bisa memaafkan.

“Kapan kita pacaran, aku suka sama kamu tapi kita kan hanya teman dekat.” Ucapnya membentakku. Aku menatapnya sambil memegangi pipiku. Seperti ditelanjangi di depan umum. Tak ada harga diri. Teman dekat? Lalu maksudnya apa. Perhatian, kebersamaan, ucapan cinta yang sering dia ucap dengan manis. Janji terus bersama.

Yah, aku akui memang selama ini tak pernah ada kata “Aku mencintaimu, kita pacaran.” Tapi yang aku tahu, aku mencintainya. Bahkan rela walaupun itu harus tanpa status hubungan yang jelas. Dia tetap menjadi gadis yang selalu memesona. Bahkan dia satu-satunya gadis yang mengisi hatiku.

Aku kembali memainkan gitarku. Masih dengan lagu favoritku. Bernyanyi sambil membayangkan wajahnya.

Mencintai kamu sama juga di dalam penjara
Gila kebebasan kebanyakan aturan
Mencintai kamu nggak nggak pernah dipercaya
Ngebohong salah jujur malah tambah salah
Balikin o o balikin kehidupanku yang seperti dulu lagi
Balikin o o balikin kebebasanku yang seperti dulu lagi

Huft, aku menghela napas panjang. Berhenti memainkan gitar. Mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan api. Bara api yang kecil, tak sebesar bara api cintaku padanya. Asap membumbung meracuni otakku. Muak? Aku tidak tahu, jika muak seharusnya aku berhenti mengaguminya. Tapi ini, aku justru terus mengharapkan manis manjanya.

Aku rindu dengan tingkahnya yang absurd. Marah jika aku dekat dengan gadis lain. Marah jika aku memberi perhatian pada gadis lain. Dan menurutku itu adalah hal yang menyenangkan. Aku suka melihat wajah garangnya berekspresi begitu marah pada gadis-gadis yang mendekatiku. Tapi itu sudah lama sekali. Dan aku sudah tak pernah melihatnya seperti itu lagi.

Dan akhirnya, kemarin malam usai kejadian sore itu, dia kembali menemuiku setelah aku bersikap cuek padanya. Tidak mengirimi dia pesan. Tidak memberi perhatian walaupun itu hanya sekadar berucap “sudah makan?”. Tidak, aku tidak ingin melakukannya. Tapi senyumnya kembali meracuniku. Dia merajuk, memohon perhatian bahkan meminta maaf. Parahnya ucapan manis itu kembali terucap.

“Aku sayang kamu.” Katanya. Aku hanya memandangi wajah cantiknya. Seperti biasa, saat aku memainkan gitarku, duduk di bawah sinar bulan. Maka dia akan bersandar di bahuku. Manja. Aku meliriknya, senyumnya manis. Rambut panjangnya tergerai indah. Terus dan terus tersenyum tanpa rasa bersalah, seolah meredam luka yang baru saja dia berikan. Aku memang selalu mencintainya. Dan aku rasa memang tak perlu sebuah status.

*****
by : Icha Mamusu


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546

GADIS SENJA


Gadis Senja berjalan mengukur tapak
Menelusuri kerikil-kerikil kehidupan
Hening tanpa suara, bungkam tanpa harap
Berjalan dengan telanjang kaki


Mengembangkan payung-payung asa
Menolak rerintik yang bersiap turun (takdir)
Menatap haru hilannya sang surya
Kosong, hampa dengan sedikit sesak

Kepalsuan menjamah sisi kemanusiaan
Menelanjangi kodrat malu yang ada
Menuangkan racun ke dalam cawan
Seolah sejuk, tenang dan menyegarkan

Gadis Senja merenung menatap sayu
Ada lentera yang hampir padam (nyawanya)
Remang, gelap dan malam pun tiba
Selamat tinggal, ia berucap lirih

Inilah sisi kegelapan cermin nelangsa
Gadis Senja telah berlumur darah
Jantungnya tertembus peluru keterpaksaan
Raganya mati, jiwanya pergi


by : Icha Mamusu 

Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546

DEMI RAKYAT, KAMI??



Sorak-sorak instruksi pakai otot
Koar-koar emosi pakai hati
Elus dahi, hey yang di sana kenapa otoriter?
Elus dada, salah siapa di sana lupa tatib!
Caci maki sampah melumer
Haus cerca tumpah mengendap di ubun-ubun
Instruksi di tolak, sakitnya tuh di sini!
Wooy diam kau penyampai opini!
Satu persatulah jika bicara
Mana paluku, hilang di embat si jail
Mau pakai apa kuketok sidang ini?
Kejernihan terkuras mengolah konflik
Panas menyulut larut yang kantuk
Perlukah kupinjam tatakramamu?
Demi kuketok tiga kali kepalamu
Biar, biar usai sidang di neraka paripurna
Dan kutidur tanpa pikirkan rakyat
Tapi apalah daya mulut berbusa
Kita ini wakil rakyat yang digantungi nasib
Sumpah telah terucap atas nama Sang Pencipta
Tak boleh dusta melumat simpati
Tak boleh kuasa sejajar nafsu birahi
Oooh rakyat, maafkanlah para wakilmu
Sidang kami bak dagelan membuat terpingkal
Tapi demi Negara kami terpaksa ribut
Demi kuasa kami rela politik dendam
Dan kemudian demi rakyat, kami??

by : Icha Mamusu


Simak juga puisi dan lembaran cerita yang lainnya di http://soearaperempoean.blogspot.com/ atau buka di fanspage https://www.facebook.com/pages/Soeara-Perempoean/474156479396546