BUKAN
AKU TAK SAYANG
Akhirnya semua masakan sudah
siap, tinggal aku hidangkan di meja makan. Tok, tok tok!! suara orang mengetuk
pintu rumahku. Aku pun bergegas membukakan pintu. Cukup terkejut karena yang
datang adalah Vanya, mantan pacar suamiku dulu. Senyumku serasa pudar tapi aku
masih mencoba ramah.
“Assalamu’allaikum, Arum.”
Katanya tersenyum ramah.
“Wa’allaikumsalam, silakan
masuk.” Aku mempersilakan Vanya masuk dan duduk.
“Maaf aku mengganggu. Aku ke
sini mau minta bantuan sama Mas Zen.” Katanya menjelaskan.
“Bantuan apa?” tanyaku
penasaran.
Belum sempat Vanya menjawab,
Mas Zen sudah menyusul ke ruang tamu. “Siapa
yang datang Bunda?” tanyanya. Aku
menatap mata Mas Zen yang juga kaget dengan kedatangan Vanya. Mas Zen juga
langsung diam. Aku memang selalu tidak suka dengan Vanya. Dari dulu sejak aku
pacaran dengan Mas Zen, aku selalu meributkan tentang Vanya. Bagaimana tidak,
dia pacar pertama Mas Zen.
Mereka putus karena hubungan
mereka tidak direstui oleh orangtua Mas Zen. Dan dari dulu juga, Vanya terus berusaha
mengejar Mas Zen. Tapi sekarang entahlah. Kami juga sudah lama tidak bertemu
dan tidak pernah lagi berkomunikasi. Tapi kali ini tiba-tiba saja dia datang
kembali.
“Biar
aku buatkan teh untuk kalian.” Kataku langsung bergegas ke
dapur. Suamiku berbicara dengan Vanya.
Rasanya wajahku sudah pucat. Ada suatu bongkahan besar yang menghantam hatiku.
Sungguh rasanya aku kembali cemburu. Ya Allah, aku tidak boleh membuat Mas Zen
jengkel dengan rasa cemburuku yang selalu menyebalkan.
Lima menit aku kembali,
membawa dua cangkir teh untuk mereka. Vanya masih tersenyum ramah, aku
membalasnya dengan senyuman yang sedikit kecut. Entahlah, rasanya susah menolak
rasa tidak sukaku terhadap Vanya.
“Arum, usia kandunganmu
sudah berapa bulan?” tanyanya perhatian.
“7 bulan.” Jawabku pendek.
“Waaahh, kita sudah lama ya
tidak bertemu. Aku ikut senang kalian bisa bahagia. Bahkan sebentar lagi kalian
akan dikaruniai seorang anak. Kau beruntung Rum, bisa diperistri oleh Mas Zen.
Aku saja bahagia waktu dulu kami masih pacaran. Andai saja aku bisa beruntung
sepertimu Rum.” Kata Vanya.
Aku terdiam tak bisa berkata
lagi. Yang ada dipikiranku, apakah Vanya tidak punya perasaaan atau pura-pura
tidak tahu. Harusnya dia tahu aku tidak suka jika dia menyinggung masa lalunya
dulu dengan Mas Zen. Mukaku serasa sudah merah padam.
“Oh iya, jadi intinya Minggu
depan kau meminta bantuanku untuk menjadi EO di acara Kakakmu? Baiklah, mungkin
aku akan minta temanku untuk ikut membantu.” Kata Mas Zen mencairkan suasana.
“Iya. Baiklah aku masih ada
keperluan lain. Cukup itu saja. Maaf mengganggu waktu kalian berdua. Aku
permisi dulu ya. Assalamu’allaikum.” Kata Vanya, kemudian bergegas pulang.
*****
Aku kembali ke dapur
menyiapkan makan siang yang tertunda tadi. Pikiranku masih saja absurd. Mas Zen
sudah duduk di meja makan. Aku buru-buru menyiapkan piring untuknya. Perasaanku
jadi setengah emosi hingga saat aku menyiapkan piring untuk mas Zen jadi agak gaduh. “Bunda kenapa jadi kasar nyiapin makanannya.
Pelan-pelan nanti pada pecah piringnya.” Kata Mas Zen.
Aku masih diam dan tidak
menjawab. Aku kembali ke dapur menyiapkan minuman untuk Mas Zen. “Bunda marah sama Abi?” Tanya Mas Zen. “Bunda nggak marah. Abi makan saja.” Kataku
berlalu membiarkan Mas Zen makan siang sendiri. Entahlah rasanya aku jadi
tidak selera makan. Ya Allah, kenapa mataku jadi berkaca-kaca. “Bunda mau ke mana, nggak makan?” Tanya
Mas Zen lagi. Aku tidak menjawab dan langsung masuk ke kamar.
Ya Allah, aku menangis hanya
karena sesuatu yang sudah lalu. Maaf Abi, Bunda mengulanginya lagi. Sebenarnya
apakah salah perasaan cemburu ada? Aku tahu dalam mahligai rumah tangga memang
harus ada kepercayaan. Aku tahu Abi setia padaku. Tapi aku hanya takut dan
tidak suka saja ada seorang wanita di masa lalumu yang kembali menghubungimu.
Mas Zen masuk ke kamar
membawakanku sepiring nasi dan menyuruhku makan. Aku buru-buru mengusap
airmataku. “Bunda makan dulu. Kasihan
dedeknya. Abi suapin ya?” kata Mas Zen duduk di sampingku. Aku menatapnya
dan berkata agak ketus “Bunda belum lapar Abi.” Mas Zen masih
sabar dan terus membujukku untuk makan. “Tapi kasihan dedeknya, Bunda harus makan
biar dedeknya sehat.” Kata Mas Zen lembut.
Aku malah menangis. Tak bisa
menahan air mataku. Mas Zen meletakkan piring di atas meja dan menggenggam
tanganku. Dia juga mengusap air mataku. Aku tahu Mas Zen sudah merasa jika aku
cemburu pada Vanya. Maklum saja itu adalah sifat burukku yang selalu aku
ulang-ulang.
“Bunda cemburu?” Tanya Mas
Zen.
“Maaf Abi. Bunda nggak bisa
nahan perasaan itu. Bunda tahu Abi pasti nggak suka kalau Bunda cemburu. Abi
boleh marah sama Bunda.” Kataku sambil terisak.
“Bunda, Abi kan sudah bilang
hanya Bunda yang ada di hati Abi. Bunda nggak usah mikir yang macam-macam. Ada
hal lain yang harus kita pikirkan daripada memikirkan yang sudah lalu.” Kata
Mas Zen.
Aku masih diam malah tambah terisak.
“Lalu kenapa Abi sama sekali
tidak pernah cemburu? Kenapa hanya Bunda yang punya rasa cemburu? Apa salah
jika seorang wanita cemburu?”
“Untuk apa Abi cemburu kalau
Abi sendiri percaya pada Bunda.” Kata Mas Zen berlalu meninggalkanku sendiri.
*****
Sore ini Mas Zen sibuk
menjadi EO di acara Vanya. Rasanya aku ingin ikut menyusul. Ya Allah
pikiran-pikiran absurd itu kenapa harus kembali muncul. Aku memilih untuk meneruskan
pekerjaan menulisku. Berdiam di kamar dan duduk di meja kerjaku. Menunggu Mas
Zen pulang. Suara dering handphone berbunyi. Aku melihat ke sudut meja.
Ternyata itu handphone Mas Zen yang ketinggalan. Aku mengangkat teleponnya.
“Halo?”
“Halo.”
“Siapa?” tanyaku
“Owh, ini Arum ya. Maaf aku
kira Mas Zen tadi bawa handphonenya.”
“Vanya? Handphonenya Mas Zen
ketinggalan.”
“Ya sudah, tadinya aku mau
mengajaknya beristirahat dan sekalian makan bersama. Ya sudah Rum.
Assalamu’allaikum.” Katanya langsung menutup telepon.
“Wa’allaikumsalam.”
Apa? Makan bersama. Apa
hanya berdua saja? Perasaanku makin kalut. Aku kembali ke meja kerjaku. Menulis
meneruskan proyek novel baruku. Kursor masih berkedip-kedip. Aku berpikir
sejenak kemudian mulai menulis.
Novel : Suara, Arum--
16 Juni 2014
*****
Di bawah kelabu yang mendung aku mengurai
kata. Masihkah ada rasa sayang yang selalu kau tuang dalam dahaga rinduku.
Menjadikannya saksi bisu dalam kisah yang kita jalin. Aku tak mengerti mengapa
hanya aku sebagai wanita yang merasakan kacaunya rasa semu yang kusebut
cemburu. Sementara engkau lebih bersikap indah dengan logikamu.
Pernah terpikir, apakah tidak kau
merasa aneh? Kadang aku bertanya, apakah jika kau tak pernah merasa cemburu itu
karena kau tak sayang? Sungguh maafkan aku. Mungkin kau juga punya alasan lain.
Dan sama sepertimu, aku pun juga punya alasan mengapa aku cemburu. Itu semua
karena aku takut kehilanganmu dan bukan berusaha untuk melunturkan rasa
percayaku padamu.
Mendadak perutku terasa
sakit. Aku menahan dan merintih. Ya Allah, hamba hanya sendiri di rumah. Lindungi
hamba Ya Allah. Aku terus memegang perutku. Berusaha menarik tubuhku untuk
melangkah dan merebahkan badanku di atas kasur yang ada di depan meja kerjaku. Aku
meraih handphoneku hendak menelpon Mas Zen. Tapi aku segera sadar, Mas Zen
tidak membawa handphonenya. Aku mencari nomor Mas Adi teman Mas Zen yang juga
ikut menjadi EO di acara Vanya.
Aku menelponnya dan
memintanya untuk memberi tahu Mas Zen. Tapi katanya Mas Zen sedang pergi membeli
peralatan yang kurang bersama Vanya untuk menambah dekorasi. Aku menangis
menahan sakit. Abi, kamu di mana? Cepatlah pulang, aaarrgg sakit Ya Allah.
Astagfirullah, kuatkan aku Ya Allah.
Aku tak tahu apa yang
terjadi setelah itu. Kepalaku pusing dan pendanganku mulai remang-remang.
Tubuhku lemas dan perutku makin sakit. Mataku tiba-tiba terpejam dan semua
gelap.
*****
Lima belas menit kemudian
aku tersadar dan sudah ada Mas Zen dan juga Dokter Lina di sampingku. Kepalaku
masih pusing tapi perutku sudah tidak sakit lagi.
“Bagaimana keadaaan istri
saya Dok?” Tanya Mas Zen.
“Sudah membaik Pak. Oh iya
sebisa mungkin jangan biarkan Bu Arum berpikir terlalu berat. Itu dapat
menjadikan pikirannya stress sehingga memicu kontraksi pada kandungannya.” Kata
Dokter Lina.
“Baik Bu. Terima Kasih.”
“Iya saya permisi dulu ya
Pak. Bu Arum Istirahat yang cukup.”
Aku hanya menganggukkan
kepala. Mas Zen dengan sigap mengambilkan aku air putih dan membantuku untuk
minum. Aku masih agak lemas.
“Bunda nggak apa-apa? Masih
sakit nggak?” kata Mas Zen.
Aku masih diam tidak
menjawab. Entahlah rasanya agak kecewa. Aku mengusap wajah lelahku. Kembali
mengenakan jilbabku dan mengganjal punggungku dengan bantal.
“Biar Abi buka kordennya ya,
biar udaranya masuk dan Bunda nggak sesak.” Kata Mas Zen.
“Nggak usah Abi.” Jawabku
pendek.
“Maafin Abi tadi lupa bawa
handphone. Abi teledor.” Kata Mas Zen menyesal.
Mas Zen mengusap perutku.
Wajahnya terlihat begitu khawatir dengan keadaanku dan juga kandunganku.
“Abi tadi pergi sama Vanya?”
aku mulai menanyakan hal itu.
“Iya, soalnya tadi ada peralatan
yang kurang. Tapi kami tidak berdua Bunda. Kami pergi bertiga dengan Papa
Vanya.”
“Reuni kenangan lama dong.”
Jawabku ketus.
“Bundaaaa, sudahlah. Abi dan
Vanya tidak ada hubungan apa-apa. Bunda jangan memulai perdebatan lagi.” Kata
Mas Zen sedikit lelah menanggapi sikapku.
“Iya, Bunda emang nggak pernah
bisa mengerti. Hanya bisa cemburu pada Abi. Beda dengan Abi yang tidak pernah
cemburu. Ya, mau cemburu dengan siapa tak akan ada yang berani macam-macam sama
Bunda.” Kataku mulai emosi.
“Bunda!! Jangan buat
kesetiaan Abi sia-sia. Abi sudah bilang berkali-kali. Percayalah sama Abi. Kita
ini sudah hidup bersama.” Kata Mas Zen dengan nada sedikit meninggi.
Mataku mulai berkaca-kaca
hendak menangis. Aku menatap wajah kecewa Mas Zen. Tapi dia masih menatapku
penuh kesabaran.
“Abi, Bunda bukan tidak
percaya sama Abi. Bunda hanya takut ada yang mencoba mengganggu Abi dan
akhirnya…………..” kataku terputus.
“Jangan berpikir hal-hal
yang belum tentu terjadi. Bunda, Abi sayang sama Bunda. Sebaiknya Bunda
istirahat saja.” Kata Mas Zen berlalu meninggalkanku sendiri.
Aku benar-benar menangis.
Kembali berbaring. Apakah aku salah jika cemburu? Ya Allah bukan maksud hamba
membuat suami hamba kesal. Tapi perasaan itu bukankah alami perasaan seorang
wanita? Maafkan Bunda, Abi.
*****
Pukul 02.10 aku terbagun
dari tidurku. Mas Zen tidak ada di sampingku. Rupanya dia sedang salat Tahajud.
Aku mencoba menyandarkan tubuhku yang terasa berat.
“Ya Allah Ya Rab. Berikanlah
kami senantiasa ketenangan hati. Jagalah selalu istri hamba dan anak yang ada
di dalam kandungannya. Ya Allah yang Maha Sempurna, berikanlah hamba kesabaran
dalam membimbing istri hamba. Jadikanlah hamba imam yang bisa mengantar
keluarga hamba menuju surgaMu. Jadikanlah pula istri hamba menjadi wanita yang
sholehah dan juga ibu yang baik bagi anak-anak kami.
Ya Allah Ya Rab, manakala
istri hamba bertanya mengapa hamba tidak pernah merasa cemburu padanya. Sungguh
bukan karena hamba tidak sayang, melainkan karena hamba begitu sayang dan
percaya akan kesetiaannya. Lindungilah keluarga hamba Ya Allah. Jauhkan kami
dari sesuatu yang dapat merusak keutuhan keluarga kami. Jadikanlah kami
senantiasa menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Amiiinn.”
Hatiku begitu sesak
mendengar doanya. Ya Allah, maafkan hamba. Abi maafkan Bunda, tak seharusnya
Bunda cemburu.
“Abi, maafin Bunda.” Kataku
lirih.
Mas Zen menoleh padaku.
Kemudian berdiri dan duduk di sampingku. Dia membelai wajahku lembut dengan
penuh kasih sayang.
“Bunda. Nggak usah minta
maaf. Bunda nggak salah.” Kata Mas Zen.
“Tapi Bunda mengulangi kesalahan
Bunda lagi. Padahal Abi sudah berkali-kali menasihati Bunda. Maaf Abi.” Kataku
menangis sambil memeluknya.
“Bunda, Abi sungguh sayang
Bunda. Hanya bunda yang ada di hati Abi. Yakinlah.” Kata Mas Zen mencium
keningku.
“Iya,Bunda juga sayang Abi.”
Kataku kemudian mencium tangannya.
“Jadi Bunda ngerti kan? Abi
tidak pernah cemburu bukan karena Abi tak sayang. Tapi karena Abi percaya sama
istri Abi.” Kata Mas Zen tersenyum manis.
Aku benar-benar malu
rasanya. Harusnya aku tidak seperti itu. Vanya hanyalah masa lalu suamiku. Dan
aku adalah masa depannya. Berkali-kali Mas Zen berkata seperti itu dan aku
tidak boleh membuatnya sedih lagi karena rasa cemburuku yang menjengkelkan.
Maafkan aku Mas.
Mas Zen tersenyum sangat
manis dan mengusap perutku. “Dedek,
jangan nakal ya di dalam. Kasihan Bunda kalau kamu nakal. Abi sayang sama Dedek
dan Bunda.” Dia juga mendekatkan kepalanya ke perutku kemudian melantunkan
Shalawat. Rasanya ada air yang mau menetes dari sudut mataku. Aku begitu
terharu. Aku mencintaimu Mas. Mas Zen kembali menatap mataku dengan penuh kasih
sayang.
*****
By
: Icha Mamusu
--17
Juni 2014








0 comments:
Post a Comment