Wednesday, 18 June 2014

CERPEN BUKAN AKU TAK SAYANG



BUKAN AKU TAK SAYANG

Akhirnya semua masakan sudah siap, tinggal aku hidangkan di meja makan. Tok, tok tok!! suara orang mengetuk pintu rumahku. Aku pun bergegas membukakan pintu. Cukup terkejut karena yang datang adalah Vanya, mantan pacar suamiku dulu. Senyumku serasa pudar tapi aku masih mencoba ramah.
“Assalamu’allaikum, Arum.” Katanya tersenyum ramah.
“Wa’allaikumsalam, silakan masuk.” Aku mempersilakan Vanya masuk dan duduk.
“Maaf aku mengganggu. Aku ke sini mau minta bantuan sama Mas Zen.” Katanya menjelaskan.
“Bantuan apa?” tanyaku penasaran.
Belum sempat Vanya menjawab, Mas Zen sudah menyusul ke ruang tamu. “Siapa yang datang Bunda?” tanyanya. Aku menatap mata Mas Zen yang juga kaget dengan kedatangan Vanya. Mas Zen juga langsung diam. Aku memang selalu tidak suka dengan Vanya. Dari dulu sejak aku pacaran dengan Mas Zen, aku selalu meributkan tentang Vanya. Bagaimana tidak, dia pacar pertama Mas Zen.
Mereka putus karena hubungan mereka tidak direstui oleh orangtua Mas Zen.  Dan dari dulu juga, Vanya terus berusaha mengejar Mas Zen. Tapi sekarang entahlah. Kami juga sudah lama tidak bertemu dan tidak pernah lagi berkomunikasi. Tapi kali ini tiba-tiba saja dia datang kembali.
“Biar aku buatkan teh untuk kalian.” Kataku langsung bergegas ke dapur.  Suamiku berbicara dengan Vanya. Rasanya wajahku sudah pucat. Ada suatu bongkahan besar yang menghantam hatiku. Sungguh rasanya aku kembali cemburu. Ya Allah, aku tidak boleh membuat Mas Zen jengkel dengan rasa cemburuku yang selalu menyebalkan.
Lima menit aku kembali, membawa dua cangkir teh untuk mereka. Vanya masih tersenyum ramah, aku membalasnya dengan senyuman yang sedikit kecut. Entahlah, rasanya susah menolak rasa tidak sukaku terhadap Vanya.
“Arum, usia kandunganmu sudah berapa bulan?” tanyanya perhatian.
“7 bulan.” Jawabku pendek.
“Waaahh, kita sudah lama ya tidak bertemu. Aku ikut senang kalian bisa bahagia. Bahkan sebentar lagi kalian akan dikaruniai seorang anak. Kau beruntung Rum, bisa diperistri oleh Mas Zen. Aku saja bahagia waktu dulu kami masih pacaran. Andai saja aku bisa beruntung sepertimu Rum.” Kata Vanya.
Aku terdiam tak bisa berkata lagi. Yang ada dipikiranku, apakah Vanya tidak punya perasaaan atau pura-pura tidak tahu. Harusnya dia tahu aku tidak suka jika dia menyinggung masa lalunya dulu dengan Mas Zen. Mukaku serasa sudah merah padam.
“Oh iya, jadi intinya Minggu depan kau meminta bantuanku untuk menjadi EO di acara Kakakmu? Baiklah, mungkin aku akan minta temanku untuk ikut membantu.” Kata Mas Zen mencairkan suasana.
“Iya. Baiklah aku masih ada keperluan lain. Cukup itu saja. Maaf mengganggu waktu kalian berdua. Aku permisi dulu ya. Assalamu’allaikum.” Kata Vanya, kemudian bergegas  pulang.

*****
Aku kembali ke dapur menyiapkan makan siang yang tertunda tadi. Pikiranku masih saja absurd. Mas Zen sudah duduk di meja makan. Aku buru-buru menyiapkan piring untuknya. Perasaanku jadi setengah emosi hingga saat aku menyiapkan piring  untuk mas Zen jadi agak gaduh. “Bunda kenapa jadi kasar nyiapin makanannya. Pelan-pelan nanti pada pecah piringnya.” Kata Mas Zen.
Aku masih diam dan tidak menjawab. Aku kembali ke dapur menyiapkan minuman untuk Mas Zen. “Bunda marah sama Abi?” Tanya Mas Zen. “Bunda nggak marah. Abi makan saja.” Kataku berlalu membiarkan Mas Zen makan siang sendiri. Entahlah rasanya aku jadi tidak selera makan. Ya Allah, kenapa mataku jadi berkaca-kaca. “Bunda mau ke mana, nggak makan?” Tanya Mas Zen lagi. Aku tidak menjawab dan langsung masuk ke kamar.
Ya Allah, aku menangis hanya karena sesuatu yang sudah lalu. Maaf Abi, Bunda mengulanginya lagi. Sebenarnya apakah salah perasaan cemburu ada? Aku tahu dalam mahligai rumah tangga memang harus ada kepercayaan. Aku tahu Abi setia padaku. Tapi aku hanya takut dan tidak suka saja ada seorang wanita di masa lalumu yang kembali menghubungimu.
Mas Zen masuk ke kamar membawakanku sepiring nasi dan menyuruhku makan. Aku buru-buru mengusap airmataku. “Bunda makan dulu. Kasihan dedeknya. Abi suapin ya?” kata Mas Zen duduk di sampingku. Aku menatapnya dan berkata agak ketus  “Bunda belum lapar Abi.” Mas Zen masih sabar dan terus membujukku untuk makan. Tapi kasihan dedeknya, Bunda harus makan biar dedeknya sehat.” Kata Mas Zen lembut.
Aku malah menangis. Tak bisa menahan air mataku. Mas Zen meletakkan piring di atas meja dan menggenggam tanganku. Dia juga mengusap air mataku. Aku tahu Mas Zen sudah merasa jika aku cemburu pada Vanya. Maklum saja itu adalah sifat burukku yang selalu aku ulang-ulang.
“Bunda cemburu?” Tanya Mas Zen.
“Maaf Abi. Bunda nggak bisa nahan perasaan itu. Bunda tahu Abi pasti nggak suka kalau Bunda cemburu. Abi boleh marah sama Bunda.” Kataku sambil terisak.
“Bunda, Abi kan sudah bilang hanya Bunda yang ada di hati Abi. Bunda nggak usah mikir yang macam-macam. Ada hal lain yang harus kita pikirkan daripada memikirkan yang sudah lalu.” Kata Mas Zen.
Aku masih diam malah tambah terisak.
“Lalu kenapa Abi sama sekali tidak pernah cemburu? Kenapa hanya Bunda yang punya rasa cemburu? Apa salah jika seorang wanita cemburu?”
“Untuk apa Abi cemburu kalau Abi sendiri percaya pada Bunda.” Kata Mas Zen berlalu meninggalkanku sendiri.

*****
Sore ini Mas Zen sibuk menjadi EO di acara Vanya. Rasanya aku ingin ikut menyusul. Ya Allah pikiran-pikiran absurd itu kenapa harus kembali muncul. Aku memilih untuk meneruskan pekerjaan menulisku. Berdiam di kamar dan duduk di meja kerjaku. Menunggu Mas Zen pulang. Suara dering handphone berbunyi. Aku melihat ke sudut meja. Ternyata itu handphone Mas Zen yang ketinggalan. Aku mengangkat teleponnya.
“Halo?”
“Halo.”
“Siapa?” tanyaku
“Owh, ini Arum ya. Maaf aku kira Mas Zen tadi bawa handphonenya.”
“Vanya? Handphonenya Mas Zen ketinggalan.”
“Ya sudah, tadinya aku mau mengajaknya beristirahat dan sekalian makan bersama. Ya sudah Rum. Assalamu’allaikum.” Katanya langsung menutup telepon.
“Wa’allaikumsalam.”
Apa? Makan bersama. Apa hanya berdua saja? Perasaanku makin kalut. Aku kembali ke meja kerjaku. Menulis meneruskan proyek novel baruku. Kursor masih berkedip-kedip. Aku berpikir sejenak kemudian mulai menulis.

Novel : Suara, Arum--
16 Juni 2014

*****
Di bawah kelabu yang mendung aku mengurai kata. Masihkah ada rasa sayang yang selalu kau tuang dalam dahaga rinduku. Menjadikannya saksi bisu dalam kisah yang kita jalin. Aku tak mengerti mengapa hanya aku sebagai wanita yang merasakan kacaunya rasa semu yang kusebut cemburu. Sementara engkau lebih bersikap indah dengan logikamu.
Pernah terpikir, apakah tidak kau merasa aneh? Kadang aku bertanya, apakah jika kau tak pernah merasa cemburu itu karena kau tak sayang? Sungguh maafkan aku. Mungkin kau juga punya alasan lain. Dan sama sepertimu, aku pun juga punya alasan mengapa aku cemburu. Itu semua karena aku takut kehilanganmu dan bukan berusaha untuk melunturkan rasa percayaku padamu.

Mendadak perutku terasa sakit. Aku menahan dan merintih. Ya Allah, hamba hanya sendiri di rumah. Lindungi hamba Ya Allah. Aku terus memegang perutku. Berusaha menarik tubuhku untuk melangkah dan merebahkan badanku di atas kasur yang ada di depan meja kerjaku. Aku meraih handphoneku hendak menelpon Mas Zen. Tapi aku segera sadar, Mas Zen tidak membawa handphonenya. Aku mencari nomor Mas Adi teman Mas Zen yang juga ikut menjadi EO di acara Vanya.
Aku menelponnya dan memintanya untuk memberi tahu Mas Zen. Tapi katanya Mas Zen sedang pergi membeli peralatan yang kurang bersama Vanya untuk menambah dekorasi. Aku menangis menahan sakit. Abi, kamu di mana? Cepatlah pulang, aaarrgg sakit Ya Allah. Astagfirullah,  kuatkan aku Ya Allah.
Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Kepalaku pusing dan pendanganku mulai remang-remang. Tubuhku lemas dan perutku makin sakit. Mataku tiba-tiba terpejam dan semua gelap.

*****
Lima belas menit kemudian aku tersadar dan sudah ada Mas Zen dan juga Dokter Lina di sampingku. Kepalaku masih pusing tapi perutku sudah tidak sakit lagi.
“Bagaimana keadaaan istri saya Dok?” Tanya Mas Zen.
“Sudah membaik Pak. Oh iya sebisa mungkin jangan biarkan Bu Arum berpikir terlalu berat. Itu dapat menjadikan pikirannya stress sehingga memicu kontraksi pada kandungannya.” Kata Dokter Lina.
“Baik Bu. Terima Kasih.”
“Iya saya permisi dulu ya Pak. Bu Arum Istirahat yang cukup.”
Aku hanya menganggukkan kepala. Mas Zen dengan sigap mengambilkan aku air putih dan membantuku untuk minum.  Aku masih agak lemas.
“Bunda nggak apa-apa? Masih sakit nggak?” kata Mas Zen.
Aku masih diam tidak menjawab. Entahlah rasanya agak kecewa. Aku mengusap wajah lelahku. Kembali mengenakan jilbabku dan mengganjal punggungku dengan bantal.
“Biar Abi buka kordennya ya, biar udaranya masuk dan Bunda nggak sesak.” Kata Mas Zen.
“Nggak usah Abi.” Jawabku pendek.
“Maafin Abi tadi lupa bawa handphone. Abi teledor.” Kata Mas Zen menyesal.
Mas Zen mengusap perutku. Wajahnya terlihat begitu khawatir dengan keadaanku dan juga kandunganku.
“Abi tadi pergi sama Vanya?” aku mulai menanyakan hal itu.
“Iya, soalnya tadi ada peralatan yang kurang. Tapi kami tidak berdua Bunda. Kami pergi bertiga dengan Papa Vanya.”
“Reuni kenangan lama dong.” Jawabku ketus.
“Bundaaaa, sudahlah. Abi dan Vanya tidak ada hubungan apa-apa. Bunda jangan memulai perdebatan lagi.” Kata Mas Zen sedikit lelah menanggapi sikapku.
“Iya, Bunda emang nggak pernah bisa mengerti. Hanya bisa cemburu pada Abi. Beda dengan Abi yang tidak pernah cemburu. Ya, mau cemburu dengan siapa tak akan ada yang berani macam-macam sama Bunda.” Kataku mulai emosi.
“Bunda!! Jangan buat kesetiaan Abi sia-sia. Abi sudah bilang berkali-kali. Percayalah sama Abi. Kita ini sudah hidup bersama.” Kata Mas Zen dengan nada sedikit meninggi.
Mataku mulai berkaca-kaca hendak menangis. Aku menatap wajah kecewa Mas Zen. Tapi dia masih menatapku penuh kesabaran.
“Abi, Bunda bukan tidak percaya sama Abi. Bunda hanya takut ada yang mencoba mengganggu Abi dan akhirnya…………..”  kataku terputus.
“Jangan berpikir hal-hal yang belum tentu terjadi. Bunda, Abi sayang sama Bunda. Sebaiknya Bunda istirahat saja.” Kata Mas Zen berlalu meninggalkanku sendiri.
Aku benar-benar menangis. Kembali berbaring. Apakah aku salah jika cemburu? Ya Allah bukan maksud hamba membuat suami hamba kesal. Tapi perasaan itu bukankah alami perasaan seorang wanita? Maafkan Bunda, Abi.

*****
Pukul 02.10 aku terbagun dari tidurku. Mas Zen tidak ada di sampingku. Rupanya dia sedang salat Tahajud. Aku mencoba menyandarkan tubuhku yang terasa berat.

“Ya Allah Ya Rab. Berikanlah kami senantiasa ketenangan hati. Jagalah selalu istri hamba dan anak yang ada di dalam kandungannya. Ya Allah yang Maha Sempurna, berikanlah hamba kesabaran dalam membimbing istri hamba. Jadikanlah hamba imam yang bisa mengantar keluarga hamba menuju surgaMu. Jadikanlah pula istri hamba menjadi wanita yang sholehah dan juga ibu yang baik bagi anak-anak kami.
Ya Allah Ya Rab, manakala istri hamba bertanya mengapa hamba tidak pernah merasa cemburu padanya. Sungguh bukan karena hamba tidak sayang, melainkan karena hamba begitu sayang dan percaya akan kesetiaannya. Lindungilah keluarga hamba Ya Allah. Jauhkan kami dari sesuatu yang dapat merusak keutuhan keluarga kami. Jadikanlah kami senantiasa menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Amiiinn.”

Hatiku begitu sesak mendengar doanya. Ya Allah, maafkan hamba. Abi maafkan Bunda, tak seharusnya Bunda cemburu.
“Abi, maafin Bunda.” Kataku lirih.
Mas Zen menoleh padaku. Kemudian berdiri dan duduk di sampingku. Dia membelai wajahku lembut dengan penuh kasih sayang.
“Bunda. Nggak usah minta maaf. Bunda nggak salah.” Kata Mas Zen.
“Tapi Bunda mengulangi kesalahan Bunda lagi. Padahal Abi sudah berkali-kali menasihati Bunda. Maaf Abi.” Kataku menangis sambil memeluknya.
“Bunda, Abi sungguh sayang Bunda. Hanya bunda yang ada di hati Abi. Yakinlah.” Kata Mas Zen mencium keningku.
“Iya,Bunda juga sayang Abi.” Kataku kemudian mencium tangannya.
“Jadi Bunda ngerti kan? Abi tidak pernah cemburu bukan karena Abi tak sayang. Tapi karena Abi percaya sama istri Abi.” Kata Mas Zen tersenyum manis.
Aku benar-benar malu rasanya. Harusnya aku tidak seperti itu. Vanya hanyalah masa lalu suamiku. Dan aku adalah masa depannya. Berkali-kali Mas Zen berkata seperti itu dan aku tidak boleh membuatnya sedih lagi karena rasa cemburuku yang menjengkelkan. Maafkan aku Mas.
Mas Zen tersenyum sangat manis dan mengusap perutku. “Dedek, jangan nakal ya di dalam. Kasihan Bunda kalau kamu nakal. Abi sayang sama Dedek dan Bunda.” Dia juga mendekatkan kepalanya ke perutku kemudian melantunkan Shalawat. Rasanya ada air yang mau menetes dari sudut mataku. Aku begitu terharu. Aku mencintaimu Mas. Mas Zen kembali menatap mataku dengan penuh kasih sayang.

*****

By : Icha Mamusu
--17 Juni 2014

0 comments:

Post a Comment