WARNA
Aku masih diam menatap
layar monitor dan kursor yang berkedip-kedip. Di luar hujan deras terus menghujam.
Mendung juga masih membungkus Kota. Seharian ini aku menghabiskan waktuku di
kamar. Menulis, meneruskan novelku. Lagu yang aku putar dari mp3 handphoneku
juga turut menemaniku. Aku memutar lagu milik Jason Mraz feat Colbie Caillat
yang berjudul Lucky. Lima menit hanya diam, kemudian kembali menulis dan melanjutkan ceritaku.
Cinta, kata itu banyak
kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Aku sendiri tidak tahu apa pengertian
tentang cinta. Aku hanya tahu itu sebuah rasa yang indah, anugerah dari Tuhan
di mana setiap insan yang merasakannya akan mendapati hidup yang lebih
berwarna. Seperti juga tema novel yang sedang aku tulis. Ini semua ide dari
sahabatku, aku hanya menuangkan idenya menjadi sebuah novel.
Waktu terus berjalan,
tak terasa aku sudah menulis 20 halaman A4 di Microsoft Word. Hmm, berarti sekarang
novelku sudah 120 halaman. Aku menghela napas dan beristirahat sebentar.
Meminum segelas coklat panas yang sedari tadi hanya terpajang di mejaku. Hujan
belum juga berhenti. Dingin. Aku berdiri dan mendekat ke jendela kamarku.
Menyibak korden dan melihat suasana di luar. Rasa-rasanya hujan memang selalu
romantis. Apalagi di waktu menjelang senja seperti ini.
Tok,
tok, tok, suara Adikku mengetuk pintu kamarku dan
memanggil-manggil namaku. “Kak Nia,, Kak Nia
ada Kak Warna di depan.” Aku membuka pintu. Menatapnya kaget sambil
mengerutkan dahi. “Apa, Warna di depan?”
kataku. Adikku hanya menganggukkan kepala membenarkan. Dengan segera aku menemuinya,
agak heran kenapa hujan-hujan begini dia malah datang ke rumah.
Benar saja, dia sudah
duduk di ruang keluarga dengan badan yang menggigil karena kehujanan. Aku membuatkannya
segelas cokelat panas lalu menyuruhnya minum agar badannya tidak tambah
kedinginan. Warna adalah sahabatku dari kecil. Menurutku dia adalah seorang
lelaki yang baik, tampan dan juga selalu ceria. Seperti namanya, Warna. “Ada apa hujan-hujan begini kamu datang?”
tanyaku penasaran. Warna masih asyik dengan segelas coklat panasnya.
Aku masih diam
menunggunya bicara. “Kamu jadi bertunangan
dengan Farhan, Nia?” tanyanya membuatku tercengang. Entah kenapa
pertanyaannya malah membuatku enggan untuk menjawab. Aku hanya tersenyum datar.
“Apa kamu marah dengan perkataanku waktu
itu?” Tanyanya lagi. Terang saja, beberapa waktu lalu Warna menyatakan
perasaanya padaku. Padahal kami sudah saling berjanji hanya akan menjadi
sahabat saja. Itu semua agar persahabatan yang sudah kami jalin bertahun-tahun
dari kecil tidak rusak hanya karena rasa cinta.
Sebenarnya aku juga
tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku bahagia saat menghabiskan waktu bersama
Warna. Aku sayang dengannya, tapi aku tahu mungkin itu karena kami sudah
bersahabat sejak kecil. Jadi wajar jika aku merasakan perasaan itu. Tapi Warna
selalu bilang kalau perasaanya sudah lain, perasaan itu menjelma menjadi lebih
saat kami beranjak dewasa bahkan sering bersama. Dan di sisi lain aku sudah
menjalin hubungan serius dengan Farhan kayawan Papa di kantor. Bahkan satu
bulan lagi kami akan bertunangan.
Aku tahu antara Aku dan
Warna sama-sama memiliki kecocokan. Warna juga merasa selalu sama denganku.
Entah itu dari hobi, kebiasaan, makanan, sampai apapun itu kita hampir selalu
mempunyai kesamaan. Dan itu semua membuat kita nyaman. Warna juga pernah bilang
kalau dari kesamaan itulah dia merasa cocok denganku. Bahkan rasa itu, yang
awalnya hanya sekadar rasa sayang kepada teman malah berubah menjadi rasa yang
lebih. Rasa yang indah. Yah, rasa yang selalu dia bilang itu cinta.
“Aku
tidak marah, hanya saja aku merasa aneh dengan kita. Kamu ingat kan janji kita,
Warna?” Kataku menjelaskan. Kami berdua menjadi canggung.
Bahkan sekarang hanya diam mematung tanpa sepatah katapun. Ya Tuhan, bukan ini
yang aku inginkan. Kenapa harus seperti ini hubungan persahabatan kami. Semua
hanya karena ucapan cinta dari Warna waktu itu. Televisi di depan kami juga
menyala sedari tadi, menayangkan berita yang entah apa beritanya. Mata kami hanya
menatap kosong acara di layar televisi.
Sudah hampir satu jam
kami duduk berdua di sini. Coklat panas yang kubuatkan untuknya, aku rasa juga
sudah dingin. Sedingin perasaan canggung kami. Di luar terdengar suara klakson
mobil. Adikku dengan sigap berlari dan menengok keluar. Ternyata Farhan datang.
Dia langsung masuk dan menyapa kami berdua. Adikku Kinan bahkan berlarian riang
sekali karena mendapatkan hadiah mainan dari Farhan. Aku tambah merasa tidak
enak pada Warna. Jelas saja, tanpa basa-basi Farhan langsung ikut bergabung
dengan kami. Aku tahu hal itu pasti membuat Warna menjadi semakin sakit. “Aku pulang dulu Nia.” Kata Warna
langsung bergegas keluar dan pergi. Aku hanya gelagapan melihat tingkah Warna.
Merasa bersalah. Maafkan aku Warna.
Hujan sudah berhenti
turun. Mendung juga mulai memudar, berganti senja yang orange begitu cantik.
Tapi tidak romantis seperti biasanya. Hatiku serasa kalut memikirkan bagaimana
perasaan Warna. Aku dan Farhan duduk dan saling berbincang tentang
pekerjaannya. Farhan juga membahas tentang pertunangan kami. Aku hanya
tersenyum menanggapi. Jujur saja saat ini aku tidak ingin membahasnya di tengah
situasiku dengan Warna yang makin kacau.
*****
Mentari
bersinar begitu semangat menghangatkan Kota. Hari-hari cepat berlalu. Itu
artinya pertunanganku tinggal beberapa hari lagi. Hari ini aku pergi ke pusat
perbelanjaan membeli semua kelengkapan acara bersama Farhan. Dia benar-benar
bahagia sekali. Tak sengaja juga saat kami ada di sebuah toko perhiasan untuk
membeli cincin, kami bertemu dengan Warna yang kebetulan lewat bersama Kakaknya.
Tapi dia langsung berlalu mengacuhan kami. Bahkan aku yang hendak menyapanya
jadi tak sempat karena begitu cepatnya dia pergi dan menghindari kami. Aku tahu
itu semua pasti karena waktu itu.
Usai
membeli semua perlengkapan kami bergegas pulang. Di dalam mobil Farhan asyik
bercerita tentang impian-impiannya seusai kami bertunangan. Aku hanya tersenyum
mendengarkan. Tiba-tiba saja Farhan bertanya sesuatu hal yang menurutku aneh. “Apa kamu mencintaiku Nia?” tanyanya
sambil sibuk mengemudi mobil. Aku mentatapnya heran.
“Iya aku sayang kamu.” Kataku
padanya.
“Kenapa kamu selalu
menjawabnya dengan sayang Nia. Kenapa tidak bilang saja, iya aku mencintaimu.”
Tanya Farhan.
“Bukankah itu sama
saja.” Kataku menjelaskan.
Suasana menjadi hening.
Hanya lagu yang diputar oleh Farhan yang menemani perjalanan kami pulang ke
rumah. Tiba-tiba aku memikirkan Warna, kenapa dia jadi seperti itu. Apa dia
sudah benar-benar tidak ingin bertemu denganku lagi. Aku membuka-buka foto di
handphoneku. Banyak sekali momen-momen foto yang aku simpan. Mulai dari fotoku
dengan keluarga, fotoku dengan Farhan dan beberapa lagi fotoku dengan Warna.
Tanganku berhenti untuk menekan tuts di handphoneku ketika melihat satu foto
saat ulang tahunku semasa SMA. Yah, fotoku dan Warna.
Tiba-tiba Farhan
meminggirkan mobil dan berhenti mendadak hingga membuat badanku terdorong ke
depan. Aku kaget, “Kenapa berhenti?”
tanyaku sambil mengernyitkan dahi. Dan tanpa aku duga, Farhan langsung mengambil
paksa handphoneku dan membuka file-file yang ada. “Apa yang kamu lakukan Farhan!!” tanpa sengaja aku membentaknya.
Dia menatapku dengan tatapan marah sambil menunjukkan foto Warna di depan mukaku.
“Aku
tidak ingin kamu berhubungan dengan Warna lagi Nia!!”
Katanya keras membentakku. Ya Tuhan, aku begitu kaget saat dia mngatakan itu
padaku. Apa salahnya, aku dan Warna hanya beteman. Dia sahabatku dari kecil.
Farhan juga tahu itu semua.
“Kamu
kenapa Farhan. Aku dan Warna itu sahabat dari kecil, bahkan kamu tahu
semuanya.” Kataku ikut emosi dengan kelakuannya.
“Tapi
aku kekasih kamu jadi aku berhak untuk mengatur kamu. Semua foto tentang Warna
sudah aku hapus dan aku tidak ingin kamu dekat dengannya lagi!!” Katanya begitu
marah.
Aku
hanya diam. Mataku mulai sembab ingin menangis. Kenapa dia tega menghapus semua
foto kenangan persahabatanku dengan Warna. Bahkan di situ juga ada momen-momen
saat kami masih kecil. Farhan mulai menatapku tidak tega dan mengembalikan
handphoneku. Ini sungguh keterlaluan. Aku hanya diam dan bahkan kini air mataku
mulai menetes.
“Maaafkan aku Nia, aku
terlalu emosi. Aku terlalu cemburu dengan hubungan persahabatan kalian yang
dekat.” Kata Farhan menyesal.
“Harusnya kamu tidak
melakukan itu. Bahkan sebentar lagi kita akan bertunangan. Untuk apa kamu
cemburu dan malah membuat masalah. Aku dan Warna hanya sahabat.” Kataku kecewa.
“Iya maafkan aku. Aku
takut kalian menjadi lebih.” Kata Farhan mengusap air mataku.
Kami melanjutkan
perjalanan pulang. Sepanjang jalan aku hanya diam. Memalingkan muka dan
menghadap ke kaca samping mobil. Bulir air itu kembali menetes dari sudut
mataku. Hari ini benar-benar membuatku jengkel. Kelakuan Farhan membuatku
kecewa.
*****
Sebulan berlalu,
undangan sudah disebarkan. Malam ini pun datang. Beberapa jam lagi aku akan
bertunangan dengan Farhan. Semua orang rumah sibuk mempersiapkan acara. Mulai
dari berdandan, dan mengatur letak-letak hidangan untuk tamu. Dekorasi ruangan
juga sudah siap, indah penuh dengan bunga-bunga cantik.
Aku terus melihat handphoneku.
Menunggu pesan atau telepon dari seseorang. Yah, Warna. Dia tidak pernah
menghubungiku lagi semenjak terakhir dia datang ke rumah. Aku jadi terpikir
apakah Warna akan datang ke acara pertunanganku? Aku sangat mengharapkan dia
datang sebagai sahabat baikku. Tapi di sisi lain aku rasa itu sungguh tidak
mungkin. Aku tahu Warna akan sakit melihat aku dan Farhan bertunangan.
Farhan, lelaki yang
baik, pintar, dan dewasa. Aku, juga mencintainya. Ah cinta?? Tiba-tiba hatiku
tidak yakin menyebut itu cinta. Tapi yang jelas aku menyayanginya dan nyaman
jika bersamanya. Aku tahu kita banyak perbedaan. Dia lebih tidak mau mengalah,
dan kadang egois. Jadi tak jarang aku yang harus ikut apa kemauannya. Tapi yang
namanya hubungan bukankah memang tak selalu ada kesamaan. Kata orang perbedaan
itu juga menyatukan kita.
Malam ini
bintang-bintang bertabur indah di langit gelap. Aku berdiri di balkon rumah,
menatap kerumunan orang di bawah yang sibuk mempersiapkan semuanya. Mama dan
Papa ramah menyambut tamu yang mulai berdatangan. Adikku Kinan sibuk menyapa
sepupu-sepupu yang lain. Imut sekali gadis kecil itu. Selalu ceria.
Aku kembali mendongak
ke atas menatap langit malam. Entah kenapa malam ini rasanya begitu murung.
Bukankah ini hari bahagia, tapii……..
“Kamu sedang apa Sayang?”
Tanya Farhan mengagetkanku.
“Hey, sejak kapan kamu
datang. Kok aku tidak tahu.” Kataku tersenyum.
Kami berdua sama-sama menikmati
suasana malam di atas balkon rumah. Menunggu acara pertunangan dimulai. Tamu-tamu makin
banyak berdatangan. Aku juga terus memperhatikan satu-persatu di balik
kerumunan orang-orang. Aku berharap Warna datang. Tanpa aku sadari sedari tadi
Farhan memperhatikanku yang terlihat sangat gelisah seperti menunggu atau
mencari-cari seseorang.
“Kamu menunggu Warna?”
Tanya Farhan mengejutkanku.
“Eh, tidak.” Aku
menggeleng dan tersenyum datar.
“Jangan bohong, aku
tahu kamu ingin dia datang. Sebenarnya antara kamu dan Warna itu ada hubungan
apa? Apa kalian…………” kata Farhan mulai mencurigaiku lagi.
“Kamu itu bicara apa.
Aku dan Warna hanya sahabat dari kecil. Dan kami……” kataku terhenti.
“Warna mencintaimu.” Kata
Farhan membuat hatiku tersentak.
Aku masih diam bingung
mau berkata apa. Bagaimana bisa Farhan punya pikiran seperti itu lagi. Farhan
menatap mataku dalam. Aku bahkan tidak berani menatapnya. Apakah Warna menceritakan
semuanya pada Farhan. Apa Farhan juga tahu kalau Warna pernah mengatakan
perasaannya padaku. Wajahku mungkin sudah terlihat pucat di depannya. Dan
sekarang Farhan mulai…… apa dia mulai kecewa padaku?
“Nia,
sebenarnya tanpa sepengetahuanmu aku diam-diam sudah menemui Warna. Aku tidak
bisa diam saja melihat orang yang aku cintai terus-terusan murung seperti ini
bahkan di hari bahagia kita.” Ya Tuhan, kenapa
Farhan melakukan itu, untuk apa? Aku diam mendengarkan penjelasannya. “Aku tahu kalau sebenarnya Warna mencintaimu.
Aku bahkan tahu dan mulai merasa sejak aku pertama mengenalmu. Tapi aku juga
tidak bisa menghapus perasaan yang terlanjur muncul untukmu. Aku juga
mencintaimu.” Apa yang dia bicarakan.
Aku harap ini semua
tidak mengganggu acara malam ini. Pertunangan ini adalah hal yang paling
diidam-idamkan keluarga kami. Jangan sampai ini semua membuat kebahagiaan
mereka pudar.
“Kamu bicara apa
Farhan. Tidak usah berpikir yang macam-macam. Bukankah ini hari bahagia kita?”
aku tersenyum mencoba mengalihkan pembicaraan yang semakin absurd ini.
“Aku yang salah Arum.
Aku yang menghancurkan semuanya. Bahkan berani memasuki kisahmu dan Warna.”
Kata Farhan membuatku makin tidak mengerti.
Aku semakin bingung.
Bahkan Farhan malah berkata seperti itu. Aku masih diam menatap wajahnya yang
penuh penyesalan. Untuk apa dia merasa seperti itu. Hubungan kami juga berjalan
atas dasar kemauan dari kami berdua. Aku juga menyayanginya. Tapi kenapa dia
harus merasa bersalah.
“Kalau kamu mau
membatalkan pertunangan ini tidak apa-apa Nia. Aku tidak ingin kamu menyesal.”
Kata Farhan tambah membuatku bingung.
“Aku semakin bingung
padamu Farhan, kenapa kamu harus merasa bersalah. Tidak ada yang salah dalam
hubungan ini.” Kataku padanya.
“Tidak!! Kemarin aku
menemui Warna dan memintanya untuk tidak lagi mengganggu kamu. Dan dia mau
untuk melakukannya, bahkan malam ini dia akan berangkat ke Malaysia menemui
Pamannya untuk tinggal di sana.” Kata Farhan menjelaskan.
Sontak penjelasan
Farhan membuatku kaget. Kenapa dia melakukan itu. Ya Tuhan, Warna akan pergi.
Bahkan di hari pertunanganku. “Temui dia Nia,
atau dia akan benar-benar pergi. Aku tahu kamu juga mencintainya, hanya saja
kamu takut untuk bilang bahwa perasaan itu benar cinta.” Kata Farhan
menyuruhku. Tapi bagaimana mungkin sebentar lagi acara dimulai. Aku tidak ingin
membuat mereka semua kecewa. “Tidak
Farhan, aku dan Warna hanya sahabat.” Kataku tegas.
“Apa
karena janji kalian lantas kalian tidak ingin merusak persahabatan hanya karena
cinta. Dan itu semua adalah pikiran yang salah. Kalau kalian benar-benar serius
pasti hubungan itu bisa jauh lebih indah. Tidak akan ada yang rusak. Aku yakin
kalian memang pantas bersama.” Kata Farhan membuatku
berpikir dan takut kehilangan Warna.
Ya Tuhan apa benar yang
dikatakan Farhan. Apa selama ini aku hanya takut hubunganku dan Warna rusak
hanya karena rasa cinta. Warna bahkan benar-benar mencintaiku tapi Farhan
bagaimana? Aku benar-benar pusing.
Cinta itu indah karena
jalinan kasih yang bukan berdasarkan rasa ego. Cinta juga bisa datang dan
muncul kapan saja, dari siapa saja. Termasuk dari sahabat kita sendiri. Tidak
ada salahnya aku dan Warna juga merasakan itu. Farhan panjang lebar menjelaskan
padaku. Bahkan dia bilang kalau dia sudah ikhlas aku lebih memilih Warna karena
bagaimanapun kami berhak untuk itu. Farhan bahkan meminta maaf telah berkata
pada Warna tentang sesuatu yang salah. Sesuatu yang benar-benar egois bahkan
menyuruh Warna pergi untuk selamanya dari hadapanku.
Mama menyuruh kami
berdua segera masuk karena acara akan dimulai. Ya Tuhan, apa yang harus aku
lakukan. Farhan hanya diam memperhatikanku. Acara dimulai dari sambutan Papa
dan Papa Farhan. Para tamu undangan terlihat begitu ikut bahagia. Keluarga kami
juga sangat bahagia sekali bahkan tak sabar menunggu acara tukar cincin.
Detik dan menit terus
berlalu. Farhan sudah memakaikan cincin di jari manisku. Dia menatapku dan
berkata lirih “Apa kamu akan
melanjutkannya Nia, 15 menit lagi Warna akan pergi.” Katanya membuatku
semakin tidak yakin dengan apa yang aku lakukan. Aku masih diam dan menatapnya
kosong.
Giliranku memakaikan
cincin ke jari manis Farhan, tapi tiba-tiba gerak tanganku berhenti. Farhan
menolaknya bahkan mulai berbicara tentang kejadian itu di hadapan semua tamu
undangan. Sontak mereka semua kaget dan bingung. Aku mulai menangis. “Temui Warna, Nia pergilah. Aku tidak
apa-apa.” Kata Farhan meyakinkanku.
Semua orang memandang
kami. Merasa bingung. Aku langsung berlari keluar meminta sopir mengantarkanku
menuju ke bandara. Selagi aku menyusul Warna, Farhan menjelaskan semua pada
keluarga dan tamu undangan. Dia juga menghubungiku lewat pesan kalau keadaan
sudah bisa teratasi.
Aku sedikit lega tapi
juga takut kalau Warna teranjur pergi. Akhirnya sampai bandara. Aku menyibak
kerumunan orang yang begitu ramai mencoba mencari di mana Warna. Ya Tuhan,
jangan biarkan dia pergi. Aku sungguh mencintainya. Maafkan aku Warna, aku baru menyadari kalau perasaan itu memang
benar ada. Maafkan aku yang terlalu takut untuk mengakuinya hanya karena janji
persahabatan masa lalu kita.
Seorang lelaki dengan
kemeja warna cokelat. Berperawakan mirip seperti Warna muncul sekilas di depan
mataku. Aku tersadar, ya Tuhan itu Warna. Aku berteriak memanggilnya. Dia
menoleh dan ikut kaget dengan kedatanganku. Aku langsung berlari, mengejarnya.
“Warnaaaa tungguuuu!!”
Aku berteriak memanggilnya.
“Nia. Kamu kenapa di
sini?” Tanya Warna terkejut.
“Maafkan aku Warna.”
Kataku penuh penyesalan.
“Maaf untuk apa? Kamu
tidak salah?”
Aku malah menangis
memandangi wajahnya dan memintanya untuk jangan pergi.
“Nia, harusnya aku yang
minta maaf. Aku melanggar janji masa kecil kita. Aku sudah berani mencintaimu.”
Kata Warna sambil mengusap air mataku.
“Aku juga mencintaimu
Warna. Lupakan saja, itu semua hanya ucapan anak kecil yang polos. Kita
sama-sama sudah dewasa. Dan kita berhak untuk jatuh cinta, walaupun akhirnya itu
dengan sahabat sendiri.” Aku meyakinkannya.
Aku lega, akhirnya
Warna tidak jadi pergi. Ya Tuhan tolong jangan buat hubungan kami menjauh lagi.
Aku sungguh tidak ingin kehilangan Warna. Dialah keindahan yang mewarnai
hariku. Dialah Warna, cintaku.
*****
By : Icha Mamusu








0 comments:
Post a Comment