Wednesday, 18 June 2014

CERPEN WARNA



WARNA

Aku masih diam menatap layar monitor dan kursor yang berkedip-kedip. Di luar hujan deras terus menghujam. Mendung juga masih membungkus Kota. Seharian ini aku menghabiskan waktuku di kamar. Menulis, meneruskan novelku. Lagu yang aku putar dari mp3 handphoneku juga turut menemaniku. Aku memutar lagu milik Jason Mraz feat Colbie Caillat yang berjudul Lucky. Lima menit hanya diam, kemudian  kembali menulis dan melanjutkan ceritaku.
Cinta, kata itu banyak kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Aku sendiri tidak tahu apa pengertian tentang cinta. Aku hanya tahu itu sebuah rasa yang indah, anugerah dari Tuhan di mana setiap insan yang merasakannya akan mendapati hidup yang lebih berwarna. Seperti juga tema novel yang sedang aku tulis. Ini semua ide dari sahabatku, aku hanya menuangkan idenya menjadi sebuah novel.
Waktu terus berjalan, tak terasa aku sudah menulis 20 halaman A4 di Microsoft Word. Hmm, berarti sekarang novelku sudah 120 halaman. Aku menghela napas dan beristirahat sebentar. Meminum segelas coklat panas yang sedari tadi hanya terpajang di mejaku. Hujan belum juga berhenti. Dingin. Aku berdiri dan mendekat ke jendela kamarku. Menyibak korden dan melihat suasana di luar. Rasa-rasanya hujan memang selalu romantis. Apalagi di waktu menjelang senja seperti ini.
Tok, tok, tok, suara Adikku mengetuk pintu kamarku dan memanggil-manggil namaku. “Kak Nia,, Kak Nia ada Kak Warna di depan.” Aku membuka pintu. Menatapnya kaget sambil mengerutkan dahi. “Apa, Warna di depan?” kataku. Adikku hanya menganggukkan kepala membenarkan. Dengan segera aku menemuinya, agak heran kenapa hujan-hujan begini dia malah datang ke rumah.
Benar saja, dia sudah duduk di ruang keluarga dengan badan yang menggigil karena kehujanan. Aku membuatkannya segelas cokelat panas lalu menyuruhnya minum agar badannya tidak tambah kedinginan. Warna adalah sahabatku dari kecil. Menurutku dia adalah seorang lelaki yang baik, tampan dan juga selalu ceria. Seperti namanya, Warna. “Ada apa hujan-hujan begini kamu datang?” tanyaku penasaran. Warna masih asyik dengan segelas coklat panasnya.
Aku masih diam menunggunya bicara. “Kamu jadi bertunangan dengan Farhan, Nia?” tanyanya membuatku tercengang. Entah kenapa pertanyaannya malah membuatku enggan untuk menjawab. Aku hanya tersenyum datar. “Apa kamu marah dengan perkataanku waktu itu?” Tanyanya lagi. Terang saja, beberapa waktu lalu Warna menyatakan perasaanya padaku. Padahal kami sudah saling berjanji hanya akan menjadi sahabat saja. Itu semua agar persahabatan yang sudah kami jalin bertahun-tahun dari kecil tidak rusak hanya karena rasa cinta.
Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku bahagia saat menghabiskan waktu bersama Warna. Aku sayang dengannya, tapi aku tahu mungkin itu karena kami sudah bersahabat sejak kecil. Jadi wajar jika aku merasakan perasaan itu. Tapi Warna selalu bilang kalau perasaanya sudah lain, perasaan itu menjelma menjadi lebih saat kami beranjak dewasa bahkan sering bersama. Dan di sisi lain aku sudah menjalin hubungan serius dengan Farhan kayawan Papa di kantor. Bahkan satu bulan lagi kami akan bertunangan.
Aku tahu antara Aku dan Warna sama-sama memiliki kecocokan. Warna juga merasa selalu sama denganku. Entah itu dari hobi, kebiasaan, makanan, sampai apapun itu kita hampir selalu mempunyai kesamaan. Dan itu semua membuat kita nyaman. Warna juga pernah bilang kalau dari kesamaan itulah dia merasa cocok denganku. Bahkan rasa itu, yang awalnya hanya sekadar rasa sayang kepada teman malah berubah menjadi rasa yang lebih. Rasa yang indah. Yah, rasa yang selalu dia bilang itu cinta.
“Aku tidak marah, hanya saja aku merasa aneh dengan kita. Kamu ingat kan janji kita, Warna?” Kataku menjelaskan. Kami berdua menjadi canggung. Bahkan sekarang hanya diam mematung tanpa sepatah katapun. Ya Tuhan, bukan ini yang aku inginkan. Kenapa harus seperti ini hubungan persahabatan kami. Semua hanya karena ucapan cinta dari Warna waktu itu. Televisi di depan kami juga menyala sedari tadi, menayangkan berita yang entah apa beritanya. Mata kami hanya menatap kosong acara di layar televisi.
Sudah hampir satu jam kami duduk berdua di sini. Coklat panas yang kubuatkan untuknya, aku rasa juga sudah dingin. Sedingin perasaan canggung kami. Di luar terdengar suara klakson mobil. Adikku dengan sigap berlari dan menengok keluar. Ternyata Farhan datang. Dia langsung masuk dan menyapa kami berdua. Adikku Kinan bahkan berlarian riang sekali karena mendapatkan hadiah mainan dari Farhan. Aku tambah merasa tidak enak pada Warna. Jelas saja, tanpa basa-basi Farhan langsung ikut bergabung dengan kami. Aku tahu hal itu pasti membuat Warna menjadi semakin sakit. “Aku pulang dulu Nia.” Kata Warna langsung bergegas keluar dan pergi. Aku hanya gelagapan melihat tingkah Warna. Merasa bersalah. Maafkan aku Warna.
Hujan sudah berhenti turun. Mendung juga mulai memudar, berganti senja yang orange begitu cantik. Tapi tidak romantis seperti biasanya. Hatiku serasa kalut memikirkan bagaimana perasaan Warna. Aku dan Farhan duduk dan saling berbincang tentang pekerjaannya. Farhan juga membahas tentang pertunangan kami. Aku hanya tersenyum menanggapi. Jujur saja saat ini aku tidak ingin membahasnya di tengah situasiku dengan Warna yang makin kacau.

*****
            Mentari bersinar begitu semangat menghangatkan Kota. Hari-hari cepat berlalu. Itu artinya pertunanganku tinggal beberapa hari lagi. Hari ini aku pergi ke pusat perbelanjaan membeli semua kelengkapan acara bersama Farhan. Dia benar-benar bahagia sekali. Tak sengaja juga saat kami ada di sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin, kami bertemu dengan Warna yang kebetulan lewat bersama Kakaknya. Tapi dia langsung berlalu mengacuhan kami. Bahkan aku yang hendak menyapanya jadi tak sempat karena begitu cepatnya dia pergi dan menghindari kami. Aku tahu itu semua pasti karena waktu itu.
            Usai membeli semua perlengkapan kami bergegas pulang. Di dalam mobil Farhan asyik bercerita tentang impian-impiannya seusai kami bertunangan. Aku hanya tersenyum mendengarkan. Tiba-tiba saja Farhan bertanya sesuatu hal yang menurutku aneh. “Apa kamu mencintaiku Nia?” tanyanya sambil sibuk mengemudi mobil. Aku mentatapnya heran.
“Iya aku sayang kamu.” Kataku padanya.
“Kenapa kamu selalu menjawabnya dengan sayang Nia. Kenapa tidak bilang saja, iya aku mencintaimu.” Tanya Farhan.
“Bukankah itu sama saja.” Kataku menjelaskan.
Suasana menjadi hening. Hanya lagu yang diputar oleh Farhan yang menemani perjalanan kami pulang ke rumah. Tiba-tiba aku memikirkan Warna, kenapa dia jadi seperti itu. Apa dia sudah benar-benar tidak ingin bertemu denganku lagi. Aku membuka-buka foto di handphoneku. Banyak sekali momen-momen foto yang aku simpan. Mulai dari fotoku dengan keluarga, fotoku dengan Farhan dan beberapa lagi fotoku dengan Warna. Tanganku berhenti untuk menekan tuts di handphoneku ketika melihat satu foto saat ulang tahunku semasa SMA. Yah, fotoku dan Warna.
Tiba-tiba Farhan meminggirkan mobil dan berhenti mendadak hingga membuat badanku terdorong ke depan. Aku kaget, “Kenapa berhenti?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi. Dan tanpa aku duga, Farhan langsung mengambil paksa handphoneku dan membuka file-file yang ada. “Apa yang kamu lakukan Farhan!!” tanpa sengaja aku membentaknya. Dia menatapku dengan tatapan marah sambil menunjukkan foto Warna di depan mukaku.
“Aku tidak ingin kamu berhubungan dengan Warna lagi Nia!!” Katanya keras membentakku. Ya Tuhan, aku begitu kaget saat dia mngatakan itu padaku. Apa salahnya, aku dan Warna hanya beteman. Dia sahabatku dari kecil. Farhan juga tahu itu semua.
            “Kamu kenapa Farhan. Aku dan Warna itu sahabat dari kecil, bahkan kamu tahu semuanya.” Kataku ikut emosi dengan kelakuannya.
            “Tapi aku kekasih kamu jadi aku berhak untuk mengatur kamu. Semua foto tentang Warna sudah aku hapus dan aku tidak ingin kamu dekat dengannya lagi!!” Katanya begitu marah.
            Aku hanya diam. Mataku mulai sembab ingin menangis. Kenapa dia tega menghapus semua foto kenangan persahabatanku dengan Warna. Bahkan di situ juga ada momen-momen saat kami masih kecil. Farhan mulai menatapku tidak tega dan mengembalikan handphoneku. Ini sungguh keterlaluan. Aku hanya diam dan bahkan kini air mataku mulai menetes.
“Maaafkan aku Nia, aku terlalu emosi. Aku terlalu cemburu dengan hubungan persahabatan kalian yang dekat.” Kata Farhan menyesal.
“Harusnya kamu tidak melakukan itu. Bahkan sebentar lagi kita akan bertunangan. Untuk apa kamu cemburu dan malah membuat masalah. Aku dan Warna  hanya sahabat.” Kataku kecewa.
“Iya maafkan aku. Aku takut kalian menjadi lebih.” Kata Farhan mengusap air mataku.
Kami melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan aku hanya diam. Memalingkan muka dan menghadap ke kaca samping mobil. Bulir air itu kembali menetes dari sudut mataku. Hari ini benar-benar membuatku jengkel. Kelakuan Farhan membuatku kecewa.


*****
Sebulan berlalu, undangan sudah disebarkan. Malam ini pun datang. Beberapa jam lagi aku akan bertunangan dengan Farhan. Semua orang rumah sibuk mempersiapkan acara. Mulai dari berdandan, dan mengatur letak-letak hidangan untuk tamu. Dekorasi ruangan juga sudah siap, indah penuh dengan bunga-bunga cantik.
Aku terus melihat handphoneku. Menunggu pesan atau telepon dari seseorang. Yah, Warna. Dia tidak pernah menghubungiku lagi semenjak terakhir dia datang ke rumah. Aku jadi terpikir apakah Warna akan datang ke acara pertunanganku? Aku sangat mengharapkan dia datang sebagai sahabat baikku. Tapi di sisi lain aku rasa itu sungguh tidak mungkin. Aku tahu Warna akan sakit melihat aku dan Farhan bertunangan.
Farhan, lelaki yang baik, pintar, dan dewasa. Aku, juga mencintainya. Ah cinta?? Tiba-tiba hatiku tidak yakin menyebut itu cinta. Tapi yang jelas aku menyayanginya dan nyaman jika bersamanya. Aku tahu kita banyak perbedaan. Dia lebih tidak mau mengalah, dan kadang egois. Jadi tak jarang aku yang harus ikut apa kemauannya. Tapi yang namanya hubungan bukankah memang tak selalu ada kesamaan. Kata orang perbedaan itu juga menyatukan kita.
Malam ini bintang-bintang bertabur indah di langit gelap. Aku berdiri di balkon rumah, menatap kerumunan orang di bawah yang sibuk mempersiapkan semuanya. Mama dan Papa ramah menyambut tamu yang mulai berdatangan. Adikku Kinan sibuk menyapa sepupu-sepupu yang lain. Imut sekali gadis kecil itu. Selalu ceria.
Aku kembali mendongak ke atas menatap langit malam. Entah kenapa malam ini rasanya begitu murung. Bukankah ini hari bahagia, tapii……..
“Kamu sedang apa Sayang?” Tanya Farhan mengagetkanku.
“Hey, sejak kapan kamu datang. Kok aku tidak tahu.” Kataku tersenyum.
Kami berdua sama-sama menikmati suasana malam di atas balkon rumah. Menunggu  acara pertunangan dimulai. Tamu-tamu makin banyak berdatangan. Aku juga terus memperhatikan satu-persatu di balik kerumunan orang-orang. Aku berharap Warna datang. Tanpa aku sadari sedari tadi Farhan memperhatikanku yang terlihat sangat gelisah seperti menunggu atau mencari-cari seseorang.
“Kamu menunggu Warna?” Tanya Farhan mengejutkanku.
“Eh, tidak.” Aku menggeleng dan tersenyum datar.
“Jangan bohong, aku tahu kamu ingin dia datang. Sebenarnya antara kamu dan Warna itu ada hubungan apa? Apa kalian…………” kata Farhan mulai mencurigaiku lagi.
“Kamu itu bicara apa. Aku dan Warna hanya sahabat dari kecil. Dan kami……” kataku terhenti.
“Warna mencintaimu.” Kata Farhan membuat hatiku tersentak.
Aku masih diam bingung mau berkata apa. Bagaimana bisa Farhan punya pikiran seperti itu lagi. Farhan menatap mataku dalam. Aku bahkan tidak berani menatapnya. Apakah Warna menceritakan semuanya pada Farhan. Apa Farhan juga tahu kalau Warna pernah mengatakan perasaannya padaku. Wajahku mungkin sudah terlihat pucat di depannya. Dan sekarang Farhan mulai…… apa dia mulai kecewa padaku?
“Nia, sebenarnya tanpa sepengetahuanmu aku diam-diam sudah menemui Warna. Aku tidak bisa diam saja melihat orang yang aku cintai terus-terusan murung seperti ini bahkan di hari bahagia kita.” Ya Tuhan, kenapa Farhan melakukan itu, untuk apa? Aku diam mendengarkan penjelasannya. “Aku tahu kalau sebenarnya Warna mencintaimu. Aku bahkan tahu dan mulai merasa sejak aku pertama mengenalmu. Tapi aku juga tidak bisa menghapus perasaan yang terlanjur muncul untukmu. Aku juga mencintaimu.” Apa yang dia bicarakan.
Aku harap ini semua tidak mengganggu acara malam ini. Pertunangan ini adalah hal yang paling diidam-idamkan keluarga kami. Jangan sampai ini semua membuat kebahagiaan mereka pudar.
“Kamu bicara apa Farhan. Tidak usah berpikir yang macam-macam. Bukankah ini hari bahagia kita?” aku tersenyum mencoba mengalihkan pembicaraan yang semakin absurd ini.
“Aku yang salah Arum. Aku yang menghancurkan semuanya. Bahkan berani memasuki kisahmu dan Warna.” Kata Farhan membuatku makin tidak mengerti.
Aku semakin bingung. Bahkan Farhan malah berkata seperti itu. Aku masih diam menatap wajahnya yang penuh penyesalan. Untuk apa dia merasa seperti itu. Hubungan kami juga berjalan atas dasar kemauan dari kami berdua. Aku juga menyayanginya. Tapi kenapa dia harus merasa bersalah.
“Kalau kamu mau membatalkan pertunangan ini tidak apa-apa Nia. Aku tidak ingin kamu menyesal.” Kata Farhan tambah membuatku bingung.
“Aku semakin bingung padamu Farhan, kenapa kamu harus merasa bersalah. Tidak ada yang salah dalam hubungan ini.” Kataku padanya.
“Tidak!! Kemarin aku menemui Warna dan memintanya untuk tidak lagi mengganggu kamu. Dan dia mau untuk melakukannya, bahkan malam ini dia akan berangkat ke Malaysia menemui Pamannya untuk tinggal di sana.” Kata Farhan menjelaskan.
Sontak penjelasan Farhan membuatku kaget. Kenapa dia melakukan itu. Ya Tuhan, Warna akan pergi. Bahkan di hari pertunanganku. “Temui dia Nia, atau dia akan benar-benar pergi. Aku tahu kamu juga mencintainya, hanya saja kamu takut untuk bilang bahwa perasaan itu benar cinta.” Kata Farhan menyuruhku. Tapi bagaimana mungkin sebentar lagi acara dimulai. Aku tidak ingin membuat mereka semua kecewa. “Tidak Farhan, aku dan Warna hanya sahabat.” Kataku tegas.
“Apa karena janji kalian lantas kalian tidak ingin merusak persahabatan hanya karena cinta. Dan itu semua adalah pikiran yang salah. Kalau kalian benar-benar serius pasti hubungan itu bisa jauh lebih indah. Tidak akan ada yang rusak. Aku yakin kalian memang pantas bersama.” Kata Farhan membuatku berpikir dan takut kehilangan Warna.
Ya Tuhan apa benar yang dikatakan Farhan. Apa selama ini aku hanya takut hubunganku dan Warna rusak hanya karena rasa cinta. Warna bahkan benar-benar mencintaiku tapi Farhan bagaimana? Aku benar-benar pusing.
Cinta itu indah karena jalinan kasih yang bukan berdasarkan rasa ego. Cinta juga bisa datang dan muncul kapan saja, dari siapa saja. Termasuk dari sahabat kita sendiri. Tidak ada salahnya aku dan Warna juga merasakan itu. Farhan panjang lebar menjelaskan padaku. Bahkan dia bilang kalau dia sudah ikhlas aku lebih memilih Warna karena bagaimanapun kami berhak untuk itu. Farhan bahkan meminta maaf telah berkata pada Warna tentang sesuatu yang salah. Sesuatu yang benar-benar egois bahkan menyuruh Warna pergi untuk selamanya dari hadapanku.
Mama menyuruh kami berdua segera masuk karena acara akan dimulai. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Farhan hanya diam memperhatikanku. Acara dimulai dari sambutan Papa dan Papa Farhan. Para tamu undangan terlihat begitu ikut bahagia. Keluarga kami juga sangat bahagia sekali bahkan tak sabar menunggu acara tukar cincin.
Detik dan menit terus berlalu. Farhan sudah memakaikan cincin di jari manisku. Dia menatapku dan berkata lirih “Apa kamu akan melanjutkannya Nia, 15 menit lagi Warna akan pergi.” Katanya membuatku semakin tidak yakin dengan apa yang aku lakukan. Aku masih diam dan menatapnya kosong.
Giliranku memakaikan cincin ke jari manis Farhan, tapi tiba-tiba gerak tanganku berhenti. Farhan menolaknya bahkan mulai berbicara tentang kejadian itu di hadapan semua tamu undangan. Sontak mereka semua kaget dan bingung. Aku mulai menangis. “Temui Warna, Nia pergilah. Aku tidak apa-apa.” Kata Farhan meyakinkanku.
Semua orang memandang kami. Merasa bingung. Aku langsung berlari keluar meminta sopir mengantarkanku menuju ke bandara. Selagi aku menyusul Warna, Farhan menjelaskan semua pada keluarga dan tamu undangan. Dia juga menghubungiku lewat pesan kalau keadaan sudah bisa teratasi.
Aku sedikit lega tapi juga takut kalau Warna teranjur pergi. Akhirnya sampai bandara. Aku menyibak kerumunan orang yang begitu ramai mencoba mencari di mana Warna. Ya Tuhan, jangan biarkan dia pergi. Aku sungguh mencintainya. Maafkan aku Warna,  aku baru menyadari kalau perasaan itu memang benar ada. Maafkan aku yang terlalu takut untuk mengakuinya hanya karena janji persahabatan masa lalu kita.
Seorang lelaki dengan kemeja warna cokelat. Berperawakan mirip seperti Warna muncul sekilas di depan mataku. Aku tersadar, ya Tuhan itu Warna. Aku berteriak memanggilnya. Dia menoleh dan ikut kaget dengan kedatanganku. Aku langsung berlari, mengejarnya.
“Warnaaaa tungguuuu!!” Aku berteriak memanggilnya.
“Nia. Kamu kenapa di sini?” Tanya Warna terkejut.
“Maafkan aku Warna.” Kataku penuh penyesalan.
“Maaf untuk apa? Kamu tidak salah?”
Aku malah menangis memandangi wajahnya dan memintanya untuk jangan pergi.
“Nia, harusnya aku yang minta maaf. Aku melanggar janji masa kecil kita. Aku sudah berani mencintaimu.” Kata Warna sambil mengusap air mataku.
“Aku juga mencintaimu Warna. Lupakan saja, itu semua hanya ucapan anak kecil yang polos. Kita sama-sama sudah dewasa. Dan kita berhak untuk jatuh cinta, walaupun akhirnya itu dengan sahabat sendiri.” Aku meyakinkannya.
Aku lega, akhirnya Warna tidak jadi pergi. Ya Tuhan tolong jangan buat hubungan kami menjauh lagi. Aku sungguh tidak ingin kehilangan Warna. Dialah keindahan yang mewarnai hariku. Dialah Warna, cintaku.

*****

By : Icha Mamusu
Salam Menulis


0 comments:

Post a Comment