Monday, 30 June 2014

CERPEN "SISTEM PERASAAN"



SISTEM PERASAAN

Hati adalah organ tubuh yang paling kompleks di dalam tubuh manusia dan mempunyai peranan penting dalam proses metabolisme. Sama halnya dengan hati dalam makna konotasi. Hati dalam makna konotasi juga mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam membangun kisah yang berhubungan dengan cinta. Jika organ hati adalah termasuk bagian sistem ekskresi, maka hati dalam arti konotasi adalah bagian dari sistem perasaan.
Organ hati pada manusia juga mempunyai keunikan. Organ hati mampu memperbaharui dan menumbuhkan kembali sel-sel yang telah rusak karena luka ataupun penyakit jangka pendek. Tapi walaupun begitu, hati juga bisa mengalami kerusakan yang parah dalam jangka waktu yang lama. Jika sudah seperti itu, maka hati akan mengalami kerusakan fungsi secara permanen.
Sama juga dengan hati secara konotasi. Hatiku sudah seperti itu semenjak dia pergi. Dialah penyakit jangka panjang yang membuat sistem perasaanku rusak. “Lebih baik memang kita putus saja Ca.” Kata itu masih terus saja membayang di ingatanku. Yah, sesuatu yang membuat sistem perasaanku sakit dalam jangka panjang.
 Malam itu aku pikir akan jadi malam yang paling indah untuk aku lewati dengannya. Pukul 19.05 dia sudah datang menjemputku. Kami pergi makan malam bersama di sebuah kafe dekat dengan taman kota. Kafe tempat favorit kami berdua.
Malam minggu suasana kafe cukup ramai. Banyak juga keluarga yang menghabiskan waktu bersama, sekelompok remaja yang menghabiskan waktu nongkrong, dan rekanan kerja yang asyik berkumpul membahas agenda baru untuk kesibukan selanjutnya. Di sekitar juga banyak pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu berdua, saling merajut kata-kata cinta dan terbuai dalam sebuah kisah cinta. Kami memesan dua porsi nasi goreng pedas kesukaan kami. Dan juga dua jus apel.
“Kau cantik sekali malam ini Ca.” Kata Farel tersenyum manis memandangku.
“Terima kasih. Kau juga tampan sekali.” Kataku tersipu malu.
Beberapa menit kemudian pesanan kami datang. Semuanya masih biasa saja, tak ada hal aneh yang aku rasakan. Namun setelah kami selesai makan bersama, tiba-tiba Farel mengatakan sesuatu yang membuat hatiku bekerja keras untuk memahami sistem perasaanku. Sesuatu yang lebih terasa pedas dari nasi goreng yang tadi usai kami makan.
“Ca, maafkan aku selama ini aku sudah berbohong padamu.” Kata Farel tertunduk tak berani menatap mataku.
“Berbohong tentang apa Farel?” tanyaku penasaran.
“Akuuuu, emm akuuu mencintai wanita lain, Ca.”
“Apaa? Kamu pasti bercanda kan Farel?” aku masih mencoba tenang.
Aku terdiam saat Farel mencoba menjelaskan semuanya. “Ca, maafkan aku. Aku selingkuh di belakangmu. Sebenarnya di 6 bulan jadian kita ini aku juga menjalin hubungan dengan wanita lain. Dia teman dekatku dulu. Kau ingat Ca, saat kau dulu masih bersama dengan Ardi. Saat itu hatiku hancur sekali karena aku juga menyukaimu. Tapi aku lebih memilih melepaskanmu.” Aku tersentak kaget karena Farel membahas masalah itu lagi.
Aku masih diam. Mataku kini mulai berkaca-kaca. Farel kembali melanjutkan pembicaraannya. “Dan begitu aku tahu kamu putus dengan Ardi aku mencoba melebur rasa benciku terhadap kalian berdua. Aku tidak bisa berbohong kalau aku memang masih mencintai kamu. Di saat itulah aku mencoba masuk ke dalam hatimu lagi hingga kita menjalin kisah cinta ini.” Ya Tuhan, apa yang dilakukan Farel. Kenapa dia tega padaku. Selama ini, 6 bulan dia anggap semua ini apa?
Aku kehabisan kata-kata tak bisa bicara. Rasanya lidahku kelu. Farel menata kata-kata lagi kemudian kembali bicara. “Wanita yang saat ini juga bersamaku itu namanya Maya. Kami kenal dekat saat aku patah hati denganmu. Mulai saat itulah aku merasa nyaman dengan dia. Aku merasa dia selalu bisa mengerti aku. Dan aku juga mencintainya.” Pipiku mulai basah karena air yang menetes dari sudut mataku. Aku diam tertunduk mengusap tangisku.
Apa maksud Farel, ini gila. Apakah dia hanya ingin balas dendam saja karena dulu aku tidak menerima cintanya? tapi itu kan masa lalu. Saat itu memang aku tidak bisa karena aku sudah bersama Ardi. Dan waktu itu aku hanya menganggap Farel sahabatku. Setelah aku putus dengan Ardi, memang aku kembali berkomunikasi lagi dengan Farel. Dan saat itulah aku mulai jatuh cinta padanya.
Memang salahku, dulu mungkin aku menyakiti hati Farel karena aku juga memintanya untuk tidak menghubungiku lagi. Tapi sekarang kenapa jadi begini, di saat aku benar-benar mencintainya. Bahkan hari ini di 6 bulan jadianku dengannya, dia membuat seluruh sistem perasaanku serasa berhenti. Sakit sekali.
“Kau tega Fareellll!!” kataku serak menahan tangis.
“Maaf Ca. Aku tahu ini tidak adil bagi kamu. Tapi aku juga sayang sama kamu walaupun perasaanku ke Maya juga lebih besar.”
“Maksud kamu apa Farel, kamu mau serakah atas hubungan cinta kamu. Kamu mau aku dan Maya menjadi kekasihmu? Begitu?” kataku dengan nada yang agak meninggi.
“Bukan begitu Ca, tapi aku juga sayang kamu. Aku juga berat melepaskanmu.” Kata Farel menggenggam tanganku.
“Baiklah, sekarang kau lebih pilih Maya atau aku?” kataku melepas genggaman tangannya.
“Aku tidak tahu.” Kata Farel menatapku kasihan.
“Apa Maya tahu soal ini?”
“Maya tidak tahu, Ca.”
“Berapa lama kalian jadian?”
“Sama seperti aku dan kamu, 6 bulan.”
Hatiku serasa ditampar. Jantungku berdegup cepat. Otakku bahkan terasa panas sekali. “Aku mau pulang!!” kataku bergegas berdiri dan langsung ke luar kafe. Farel buru-buru ke kasir kemudian berlari mengikutiku. Aku mempercepat jalanku. Tidak peduli jika aku harus pulang dengan jalan kaki. Farel berlari mengejarku. Tangannya meraih lenganku. Dan aku berhenti.
Aku benar-benar tak kuat lagi menahan tangisanku. “Aku antar pulang Ca, kau jangan pulang sendirian. Aku sayang sama kamu.” Kata Farel. Hatiku bergumam menyalahkan Farel. Jika dia sayang, tak seharusnya dia tega seperti itu. Aku hanya bisa diam dan memilih pulang bersama Farel. Sepanjang jalan kami saling diam. Tak ada ucapan sepatah kata pun.

*****
            Farel tak pernah tahu bagaimana rasanya jika sistem perasaan itu rusak. Itu sama saja membunuh semua kisah yang sudah aku rajut di depan mataku. Begitu juga dengan hatiku yang sudah terlanjur menyusun mimpi dan mengurai racun-racun luka yang telah dia berikan.
Aku masih tidak mengerti. Apakah ini hanya luka kecil yang Farel buat untukku? Kenapa hatiku masih bisa memperbaharui dan menumbuhkan kembali sel-sel cinta yang telah rusak sehingga aku bisa terus membenarkan perasaanku terhadapnya.
            Aku tidak dapat menyalahkannya meski dia telah mencintai wanita lain. Hari itu tiga hari setelah kejadian di kafe, aku bahkan masih berkomunikasi lagi dengan Farel. Masih seperti biasa dan seperti tidak ada apa-apa. Aku mencoba melakukan hal-hal manis  untuk membuat Farel kembali padaku.
            “Aku rela jadi yang kedua Farel. Asal nanti kau bisa secepatnya memilih antara aku dan Maya.” Kata itu tiba-tiba saja aku ketik dengan cepat lalu aku kirimkan ke Farel melalui pesan singkat. Beberapa menit kemudian Farel membalasnya. “Kau yakin Ca, baiklah aku akan secepatnya memilih.” Entah apa yang membuatku gila. Aku rasa hatiku terlalu canggih sehingga bisa dengan cepat meregenerasi sel-sel cinta baru dan membenarkan apapun yang dilakukan Farel.
            “Kau sedang apa sekarang, sudah makan?” aku kembali mengirimkan pesan padanya. Handphoneku berderit, ada balasan pesan darinya “Aku sedang keluar bersama Maya, makan malam bersama.” Ya Tuhan, dadaku serasa sesak. Hatiku serasa ditusuk-tusuk. Ada bongkahan kelu yang menyekat tenggorokanku dan menjadikannya sakit sekali. Aku tidak membalas pesannya lagi.

*****
            Satu minggu setelah itu Farel mengirimiku pesan. Dia bilang “Lebih baik memang kita putus saja Ca.” Airmataku membuncah tak sanggup lagi aku tahan. Semenjak hari itu aku memutuskan untuk benar-benar mengakhiri hubunganku dengan Farel. Sistem perasaanku sudah benar-benar rusak.
            Hari-hari aku lewati tanpa Farel. Tak ada lagi kisah yang indah antara aku dan dia. Aku benci jika ingat sikapnya yang tega. Tapi setengah hatiku masih terbawa dan menyatu dengan siluetnya. Hari-hari kosong aku lewati tanpa mau lagi menyebut tentang cinta. Mencoba berbohong kalau aku tidak pernah mencintainya.
            Dan benar, manakala hati berbicara tentang cinta. Maka sistem perasaan akan memprosesnya menjadi sebuah memori di dalam ingatan yang akan terus diingat. Parahnya lagi, ingatan itu menjelma menjadi kaset usang berlagu kenangan yang terus aku putar. Aktivitas apapun yang aku lakukan, di mana pun aku berada, tetap saja hatiku membicarakannya.
            Aku mencoba menyibukkan diri dengan apapun itu dan mencoba memulihkan sistem perasaanku. Aku tahu dan aku harus yakin bahwa yang nama kebahagian itu pasti ada. Tuhan bahkan sudah membiarkan aku untuk lebih memilih melepaskan Farel. Ini semua yang terbaik. Dan Farel bukan yang terbaik untukku. Mungkin jika hubungan kami hanya sebatas persahabatan, tak akan pernah ada sistem perasaan yang rusak. Semua sudah terlanjur.
            Mataku terlalu canggih menangkap bayangan cinta itu. Sehingga kisah itu  kemudian diteruskan masuk ke sistem ingatanku dan mengantarkannya sampai ke sistem pusat perasaanku. Hatiku mencintai kegelapannya. Dan bibirku membenci semua sikapnya.

*****
            Dua tahun setelah semua kejadian itu hidupku mulai berubah. Hatiku kembali pulih karena sebentuk kisah baru. Kisah yang merajut sel-sel cinta baru untuk sistem perasaanku. Mataku menangkap kasih baru yang mengajarkan aku tentang kisah yang tak hanya melihat sisi romantisme. Tapi cinta yang memandang sebuah hubungan dewasa menjadi sebuah komitmen untuk kehidupan selanjutnya. Sebuah kisah yang aku sendiri mantap menjalaninya bersama Misbah.
            Aku mencintainya. Bahkan kini kami mulai menjalani hubungan itu dengan serius. Saling percaya dan berkomitmen untuk bertahan dengan satu cinta. Yah, aku sudah melupakan sakit hatiku pada Farel. Saat ini, mulai dari aku melepaskan semuanya aku hanya ingin menjalin kisah baru bersama Misbah.
            Namun di saat semuanya hampir siap melaju pada keindahan baru. Siluet kenangan itu kembali melintas di depan mataku. Farel kembali menyapa dan menghubungiku. “Maaf aku menghubungimu lagi Ca, aku hanya ingin tahu kabarmu.” Pesan itu dia kirimkan lewat e-mailku. Kami kembali berkomunikasi lagi. Dia juga menceritakan semuanya. Tentang hubungannya dengan Maya yang berakhir karena Maya lebih memilih kembali pada mantan kekasihnya dulu sebelum dengan Farel.
            Farel    : Aku minta maaf, aku menyesal Ca.
            Caca    : Iya, Farel. Sudahlah aku tak mau mengingat itu lagi.
            Farel    : Sekali lagi maafkan aku Ca. Aku salah sudah membuatmu luka. Aku salah memilihnya.
            Caca    : Semua sudah berlalu Farel. Aku sudah memaafkanmu. Semoga kau mendapatkan yang lebih baik.
            Farel    : Terima kasih Ca. Semoga kau bahagia dengannya.
Sampai di situ akhir dari percakapanku dengannya. Semua kembali menjadi biasa. Tak ada lagi perasaan yang harus aku pertahankan untuk Farel. Rasa sakit itu sudah melebur dan membentuk hati baru, sistem perasaan baru bersama kisah cinta yang sekarang aku jalin bersama Misbah. Hatiku juga sudah tidak memutar lagu kenangan lagi.
Hatiku kini sudah berevolusi menjadi sebuah hati baru yang memutar lagu-lagu indah. Lagu-lagu indah yang menjadi pengantar kisahku dengannya. Lagu rock n roll kesukaannya. Lagu-lagu yang membuatku belajar bersamanya bahwa hidup memang harus like a rolling stone. Hidup harus apa adanya seperti batu yang menggelinding. Kita harus tetap kuat ke mana pun arah yang kita ambil walau segala hambatan menghadang perjalanan kita.
Dan saat hati berbicara. Maka saat ini dia akan berkata bahwa aku mencintai Misbah dan hanya ingin bersamanya. Menjalin kasih dan membuat hidup lebih berarti. Misbah lelaki yang terbaik untukku. Lelaki yang bisa menghargai aku sebagai wanita dengan segenap perasaan dan logikanya. Lelaki yang bisa memberikan aku hati dan sistem perasaan baru tanpa lecet ataupun luka sekali pun. 

*****

by : Icha Mamusu

0 comments:

Post a Comment