SISTEM
PERASAAN
Hati adalah organ tubuh
yang paling kompleks di dalam tubuh manusia dan mempunyai peranan penting dalam
proses metabolisme. Sama halnya dengan hati dalam makna konotasi. Hati dalam
makna konotasi juga mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama
dalam membangun kisah yang berhubungan dengan cinta. Jika organ hati adalah
termasuk bagian sistem ekskresi, maka hati dalam arti konotasi adalah bagian
dari sistem perasaan.
Organ hati pada manusia
juga mempunyai keunikan. Organ hati mampu memperbaharui dan menumbuhkan kembali
sel-sel yang telah rusak karena luka ataupun penyakit jangka pendek. Tapi
walaupun begitu, hati juga bisa mengalami kerusakan yang parah dalam jangka
waktu yang lama. Jika sudah seperti itu, maka hati akan mengalami kerusakan
fungsi secara permanen.
Sama juga dengan hati
secara konotasi. Hatiku sudah seperti itu semenjak dia pergi. Dialah penyakit
jangka panjang yang membuat sistem perasaanku rusak. “Lebih baik memang kita putus saja Ca.” Kata itu masih terus saja membayang di ingatanku. Yah, sesuatu yang membuat sistem
perasaanku sakit dalam jangka panjang.
Malam itu aku pikir akan jadi malam yang
paling indah untuk aku lewati dengannya. Pukul 19.05 dia sudah datang
menjemputku. Kami pergi makan malam bersama di sebuah kafe dekat dengan taman
kota. Kafe tempat favorit kami berdua.
Malam minggu suasana
kafe cukup ramai. Banyak juga keluarga yang menghabiskan waktu bersama,
sekelompok remaja yang menghabiskan waktu nongkrong, dan rekanan kerja yang
asyik berkumpul membahas agenda baru untuk kesibukan selanjutnya. Di sekitar
juga banyak pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu berdua, saling merajut
kata-kata cinta dan terbuai dalam sebuah kisah cinta. Kami memesan dua porsi
nasi goreng pedas kesukaan kami. Dan juga dua jus apel.
“Kau cantik sekali
malam ini Ca.” Kata Farel
tersenyum manis memandangku.
“Terima kasih. Kau juga
tampan sekali.” Kataku tersipu
malu.
Beberapa menit kemudian
pesanan kami datang. Semuanya masih biasa saja, tak ada hal aneh yang aku rasakan.
Namun setelah kami selesai makan bersama,
tiba-tiba Farel mengatakan sesuatu yang membuat hatiku bekerja keras untuk
memahami sistem perasaanku. Sesuatu yang lebih terasa pedas dari nasi goreng
yang tadi usai kami makan.
“Ca, maafkan aku selama
ini aku sudah berbohong padamu.” Kata Farel tertunduk tak berani menatap
mataku.
“Berbohong tentang apa
Farel?” tanyaku penasaran.
“Akuuuu, emm akuuu
mencintai wanita lain, Ca.”
“Apaa? Kamu pasti
bercanda kan Farel?” aku masih mencoba tenang.
Aku terdiam saat Farel
mencoba menjelaskan semuanya. “Ca,
maafkan aku. Aku selingkuh di belakangmu. Sebenarnya di 6 bulan jadian kita ini
aku juga menjalin hubungan dengan wanita lain. Dia teman dekatku dulu. Kau
ingat Ca, saat kau dulu masih bersama dengan Ardi. Saat itu hatiku hancur
sekali karena aku juga menyukaimu. Tapi aku lebih memilih melepaskanmu.” Aku
tersentak kaget karena Farel membahas masalah itu lagi.
Aku masih diam. Mataku
kini mulai berkaca-kaca. Farel kembali melanjutkan pembicaraannya. “Dan begitu aku tahu kamu putus dengan Ardi
aku mencoba melebur rasa benciku terhadap kalian berdua. Aku tidak bisa
berbohong kalau aku memang masih mencintai kamu. Di saat itulah aku mencoba
masuk ke dalam hatimu lagi hingga kita menjalin kisah cinta ini.” Ya Tuhan,
apa yang dilakukan Farel. Kenapa dia tega padaku. Selama ini, 6 bulan dia
anggap semua ini apa?
Aku kehabisan kata-kata
tak bisa bicara. Rasanya lidahku kelu. Farel menata kata-kata lagi kemudian
kembali bicara. “Wanita yang saat ini
juga bersamaku itu namanya Maya. Kami kenal dekat saat aku patah hati denganmu.
Mulai saat itulah aku merasa nyaman dengan dia. Aku merasa dia selalu bisa
mengerti aku. Dan aku juga mencintainya.” Pipiku mulai basah karena air
yang menetes dari sudut mataku. Aku diam tertunduk mengusap tangisku.
Apa maksud Farel, ini
gila. Apakah dia hanya ingin balas dendam saja karena dulu aku tidak menerima
cintanya? tapi itu kan masa lalu. Saat itu memang aku tidak bisa karena aku
sudah bersama Ardi. Dan waktu itu aku hanya menganggap Farel sahabatku. Setelah aku putus
dengan Ardi, memang aku kembali berkomunikasi lagi dengan Farel. Dan saat
itulah aku mulai jatuh cinta padanya.
Memang salahku, dulu
mungkin aku menyakiti hati Farel karena aku juga memintanya untuk tidak
menghubungiku lagi. Tapi sekarang kenapa jadi begini, di saat aku benar-benar
mencintainya. Bahkan hari ini di 6 bulan jadianku dengannya, dia membuat
seluruh sistem perasaanku serasa berhenti. Sakit sekali.
“Kau tega Fareellll!!”
kataku serak menahan tangis.
“Maaf Ca. Aku tahu ini
tidak adil bagi kamu. Tapi aku juga sayang sama kamu walaupun perasaanku ke
Maya juga lebih besar.”
“Maksud kamu apa Farel,
kamu mau serakah atas hubungan cinta kamu. Kamu mau aku dan Maya menjadi
kekasihmu? Begitu?” kataku dengan nada yang agak meninggi.
“Bukan begitu Ca, tapi
aku juga sayang kamu. Aku juga berat melepaskanmu.” Kata Farel menggenggam
tanganku.
“Baiklah, sekarang kau
lebih pilih Maya atau aku?” kataku melepas genggaman tangannya.
“Aku tidak tahu.” Kata Farel menatapku kasihan.
“Apa Maya tahu soal
ini?”
“Maya tidak tahu, Ca.”
“Berapa lama kalian
jadian?”
“Sama seperti aku dan
kamu, 6 bulan.”
Hatiku serasa ditampar. Jantungku berdegup cepat. Otakku bahkan terasa
panas sekali. “Aku
mau pulang!!” kataku bergegas berdiri dan langsung ke
luar kafe. Farel buru-buru ke
kasir kemudian berlari mengikutiku.
Aku mempercepat jalanku. Tidak peduli jika aku harus pulang dengan jalan kaki.
Farel berlari mengejarku. Tangannya meraih lenganku. Dan aku berhenti.
Aku benar-benar tak
kuat lagi menahan tangisanku. “Aku antar
pulang Ca, kau jangan pulang sendirian. Aku sayang sama kamu.” Kata Farel. Hatiku
bergumam menyalahkan Farel. Jika dia sayang, tak seharusnya dia tega seperti
itu. Aku hanya bisa diam dan memilih pulang bersama Farel. Sepanjang jalan kami
saling diam. Tak ada ucapan sepatah kata pun.
*****
Farel
tak pernah tahu bagaimana rasanya jika sistem perasaan itu rusak. Itu sama saja
membunuh semua kisah yang sudah aku rajut di depan mataku. Begitu juga dengan hatiku yang sudah
terlanjur menyusun mimpi dan mengurai racun-racun luka yang telah dia berikan.
Aku masih
tidak mengerti. Apakah ini hanya luka kecil yang Farel buat untukku? Kenapa
hatiku masih bisa memperbaharui dan menumbuhkan kembali
sel-sel cinta yang telah rusak sehingga aku bisa terus membenarkan perasaanku terhadapnya.
Aku tidak dapat menyalahkannya meski
dia telah mencintai wanita lain. Hari itu tiga hari setelah kejadian di kafe, aku bahkan masih berkomunikasi
lagi dengan Farel. Masih seperti biasa dan seperti tidak ada apa-apa. Aku mencoba melakukan hal-hal manis untuk membuat Farel kembali padaku.
“Aku
rela jadi yang kedua Farel. Asal nanti kau bisa secepatnya memilih antara aku
dan Maya.” Kata itu tiba-tiba saja aku ketik dengan cepat lalu aku kirimkan
ke Farel melalui pesan singkat. Beberapa menit kemudian Farel membalasnya. “Kau yakin Ca, baiklah aku akan secepatnya
memilih.” Entah apa yang membuatku gila. Aku rasa hatiku terlalu canggih
sehingga bisa dengan cepat meregenerasi sel-sel cinta baru dan membenarkan
apapun yang dilakukan Farel.
“Kau
sedang apa sekarang, sudah makan?” aku kembali mengirimkan pesan padanya.
Handphoneku berderit, ada balasan pesan darinya “Aku sedang keluar bersama Maya, makan malam bersama.” Ya Tuhan,
dadaku serasa sesak. Hatiku serasa ditusuk-tusuk. Ada bongkahan kelu yang
menyekat tenggorokanku dan menjadikannya sakit sekali. Aku tidak membalas
pesannya lagi.
*****
Satu
minggu setelah itu Farel mengirimiku pesan. Dia bilang “Lebih baik memang kita putus saja
Ca.” Airmataku
membuncah tak sanggup lagi aku tahan. Semenjak hari itu aku memutuskan untuk
benar-benar mengakhiri hubunganku dengan Farel. Sistem perasaanku sudah
benar-benar rusak.
Hari-hari aku lewati tanpa Farel.
Tak ada lagi kisah yang indah antara aku dan dia. Aku benci jika ingat sikapnya
yang tega. Tapi setengah hatiku masih terbawa dan menyatu dengan siluetnya.
Hari-hari kosong aku lewati tanpa mau lagi menyebut tentang cinta. Mencoba
berbohong kalau aku tidak pernah mencintainya.
Dan benar, manakala hati berbicara
tentang cinta. Maka sistem perasaan akan memprosesnya menjadi sebuah memori di
dalam ingatan yang akan terus diingat. Parahnya lagi, ingatan itu menjelma
menjadi kaset usang berlagu kenangan yang terus aku putar. Aktivitas apapun
yang aku lakukan, di mana pun aku berada,
tetap saja hatiku membicarakannya.
Aku mencoba menyibukkan diri dengan
apapun itu dan mencoba memulihkan sistem perasaanku. Aku tahu dan aku harus
yakin bahwa yang nama kebahagian itu pasti ada. Tuhan bahkan sudah membiarkan
aku untuk lebih memilih melepaskan Farel. Ini semua yang terbaik. Dan Farel
bukan yang terbaik untukku. Mungkin jika hubungan kami hanya sebatas
persahabatan, tak akan pernah ada sistem perasaan yang rusak. Semua sudah terlanjur.
Mataku terlalu canggih menangkap
bayangan cinta itu. Sehingga kisah itu
kemudian diteruskan masuk ke sistem ingatanku dan mengantarkannya sampai
ke sistem pusat perasaanku. Hatiku mencintai kegelapannya. Dan bibirku membenci
semua sikapnya.
*****
Dua
tahun setelah semua kejadian itu hidupku mulai berubah. Hatiku kembali pulih
karena sebentuk kisah baru. Kisah yang merajut sel-sel cinta baru untuk sistem
perasaanku. Mataku menangkap kasih baru yang mengajarkan aku tentang kisah yang
tak hanya melihat sisi romantisme. Tapi cinta yang memandang sebuah hubungan
dewasa menjadi sebuah komitmen untuk kehidupan selanjutnya. Sebuah kisah yang
aku sendiri mantap menjalaninya bersama Misbah.
Aku
mencintainya. Bahkan kini kami mulai menjalani hubungan itu dengan serius.
Saling percaya dan berkomitmen untuk bertahan dengan satu cinta. Yah, aku sudah
melupakan sakit hatiku pada Farel. Saat ini, mulai dari aku melepaskan semuanya
aku hanya ingin menjalin kisah baru bersama Misbah.
Namun
di saat semuanya hampir siap melaju pada keindahan baru. Siluet kenangan itu
kembali melintas di depan mataku. Farel kembali menyapa dan menghubungiku. “Maaf aku menghubungimu lagi Ca, aku hanya
ingin tahu kabarmu.” Pesan itu dia kirimkan lewat e-mailku. Kami kembali
berkomunikasi lagi. Dia juga menceritakan semuanya. Tentang hubungannya dengan
Maya yang berakhir karena Maya lebih memilih kembali pada mantan kekasihnya
dulu sebelum dengan Farel.
Farel
: Aku minta maaf, aku menyesal Ca.
Caca :
Iya, Farel. Sudahlah aku tak mau mengingat itu lagi.
Farel : Sekali lagi maafkan aku Ca. Aku salah
sudah membuatmu luka. Aku salah memilihnya.
Caca :
Semua sudah berlalu Farel. Aku sudah memaafkanmu. Semoga kau mendapatkan yang
lebih baik.
Farel : Terima kasih Ca. Semoga kau bahagia
dengannya.
Sampai di situ akhir
dari percakapanku dengannya. Semua kembali menjadi biasa. Tak ada lagi perasaan
yang harus aku pertahankan untuk Farel. Rasa sakit itu sudah melebur dan
membentuk hati baru, sistem perasaan baru bersama kisah cinta yang sekarang aku
jalin bersama Misbah. Hatiku juga sudah tidak memutar lagu kenangan lagi.
Hatiku kini sudah
berevolusi menjadi sebuah hati baru yang memutar lagu-lagu indah. Lagu-lagu
indah yang menjadi pengantar kisahku dengannya. Lagu rock n roll kesukaannya.
Lagu-lagu yang membuatku belajar bersamanya bahwa hidup memang harus like a
rolling stone. Hidup harus apa adanya seperti batu yang menggelinding. Kita harus tetap kuat ke mana pun arah
yang kita ambil walau segala hambatan menghadang perjalanan kita.
Dan saat hati berbicara. Maka saat ini dia akan berkata bahwa aku
mencintai Misbah dan hanya ingin bersamanya. Menjalin kasih dan membuat hidup
lebih berarti. Misbah lelaki yang terbaik untukku. Lelaki yang bisa menghargai
aku sebagai wanita dengan segenap perasaan dan logikanya. Lelaki yang bisa memberikan aku hati dan
sistem perasaan baru tanpa lecet ataupun luka sekali pun.
*****
by : Icha Mamusu








0 comments:
Post a Comment