Monday, 30 June 2014

Puisi Terkhir Untuk Manisku



Malam ini aku ada janji dengan Ira. Nonton film berdua. Pukul 19.00 tepat aku sudah sampai rumahnya. Mungkin juga gadis itu sudah berdandan cantik untuk menyambut kedatanganku. Dia teman kuliahku. Wanita yang sederhana, pintar dan punya pemikiran idealis yang tinggi. Sama sepertiku.
Aku sangat mengaguminya, mungkin juga karena kita satu tujuan. Semangat juangnya selalu menjadi hal yang aku kagumi. Dia juga selalu setia dan selalu ada untukku. Bahkan selalu mendukung apa yang aku lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi idealisku. “Tok..tok…tok..!! aku mengetuk pintu. Tantenya Ira yang membukakan pintu dan menyambutku dengan ramah.
“Eh, Soe. Cari Ira? Sebentar ya Tante panggilkan.” Katanya ramah. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Selang setelah itu Ira keluar. Cantik sekali. Dia mengenakan gaun berwarna merah muda dan terlihat begitu anggun. Rambutnya yang hitam dan lurus sebahu membuatnya semakin terlihat manis. Kami langsung bergegas pamit pada Tantenya Ira. Kami naik becak ke kampus. Yah, nonton film kali ini memang di kampus. Anak-anak sengaja menggelar acara itu untuk refreshing. Tadinya mau muncak ke gunung tapi dipikir-pikir belum ada waktu yang tepat.
“Kau cantik Ra.” Kataku sambil memandangnya.
“Terima kasih Soe, kau juga tampan.” Katanya tersipu malu.
Sepanjang jalan hanya dua kalimat itu yang terucap. Kami malah saling diam. Mungkin juga Ira merasa malu kencan berdua denganku. Atau barang kali merasa canggung atas ucapanku waktu itu. Seminggu lalu aku bertanya padanya “Apa yang kamu rasakan saat dekat denganku Ra?” tapi dia tidak menjawab hanya menatapku malu.
Akhirnya kami sampai di kampus. Anak-anak sudah ramai duduk di pelataran halaman Fakultas Sastra. Layar dan lampu proyektor juga sudah terpasang. Film pun dimulai. Semua menyimak dengan serius. Kali ini drama percintaan yang diputar. Adegan romantis dan menyedihkan. Sesekali aku mencuri pandang menatap Ira. Gadis itu selalu saja manis. Senyumnya juga selalu menenangkan.
Pukul 20.47 film usai diputar. Kami bergegas pulang. Sudah malam juga, tak baik seorang gadis jalan dengan lelaki malam-malam.
“Terima kasih untuk malam ini Soe.” Kata Ira dengan senyum manisnya.
“Tak usah berterima kasih. Aku yang seharusnya berterima kasih kau sudah mau aku ajak kencan walaupun hanya nonton film di kampus.”
“Emm. Oh iya Soe, bagaimana dengan tulisan-tulisanmu?”
“Cukup baik. Aku rasa Pemerintahan Soekarno perlu kritik lebih tajam lagi.”
“Kau hebat Soe.” Katanya memujiku.
Ira selalu memuji semua karya dan tulisanku. Katanya tulisanku selalu tajam dalam mengkritik pemerintah. Puisiku juga selalu indah menggambarkan realita zaman ini yang penuh dengan permainan politik. Dia juga bilang kalau aku bisa menggambarkan segala bentuk kehidupan dan dapat menggugah hati setiap pembaca. Idealisku tinggi. Saat dia berkata begitu aku hanya tersenyum dan malah terus mengaguminya yang begitu menyukai mimpi-mimpi idealisku.
Sampai di rumah Ira, aku segera berpamitan. Mengucapkan selamat malam dan semoga tidur nanti bermimpi indah. Sedikit kata-kata manis untuk gadis yang aku cintai. Ehm, mungkin lebih tepatnya aku kagumi. Aku tidak tahu apa itu cinta. Aku masih mengartikan bahwa cinta yang berujung pada perkawinan itu tidaklah suci. Bagiku tidak ada cinta sejati karena yang ada hanyalah nafsu. Dan aku hanya mengagumi Ira.


-Œ-
            Pagi ini aku harus mengurus rapat mahasiswa untuk aksi demo minggu depan. Seperti biasa mengkritik tajam pemerintah. Penguasa tak boleh menang dengan elite politiknya. Dan kami para mahasiswa juga tak boleh jadi pecundang. Aku berjalan menuju ruang rapat mahasiswa. Baru saja menaiki tangga aku bertemu dengan Maria.
            “Gie, kau mau ke mana?” tanyanya dengan senyum ceria.
            “Rapat. Kau sendiri?”
            “Sebenarnya mau bicara berdua denganmu. Tapi ya sudah, nanti saja selesai kau rapat.” Kata Maria.
            “Baiklah nanti aku akan menemuimu.”
            Maria berlalu dan aku segara menaiki tangga lagi. Beberapa teman juga sudah terlihat memasuki ruang rapat. Aku pun ikut bergegas masuk ke ruangan dan mempersiapkan segala proposal rencana. Duduk di sebelah Ira yang juga ikut rapat ini. Masih menunggu teman-teman lainnya yang belum datang.
Bertemu dengan Maria tadi aku jadi teringat saat kemarin tiba-tiba aku melihat Maria menemui Ira. Aku sengaja mengikuti mereka berdua. Penasaran kenapa tiba-tiba Maria terlihat serius ingin menemui Ira dan membicarakan sesuatu yang sepertinya menjadi rahasia wanita.
Mereka berdua duduk di taman. Aku mengikuti mereka dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Jelas sekali terdengar, bahkan aku bisa menyimaknya.
“Ra, menurutmu bagaimana dengan Gie?” tanya Maria pada Ira.
“Soe? untuk apa kau menanyakannya?” tanya Ira, heran.
“Aku suka dengan Gie, wajar kan? dia tampan, pintar dan terkenal.”
“Iya. Kau serius suka dengan Soe?”
“Tentu. Kau tidak ada hubungan apa-apa dengan Gie kan?”
“Tidak. Kami berteman.”
“Baguslah, karena aku tidak mau bersaing.”
Cukup lama mereka berbincang. Dan aku masih tidak mengerti kenapa Maria menanyakan tentang aku pada Ira. Aku rasa Ira juga pasti sakit dengan pertanyaan Maria. Aku rasa Ira juga punya perasaan padaku. Tapi Maria juga sama, dia menyukaiku.
Lima menit berlalu, teman-teman sudah lengkap berkumpul di ruangan rapat. Aku memulai rapat dan memberikan penjelasan. Membagikan proposal ke masing-masing teman yang mengikuti rapat.

-Œ-
            Akhirnya rapat selesai. Minggu depan rencana demo akan terlaksana. Aku melihat jam di tanganku ternyata sudah pukul 12.00 waktunya makan siang. Aku bergegas keluar ruangan bersama Ira.
“Hai Gie?” sapa Maria yang sudah berdiri di depan pintu ruangan rapat. Wajahnya terlihat ceria sekali. Maria, dia gadis yang baik, cantik dan selalu ceria. Katanya, Papanya pengagum beratku. Dan entahlah, aku tidak tertarik. Tapi aku sedikit tertarik juga dengan Maria dan segala perhatiannya padaku.
“Gie, kau sudah makan? Ayo kita makan bersama.” Kata Maria manja, sambil menggandeng lenganku.
“Belum. Kau mau ikut dengan kami Ra?” kataku sambil menatap wajah Ira.
“Tidak Gie. Kalian saja, aku nanti saja.”
Maria terus menarik tanganku dan menyuruhku cepat. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah saat melihat wajah murung Ira yang melihat Maria begitu dekat denganku. Sepertinya gadis itu cemburu. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca dan langsung bergegas pergi.  Aku rasa Ira cemburu karena lelaki terdekatnya bersama gadis lain.
Aku dan Maria makan siang bersama. Lagi-lagi dia bercerita cerewet sekali tentang Papanya yang sangat mengagumiku. Dia juga menunjukkan koran hari ini. Maria bilang Papanya berkomentar baik tentang tulisanku di koran. Gadis ini selalu saja menarik dan cantik. Dia puteri seorang yang kaya raya. Wajar jika dia agak manja dan hidupnya glamour.
“Berhentilah memujiku Maria.” Kataku padanya
“Kenapa Gie? kau hebat dan aku suka padamu.” Katanya manja.
“Bagaimana jika sekali-kali kau ikut mendaki gunung seperti Ira.”
“Aaah Gie, tidak bisa. Papaku tidak akan mengijinkanya.”
“Baiklah.” Kataku sambil menghela napas.
“Kenapa setiap kita duduk berdua selalu saja ada pembicaraan tentang naik gunung. Kenapa tidak membicarakan tentang kau atau kita.” Kata Maria mulai sebal.
Aku hanya diam. Aku tidak tahu kenapa Maria tidak seperti Ira yang bisa satu pemikiran dan bahkan satu hobi denganku. Apa salahnya dengan naik gunung. Bagiku perjalanan pendakian adalah perjalanan untuk mencari hakikat kehidupan manusia. Dengan itu kita bisa mencintai alam Indonesia yang sebenarnya. Daripada mendengar janji-janji politik pemerintah yang seperti sampah.
“Gie, kau mau kencan denganku nanti malam?”
“Baiklah. Papamu tidak marah?”
“Tidak. Untuk apa Papa marah. Ini urusan anak muda.” Kata Maria begitu semangat.

-Œ-
            Malam ini aku jalan kaki ke rumah Maria. Aku tahu ini bukan ide yang baik, datang menjemput anak gadis dari keluarga kaya dengan jalan kaki. Tapi aku tidak peduli. Dan Maria justru malah senang. Malam ini jalanan cukup lengang. Hanya ada orang-orang malang di pinggir-pinggir jalan. Mereka membaringkan tubuhnya yang lelah dengan keadaaan zaman ini. Mencoba bermimpi hidup di Negara yang indah. Kaum-kaum usang banyak yang tiduran di luar istana presiden. Aku jadi terpikir rencana demo untuk minggu depan. Semoga berjalan dengan lancar.
            Sampai di rumah Maria. Senyumnya langsung terlukis ceria begitu melihatku. Berbeda dengan Ira. Maria justru langsung memujiku sebelum aku memujinya. “Kau tampan sekali Gie malam ini.” Katanya sambil membelai wajahku. Aku hanya tersenyum. Bergegas pamit dan segera mengajaknya pergi. Papa Maria sepertinya tidak terlalu suka dengan aku, walaupun dia mengagumi tulisanku. Jelas kalau begitu. Aku hanyalah seorang aktivis. Semua karya tulisanku banyak mendapat hujatan-hujatan dari orang-orang yang merasa tersindir. Parahnya aku juga selalu mendapat teror dari apa yang aku lakukan. Tapi sekali lagi aku hanya mencari kebenaran dan keadilan.
            Malam ini kami hanya jalan-jalan menikmati suasana malam di Jakarta. Maria juga terlihat bahagia bahkan terus menggandeng lenganku. Makin cantik dengan gaun warna hitamnya. Terlihat seperti gadis-gadis borjuis. Dari Ira dan Maria memang banyak perbedaan. Ira lebih kalem, sederhana dan selalu menyembunyikan perasaannya. Sedangkan Maria lebih agresif dalam menunjukkan perasaannya.
            “Papamu sepertinya tidak suka denganku.” Kataku memulai pembicaraan.
            “Ah itu perasaanmu saja Gie. Papaku menyukai semua karya-karyamu.”
            “Iya hanya karya-karyaku. Maria, tidak ada orangtua yang mau membiarkan anak gadisnya menjalin cinta apalagi menikah dengan seorang aktivis sepertiku. Mereka akan berpikir beberapa kali. Itu semua mereka lakukan demi keselamatanmu juga.” Kataku panjang lebar dan membuat senyum Maria menghilang.
            “Kau tidak mencintaiku Gie?” Tanya Maria sambil menatap mataku.
            “Cinta? Aku tidak tahu. Tapi aku suka padamu.”
Langkah Maria terhenti saat aku berkata seperti itu. Aku tahu dia tidak suka dengan perkataanku. Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dia ingin menjalin kasih denganku secara lebih. Tapi aku tidak bisa. Mimpi-mimpi idealisku jauh lebih besar.
“Gie, kau suka dengan Ira?” tanya Maria membuatku kaget.
“Ira. Aku mengagumi Ira dan iya aku suka dengannya.” Kataku membuat mata Maria berkaca-kaca.
“Lalu siapa yang kau cintai Gie?” tanyanya dengan wajah yang mulai menyedihkan.
Aku masih diam dan tidak menjawab. Pikirku apa Maria masih belum mengerti. Ada hal lain yang aku pikirkan selain cinta. Baiklah aku memang menyukai Ira dan juga menyukai Maria. Aku akui aku mungkin egois dan terlihat seperti mempermainkan kedua gadis itu. “Gie, aku mau pulang.” Tiba-tiba saja Maria berkata seperti itu. Dia juga terlihat mengusap airmata yang tak sengaja menetes dari sudut matanya. Aku mengantarkannya pulang. Maria juga berjalan dengan cepat. Tidak lagi menggandeng lenganku.
Usai mengantarkan Maria aku bergegas pulang. Mungkin ini terakhir aku bertemu Maria. Papanya juga terlihat marah dan memintaku untuk tidak berhubungan lagi dengan Maria. Hari ini aku sudah mengacaukan hati dua gadis itu. Maafkan aku gadis-gadisku. Aku menyukai kalian tapi aku akui, kini aku juga terlibat dalam hal yang kalian sebut cinta. Kalian gadis yang baik. Ira, kau selalu bisa mengerti aku dan semua mimpi-mimpi idealisku. Aku mengagumimu tapi kau selalu saja bersembunyi dengan perasaanmu terhadapku. Dan Maria, kau gadis yang cantik. Selalu ceria dan perhatian. Tapi kau tidak pernah mengerti mimpi-mimpiku. Sungguh maafkan aku.

-Œ-
         Sebulan berlalu. Hari ini 16 Desember 1969. Besok aku tambah usia. Dan tak satupun di antara kedua gadis itu ada yang menemaniku. Senja ini di atas puncak Semeru, matahari terlihat cantik sekali. Sunset. Udara juga bertambah dingin dan membuatku serasa beku. Jujur aku merindukan kalian. Dan di saat aku mulai mengejar apa itu cinta, semua menolakku. Ira juga tak lagi bisa aku temui. Tantenya melarangku untuk menemuinya.
        Yah, ini sebuah konsekuensi dari sikap idealisku. Tak heran akan ada banyak orang yang memusuhiku. Tapi bagiku lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan. Dan sekarang tidak akan ada juga gadis  yang  mau berhubungan denganku, but life must go on. Mungkin karena mereka tidak berani atau bisa saja jijik berhubungan dengan lelaki yang tidak jelas dan selalu mengkritisi siapapun.
            Ira, aku juga rindu bersamamu. Mendaki gunung bersama dan mamandangi hijaunya alam dan bukit-bukit. Melihatmu tertawa ceria saat memandangi bunga-bunga edelweis. Rindu juga mendengar kau memanggilku dengan nama Soe. Semoga kau selalu mengagumkan dengan semangat juangmu yang juga selalu idealis. Maria, aku juga merindukanmu. Melihatmu tertawa ceria dengan tingkah manjamu saat merayu dan merajuk. Semoga kau juga selalu bahagia dengan hidupmu.
            “Loe gak turun Gie? Cuaca sudah semakin buruk. Sebentar lagi hujan turun.” Kata Doni temen Mapalaku.
            “Ntar gue nyusul. Oh iya ini gue nitip, tolong berikan batu dan daun cermara ini buat  temen-temen.” Kataku sambil memberikan batu dan daun cemara pada Doni.  

              “Ah loe kurang kerjaan Gie. Hahahah.” Kata Doni mengejekku.

            “Tak apa, mereka pasti juga senang. Itu batu berasal dari tanah tertinggi di pulau Jawa. Jangan lupa hadiahkan pada gadis-gadis di Fakultas Sastra.”

            “Okey. Gue turun duluan Gie. Loe hati-hati ya.” Kata Doni bergegas turun dari puncak.

Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Hari ini rasanya aku hanya ingin diam dan duduk termenung di sini. Mengenang kebersamaanku dengan Ira dan Maria. Menulis puisi untuk kedua gadis manis yang aku sukai. Kata-kata terakhir untuk mereka. Ira, Maria, terima kasih untuk segala kisah dan perasaan yang telah kalian tumbuhkan di hatiku. Aku hanyalah orang malam yang membicarakan terang. Aku hanyalah orang malam yang menentang kemenangan oleh pedang. Maafkan aku.

Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu... sayangku...
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra
Tapi aku ingin mati di sisimu... Manisku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku...
Kalian yang pernah mesra,
Yang simpati dan pernah baik padaku,
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung...
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil...
Kembalilah dari tiada ke tiada...
Berbahagialah dalam ketiadaanmu...
--Soe Hok Gie

Udara mulai pengap bau belerang. Dadaku juga sesak sulit menghirup oksigen. Hujan deras turun. Dingin makin mencekik. Letupan kawah Jonggring Saloko juga mulai terdengar jelas. Aku masih duduk diam usai menulis puisiku dan tenang dalam heningnya alam. Perlahan bebatuan mulai berguguran dan kabut tebal menyelimuti puncak Semeru. Asap beracun dari kawah mulai turun. Dan semua gelap. 

by : Icha Mamusu
Categories:

6 comments: