AKU
RINDU KALIAN
Senja yang indah di
rumah Nenek dan Kakek. Hmm, tidak! Aku tidak memanggil mereka seperti itu.
Semua cucu-cucu mereka memanggilnya dengan sebutan Mak’e dan Yai. Yah, tak ada cucu
yang memanggil mereka dengan sebutan mbah, eyang, atau nenek dan kakek. Aku
menghela napas mencoba memutar kembali kaset kenangan di otakku. Rasa-rasanya
rumah ini memang selalu jadi kenangan terindah bersama keluarga.
Aku duduk di teras
rumah, masih beralaskan tanah. Tak peduli jika nanti celanaku kotor. Tanganku
sibuk membelai dinding rumah yang hampir retak dengan cat usang yang sudah
berusia renta, kayu rumah yang hampir rapuh juga jadi saksi bisu kenangan kami.
Hidungku mulai tergelitik. Tercium harum yang khas dari dapur Mak’e. Aroma asap
kayu bakar membumbung menyelimuti udara sore. Ada yang menambah khas dan
membuatku selalu rindu untuk berkunjung ke sini, harum kopi hitam kesukaan
Mak’e dan Yai.
Hari ini satu tahun Yai
pergi, untuk selamanya. Aku masih ingat saat itu Ibu menangis terisak
menelponku dan bilang “Yai meninggal.”
Aku tersentak kaget. Saat itu rasanya ingin lari demi melihat wajah Yai untuk
yang terakhir. Tapi waktu satu jam yang harus aku tempuh ke sana tak bisa
mencukupi. Jalanan Kudus-Pati macet, hingga waktu menjadi terlewatkan lebih .
Handphoneku berderit.
Pesan dari Ibu. “Yai harus segera
dimakamkan.” Hatiku benar-benar kalut, ingin marah. Mataku berkaca-kaca,
dadaku sesak sekali rasanya. “Kenapa
tidak menungguku, aku juga ingin lihat wajah Yai untuk yang terakhir kali.” Begitu
gumamku dalam hati. Aku menahan tangis. Bus yang aku tumpangi serasa berjalan
lamban sekali seperti keong.
Waktu itu aku memang sudah
lama tak mengunjungi Mak’e dan Yai. Pikirku, kenapa di saat rindu benar-benar
bertumpuk. Yai pergi tanpa ada pesan ataupun firasat apapun. Menyesal. Yah, aku
bahkan tak melihat prosesi pemakaman Yai. Tapi saat itu Pak Dhe yang malah anak
kandung Yai juga ternyata tak bisa melihat prosesi pemakaman Yai karena masih di
Semarang. Sama sepertiku juga yang berusaha memburu waktu demi melihat Yai
untuk terakhir kalinya dan tak kesampaian. Tapi kita tidak bisa membiarkan Yai
terlalu lama menunggu kami, kasihan.
Waktu sudah mulai
malam. Adzan maghrib dari masjid samping rumah Mak’e juga sudah berkumandang.
Hmm, hari ini terlewati hanya bersama adikku, satu ponakan kecilku, dan Bu Dhe.
Aku sengaja ke sini bersama adikku untuk refreshing. Suasananya juga sudah tak
lagi ramai seperti dulu. Semua sudah pergi. Sibuk dengan urusan masing-masing.
Sepupuku juga harus meneruskan sekolah ke Surabaya. Tak lagi di kota ini. Aku
bergegas sholat maghrib.
*****
Usai sholat maghrib aku
kembali duduk di teras rumah. Pikiranku kembali memutar kenangan masa kecilku.
Biasanya kami lari-larian di depan rumah. Main kembang api. Atau iseng
menangkap jangkrik yang bersembunyi di balik semak-semak. Bercanda seakan tak
pernah lelah.
Aku mendongak menatap
langit. Cerah, bintang-bintang juga berhamburan di langit hitam. Siluet pohon
murbei menghalangi bias cahaya bulan. Aku berdiri dan iseng memetik satu buah
munggilnya yang berwarna merah. “Umm Kecuuuuuttt!”
kataku sambil menahan rasa asam di mulut, mukaku mungkin sudah terlipat tak
tahan rasa asamnya.
Aku
mengerjap-ngerjapkan mata. “Murbei merah
ini dari zaman aku kecil sampai sekarang masih asam saja, kapan kau bisa manis?
Apa harus menunggu buahmu sampai berwarna hitam, baru kau bisa manis?” kataku
menggerutu. Aku kembali duduk. Pohon mangga di depan dan samping rumah juga
mulai berbuah. Biasanya kami selalu mengunduhnya bersama-sama. Yai yang
membantu sambil membawa bambu panjang untuk memetik buahnya yang banyak dan selalu
manis.
Tapi sekarang semenjak
Bu Dhe sakit, taman depan rumah Mak’e tak terawat. Gersang! Pohon kelapa juga
hanya tersisa di belakang rumah. Dulu Yai juga yang akan mengunduhnya jika kami
ingin minum segar airnya dan makan daging buahnya yang kenyal. Segaarr sekali. Semua
pasti akan berebut. Antri berdiri mengelilingi Yai yang membelah kelapa mudanya
sambil membawa gelas masing-masing di tangan. “Aku duluaaan, aku yang banyaaaak.” Begitu kata kami biasanya.
“Kopi nduk?” Tanya
Mak’e yang tiba-tiba berdiri di sampingku.
“Eh, mboten Mak.”
Kataku menggeleng sambil menatapnya.
Aku bergumam di dalam
hati. Hmm, Mak’e berjalan saja sekarang sudah susah, harus pegangan atau
bersandar sesuatu. Bagaimana mungkin aku tega membiarkannya membuatkan kopi
untukku. Aku masih diam menatapnya. Wajahnya kini benar-benar keriput, badannya
kurus sekali. Tatapan matanya sendu, cekung, terlihat lelah atau bahkan mungkin
merindukan Yai dan enam anaknya yang kini jauh darinya.
Kopi hitam, heheheh.
Aku tertawa cekikikan jika ingat itu. Dari kecil aku suka sekali minum kopi.
Sampai-sampai kopi yang Mak’e buat untuk Yai pun aku minum. Yah, tentunya
diam-diam. Secangkir kopi itu biasanya diletakkan Mak’e di ruang tamu. Aku
santai meminumnya. Jika sudah tinggal ampas, aku pergi. Heheheh cukup nakal. Saat
itu pasti Yai menggeleng heran dan akan menebak jika aku yang meminumnya. Kenangan
manis. Lagi-lagi, memang semua harus pergi dan sibuk dengan urusan
masing-masing. Semua sudah tak seperti dulu.
Tapi sekarang aku harus
berhenti minum kopi. Jika tidak, sakit maagku bisa kumat. Menyiksa sekali. Mak’e
sekarang juga sudah pikun. Kadang aku datang saja dia akan tanya “Jenengan sinten?” jika sudah keluar
kalimat itu rasa-rasanya sedih. Aku tahu Mak’e bukannya sengaja lupa. Tapi usia
tuanya menggerus kecepatan ingatannya. Saat itulah aku harus menjelaskan aku
ini siapa dan anak dari anaknya yang mana.
Yah, Mak’e sudah mulai
lupa. Pandangannya juga sudah mulai kurang jelas. Jika bertemu orang, kadang
tahu wajahnya tapi lupa namanya. Kadang juga tahu namanya tapi lupa wajahnya. Kalau
Yai dulu masih tajam ingatannya. Biasanya Yai akan tertawa kalau Mak’e lupa
dengan kami cucu atau anak-anaknya. Dan akan menjelaskan panjang lebar pada
Mak’e. Tapi sekarang………………
Malam begini juga saat
aku masih kecil. Biasanya Mak’e dan Yai sibuk membungkus tempe. Yah, mereka
punya usaha membuat tempe. Itu adalah waktu yang menyenangkan. Pagi hari kami
ikut Mak’e membeli kedelai. Aku, adikku dan dua sepupuku. Kami masih
kecil-kecil. Berebutan menggandeng tangan Mak’e. Waktu itu Mak’e masih kuat. Di
punggunnya, Mak’e sudah mengendong wadah dari bambu. Terlihat berat.
Setelah itu kami akan
sibuk di dapur yang kami sebut pawon. Luas sekali. Lantainya masih tanah.
Memasaknya tidak pakai kompor, tapi pakai tungku batu dengan kayu bakar.
Dinding pawon Mak’e juga masih terbuat dari anyaman bambu bahkan masih sampai
sekarang. Asap mengepul di sekitar pawon. Mak’e sibuk meniup api dengan bambu berukuran
panjang sekitar sepuluh sentimeter dan berdiameter kecil. Tujuannya agar api membesar.
Nantinya akan digunakan untuk merebus air. Aku pernah mencobanya, tapi yang ada
aku malah batuk tersedak asapnya.
Sepupuku akan iseng
mengambil ketela dan membakarnya di tungku. Jangan tanya rasanya, tentunya
lezat sekali. Setelah itu Mak’e sibuk mencuci kedelai. Cara mencucinya juga aneh.
Diinjak-injak dengan kaki. Aku melotot, batinku. “Hhiiii kok pakai kaki? kottoooorr.” kataku memandangi Mak’e yang
sibuk menghentak-hentakkan kaki. Saat itu Mak’e bilang, sebelum melakukan itu
kaki harus dalam keadaan bersih. Tujuan mencuci kedelai seperti itu adalah agar
kulit ari kedelai mudah terlepas. Berkali-kali juga Mak’e sibuk membilas
kedelai itu hingga bersih.
Tahap berikutnya
kedelai direbus. Dan jika matang. Adikku pasti akan buru-buru mengambil piring
dan meminta kedelai rebusnya sebelum diberi ragi. Iya, kami akan makan kedelai
itu bersama-sama. Proses selanjutnya, Yai yang akan meneruskan pekerjaan
membuat tempenya. Dan Mak’e harus ke pasar untuk berjualan tempe yang sudah
jadi.
Aku, adikku dan dua
sepupuku akan menghabiskan waktu bermain. Di belakang rumah. Sepupuku memanjat
pohon jambu dan mengambil buahnya. Atau jika ingin yang lebih segar kami
mengunduh buah kedondong. Asam sekali rasanya tapi kami makan pakai garam.
Hahaahh, bisa dibayangkan sendiri bagaimana rasanya.
Sore hari kami menunggu
Mak’e pulang dari pasar. Sambil main di halaman depan rumah. Krincing, krincing, krincing. Suara
dokar dan ringkihan kuda mulai terdengar. “Horeeeee
Mak’e pulang, pasti bawa jajan.” Kami berebut menghampiri Mak’e yang baru
saja turun dari dokar. Membawakan ember dan barang-barang sisa jualan tempe di
pasar. Dan benar, banyak jajan yang
Mak’e bawa pulang dari pasar buat kami.
Malam harinya kami akan
beramai-ramai membantu membungkus tempe. Membungkusnya di plastik dan di daun
pisang. Sambil nonton televisi dan bercanda bersama. “Ojo akeh-akeh nduk ngisi delenya. Mengko jelek tempene kalau jadi.”
Kata Yai mengingatkan kami yang asyik bercanda sampai tak melihat kedelai yang
kami tuang ke plastik kebanyakan.
*****
Senyum masih terlukis
di wajahku. Waktu begitu cepat berlalu. Detik juga melesat dengan gesit. Aku
bergegas berdiri. Udara di luar juga semakin dingin. Sepi! Aku membantu memapah
Mak’e, memegangi pundaknya dan mengantarkan Mak’e ke kamar. Waktunya istirahat.
Mak’e tak boleh capek. Nanti sakit lagi. Selamat malam kota Pati tercinta. Kota
masa kecil yang penuh kenangan.
Aku merindukan semuanya
berkumpul kembali. Tapi rasa-rasanya semua memang harus pergi dan sibuk dengan
urusan masing-masing. Semua sudah berubah. Yai, aku juga merindukanmu. Kangen
juga saat Yai begitu perhatian mengusir nyamuk-nyamuk nakal agar tidak
menggigit kami cucunya yang sedang terlelap tidur. Kangen juga saat Yai begitu
perhatian membuatkan kami mainan dari daun kelapa muda dan menganyamnya menjadi
ketupat beraneka bentuk. Semoga lebaran nanti bisa tetap indah. Walaupun semua sudah
berubah dan Yai sudah tak ada.
*****
By : Icha Mamusu








0 comments:
Post a Comment