Thursday, 10 July 2014

CERPEN "AKU RINDU KALIAN"



 
AKU RINDU KALIAN

Senja yang indah di rumah Nenek dan Kakek. Hmm, tidak! Aku tidak memanggil mereka seperti itu. Semua cucu-cucu mereka memanggilnya dengan sebutan Mak’e dan Yai. Yah, tak ada cucu yang memanggil mereka dengan sebutan mbah, eyang, atau nenek dan kakek. Aku menghela napas mencoba memutar kembali kaset kenangan di otakku. Rasa-rasanya rumah ini memang selalu jadi kenangan terindah bersama keluarga.
Aku duduk di teras rumah, masih beralaskan tanah. Tak peduli jika nanti celanaku kotor. Tanganku sibuk membelai dinding rumah yang hampir retak dengan cat usang yang sudah berusia renta, kayu rumah yang hampir rapuh juga jadi saksi bisu kenangan kami. Hidungku mulai tergelitik. Tercium harum yang khas dari dapur Mak’e. Aroma asap kayu bakar membumbung menyelimuti udara sore. Ada yang menambah khas dan membuatku selalu rindu untuk berkunjung ke sini, harum kopi hitam kesukaan Mak’e dan Yai.
Hari ini satu tahun Yai pergi, untuk selamanya. Aku masih ingat saat itu Ibu menangis terisak menelponku dan bilang “Yai meninggal.” Aku tersentak kaget. Saat itu rasanya ingin lari demi melihat wajah Yai untuk yang terakhir. Tapi waktu satu jam yang harus aku tempuh ke sana tak bisa mencukupi. Jalanan Kudus-Pati macet, hingga waktu menjadi terlewatkan lebih .
Handphoneku berderit. Pesan dari Ibu. “Yai harus segera dimakamkan.” Hatiku benar-benar kalut, ingin marah. Mataku berkaca-kaca, dadaku sesak sekali rasanya. “Kenapa tidak menungguku, aku juga ingin lihat wajah Yai untuk yang terakhir kali.” Begitu gumamku dalam hati. Aku menahan tangis. Bus yang aku tumpangi serasa berjalan lamban sekali seperti keong.
Waktu itu aku memang sudah lama tak mengunjungi Mak’e dan Yai. Pikirku, kenapa di saat rindu benar-benar bertumpuk. Yai pergi tanpa ada pesan ataupun firasat apapun. Menyesal. Yah, aku bahkan tak melihat prosesi pemakaman Yai. Tapi saat itu Pak Dhe yang malah anak kandung Yai juga ternyata tak bisa melihat prosesi pemakaman Yai karena masih di Semarang. Sama sepertiku juga yang berusaha memburu waktu demi melihat Yai untuk terakhir kalinya dan tak kesampaian. Tapi kita tidak bisa membiarkan Yai terlalu lama menunggu kami, kasihan.
Waktu sudah mulai malam. Adzan maghrib dari masjid samping rumah Mak’e juga sudah berkumandang. Hmm, hari ini terlewati hanya bersama adikku, satu ponakan kecilku, dan Bu Dhe. Aku sengaja ke sini bersama adikku untuk refreshing. Suasananya juga sudah tak lagi ramai seperti dulu. Semua sudah pergi. Sibuk dengan urusan masing-masing. Sepupuku juga harus meneruskan sekolah ke Surabaya. Tak lagi di kota ini. Aku bergegas sholat maghrib.

*****
Usai sholat maghrib aku kembali duduk di teras rumah. Pikiranku kembali memutar kenangan masa kecilku. Biasanya kami lari-larian di depan rumah. Main kembang api. Atau iseng menangkap jangkrik yang bersembunyi di balik semak-semak. Bercanda seakan tak pernah lelah.
Aku mendongak menatap langit. Cerah, bintang-bintang juga berhamburan di langit hitam. Siluet pohon murbei menghalangi bias cahaya bulan. Aku berdiri dan iseng memetik satu buah munggilnya yang berwarna merah. “Umm Kecuuuuuttt!” kataku sambil menahan rasa asam di mulut, mukaku mungkin sudah terlipat tak tahan rasa asamnya.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. “Murbei merah ini dari zaman aku kecil sampai sekarang masih asam saja, kapan kau bisa manis? Apa harus menunggu buahmu sampai berwarna hitam, baru kau bisa manis?” kataku menggerutu. Aku kembali duduk. Pohon mangga di depan dan samping rumah juga mulai berbuah. Biasanya kami selalu mengunduhnya bersama-sama. Yai yang membantu sambil membawa bambu panjang untuk memetik buahnya yang banyak dan selalu manis.
Tapi sekarang semenjak Bu Dhe sakit, taman depan rumah Mak’e tak terawat. Gersang! Pohon kelapa juga hanya tersisa di belakang rumah. Dulu Yai juga yang akan mengunduhnya jika kami ingin minum segar airnya dan makan daging buahnya yang kenyal. Segaarr sekali. Semua pasti akan berebut. Antri berdiri mengelilingi Yai yang membelah kelapa mudanya sambil membawa gelas masing-masing di tangan. “Aku duluaaan, aku yang banyaaaak.” Begitu kata kami biasanya.
“Kopi nduk?” Tanya Mak’e yang tiba-tiba berdiri di sampingku.
“Eh, mboten Mak.” Kataku menggeleng sambil menatapnya.
Aku bergumam di dalam hati. Hmm, Mak’e berjalan saja sekarang sudah susah, harus pegangan atau bersandar sesuatu. Bagaimana mungkin aku tega membiarkannya membuatkan kopi untukku. Aku masih diam menatapnya. Wajahnya kini benar-benar keriput, badannya kurus sekali. Tatapan matanya sendu, cekung, terlihat lelah atau bahkan mungkin merindukan Yai dan enam anaknya yang kini jauh darinya.
Kopi hitam, heheheh. Aku tertawa cekikikan jika ingat itu. Dari kecil aku suka sekali minum kopi. Sampai-sampai kopi yang Mak’e buat untuk Yai pun aku minum. Yah, tentunya diam-diam. Secangkir kopi itu biasanya diletakkan Mak’e di ruang tamu. Aku santai meminumnya. Jika sudah tinggal ampas, aku pergi. Heheheh cukup nakal. Saat itu pasti Yai menggeleng heran dan akan menebak jika aku yang meminumnya. Kenangan manis. Lagi-lagi, memang semua harus pergi dan sibuk dengan urusan masing-masing. Semua sudah tak seperti dulu.
Tapi sekarang aku harus berhenti minum kopi. Jika tidak, sakit maagku bisa kumat. Menyiksa sekali. Mak’e sekarang juga sudah pikun. Kadang aku datang saja dia akan tanya “Jenengan sinten?” jika sudah keluar kalimat itu rasa-rasanya sedih. Aku tahu Mak’e bukannya sengaja lupa. Tapi usia tuanya menggerus kecepatan ingatannya. Saat itulah aku harus menjelaskan aku ini siapa dan anak dari anaknya yang mana.
Yah, Mak’e sudah mulai lupa. Pandangannya juga sudah mulai kurang jelas. Jika bertemu orang, kadang tahu wajahnya tapi lupa namanya. Kadang juga tahu namanya tapi lupa wajahnya. Kalau Yai dulu masih tajam ingatannya. Biasanya Yai akan tertawa kalau Mak’e lupa dengan kami cucu atau anak-anaknya. Dan akan menjelaskan panjang lebar pada Mak’e. Tapi sekarang………………
Malam begini juga saat aku masih kecil. Biasanya Mak’e dan Yai sibuk membungkus tempe. Yah, mereka punya usaha membuat tempe. Itu adalah waktu yang menyenangkan. Pagi hari kami ikut Mak’e membeli kedelai. Aku, adikku dan dua sepupuku. Kami masih kecil-kecil. Berebutan menggandeng tangan Mak’e. Waktu itu Mak’e masih kuat. Di punggunnya, Mak’e sudah mengendong wadah dari bambu. Terlihat berat.
Setelah itu kami akan sibuk di dapur yang kami sebut pawon. Luas sekali. Lantainya masih tanah. Memasaknya tidak pakai kompor, tapi pakai tungku batu dengan kayu bakar. Dinding pawon Mak’e juga masih terbuat dari anyaman bambu bahkan masih sampai sekarang. Asap mengepul di sekitar pawon. Mak’e sibuk meniup api dengan bambu berukuran panjang sekitar sepuluh sentimeter dan berdiameter kecil. Tujuannya agar api membesar. Nantinya akan digunakan untuk merebus air. Aku pernah mencobanya, tapi yang ada aku malah batuk tersedak asapnya.
Sepupuku akan iseng mengambil ketela dan membakarnya di tungku. Jangan tanya rasanya, tentunya lezat sekali. Setelah itu Mak’e sibuk mencuci kedelai. Cara mencucinya juga aneh. Diinjak-injak dengan kaki. Aku melotot, batinku. “Hhiiii kok pakai kaki? kottoooorr.” kataku memandangi Mak’e yang sibuk menghentak-hentakkan kaki. Saat itu Mak’e bilang, sebelum melakukan itu kaki harus dalam keadaan bersih. Tujuan mencuci kedelai seperti itu adalah agar kulit ari kedelai mudah terlepas. Berkali-kali juga Mak’e sibuk membilas kedelai itu hingga bersih.
Tahap berikutnya kedelai direbus. Dan jika matang. Adikku pasti akan buru-buru mengambil piring dan meminta kedelai rebusnya sebelum diberi ragi. Iya, kami akan makan kedelai itu bersama-sama. Proses selanjutnya, Yai yang akan meneruskan pekerjaan membuat tempenya. Dan Mak’e harus ke pasar untuk berjualan tempe yang sudah jadi.
Aku, adikku dan dua sepupuku akan menghabiskan waktu bermain. Di belakang rumah. Sepupuku memanjat pohon jambu dan mengambil buahnya. Atau jika ingin yang lebih segar kami mengunduh buah kedondong. Asam sekali rasanya tapi kami makan pakai garam. Hahaahh, bisa dibayangkan sendiri bagaimana rasanya.
Sore hari kami menunggu Mak’e pulang dari pasar. Sambil main di halaman depan rumah. Krincing, krincing, krincing. Suara dokar dan ringkihan kuda mulai terdengar. “Horeeeee Mak’e pulang, pasti bawa jajan.” Kami berebut menghampiri Mak’e yang baru saja turun dari dokar. Membawakan ember dan barang-barang sisa jualan tempe di pasar.  Dan benar, banyak jajan yang Mak’e bawa pulang dari pasar buat kami.
Malam harinya kami akan beramai-ramai membantu membungkus tempe. Membungkusnya di plastik dan di daun pisang. Sambil nonton televisi dan bercanda bersama. “Ojo akeh-akeh nduk ngisi delenya. Mengko jelek tempene kalau jadi.” Kata Yai mengingatkan kami yang asyik bercanda sampai tak melihat kedelai yang kami tuang ke plastik kebanyakan.

*****
Senyum masih terlukis di wajahku. Waktu begitu cepat berlalu. Detik juga melesat dengan gesit. Aku bergegas berdiri. Udara di luar juga semakin dingin. Sepi! Aku membantu memapah Mak’e, memegangi pundaknya dan mengantarkan Mak’e ke kamar. Waktunya istirahat. Mak’e tak boleh capek. Nanti sakit lagi. Selamat malam kota Pati tercinta. Kota masa kecil yang penuh kenangan.
Aku merindukan semuanya berkumpul kembali. Tapi rasa-rasanya semua memang harus pergi dan sibuk dengan urusan masing-masing. Semua sudah berubah. Yai, aku juga merindukanmu. Kangen juga saat Yai begitu perhatian mengusir nyamuk-nyamuk nakal agar tidak menggigit kami cucunya yang sedang terlelap tidur. Kangen juga saat Yai begitu perhatian membuatkan kami mainan dari daun kelapa muda dan menganyamnya menjadi ketupat beraneka bentuk. Semoga lebaran nanti bisa tetap indah. Walaupun semua sudah berubah dan Yai sudah tak ada.

*****

By : Icha Mamusu

0 comments:

Post a Comment